Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Memendam Perasaan


__ADS_3

Clara menggunakan kamar kosong. Sebenarnya banyak ruangan yang bisa digunakan, mengingat betapa besarnya rumah itu. Namun, ia menurut saja perintah kakek Bima untuk menggunakan sebuah kamar yang persis seperti yang pernah dilihatnya, tetapi di mana? Sambil melangkah ke dalam, ia mengamati dengan detail ruangan itu.


Tiba-tiba perasaannya kembali tidak nyaman. Air matanya luruh. Seketika itu pula kakinya bersimpuh di bawah ranjang besar itu. Kini ia mengingat kembali bahwa ruangan ini pasti yang digunakan Teshar ketika berada di rumah ini.


“Kenapa kamu tidak datang?” lirih Clara berucap di sela isak kekesalan.


Ia tidak mengerti, saat selama ini satu-satunya pria yang dikenalnya hanya pria kejam itu, tetapi kenapa dia tega meninggalkannya di tempat asing ini sendirian.


Sebenarnya Clara mulai mengubah cara pandangnya terhadap Teshar. Mencoba untuk membuka pikiran untuk tidak lagi membencinya, karena sudah mengurungnya selama ini. Namun, saat ia mulai melakukannya, kenapa pria itu malah tidak muncul.


“Aku tidak akan lagi menunggumu, pria jahat!” rutuk Clara mengusap air mata beserta ingusnya. Dengan kaki mengentak gadis itu pun melangkah ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka.


Ia tidak menyangka Kenan akan melakukan kegilaan dengan mabuk. Sejauh yang dipahaminya, kelakuan Kenan bukan lagi mencerminkan sikap pria yang baik, maka ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga diri dan sikap pada tingkah polah pria itu kepadanya. Ia tidak akan menggubris sama sekali.


“Teman? Huh! Untuk apa berteman dengan orang seperti itu? Tidak membantu malah membuatku pusing,” keluh Clara kesal juga.


Setelah merebahkan tubuh di kasur, memejamkan mata akhirnya gadis itu tertidur. Menguntai mimpi yang selama ini tidak pernah dimilikinya. Bisa bergerak bebas, berbicara dengan orang lain, juga mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan selama dua belas tahun.


Sebenarnya Clara ingin memamerkan semua aktifitasnya kepada Teshar. Di rumah ini, dia bisa melakukan apa pun seperti orang normal lakukan.


***


Malam pun berganti esok hari. Hari gelap kini sudah berubah menjadi terang. Clara segera menyadari sorot cahaya mentari sudah menerobos ke dalam kamar, akhirnya menarik napas panjang. Membuka sebelah mata seraya bangun.


"Tidurku sangat nyenyak, gumamnya setengah menggeliat.


Setelah meregangkan otot tubuh sebentar, gadis itu berjalan pelan meninggalkan ranjang besar menuju ke arah pintu. Setelah memutar tubuh mengamati kamar itu dengan hati sedih, sambil meyakinkan diri kemudian gadis itu pun meninggalkan ruangan itu.


“Kak Teshar, apa lukamu sangat parah?” Clara bergumam sendiri sambil berjalan.


Gadis itu menyusuri koridor panjang, menuju ke arah kamar. Ia ingin memastikan keadaan Kenan tidak apa-apa, karena semalam pria itu sangat kacau sekaligus menakutkan.


Setelah mengatur napas dan keberanian, Clara membuka pintu perlahan. Melongok ke dalam kamar gelap yang mengeluarkan aroma tidak sedap dari pengar Alkohol yang berasal dari tubuh Kenan.

__ADS_1


Sambil mengibaskan jemari, Clara memasuki kamar untuk membuka korden dan jendela kamarnya lebar-lebar. Pemandangan taman beserta segarnya udara luar segera merangsek ke dalam kamar.


“Begini lebih baik,” gumam Clara sembari menoleh ke arah Kenan yang masih tidur tengkurap di atas kasur. Gadis itu hanya bisa mengembus napas menahan kesal.


“Hanya orang bodoh yang membuat dirinya terlihat kacau,” komentar Clara melihat betapa kusutnya penampilan Kenan yang biasanya selalu modis dan tampan.


“Ish!” Clara berdecak merutuki mulut dan pikiran karena sudah menganggap Kenan pria tampan dan modis.


“Lagi pula, kemarin bisa-bisanya melontarkan kata menyebalkan itu. Aku tahu Teshar itu sudah bertindak jahat padaku, tapi … mendengarnya terluka karena menyelamatkanku, apa aku tidak boleh mengkhawatirkannya? Uh! Menyebalkan.” Clara menggerutu kesal dengan sikap Kenan sekaligus hatinya sendiri.


“Clara,” panggil Kenan dengan suara parau.


Gadis itu berjingkat mundur secara impulsif saat Kenan bergerak dari posisinya. Tubuh pria itu menggeliat sebelum akhirnya mendongak menatap sekeliling dan tidur terlentang sambil memijit kepalanya.


“Kamu sudah bangun?” tanya Clara menahan napas, bau alkohol menyeruak saat wajah Kenan menghadap ke atas.


Clara segera berjalan mendekat, meraih selimut dari samping Kenan dan mulai melipat menjadi bentuk potongan segi empat yang rapi lalu menaruhnya kembali ke dalam lemari.


Menatap kesibukan Clara, secara perlahan sorot matahari dari luar menerpa wajah, menyisakan silau hingga mau tak mau Kenan bangkit dari tidur dan duduk di pinggiran kasur besar muat dua orang itu.


“Aku tidak pernah jatuh cinta. Aku tidak boleh mempunyai pikiran primitif seperti itu.” Kenan membatin masih sambil menatap aktifitas Clara menata ulang kamarnya.


“Aku minta maaf,” ucap Kenan membuat gadis itu menoleh.


“Karena mengacak-acak kamarku?” serobot Clara dengan suara lembut.


Kenan menundukkan kepala, pagi yang menyebalkan. Saat menatap gadis itu selalu timbul niatan untuk meleburkan perasaannya, bukan hanya sekadar hasrat kelaki-lakiannya, tapi lebih dari itu. Ia ingin mengikrarkan kepada dunia kalau gadis itu begitu merasuk indah di dalam hati.


“Kenapa kamu semalam kacau? Kamu makan dan minum apa sampai teler begitu?” tanya gadis itu memutar tubuhnya menatap Kenan dengan seksama.


“Tidak, aku … cuma mabuk,” jawab Kenan mendadak seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.


“Apa kamu lega setelah meminumnya? Setelah mabuk?” tanya Clara sambil mendekat.

__ADS_1


Kenan menelan ludah sembari mengalihkan pandangan dari tubuh Clara yang terlihat ringkih berbalut kulit putih susu yang pucat.


“Sedikit."


Kenan masih menjaga pandangannya dari Clara. Ia tidak mau kalau sampai hilang kendali dan mengoyak kesucian gadis polos kesayangan kakaknya itu.


“Apa masalahmu hilang kalau melakukan itu?” tanya gadis itu lagi semakin membuat Kenan menjadi pusing.


Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak tergoda dan menerkam gadis tidak tahu apa-apa itu, tapi sepertinya sinyal tidak nyaman yang ia keluarkan tidak dipahami sama sekali oleh gadis itu. Kenan kesal bukan kepalang.


“Ajak aku, kapan-kapan kalau minum itu … barang berbau itu … kalau ternyata bisa menghilangkan masalah,” pintanya polos, berdiri tepat berada di hadapan Kenan.


“Shit! Sialan!” desis Kenan dalam hati.


Wajah, sikap, keluwesan dalam bertindak dan juga kepolosan berpikir, gadis itu berhasil memporak-porandakan hati seorang Kenan—yang tidak pernah memandang wanita dengan hati. Dengan cepat tangannya terulur menyentuh pergelangan tangan Clara, menarik hingga gadis itu selangkah mendekat kepadanya.


“Kenapa kamu bisa berada di rumah Teshar? Ceritakan apa saja yang sudah dia lakukan selama itu?” ucap Kenan memberikan tatapan lembut kepada Clara yang berdiri mematung di hadapannya.


“Aku … tidak tahu,” jawab gadis itu sambil menggeleng.


“Tidak tahu?” Kenan berdecak.


Pria itu mendengus sambil menggeleng kepala tidak percaya. Ia tidak bisa mengerti kenapa kakaknya melakukan tindakan segila seperti itu. Menyembunyikan gadis secantik dan selembut Clara.


“Di mana rumahmu?” tanya Kenan meraih semua jemari tangan gadis itu hingga posisi mereka saling berhadapan. Clara masih berdiri di antara kedua kaki Kenan yang masih duduk di tempat tidur.


“Aku lupa, tapi bisakah kamu mengantarku ke sana?” Clara menatap Kenan dengan sorot mata berbinar, seolah harapannya muncul bersama dengan pertanyaan pria itu padanya.


“Kamu mau pulang? Mencari rumahmu bersamaku?” tanya Kenan menatap lekat gadis itu.


“Hem, kalau kamu bersedia untuk membantu,” sahut Clara mencoba untuk melepaskan gayutan jemari Kenan, tetapi ternyata sulit.


“Kalau Teshar tidak mengizinkannya, apa kamu mau diam-diam menyelinap pergi bersamaku,” desaknya lagi membuat Clara menelan ludah.

__ADS_1


__ADS_2