
Malam sudah semakin larut, hanya menyisakan waktu satu setengah jam sebelum pertemuan dengan Jeff.
Saat ini Teshar masih berkutat di dalam kamar. Dibuat kesal dengan permintaan Kenan, tapi apa boleh buat—karena hanya itu satu-satunya jalan agar semua berjalan mudah.
Ia menghela napas sebelum akhirnya memilih menggeser kursi ber-roda yang berada di pojokan, melambaikan tangan ke arah adiknya dengan mimik wajah serius.
“Ini bukan urusan yang main-main, asal kamu tahu,” tegas Teshar menatap Kenan yang berjalan mendekat dan duduk di atas kasur.
Pria itu membasahi bibir bawahnya, sebelum mengembus napas untuk mengurangi beban pikiran, karena harus melindungi dua orang sekaligus di sana. Ia membayangkan Kenan yang hanya jagoan di alkohol dan wanita; bukanlah petarung sejati.
“Aku tahu, tapi sama saja, bukan? Mati di tangan ayah atau di medan perang? Asalkan aku bisa bertemu dengan gadis itu, aku tidak ada masalah,” jawab Kenan membuat hati Teshar berdenyut.
“Sial! Ada apa dengan perasaan ini? Rasanya aku ingin mencekik bocah tengik ini.” Teshar membatin dengan erangan kekesalan.
“Bagaimana? Fifty : fifty, kesempatan kita seimbang. Belum tentu juga dia mau denganmu?” goda Kenan seraya tergelak, jauh dari lubuk hatinya gadis itu sebuah tantangan, karena telah berani mengabaikannya pada beberapa pertemuan awal.
“Risikonya besar, Kenan.” Teshar mengesah kasar.
“Kamu meremehkan kemampuanku? Seperti yang ayah dan ibu lakukan selama ini?” tuduhnya sengit, Kenan memberikan sorot mata penuh ketersinggungan.
“Terserah kau saja. Jangan menyesal karena sudah mengambil keputusan sembrono. Aku tunggu di Bar Ground Zero. Nyawa gadis itu ada di tanganmu. Aku pergi dan aku mohon berhati-hatilah."
Teshar bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan Kenan yang mendadak beku, ucapan kakaknya yang menyiratkan sebuah kekhawatiran berhasil mengetuk hatinya.
Sejak lama ia membenci dan mengonfrontasi kakaknya dengan sikap dingin, ketus, dan melawan. Walau pada akhirnya, ia tahu bahwa kakaknya hanya diam saja dan tidak acuh menanggapi. Kini dia sadar bahwa kakaknya ternyata cukup peduli. Hanya kedua orang tuanya saja yang benar-benar meremehkan kemampuannya.
Setelah meredakan emosi yang sempat hampir saja meledak, Kenan mengganti pakaian. Ia tidak mau tampil awut-awutan di saat penting baginya itu, yaitu dilibatkan sang kakak di dalam situasi yang tidak ia pahami seperti apa.
“Dokumen? Hemm … aku menjadi sangat penasaran kenapa bisa sepenting itu.”
Kenan keluar dari kamarnya dan berjalan santai, menghindari CCTV agar bisa menyelinap ke dalam kamar orang tuanya. Sejak kecil dia memiliki kunci duplikatnya.
Semua menyangka barang berjumlah satu buah itu hilang, nyatanya Kenan sering menyelinap ke dalam kamar orang tuanya dan membuka file-file penting. Hingga pada suatu ketika, dia menemukan surat wasiat yang berisi bahwa nama Teshar yang akan menjadi ahli waris 80% aset; membuatnya semakin membenci semua orang dan tentunya sang kakak yang tidak tahu apa-apa.
Kini Kenan berjibaku seorang diri, mencari dokumen—yang terdapat nama Roy Louise—di antara puluhan file. Sungguh, membuatnya cukup kesulitan, ditambah durasi sepuluh menit yang dibuatnya sendiri agar tidak ketahuan, semakin membuatnya panik.
Teshar sendiri kini melenggang turun dari lantai atas menuju ke arah meja makan. seorang pelayan menundukkan kepala memberi hormat kepadanya.
__ADS_1
“Makanan sudah siap, Tuan Muda,” ucapnya sopan.
“Kenan hang over parah, lain kali aku akan makan bersamanya,” ungkap Teshar sambil berjalan menuju kursi.
“Iya, Tuan. Beberapa hari ini tuan Kenan seperti itu,” lapor pelayan itu diberi anggukan Teshar.
Teshar menggunakan kesempatan itu untuk mengisi perut. Ia tidak menyangka gadis yang seharusnya ia bunuh dua belas tahun silam itu akan menjadi kelemahannya.
Ketika harusnya ia merasa senang karena apa yang menjadi perintah orang tuanya bisa terlaksana, tiba-tiba hati menjadi lemah dan menolak keras kehilangan Clara.
Pria itu mengunyah makanan dengan banyak pikiran terselubung, memikirkan langkah yang akan dia tempuh nantinya saat negosiasi. Untung saja ia juga memiliki pion yang setara dengan Clara.
Ia yakin Jeff pasti akan terkejut dengan keberadaan Zidan—putra kesayangan pria tua itu, kini berada di tangannya.
“Kau akan ke mana?” tegur Teshar memandang Kenan yang berjalan tergesa, melewati ruang tengah tanpa memandang ke arahnya.
Beberapa pengawal menatap dua bersaudara yang selalu menampakkan aura saling bersitegang itu, seperti biasanya tidak menaruh curiga.
“Bukan urusanmu! Kenapa bertanya, apa kamu mau ikut?” desisnya tanpa menoleh, terlihat seringai di wajahnya.
Kenan menghentikan langkah di ambang pintu, memberi tatapan tajam ke arah pengawal yang berjaga hingga keduanya membuka pintu untuknya. Adik Teshar itu pun berjalan tergesa menuju ke arah mobilnya terparkir.
“Hei bocah tengik! Aku belum selesai bicara!” teriak Teshar segera menyusul Kenan.
Pria itu berlari kecil meninggalkan meja makan dan keluar menuju halaman tepat saat Kenan sudah menyalakan mesin, untuk memanasi mobil sportnya.
“Ada apa lagi?” tantang Kenan membuka kaca pintu mobil separuh, wajahnya dipenuhi senyuman masam.
“Berhenti bermain-main!” tegas Teshar.
“Aku urusi urusanku, dan kau urusi urusanmu,” jawabnya dengan memberi kerlingan sebelah mata yang sukses membuat Teshar membuang muka dengan kesal.
Kenan meninggalkan kediamannya dengan lipatan bibir menahan tawa. Dia tidak menyangka bisa secara spontan berakting layaknya saudara yang sedang bertikai—demi mencari alasan untuk pergi. Karena gadis itu? Ia tertawa sendiri saat menyadarinya.
Sebagai pria paling playboy dari daftar teman satu Genknya, ia cukup mudah bosan dengan seorang wanita dan membuangnya setelah merasa tidak tertarik lagi dengan para wanita itu.
Kini pikirannya tertuju kepada gadis yang disembunyikan oleh kakaknya. Ia cukup penasaran dan tertantang untuk menaklukkan wanita, yang jelas-jelas tidak menanggapi pesona yang ia miliki itu.
__ADS_1
“Baiklah gadis cantik, aku ingin melihat … sejauh mana kamu akan terus mengabaikan. Aku pasti bisa mendapatkan perhatianmu. Aku akan menggunakan momen ini agar kamu berhutang budi padaku,” gumamnya penuh khayalan di kepala.
Saat Kenan sudah melesat meninggalkan rumah, kini Teshar bersiap untuk pulang ke rumahnya sendiri. Letak bangunan bertetangga dengan penjagaan yang berbeda dari rumah orang tuanya.
Teshar memiliki beberapa orang kepercayaan. Namun, tidak akan dilibatkan dalam masalah Clara karena terlalu berisiko.
Sesampai di kamar rumahnya, Teshar mengambil pakaian ganti, bercermin sebentar, dan beralih menatap jendela sesaat. Ia merasa hidupnya sudah jauh dari usia muda, tapi nyatanya ia masih saja berkutat hidup di lingkaran masa lalu karena kehadiran Clara.
“Mungkin ini kesempatanku untuk mengubah semuanya. Memberikan kesempatan gadis itu untuk menikmati dunia, dan aku harap keputusan ini tidak salah.”
Teshar segera menyambar jas, ponsel juga kontak mobilnya. Dia akan menghubungi Kenan berada di posisi mana, juga Jemmy.
Pikirannya terpecah. Ia merasa yakin Kenan pria cerdas yang pura-pura bodoh dan dokumen itu sudah pasti berada di tangannya. Sisanya, hanya butuh negosiasi dan melepaskan Clara bersama sang Kakek.
Perjalanannya lancar untuk mencapai titik pertemuan dengan Kenan. Jemmy pasti juga sudah melesat menuju di mana titik Clara berada—melalui deteksi lokasi saat Jeff menghubunginya.
Ia sendiri secara berkala akan mengawasi pergerakan Jeff, karena anak buah terlatih sudah terlebih dahulu di kirim ke tempat Jeff meminta pertemuan.
“Jeff bersiap menuju ke Green Villa,” lapor Jemmy kepada Teshar melalui ear peace yang terpasang sebagai alat komunikasi. Termasuk digunakan semua anak buah yang ikut serta malam ini.
“Zidan berada di mana?”
“Aman, dia bersamaku. Sepertinya Jeff tidak membawa serta Clara. Entahlah, apa yang sedang direncanakan kakek tua itu. Pasti dia tidak menyadari kalau anaknya juga telah menghilang.” Jemmy mendadak merasa aneh.
“Tunggu! Aku rasa ini aneh.” Teshar mengamati keadaan sekitar saat mobilnya melaju ke pelataran area Green Villa.
Dia tahu, Kenan sekarang berada di Ground Zero yang lokasinya bersebelahan dengan letak villa itu berada. Hanya berjarak beberapa meter saja, dipisahkan oleh sebuah taman kota.
“Ground Zero!” teriak Jemmy dan Teshar bersamaan.
Mereka sadar bahwa pasti Clara saat ini berada di sana. Alih-alih tempat Sepi, yang ada Jeff memilih tempat ramai untuk menyelamatkan dirinya—saat negosiasi tidak berjalan dengan lancar.
“Pria itu gila!” desis Teshar merasa ia tidak bisa bergerak leluasa. Polisi pasti akan mengendus pergerakan mereka, bila harus memakai adu senjata. Ia mengerang kesal sendiri.
Jemmy segera membelokkan mobilnya dari jalur Khalasan menuju ke Bar, tempat di mana mereka meminta Kenan untuk menunggu.
Sedangkan Teshar sendiri masih berada di area Green Villa. Tiba-tiba muncul ide yang membuatnya tersenyum. Pria itu akan melibatkan Kenan di dalam susunan rencananya.
__ADS_1