Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Arti Cinta Bagimu


__ADS_3

Suara klakson mobil arah belakangnya beberapa kali berbunyi. Ada yang segera menyalip kendaraan Teshar karena sudah tidak sabar menunggu.


Setengah tergagap, pria itu segera menjalankan mobilnya melewati perempatan saat lampu hijau sudah menyala. Ia tidak menyangka hanya karena memikirkan gadis itu, dirinya sampai limbung seharian.


"Tidak, tidak, aku tidak boleh begini, mungkin ini kesempatanku terbebas dari rasa bersalah kepada ayah dan ibu. Aku akan membiarkan Jeff membunuh Clara saja. Aku tidak mungkin melakukan tindakan yang sama yaitu melindunginya lagi. Mungkin saja memang nasibnya seperti ini," gumam Teshar memutuskan untuk melihat celah.


Bib. Suara pesan masuk membuat Teshar sejenak melirik ke arah pop up yang tampil di layar ponselnya.


"Jam sepuluh besok malam. Kalau kau terlambat, jangan tanyakan lagi keberadaannya," bunyi pesan itu.


Teshar mendadak dilema, kemudian ia pacu kendaraan itu menuju ke rumahnya. Ia seharian ini tidak akan pergi ke kantor, ia akan mencari strategi baru dalam melawan Jeff. Mengikuti kemauan Jeff sama saja dengan melawan kedua orang tuanya secara terang-terangan.


Dia tidak boleh gegabah, setidaknya daripada bunuh diri dan bertindak konyol, bukankah lebih baik mengorbankan gadis it—walau jujur di dalam hatinya ia tidak setuju dengan logikanya.


Senja mulai merambat, meredupkan sorot mentari yang membakar kesabaran manusia ketika berada tepat di bawah sengatannya, gulirnya bersiap bergerak menuju hawa dingin yang mulai terasa ketika malam menyelimuti. Teshar, pria itu kini sedang berada di dalam ruang belajarnya, memandang deretan rak dan lemari penuh dengan ribuan buku yang berderet rapi di sana, tidak tersentuh dan sepi tanpa ada penghuninya lagi, yaitu Clara.


Ia mengesah kasar sembari duduk di bangku yang biasa ia gunakan untuk membaca, menoleh ke arah bangku kosong yang biasa Clara tempati untuk belajar sambil memberinya lontaran pertanyaan konyol dan polos yang terkadang membuatnya harus menahan ledakan tawa. Ingatannya tentang sosok Clara saat masih berusia lima belas tahun kini kembali hadir.


"Apa itu cinta, Kak Teshar?" tanya Clara saat itu.

__ADS_1


Teshar yang saat itu baru berusia dua puluh delapan tahun hanya menoleh sekilas tanpa menanggapi, baginya cinta itu sangat rumit dan ia sendiri malas mengartikan atau sekedar mendeskripsikan cinta itu seperti apa. Ia sibuk, membuat kedua orang tuanya bangga dengan prestasi yang selalu mampu ia torehkan selama ini, baginya cinta tidaklah penting.


"Aku akan membacakan arti dari cinta, ya?" tawar Clara saat itu sambil memutar badannya menghadap ke arah bangku milik Teshar.


Teshar mengembus napas sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh lagi, mencoba memberi kesempatan gadis yang mulai beranjak dewasa dan sempat membuat geger pelayan saat mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya itu, walau sebenarnya dirinya cukup malas.


"Bacakan cepat, aku tidak menyukai bacaan tidak berbobot," jawabnya dengan raut wajah masam.


Clara tersenyum cerah dan berdeham sejenak sebelum mulai membacakan arti cinta dari buku yang tengah ia baca itu dengan wajah bersemangat. Tampak sorot mata berkilat mewarnainya, Teshar menggeleng kepala, merasa kalau gadis itu sudah sangat berlebihan.


"Kak Teshar dengarkan baik-baik, ya?" ucapnya lagi membuat kaki Teshar mengentak lantai karena merasa sudah tidak sabar. Tentu saja Clara hanya akan tersenyum simpul, kadangkala akan tertawa cekikikan saat pria kaku dan dingin itu memberi gertakan peringatan kepadanya. Gadis itu benar-benar berusaha kuat dan sabar menghadapi mood yang selalu berubah-ubah. Walau pada akhirnya gadis itu akan berubah sendu dan menangis seorang diri di dalam kamarnya—saat pria itu pergi dari sana.


"Menurut buku yang aku baca, sumber *wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang." Clara membacakan dengan suara berapi-api, matanya terlihat berkilat senang.


"Kalau bagi Kak Teshar, cinta itu apa?" tanya Clara masih mencoba mengetahui pendapatnya, membuat pria itu menelan ludah dengan kaku. Teshar memilih untuk diam tidak mau menanggapi pertanyaan itu karena baginya itu sangat memalukan.


**


"Cinta?" ucap Teshar secara tidak sadar, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Bayangan masa lalu itu kemudian hilang bersama helaan napas disertai rasa penat pada tubuhnya yang mulai menggelayut.

__ADS_1


Ia segera menegakkan tubuhnya dari tempat duduk, berjalan pelan meninggalkan mejanya menuju ke meja milik Clara seraya meletakkan jemari tangannya di sana. Mengelus perlahan permukaannya dengan desiran perasaan yang sukar ia pahami.


"Ck! Kenapa aku jadi lemah begini," keluhnya. "Aku akan menjemputmu dengan caraku, anak nakal. Aku mohon, bersabarlah." Teshar mengesah dalam hati.


Teshar segera berjalan menuju ke kamar tempat Clara menghabiskan hari-harinya selama berada di dalam rumahnya, menekan tombol kecil yang berada di samping lemari besar dengan berbagai buku-buku tebal yang berderet rapi di dalamnya. Lemari itu pun bergerak perlahan, bergeser ke arah samping hingga menampakkan sebuah ruangan tersembunyi.


Kembali terdengar Teshar mengembus napas, kali ini ada sebuah rasa yang menyesak hatinya saat menatap kamar itu masih berantakan. Pria yang kini masih berpakaian kemeja kantor yang tampak kusut itu segera berjalan masuk dan mengambil beberapa barang milik Clara yang bercecer di lantai, ia menjumput satu persatu dan mengembalikannya ke atas meja rias Clara.


"Kamu masih menyimpannya?" ucapnya pelan.


Teshar menggenggam sebuah kotak berisi permen yang ia berikan kepada Clara saat gadis itu berusia sepuluh tahun, dua hari setelah ia mengurungnya di dalam kamar ini agar diam tidak lagi menangis.


"Akan aku tebus kesalahanku padamu, Cla," ucapnya lirih.


Teshar menggenggam erat sekotak permen yang sepertinya hanya di makan Clara sebanyak dua buah saja dan menyimpan sisanya selama bertahun-tahun—walau sudah dalam keadaan kedaluwarsa, Teshar tersenyum sambil menggeleng pelan tidak percaya Clara bisa mempunyai sifat serumit itu.


Teshar segera membereskan kamar Clara, tidak mau ada bekas kekacauan yang ia ciptakan sehingga merusak kenangan yang tertinggal dari sosok wanita itu dari dalam ruang baca miliknya.


Tanpa menunggu lama ia segera bergerak cepat memisahkan barang pecah lalu menampungnya ke dalam tong sampah. Dia juga merapikan barang yang masih utuh kembali ke atas meja.

__ADS_1


Selama melakukan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan itu, perasaanya semakin dalam. Penuh dengan kenangan kebersamaan bersama gadis itu selama dua belas tahun lamanya.


“Ya Tuhan, Teshar. Kenapa bisa seberat ini rasanya?” geramnya pada diri sendiri.


__ADS_2