Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Panggilan Dalam Halusinasi


__ADS_3

“Gadis itu sedang berjalan-jalan, Tuan. Dia terlihat sangat senang,” jawab pria itu, terdengar suara bising kendaraan di kanan kirinya.


Teshar tersenyum tipis saat mendengarnya. Sambil meletakkan ponselnya di jok mobil, ia menyandarkan bahu dengan mata terpejam sejenak. Kepalanya pening dengan banyaknya pikiran yang melanda.


“Kita ke Richman Road sekarang!” perintah Teshar tanpa membuka mata. Saat ini ia sedang memikirkan wajah gadis polos itu saat menikmati malam kebebasannya.


“Nikmati kebebasanmu sebelum aku berubah pikiran dan membawamu kembali ke dalam gelapnya hidupku. Sepertinya selama ini aku terlalu baik dalam memperlakukanmu sehingga kamu berani meremehkan aku,” gumamnya seorang diri.


Sopir itu hanya bisa menelan ludah getir. Ia hafal siapa sebenarnya tuan Teshar Indira dibalik kelembutan yang seringkali ditampakkan. Sopir itu berharap, nona kecil yang saat itu malah dia sendiri yang membatu tuan Teshar membawanya masuk ke dalam rumah, bisa tetap hidup bebas bahagia.


“Nona kecil, semoga tuan Teshar tidak segera menemukanmu. Aku harap jangan malam ini. Agar kamu bisa merasakan kebebasan, setidaknya sampai beberapa saat ke depan,” batin sopir itu masih menyetir dengan kecepatan sedang.


Mobil yang ditumpangi Teshar berhenti dan parkir di tepi jalan raya Richman Road. Lalu-lalang penikmat kuliner malam menambah suasana menjadi semarak. Ia memilih untuk berjalan di antara keramaian. Berharap bisa melihat gadisnya sedang berjalan di antara kerumunan orang dengan gaun bergaya putri tahun delapan puluhan seperti orang aneh.


Teshar terlihat mengukir senyum saat sekelebatan bayangan Clara tengah melangkah, menggodanya di sepanjang jalan, bahkan ia beberapa kali mengumpat lirih demi bisa mengenyahkan pikiran tentang gadis itu dari kepalanya.


“Kak Teshar?” panggil Clara dalam halusinasi Teshar, tengah tersenyum manis dan berlari kecil menggodanya untuk mengejar. Pria itu segera mengusap wajah demi bisa mengusir bayangan konyol tersebut dari pikirannya.


***

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Clara juga sedang berjalan di trotoar—yang sama, dengan sangat bersemangat, mengenakan baju kasual berbahan sweater berwarna abu-abu dipadukan dengan celana jeans panjang berwarna biru dongker.


Ia merasa bahagia telah terlihat seperti gadis normal pada umumnya. Apalagi bisa berjalan bebas karena memakai sepatu flat yang terasa sangat nyaman di kaki bersama orang banyak. Gadis itu juga sangat menyukai pakaian yang ia kenakan. Rasanya seperti terlahir kembali menjadi orang baru.


“Haruskah aku ganti nama?” gumamnya tertawa sendiri. "Ehm, aku ganti nama tengahku Amanda saja?“


Kaki Clara dengan lincah terus berjalan menyusuri trotoar. Memandang deretan jajanan malam yang terletak di sisi kanan dengan keramaian pembeli, beberapa juga tampak pengunjung hanya bercengkrama ringan.


“Jajan apa, ya? Hem, perutku sudah lapar,” keluhnya seraya menatap beberapa jajanan yang tersebar di sepanjang jalan di sisi kiri dan kanan.


Clara segera membenamkan jemari ke dalam saku celana kemudian meraih isinya; berupa amplop pemberian Rafka. Pria baik hati yang dia temui tadi pagi.


Clara mengintip lembaran uang yang membuat hatinya berbunga-bunga. Dia merasa cukup lega karena untuk beberapa hari ke depan tidak akan takut kelaparan.


Gadis bermata indah itu pun tertarik saat melihat jajanan berupa semangkuk mie ayam dengan pangsit dan saus sambal menghias di atasnya. Dia mengingat sangat menyukai mie sejak kecil.


Clara memandang dari jauh beberapa pengunjung warung yang sedang menikmati makanan itu, menampilkan ekspresi enak. Ia berjalan dengan bersemangat mendekat ke arah sana.


“Satu mangkuk, Tuan,” pesan Clara membuat Abang pedagang itu mengernyitkan dahi karena merasa cukup aneh dengan sapaan gadis muda ini kepadanya.

__ADS_1


“Iya, Neng,” jawab Abang itu sambil memandang Clara di sela-sela menyiapkan pesanan pembeli lain.


“Nama saya Clara, bukan 'Neng,” sahut Clara protes, membuat Abang itu spontan tertawa.


“Iya, Neng Clara, satu porsi, ya? Silakan duduk di sana sembari menunggu pesanan matang," balas Abang itu segera diberi anggukan oleh Clara.


Clara segera ikut bergabung dan duduk bersama beberapa pengunjung yang sudah berada di sana. Kepalanya memutar memandang hal baru di sekeliling. Dia benar-benar menjadi sosok asing di antara yang lain.


Beberapa orang saling tertawa, bersenda gurau menggunakan alat-alat canggih super tipis di genggaman tangan, bentuknya tidak seperti saat dirinya pertama kali mengenal barang canggih itu saat masih kecil. Seketika itu pula gadis merengut, kedua alisnya saling bertaut. Semakin sedih saat mencoba memahami bahwa sudah terlalu lama ia hidup terkurung.


Sembari menunduk mengamati jemari tangan yang terpaut di atas bangku, Clara merenung dengan pikiran berkecamuk. Ingin sekali dia kembali pulang ke rumah, sebuah kerinduan yang tidak pernah ia tampakkan sama sekali di hadapan pria bernama Teshar itu; atau ia akan segera diberi tatapan mata tajam dan sikap yang dingin. Clara selama ini selalu mencari selamat dengan bersikap baik.


“Aku akan pulang. Aku ingat rumahku dulu dekat dengan sekolahan,” gumamnya pelan.


Wajah risau kini terukir jelas saat menoleh ke arah jalanan, beberapa orang berpasangan terlihat sedang berjalan mencari aneka makanan maupun barang untuk dibeli. Secara tidak sengaja Clara melihat sosok pria itu, orang yang sangat ditakutinya selama ini. Pria bernama lengkap Teshar Charlene Indira, sebuah kartu nama yang tidak sengaja ia temukan terselip di antara buku bacaan.


Sambil mengubah posisi duduk, Clara melengos agar Teshar tidak sampai menemukan keberadaannya. Ia meremas jemari dengan jantung berdentum kencang.


"Kenapa dunia ini sempit sekali? Dia benar kak Teshar atau bukan?" batin Clara mendadak gentar, tenggorokannya nyaris tercekat.

__ADS_1


Gadis itu berusaha menutupi wajah dengan menunduk. Merasa takut kalau sampai Teshar menemukannya dan menghancurkan impian bisa bertemu dengan keluarganya lagi.


Bersambung


__ADS_2