
Sementara itu di pihak Clara, gadis itu kini sedang berada di dalam ruangan bersama Jeff. Pria itu menatapnya dengan seringai yang jujur saja membuat jemari tangannya basah karena keringat dingin. Clara mengingat garis wajah, sorot mata dan senyuman itu sebagai paman, adik dari ibunya. Meskipun ingatan itu lamat-lamat seiring bertambahnya usia sang paman. Namun, Clara yakin dengan apa yang dilihatnya.
"P-paman Jeff?" ulang Clara mencoba mengingat kembali wajah pamannya. “Itu benar, Paman 'kan?”
Pria yang disebut Jeff itu pun menanggapi pertanyaan Clara dengan senyuman tipis. Wajah seorang gadis yang membawa kenangan mendalam di dalam benaknya, rasa sesak bercampur kemarahan pun hadir pula begitu melihat sang keponakan.
"Aku senang kamu mengingatku setelah lebih dari sepuluh tahun kita tidak bertemu," ucapnya pelan. “Ups, dua belas tahun maksudku.”
"Kenapa Paman membawaku ke sini?" tanya Clara sedikit gentar. Mau bagaimanapun, dia merasa cukup takut karena aura pria itu sangat mengerikan. “Ada urusan apa paman denganku?”
Jujur saja, sejak dulu saat mendengar teriakan dan lengkingan suara pamannya, ketika berada di rumah neneknya semasa kecil. Pria itu tidak segan membentak, membanting apa saja ketika berada di rumah bahkan mengancam kakek dan neneknya entah karena masalah apa. Clara saat itu belum mengerti masalah orang dewasa. Kenapa bisa pria tempramen itu menjadi bagian dari keluarganya, batin Clara menguatkan diri.
“Kita bernostalgia membicarakan tentang masa lalunya nanti saja. Ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar menanyakan kabar tentangku. Tentu kita bisa melihat satu sama lain masih sanggup bernapas, bukan?” ujar pria itu menunjukkan adanya peningkatan ancaman bagi keselamatan Clara.
Clara hanya bisa menahan tegukan ludahnya pelan-pelan. Sungguh, pamannya sejak dulu hingga sekarang sama saja mengerikan.
"Bicaralah sebentar, orang yang merawatmu selama ini sangat ingin mendengar suaramu," ucap Jeff seraya mengacungkan ponsel miliknya ke arah Clara.
Satu pengawal di belakangnya segera maju dan mengacungkan pistolnya ke arah Clara. Mata gadis itu langsung membeliak kaget tidak terkira. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam terpaku.
"Katakan cepat, bilang keadaan kamu di sini baik-baik saja!" perintah pria itu dengan mata memicing, membuat Clara menelan ludah kering. Dengan tubuh gemetaran, dia segera berjalan lebih dekat seraya meraih ponsel itu lalu menempelkan ke arah daun telinganya.
__ADS_1
Kaki Clara hampir terjatuh lemas saat menyadari ancaman senjata pistol mengarah kepadanya—sama seperti saat Teshar membawanya ke dalam mobil dua belas tahun yang lalu. Acungan senjata api itu tampak memberikan trauma mendalam di dalam ingatannya. Hanya sekali, tetapi sangat membekas dalam hidup gadis itu.
"Kak, ini Clara. Aku tidak apa-apa," ucapnya tergesa dengan tangan gemetar. Rasanya ingin sekali ia meledakkan tangis saat mendengar suara pria yang ia benci setengah mati itu mencoba untuk menenangkan keresahannya.
"Kamu jangan cemas. Aku akan—" Suara Teshar terpotong karena Jeff segera merebut ponsel itu dan berjalan menjauhi Clara.
Gadis itu mengepalkan jemari tangannya, saat menatap punggung pria tinggi dengan rambut mulai memutih dan botak di bagian ujung kepalanya itu. Perasaanya seperti dipermainkan.
"Nenek, apa yang harus aku lakukan sekarang? Siapa yang harus aku percayai?" batinnya sambil menunduk, menatap ke arah sepatu miliknya sendiri.
Pikirannya kini mulai dilanda kebingungan. Saat kedua pria itu, Teshar dan paman Jeff baginya hanya mengambil apa yang menguntungkan dari kepentingan pribadi mereka. Mendadak Clara ingin sekali mengumpati hidupnya. Ingin sekali ia berteriak dan berlari sekencang-kencangnya atau hilang saja dari muka bumi ini. Seperti apa yang selama ini Teshar ucapkan, menjadi jalan penebusan atas keinginannya meraih kebebasan dalam hidup.
"Kenapa aku masih berharap bisa bertemu dengan pria jahat itu lagi? Ada apa denganku? Harusnya aku tidak mengharapkan ia menolongku 'kan? Dia sama jahatnya dengan paman Jeff," keluh Clara pelan. Dia merasa menjadi lemah dalam beberapa hal.
Suara dentuman pintu yang tertutup keras membuat gadis itu tersentak kaget, jantungnya hampir melonjak dari tempatnya. Semua pria itu sudah meninggalkan kamarnya. Sambil mengusap dada demi bisa menetralisir keterkejutan, ia segera berdiri dan berjalan mendekati meja untuk mengambil botol minuman lalu menegak isinya sampai tidak tersisa.
Bersama rona kekesalan pula, ia melempar botol itu hingga mengenai dinding dan terpental jatuh ke arahnya lagi. Masih diliputi rasa kesal yang belum puas terlampiaskan, ia menendang lagi barang itu hingga menyentak dinding yang juga kembali terpental ke arahnya.
"Semua yang kulakukan akan berbalik kembali menyerangku. Aku harus hati-hati dalam bertindak. Bukankah begitu artinya? Botol jelek menyebalkan?" ocehnya menatap jengkel botol plastik yang kini berada di bawah kakinya.
Gadis itu segera berjalan menuju ke arah jendela kaca, mulai menampakkan gelap. Suasana malam yang mulai merambat. Jemari tangannya segera meraih tirai, menyingkap perlahan agar lebih terbuka agar melihat dengan jelas suasana luar rumah.
__ADS_1
"Wah, mereka benar-benar!" decaknya dibarengi gerakan bibir bersungut-sungut. "Aku merasa terkepung di kadang singa."
Clara bisa melihat keberadaan pria tegap berdiri di beberapa sudut luar rumah ini. Dia jelas tahu tempatnya terkurung berada di lantai satu. Ternyata sama saja, semua pengawal menjaga tempat ini sangat ketat, kesempatannya bisa kabur sangat tipis. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menyiapkan segala kemungkinan dengan tidak bertidak secara gegabah.
"Aku akan membuat peluru itu menembus jantungku saja agar kebebasan itu bisa aku peroleh sepenuhnya," gumamnya sambil menutup tirai. "Apa nanti akan terasa sakit? Seperti yang aku rasakan saat kamu melontarkan kalimat tentang keberadaanku yang harusnya tidak ada di dunia ini lagi, Kak Teshar?" rancunya sedih.
Gadis itu memegang dada sebelah kiri dengan gigi mengatup kuat, menelan ludah pahit serta menatap arah luar kembali lewat jendela kaca dengan sorot mata sayu.
***
Rintik hujan mulai membasahi bumi, Teshar masih berkutat di depan meja kerjanya. Tanpa assisten yang mumpuni pada bagian ini benar-benar membuatnya cukup frustrasi. Dia benar-benar harus memutar otaknya sendirian. Sore hari yang cukup melelahkan baginya.
Selalu dibayangi oleh kekuasaan kedua orang tua sangat menyesakkan dada. Dari awal kehidupan, karier, hingga kini semua selalu diatur oleh mereka berdua. Kini ia merasa yakin bahwa ayahnya pasti sudah merencanakan sesuatu bila kejadian seperti ini terjadi, untuk mengendalikan lagi kehidupan yang ia jalani.
"Orang tuaku adalah tantangan yang sesungguhnya," keluhnya pelan.
Pria berpenampilan sangat rapi itu kini berubah agak acak-acakan, jas terlihat tersampir di sofa dan dasinya terlihat kusut seperti wajahnya yang tersirat rasa kesal dan marah terpendam di hatinya.
Pintu diketuk beberapa kali membuatnya mengalihkan pandangan dari berkas-berkas ke arah pintu kaca yang menampilkan sekretarisnya, Debby sudah berada di luar ruangan.
"Tuan Thesar, selamat malam."
__ADS_1