Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Pertarungan Dua Hati


__ADS_3

Temaram lampu tidak juga membuat mata gadis itu terpejam. Rentetan kilasan kejadian demi kejadian yang baru saja terlewati masih saja terekam jelas dalam ingatan. Semua yang sudah diusahakan nyatanya tidak serta-merta membuat kehidupan menjadi lebih baik.


Kini ia kembali merasakan sebuah tekanan keraguan akan cerahnya masa depan, Clara tercenung pasrah. Di tempat ini ia merasa kembali dikungkung dengan ratusan pengawal.


“Apa kamu belum tidur?” Suara Kenan memecah keheningan.


Pria itu bergerak dengan gelisah di sofa dengan beralih tidur terlentang menatap langit-langit kamar. Kakinya menjulur panjang hingga melewati sisi bagian pembatas. Kepalanya memutar pelan, melirik ke arah gadis yang kini berada di kasur berselimut kain tebal.


“Gadis jelek? Aku tahu kamu belum tidur.”


“Baru akan,” jawab Clara singkat tanpa minat.


“Haruskah kutambah dingin suhu ruangannya?” tawarnya berbasa-basi.


“Tidak perlu,” sabut Clara tanpa bergerak dari posisinya tidur.


Kenan segera bangkit, melepaskan selimut tidak terlalu tebal yang tersampir pada badannya ke sandaran sofa. Pria itu berjalan ke arah pintu membawa suara sandal yang mengusik telinga Clara.


“Aku keluar sebentar. Nanti aku kembali,” pamit Kenan saat menyadari kini Clara menggulingkan tubuh demi bisa melihat apa yang sedang dia lakukan.


Clara tidak menyahut. Ia tidak begitu peduli terhadap pria itu, karena baginya dia hanya orang asing yang sok kenal, atau lebih tepatnya sok peduli dengan kehidupannya. 


Clara kembali memosisikan diri miring ke kiri memunggungi pintu. Mencoba kembali memejamkan mata agar cepat terlelap. Tubuhnya terasa pegal, perih bercampur rasa denyut tidak nyaman.


Sungguh, kengerian ketika pamannya melecutkan cambuk mengenai tubuhnya seakan masih terasa nyata di pelupuk mata. Menyakitkan.


'Kau harus membuat Teshar membayar mahal atas cintanya!' Suara pamannya terngiang jelas di dalam otak.


Suara pintu kembali dibuka segera membuyarkan upaya Clara mencoba menerka-nerka arti dari ucapan adik dari ibunya itu.


“Hei, sini! Lihat, aku bawa apa!” seru Kenan begitu sampai di kamar.


Pria itu menutup pintu dengan menggunakan siku dan bagian belakang badannya. Berjalan penuh semangat kembali ke sofa dengan membawa satu cup es krim ukuran medium beserta dua stick sebagai sendok.


“Cepat! Aku yakin kamu belum pernah menikmati makanan ini, 'kan?” tawarnya lagi membuat Clara mengangkat kepala, mengamati Kenan yang duduk di sofa dengan tangan sibuk membuka kemasan kotak persegi panjang di atas meja.


Clara segera bangkit saat menyadari pria itu membawakan sekotak es krim. Kenangan masa kecil tergambar jelas di benak gadis itu. Es krim adalah makanan favorit yang sudah lama tidak dia nikmati lagi.


“Kalau tidak cepat ke sini, akan kuhabiskan sendiri,” ancam pria itu menoleh sambil tersenyum jahil ke arah Clara.


Sebuah ancaman yang sudah pasti akan membuat Clara lari terbirit-birit untuk menghentikan Kenan. Clara tidak perlu diberi ancaman lagi, karena gadis itu sudah duduk di sofa berseberangan dengan Kenan. Wajahnya yang polos saat memandang Kenan memakan eskrim dengan lahap segera meledakkan tawa pria berusia dua puluh tujuh tahun itu.


“Duduk di sebelahku, sini. kita makan barengan,” ucapnya segera duduk posisi tubuh menyerong menghadap ke samping, kakinya segera berada di posisi bersila. Kenan menepuk permukaan sofa yang masih kosong di hadapannya.

__ADS_1


“Duduk di depanku, sini. Kita lomba menghabiskan es krim sama-sama,” ucapnya penuh semangat.


Clara merasa apa yang ditawarkan Kenan begitu menarik. Setelah mencoba menghindar karena pria itu terlihat berandalan dan asing, kini melihat betapa ceria dan lembut sikapnya, Clara mulai merasa nyaman.


“Ini stik untukmu,” lontarnya seraya mengulurkan benda berbahan kayu berwarna cokelat muda kepada Clara.


“Terima kasih,” jawab Clara masih canggung.


“Duduklah, jangan kelamaan. Nanti kalau meleleh, rasa nikmatnya bakal lain,” desak Kenan meraih lengan Clara agar segera duduk di sofa yang sama dengan posisi saling menghadap.


Clara mengikuti arahan Kenan, menyanggupi permainan pria yang tersenyum cerah saat memandang. Ia pun mulai menyendok es krim mengikuti gerak Kenan yang juga melakukan hal yang sama.


“Ehm, bagaimana menurutmu?” tanya pria itu kembali menyendok dalam jumlah yang besar. Lumeran dingin, manis dan lembut segera tercipta di dalam mulutnya.


“Enak, aku suka,” jawab Clara, tidak mampu menyembunyikan rona kerinduan terhadap momen masa kecilnya. Rasa yang menyentak ulu hati hingga dilema terhadap apa yang ada di depan mata, seolah meremas otak untuk segera meluruskan apa yang seharusnya dia lakukan.


“Tidak. Teshar sudah menyelamatkanmu, Clara. Tidak seharusnya kamu membencinya lagi hanya karena momen es krim ini mengingatkanmu pada masa yang terenggut paksa hari itu,” tegas wanita itu dalam hati.


Kenan yang menyadari gadis di hadapannya itu kini malah melamun, menatap kosong ke arah samping tubuh pria itu. Ia pun berinisiatif untuk mengajak gadis itu kembali fokus padanya. Dengan gerakan cepat ia menoyor kening Clara dengan jari telunjuk. 


Clara tersentak kaget mendapati kepalanya terdorong ke belakang. Sambil membelalak mata ia pun memandang Kenan dengan rona kekesalan dan gelagat tidak nyaman.


“Apa yang kamu lakukan?” Kening gadis itu mengernyit.


Clara menggaruk lehernya yang tidak gatal, menyadari apa yang dikatakan Kenan ada benarnya. Tanpa memperpanjang masalah, akhirnya gadis itu memilih untuk mengambil satu stik yang tertancap di wadah es krim dan segera memasukkan bongkahan lembut itu ke dalam mulutnya.


“Ehmm, enak,” pujinya sambil tersenyum.


Kenan tersenyum simpul, bagaimana mungkin wajah dan mood gadis di hadapannya itu bisa berubah begitu cepat.


“Di mana Teshar menemukan gadis semenarik ini?” batinnya sambil menyendok es krim miliknya, mengikuti gerak luwes gadis cantik di hadapannya itu.


Clara tidak memandang Kenan sama sekali, ia hanya terus menikmati suapan demi suapan makanan favoritnya sejak kecil dengan penuh syukur.


“Kita berteman, ya?” ajak Kenan lagi, sungguh pesona kepolosannya sanggup mengoyak alam kelelakian pria itu. Mendapatkan simpati gadis itu menjadi sangat mengusik pikirannya.


“Kenapa harus berteman? Sangat berbahaya kalau aku sampai salah memilih teman,” jawab Clara menatap penuh tanya ke arah pria itu hingga Kenan harus menelan cepat-cepat bongkahan es yang belum sepenuhnya meleleh di mulut.


“Bahaya katamu?” protesnya. “Wah, aku tampan begini dibilang bahaya? Cih!”


Clara memandang tidak nyaman, menyadari pria itu tersinggung dengan ucapannya.


“Terus, untuk apa kita berteman?” ralat Clara memperbaiki pertanyaannya.

__ADS_1


“Supaya … kita bisa saling membantu,” jawab Kenan dengan batin menggeram karena malah bingung menjawab apa.


Tidak seperti biasanya. Seorang


Kenan bingung mencari alasan untuk berteman dengan seorang wanita. Sial! Merasa aneh dengan perasaannya sendiri, bagaimana mungkin bisa selemah itu terhadap penolakan.


“Alasan kamu bagus,” puji Clara penuh ketulusan.


Sungguh, kalau bukan karena Teshar, mungkin saja Kenan akan cepat-cepat menerkam gadis berpikiran bayi di hadapannya ini. Memakan es krim dengan wajah mirip sekali anak kecil tanpa dibuat-buat. Pertanyaan polos penuh ketulusan tanpa ada niatan menyinggung ucapan dengan sengaja, tetapi karena pendapatnya demikian.


Siapa gadis ini? Kenan mengembus napas penuh entakan rasa penasaran yang bergolak. Si cantik itu begitu menarik minat Kenan untuk mengenalnya lebih jauh. 


“Ehm … boleh tahu kenapa kamu bisa bertemu Teshar?” tanya Kenan menghentikan aktivitasnya. Pandangannya lurus ke arah gadis itu.  


“Dia membawaku,” jawab gadis itu dengan tanpa memberi ekspresi apa-apa, mulutnya masih penuh es krim tanpa menghentikan suapan.


“Dari?”


“Rumah ayah dan ibuku,” jawabnya tanpa beban.


“Kamu diculik Teshar!” sentak Kenan membuat Clara berjengkit saat memandang pria itu, keningnya berkerut. Belum sepenuhnya berpikir ke arah sana.


“Aku tidak tahu,” sahutnya lesu.


“Bodoh! Bagaimana mungkin kamu tidak tahu? Teshar harus dihukum,” tegas Kenan meletakkan stik es krimnya sambil mendorong kotak persegi panjang itu ke arah Clara. Gadis itu hanya memandangnya dengan tatapan bingung.


 “Kenapa kamu mau menghukumnya?” tanyanya polos.


“Jelaslah, dia … dia bawa kamu ke rumahnya untuk apa?” Kenan bingung sendiri untuk memancing gadis itu bercerita.


“Aku tidak tahu,” jawab Clara pelan dan murung. “Dia merawatku dengan baik,” tambahnya sembari memaksakan lengkungan senyum.


“Berapa lama kamu di sana? Beberapa kali aku masuk ke rumahnya, tapi aku tidak pernah lihat kamu.”


Kenan mulai bergerak gelisah, mengalihkan pandangannya menghadap ke arah depan. Kini, ia tidak lagi memosisikan diri berhadapan dengan Clara.


“Ehm, aku lupa. Yang pasti sejak aku usia sepuluh tahun,” aku Clara sontak membuat Kenan terkejut.


“Apa! S-sepuluh tahun? T-tapi kenapa?” tanyanya seraya memandang Clara dengan mata membelalak.


Clara menunduk, tangannya dengan lemah meletakkan wadah es krimnya ke atas permukaan sofa. Ia memandang Kenan dengan mata berkaca-kaca.


“Bisakah, kamu membantu mencari tahu jawaban itu untukku? Kenapa aku berada di rumah kakakmu?” Clara mengucapkan permintaan itu dengan wajah penuh pengharapan.

__ADS_1


Kenan menunduk dengan jemari tangan mengepal. Sisa tegukan rasa coklat es krimnya terasa pahit.


__ADS_2