
Bima tersenyum sekilas begitu melihat raut wajah cucunya yang mendadak berubah cemas. Ia tahu kesalahan juga ada di tangannya, saat mengetahui cucunya tidak membunuh gadis itu, tetapi malah menyembunyikan di dalam rumah pribadinya. Semua sudah terlanjur, bahkan pria tua itu menyadari kini kegundahan sedang melanda Teshar.
Teshar hanya bisa menatap tanpa bisa menyahut ucapan kakeknya, ia segera meraih botol softdrink di hadapannya lalu segera menenggak isinya. Pikirannya terlalu kalut, bahkan bayangan sorot mata polos itu begitu mengganggu dirinya.
"Haruskah kita mendapatkan gadis itu lagi?" tanya kakeknya menguji Teshar.
"Kenapa Kakek bertanya begitu?" balas Teshar kaget, tentu saja dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
Pria tua itu terkekeh sejenak seraya menyandarkan bahunya pada kursi kesayangannya, ia menghentikan tawa dan berubah serius saat menyadari cucunya memasang wajah tidak suka dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Sambil menjentikkan jemari, Bima meminta cucunya untuk mendekat.
"Bukankah, dengan gadis itu tidak ada padamu lagi, itu akan mengamankan posisimu di hadapan orang tuamu?"
Teshar berjalan mendekat dengan wajah sendu, hatinya seakan diremas kuat dengan perasaan tidak rela. Ia belum bisa kehilangan sosok itu secara tiba-tiba.
"Waktu mengubah segalanya," sahut Teshar dengan tatapan mata menandakan tidak setuju dengan ucapan kakeknya.
Bima tertawa tertahan. Ia segera menyodorkan amplop cokelat itu kepada Teshar, dagunya terangkat memberi isyarat kepada Teshar untuk membukanya. Sesaat pandangan mereka beradu, tatapan penasaran dari Teshar dan balasan senyuman santai dari Bima.
"Apa ini?" tanya Teshar segera meraih amplop dan membukanya cepat.
Pria berwajah tegas dan dingin itu kemudian duduk di kursi yang berada di seberang meja kakeknya dan mengeluarkan berkas yang ada di dalam map.
Pandangannya berubah serius, ia sedikit terkejut dengan detailnya informasi yang berada di dalam berkas laporan yang ada di tangannya.
"Itu kenapa kakek memutuskan untuk merawat dan melindungi gadis itu," ujar Bima saat Teshar memandangnya penuh pertanyaan.
"Jangan katakan, kita … kita telah salah sasaran, Kek," sahut Teshar dengan hati risau, matanya membelalak menatap kertas di tangannya.
"Kenyataannya begitu," jawab Bima melengkungkan bibirnya penuh ironi. ”Kita akan dituduh untuk sesuatu yang sebenarnya telah dilakukan orang lain sebelum kita.“
Teshar meletakkan dokumen itu ke atas meja, tangannya gemetar seiring rasa bersalah yang kini merambat di dalam hatinya. Setelah dua belas tahun lamanya, kenapa kakeknya hanya diam saja.
__ADS_1
"T-tapi kenapa Kakek selama ini diam saja?"
"Kakek diam karena semua yang terjadi tidak bisa kembali seperti semula, meskipun kakek mengungkapkannya," ucap Bima kemudian, ucapannya seakan menjawab apa yang terlintas di benak Teshar.
Pria tua itu segera berdiri dan berjalan meninggalkan mejanya, ia mengambil beberapa buku dari rak dan membawanya ke arah sofa. Teshar masih menunduk belum punya bayangan apa yang akan dilakukannya setelah berhasil membawa Clara kembali pulang.
"Aku senang, kau mulai menyadari perasaanmu padanya," ujar Bima membuat Teshar menoleh.
"Perasaan apa maksud Kakek?" tanyanya tidak nyaman.
Pria itu hanya tersenyum dan mulai membuka bukunya, mengabaikan protes cucunya melalui sebuah pertanyaan. Sebuah penolakan atas perasaan yang kakeknya saja bisa memahaminya.
"Aku akan pergi, Kek. Aku akan memilih sendiri beberapa pengawal terbaik kakek. Aku mohon kakek bisa meredam apa yang terjadi ini agar ibu dan ayah tidak sampai mendengar. Setidaknya menundanya hingga Clara bisa aku temukan," pinta Teshar segera menunduk dan memberi kepada kakeknya.
"Bawa dia ke rumah ini setelah kamu menemukannya, itu janjimu," sahut Bima sambil tersenyum.
Teshar kembali memutar tubuhnya menghadap Bima setelah lontaran keinginan itu mencuat kembali. Rasanya tidak rela bila Clara berada jauh dari jangkauannya, tapi dengan membawa pulang ke rumahnya akan sangat berisiko terhadap keselamatan gadis itu dari kedua orang tuanya.
Bima masih tersenyum memandang sejenak ke arah Teshar. Namun, kembali ia tidak menanggapi pertanyaan itu dan memilih fokus ke arah bukunya.
***
Di tempat Clara berada.
Clara tersudut di belakang sofa, meringkuk dengan kepala tertunduk dalam. Tubuhnya gemetaran seiring banyaknya orang-orang yang mencari keberadaannya dengan menggeledah setiap ruangan.
Sungguh, pengalaman ini jauh lebih menakutkan daripada saat dirinya kabur dari rumah besar milik Teshar. Kali ini ia merasa bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan. Penghuni rumah ini pasti orang jahat, pikirannya menjadi gelisah.
"Cepat! Cari dan geledah di setiap ruang, aku yakin gadis itu masih berada di dalam rumah ini!" perintah seorang pria bertubuh kekar yang sepertinya merupakan ketua mereka bila dilihat dari seluruh anak buah yang mematuhi perintahnya.
"Baik, Tuan," jawab anggota mereka serempak dan mulai bergerak berpencar.
__ADS_1
Clara semakin mengepalkan jemarinya, mencoba mencari akal bagaimana cara agar bisa mencari celah dan pergi dari sana, setidaknya bisa mendapatkan persembunyian yang aman sebelum benar-benar keluar dari tempat asing itu.
Ingatannya kembali saat dirinya sengaja sembunyi ketika berada di rumah Teshar. Dia sengaja melakukannya ketika masih berusia sebelas tahun. Sebuah bukti yang segera meyakinkan dirinya bahwa pria bernama Teshar itu tidak sepenuhnya jahat, tetapi hanya bersikap menyebalkan.
Ia tersenyum geli saat mengingat betapa paniknya pria yang saat itu masih berusia dua puluh empat tahun ketika mencarinya, sebuah pemandangan yang tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu hingga saat ini. Pria itu semakin hari semakin menjaga jarak dan tidak mau diajak bicara.
"Kak, temukan aku. Tolong, temukan dan keluarkan aku dari sini. Aku janji akan mengikuti apa yang kakak perintahkan setelah ini," janji Clara dalam hati.
"Kami belum menemukan keberadaan gadis itu, Tuan," lapor anggota mereka mendekati ketua yang masih berdiri di tengah ruang.
"Cari lagi, aku yakin dia belum keluar dari sini. Cari dan cepat temukan sebelum tuan Jeff datang!" jawabnya menegaskan.
Beberapa anak buahnya yang melapor segera menunduk pamit dan kembali melakukan pencarian.
"Apa kamu yakin bisa keluar dari sini?" oceh pria berwajah kaku dan berewok itu dengan lantang, ia merasa yakin gadis itu ada di sekitarnya dan saat ini tengah mengamati pergerakannya.
Clara masih diam menyimak. Dia merasa masih aman bersembunyi di belakang sofa, hingga bayangan hitam berkelebat membuatnya berjingkat, tubuhnya menegang. Ia merasa ada seseorang yang kini sudah berdiri di sampingnya, dengan mata melirik ketakutan Clara menoleh dan memastikan sendiri siapa gerangan pemiliknya, dengan tangan mencengkeram erat gaun yang dia kenakan Clara menahan napasnya.
"Kak Teshar, aku takut," bisiknya dalam hati.
Clara segera menoleh ke arah sampingnya, terlihat seorang pria tengah berjalan mengitari ruangan. Sebuah hal yang sanggup membuatnya menahan napas, ia merasa sesak, rasa takut dan kaki gemetar saat menyadari pria itu membawa sebuah cambuk di tangan kanannya. Clara merasa dirinya akan habis bila sampai ditemukan.
"Ayo keluar, Manis," goda pria itu masih berjalan mengitari ruangan, malah kini pria itu menghentikan langkahnya di samping sofa.
"Kak Teshar, apa malam ini aku akan mati?" keluh Clara kembali dalam hati, matanya berkaca-kaca, ia menyesali kelakuannya yang mengabaikan perintah untuk tetap berada di dalam apartemen. Ia juga tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan pria itu benar, ia akan mendapat bahaya ketika berada di luar. Ia merasa sangat ceroboh.
Isak tangis Clara tanpa sadar terdengar, pria yang sedari tadi mengawasi seluruh ruangan di bagian tengah ruang ini segera tersenyum. Ia akhirnya menemukan keberadaan gadis itu. Dengan langkah perlahan pria itu bergerak ke sofa yang tidak jauh darinya saat ini.
"Sedang main petak umpet, ya, Nona Cantik?" kata orang itu sembari tersenyum.
Clara mematung tidak bergerak sama sekali, bahkan untuk menelan saliva dan menoleh saja rasanya sudah sangat berat. Malam ini ia merasa sudah tamat.
__ADS_1
"Keluar, Sayang," punya pria itu dengan suara lembut yang dibuat-buat.