
Kenan sengaja bangun lebih pagi agar bisa meninggalkan unit apartemen sebelum wanita itu bangun, ia sudah merasa malas berada di sana. Bayangan wanita misterius yang kini berada di unit sebelah sangat mengganggu pikirannya. Seorang Teshar memiliki wanita simpanan? Kenan merasa belum memercayai kenyataan itu bila melihat bagaimana bebasnya sang kakak bila ingin mendapatkan wanita manapun yang disuka.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan Teshar dari perempuan cantik itu? Aku jadi sangat penasaran, bagaimana reaksinya kalau dia tahu kalau aku sudah melihat dan bicara langsung dengan perempuan yang dia sembunyikan itu," gumam Kenan sambil tersenyum penuh rencana.
Kenan masih saja merasa sangat penasaran. Ia berjalan keluar dari kamar itu setelah meletakkan amplop berisi uang cash di nakas. Ia tipe pria yang tidak menyukai sebuah ikatan. Ia tidak mau wanita ini mencarinya lagi setelah apa yang mereka berdua lakukan tadi malam.
Tidak lupa ia mengambil sebungkus pengaman yang sudah digunakannya tadi malam dari lantai dan membuangnya ke dalam tong sampah. Kenan orang yang selalu hati-hati, ia tidak mau sembarangan menaruh bibit atas nama keluarganya. Tanpa menoleh lagi, ia segera menutup pintu kamar perlahan.
Kenan berjalan tergesa keluar dari unit apartemen itu, berharap jangan sampai bertemu Teshar. Ia tidak mau sampai kakaknya tahu kalau malam ini ia kelayapan dan tidur bersama wanita asing di apartemen ini. Dia sendiri sebenarnya cukup terkejut saat mengetahui bahwa kakaknya memiliki apartemen pribadi yang tidak masuk ke dalam daftar aset yang diketahui pihak keluarga.
“Teshar benar-benar misterius. Dia bersikap sok suci dan sempurna di hadapan semua orang, nyatanya brengsek juga sepertiku," guman Kenan berjalan dan berhenti di depan lift.
Pria itu segera masuk ke dalam saat pintu lift itu sudah terbuka, satu tangannya menekan tombol menuju ke lobby. Ia ingin segera pulang ke rumah. Ada enam panggilan tidak terjawab tertera di layar ponselnya, pasti saat ini ayahnya sudah menunggu di rumah.
”Hai! Tut-tunggu, Tuan!" Terdengar suara wanita memanggil dari arah luar.
Kenan segera mengalihkan pandangan ke arah depan seraya tangannya menahan pintu lift agar tidak tertutup setelah menyadari seorang wanita berlari dan berteriak menyuruhnya untuk menunggu.
”Terima kasih," ucap wanita itu sambil menundukkan kepala ke arah Kenan.
Gadis itu segera masuk sambil merapikan rambut ikalnya yang terurai menutupi pipi, seraya menoleh ke arah Kenan dengan menampilkan wajah jengah gugup.
__ADS_1
“Kamu … gadis yang tadi malam, 'kan?" tanya Kenan, wajahnya terkesiap menatap gadis yang kini berada di sampingnya.
Clara memandang penuh telisik. Dia tidak mengerti maksud ucapan pria di sampingnya itu. Sambil memandang penampilan pria itu, ia menggeser tubuhnya menjauh. Ia tidak mungkin membuat masalah baru setelah diberi kesempatan Teshar untuk jalan-jalan melalui sebuah pesan yang ditaruh di atas meja makan. Ia sebisa mungkin mengabaikannya, walau segera mengingat kembali bahwa mereka berdua tadi malam memang sudah bertemu saat di balkon.
”Oh, ternyata dia pria aneh yang semalam itu," guman Clara dalam hati.
”Heih, kamu sangat tidak sopan karena malah diam, tidak menjawab pertanyaan orang lain," lontar Kenan memutar tubuhnya menghadap wanita yang masih memberi sinyal menolak berbicara dengannya itu.
Kenan bersedekap tangan sambil memandang gadis itu dengan wajah kesal. Ia tidak mengerti kenapa wanita ini sangat menghindarinya, padahal apa yang dia lakukan masih wajar-wajar saja dalam berkenalan.
“Jawab," desis Kenan merasa tidak sabar.
Clara terkejut mendengar suara pria itu seperti sedang mendesaknya, hingga akhirnya ia memilih beringsut semakin menjauh dengan tangan berpegangan pada dinding lift. Ia tidak menyangka, bila ditanya harus menjawab, kenyataannya Teshar tidak selalu menjawab semua pertanyaannya. Clara memutuskan untuk mengabaikan pria sok kenal itu.
“Makanya kita berkenalan, astaga … kamu ini aneh sekali," balas Kenan merasa gadis yang jujur saja memiliki wajah cantik itu bersikap tidak seperti gadis pada umumnya.
”Aku tidak mau kenalan, maaf," tegas Clara kemudian.
Clara memeluk tas gendong kecil sambil menatap layar monitor yang menunjukkan panah menuju ke lantai satu masih beberapa saat lagi. Ia ingat, Teshar semalam memberitahunya bahwa ia saat ini berada di lantai empat puluh sembilan. Dengan gelisah ia terus saja menatap pintu lift dan angka yang tertera di layar monitor.
Kenan berdecak sendiri saat melihat gadis muda itu berusaha menjaga jarak dengannya. Ia sangat yakin, gadis inilah yang Teshar sembunyikan. Sambil kembali menghadap ke arah depan pintu lift, sesekali ia masih menatap gadis itu diam-diam.
__ADS_1
“Perempuan ini cantik sekali. Pantas saja Teshar menyembunyikannya. Tapi untuk apa? Apa karena dia terlalu muda untuk dikenalkan kepada ayah dan ibu? Cih … seleranya anak ingusan ternyata," batin Kenan mengomentari hubungan kakaknya dengan gadis yang terlihat masih sangat muda itu.
”Ck! Kenapa lama sekali sih. Padahal aku sudah merinding," keluh Clara membuat Kenan berkacak pinggang, ia merasa tersinggung dengan ucapan yang didengarnya dari bibir gadis itu.
Clara hanya melengos tidak mau memandang Kenan sama sekali.
“Kamu kira aku setan? Merinding," desisnya menghadap sinis ke arah Clara.
”Aku tidak sedang membicarakanmu, kenapa kamu tersinggung? Kekanakan sekali," balas Clara tidak mau mengalah.
“Kau-"
Untung pintu lift segera terbuka sehingga Clara bisa segera keluar dari sana. Ia tidak memedulikan pria tidak dikenalnya itu sama sekali. Hingga dengan kesal Kenan berlari kecil menyusulnya, ingin sekali pria itu menyelesaikan urusannya dulu dengan gadis menyebalkan itu sebelum pulang.
Clara keluar dari lobby apartemen dan celingukan mencari arah jalan keluar. Saat melihat sekuriti, ia segera mendekatinya seraya menanyakan arah tujuannya jalan-jalan pagi ini. Teshar sudah menentukan tempatnya, sebagai hadiah karena sudah bersedia kembali pulang ke apartemen bersamanya dan bersikap baik.
”Pak, bisa bantu Clara menemukan tempat ini?" tanyanya sambil menyodorkan kertas catatan kecil kepada securiti itu.
Sekuriti bertubuh kekar memakai seragam biru navy itu segera keluar dari pos dan mengamati kertas berisi nama sebuah tempat. Sambil tersenyum dia memberitahu wanita yang terlihat masih asing baginya itu dengan sikap ramah.
”Nona naik taksi saja, lalu berikan kertas ini kepada sopirnya. Pasti Nona tidak akan salah jalan dan tersesat," saran Securiti itu sambil menyerahkan kertas itu kembali.
__ADS_1
Clara mengangguk senang, segera memasukkan kertasnya ke dalam saku celana panjang yang ia kenakan. Clara memutar tubuhnya, membalik badan menatap ke arah lobby, sembari mundur dengan langkah cepat membuat tubuhnya sedikit menubruk badan sekuriti itu dan sikapnya berubah menjadi canggung. Clara merasa cemas karena melihat pria yang tadi berada di lift seperti sengaja mengikutinya.
“Maaf, Pak, tolong. Pria itu membuntutiku dari lantai empat puluh sembilan tempatku tinggal. Bisa Bapak cegat dia?" Clara mengutarakan masalahnya kepada sekuriti seraya memandang kedatangan pria muda berambut kuning oranye itu dari kejauhan, pria itu kini sedang berjalan ke arahnya.