Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Menemui Tamu Agung


__ADS_3

Teshar meraih jemari tangan Clara dan membawanya menjauhi Rafka. Ia mengabaikan tatapan siaga orang-orang yang memandang ke arah dirinya. Clara hanya bisa melambaikan tangan dan menunduk pamit ke arah Rafka dan berjalan mengikuti ke mana Teshar membawanya agar tidak menimbulkan keributan. Dia sungguh tidak ingin ada masalah apa pun menimpa teman barunya.


“Aku lapar, Kak," bisik Clara menatap wajah Teshar saat membuka pintu kaca resto dan berjalan menuju trotoar.


”Nanti kita makan," jawab Teshar masih terlihat menahan kekesalan.


Clara beberapa kali menoleh ke belakang, memikirkan pria yang mengajaknya makan tadi harus sendirian di resto. Padahal ia masih sangat ingin mengetahui tentang di mana kedua orangtuanya berada saat ini, juga nenek dan kakeknya. Apakah selama ini mereka bingung mencari keberadaannya? Clara membisu, tidak memperhatikan ke mana Teshar membawanya pergi.


“Mau makan apa?" tanya Teshar mengalihkan lamunan Clara hingga gadis itu kini mulai fokus memandang arah tujuannya.


Saat ini mereka berdua sudah berada di depan resto lain. Gadis itu hanya bisa mengembus napas kesal. Timbul kejengkelan yang ingin terlepas, tetapi sebisa mungkin ia menjaga lisannya agar tidak menunjukkan amarah itu dengan begitu kentara. Teshar selalu berupaya untuk menjaga sikapnya di depan umum demi nama baik keluarga.


”Apa bedanya dengan tempat yang tadi?" gerutu Clara berjalan mengikuti langkah Teshar memasuki restoran.


Pandangannya kembali terkesiap. Restoran ini lebih mewah dari tempat yang ditinggalkan tadi, lebih tenang dengan beberapa saja pengunjung yang berada di dalamnya. Clara menduga pasti seperti inilah kehidupan Teshar yang sebenarnya. Serba mewah dan penuh ketenangan. Sayang sekali, Clara tidak menyukainya.


“Kak!” Panggil Clara merasa Teshar tidak menanggapi protesnya.


“Bersikaplah yang baik seperti biasanya." Teshar mengatakan kalimat itu dengan tatapan tajam, saat ini pikirannya sedang kacau untuk melayani rengekan Clara. Clara hanya bisa membungkam mulutnya rapat, tidak lagi mengeluarkan isi hatinya lagi.


“Maaf, permisi Tuan Teshar. Anda sudah ditunggu di meja sebelah sana," ucap seorang pelayan menghampiri Teshar dan Clara yang berjalan hendak memilih tempat duduk. Pria itu menunjukkan sebuah area di mana berada sekat yang membatasi sehingga orang yang berada di baliknya tidak terlihat dari sudut pandang Clara.

__ADS_1


”Katakan pada beliau untuk menunggu sebentar, aku akan mengantarkan Nona ini untuk makan terlebih dahulu," pinta Teshar memandang pelayan itu.


“Baik, Tuan. Permisi," jawab pelayan itu menunduk dan segera pergi meninggalkan keduanya.


”Duduklah, katanya kau lapar.“ Teshar mencoba untuk melembutkan suaranya. Sungguh, saat ini ia sedang mati-matian untuk tidak membuat wanita di hadapannya ini membangkang.


Clara mengikuti apa yang diminta Teshar tanpa menyahut. Ia memandang raut wajah tenang pria itu dengan perasaan berjuta cabang, tetapi segera mengalihkan pandangan ke arah lain saat pria itu berbalik menatapnya. Clara malah merasa canggung sendiri kalau sampai tertangkap basah tengah mencuri pandang terhadap pria dewasa tersebut.


”Aku sedang ada pertemuan. Aku pesankan makanan untukmu dan bersikaplah baik, makanlah dengan tenang. Kau mengerti?" tegas Teshar mencoba membuat Clara agar menatapnya lalu ia sendiri mengambil kursi dan duduk tepat di sebelahnya.


Beberapa pelayan segera datang menghampiri meja mereka dengan menyerahkan buku menu. Teshar menerima dengan raut wajah tenang dan mulai membukanya untuk Clara. Clara hanya bisa menurut serta bingung sendiri dalam memilih nama-nama asing yang tertera di dalam daftar yang disodorkan padanya.


"Kenapa? Ada yang kau inginkan?“


”Pilih saja nama yang kamu sukai," tawar Teshar bersikap lebih lunak, wajahnya mulai melembut.


“Baiklah, ini saja kalau begitu," tunjuk Clara memberikan buku menu dengan jemari lentiknya masih menempel di atas tulisan.


”Baiklah, pilihan yang bagus," jawab Teshar tersenyum memandang, sungguh terlihat sangat menawan di mata Clara.


Clara membalas senyum dan segera menunduk lagi, pemandangan yang sekali lagi membuatnya bingung sendiri. Pria itu ketus dan berubah baik hanya berlangsung dalam hitungan menit. Sesaat ia juga merasa ngeri sendiri.

__ADS_1


“Aku tinggal dulu sebentar. Jangan pergi dari sini sebelum aku menjemputmu. Mengerti?" tegas Teshar sambil berdiri, meraih pucuk kepala Clara dan mengacak-ngacak lembut rambutnya. Gadis itu segera mengangguk tanpa memandang. Sungguh sentuhan yang membuatnya merasakan aliran perasaan yang aneh.


Pria itu segera berjalan meninggalkan Clara. Berjalan dengan langkah tegas dan gagah seperti pria dewasa pada umumnya. Clara melirik menatap punggung pria itu dengan hati berdesir. Pria itu memperlakukannya berbeda tidak seperti saat sebelum ia kabur dari rumah. Sambil menghela napas Clara menatap jemari tangannya di meja dengan menautkan di antara jemari yang lain.


”Nona, silakan dinikmati. Tuan Teshar sudah memberitahu kami mengenai menu pesanan Anda," kata pelayan itu sambil meletakkan hidangan di atas meja.


Clara mengangguk dan menatap makanan yang tersaji dengan perasaan senang. Ia sedikit terhibur dengan keadaan ini. Walau bagaimanapun, bisa menikmati makanan normal kembali sudah membuatnya sangat bersyukur. Ia akan bergerak secara perlahan untuk mencari informasi mengenai keluarganya. Ia tidak akan membantah secara terang-terangan terhadap pria itu.


**


Teshar menundukkan kepala dengan hormat kepada seorang tamu yang kini masih bersabar menunggunya. Ia lalu duduk berseberangan dengan menunjukkan sikap yang tenang. Tamu laki-laki berusia delapan puluhan itu tersenyum sambil meraih cangkir dan menyodorkan ke arah Teshar. Sambil tersenyum, Teshar mengambil teko kecil yang berada di sampingnya kemudian menuangkan teh ke dalam wadah itu. Pria tua itu tampak menunjukkan tawa senang. Cucunya yang satu ini memang selalu bersikap baik seumur hidupnya.


“Maafkan aku, Kakek. Teshar belum sempat berkunjung," ucap Teshar sambil meletakkan teko kembali ke tempatnya, Kakek tua bernama Bima itu segera mengangguk menikmati tehnya.


”Kakek tidak habis pikir dengan semua yang ada di benakmu, Cucuku," lontar Bima mengomentari soal keputusan Teshar menyembunyikan gadis bernama Clara selama ini.


“Teshar tidak menyangka, Kakek bisa mengetahui masalah ini," ungkap Teshar pura-pura bersikap tenang.


Ia tidak menyangka kakeknya menghubungi semalam karena sudah mengetahui masalah Clara dan meminta untuk segera bertemu.


Kakek tua berwajah bijak itu meletakkan cangkirnya ke atas meja diiringi senyum, menatap cucu yang memiliki sifat bertolak belakang dengan Kenan itu dengan pandangan kagum. Entah mengapa, ia bisa merasakan kesulitan yang cucunya itu hadapi setiap hari, seumur hidup. Mencoba bersikap abai pada perasaannya sendiri, sebisa mungkin menjaga semua kebanggaan keluarganya dalam kesepian dan impitan, juga tuntutan dari orang tuanya untuk sukses. Ia merasa sangat kasihan.

__ADS_1


”Sebenarnya kakek sudah lama mengetahui tentang keberadaan gadis itu, bukan karena kejadian kemarin," ungkap Bima mengagetkan Teshar.


 


__ADS_2