
Rumah Sakit
Semalaman Jemmy tidak bisa memejamkan mata barang semenit. Menatap keadaan Teshar yang terus mengigau dengan kalimat kerancuan tidak jelas, membuatnya khawatir.
Jemmy membayangkan, sebanyak apa ketakutan Teshar yang disembunyikan selama ini hingga tidak bisa tenang sama sekali dalam tidurnya.
Beberapa kali pula Jemmy harus mengecek suhu tubuh Teshar yang terserang demam tinggi.
“Kita ada di mana?” tanya Teshar begitu terbangun. Ia terlihat letih dengan kepala menoleh ke segala arah.
Jemmy segera berjingkrak dari sofa dan menghampiri Teshar yang terlihat kebingungan. Tangannya bergerak cepat menyentuh kening, teraba lebih baik daripada suhu tubuh Teshar semalaman. Jemmy menatap lega jendela kaca yang menunjukkan keadaan luar sudah terang benderang oleh cahaya mentari pagi.
“Aku akan memanggil dokter,” ucapnya sekelebat pergi meninggalkan Teshar yang hanya diam memandangi raut wajahnya.
“Bagaimana keadaan Clara? Apa dia baik-baik saja,” gumam pria itu sambil meneguk ludahnya yang kering.
Ia mencoba mengingat kembali malam yang dialaminya. Saat mencoba untuk bernegosiasi dengan Jeff yang berakhir dengan baku tembak dan secara licik dilukai. Perlahan tangannya meraba perban yang melilit pada lengannya. Sambil menghela napas ia pun mencoba untuk menegakkan tubuhnya yang terasa sakit semua.
“Hei, jangan bergerak dulu,” protes Jemmy menahan dada Teshar agar tidak bangun.
“Aku baik-baik saja,” kilah Teshar bersikeras.
“Pokoknya kamu tidak boleh bergerak sama sekali!” desis Jemmy bernada mengomel.
Seorang dokter bersama tiga perawat yang masuk ke ruangan segera menghentikan perselisihan konyol mereka berdua. Dokter itu tersenyum semringah, mendekati ranjang pasien tempat Teshar terbaring ditemani Jemmy berdiri di sampingnya.
“Bagaimana kabar, Tuan Teshar?” ucapnya seraya menarik stetoskop dari saku jas putih kebanggaannya.
“Lebih baik daripada semalam,” jawab Teshar juga sedikit menyunggingkan senyuman tipis.
Ia tidak menyangka masih bisa bertahan dan hidup setelah sepanjang malam terserang sesak napas. Dadanya terasa berat dan juga rasa sakit di sekujur tubuh begitu menyiksa.
Sepanjang malam pula ia merasa sendirian, tak ada suara yang mampu ia dengarkan, kecuali sayup-sayup suara Clara yang memberinya rona kebencian. Suara gadis kecil meminta ampun dan semua suara minta tolong persis kejadian seperti dua belas tahun silam.
Mendadak ia merasakan penyesalan mendalam ketika apa yang dilakukan orang tuanya tidak mampu dia hentikan sama sekali. Mendadak wajah Teshar memucat, bila mengingat kembali tragedi di rumah orang tua gadis itu, akibat kebengisan pembalasan dendam dari orang tuanya.
__ADS_1
“Wajahmu kenapa mendadak malah pucat?” tanya Jemmy seraya memegang lengannya.
“Tidak,” jawab Teshar menggelengkan kepala.
“Dokter hanya memeriksa detak jantungmu, kenapa kamu terlihat cemas?” gurau Jemmy membuat dokter itu tersenyum dan memberikan arahan kepada perawat yang mengelilinginya.
“Bukan soal itu,” sanggah Teshar segera diberi kekehan Jemmy. Teshar hanya bisa mendengkus kesal sendiri.
“Banyak istirahat dulu ya, Tuan Teshar. Kami akan melakukan observasi secara mendalam terlebih dahulu, hasilnya kita amati dan akan kami jelaskan nanti. Saya senang karena keadaan Anda ternyata tidak separah dugaan saya semalam. Ok, kami permisi,” terang Dokter itu segera diberi anggukan kepala Teshar.
“Terima kasih, Dok.” Jemmy ikut mengantarkan kepergian dokter itu seraya menutup kembali pintunya.
Kini Jemmy segera kembali mendekati Teshar dan meninju dadanya pelan. Ia bersungut kesal, menyadari bahwa semalam dia sendiri sudah seperti orang gila, karena takut kehilangan Teshar yang mendadak menjadi pasien keadaan gawat.
“Apa kamu kesal aku masih bertahan hidup?” rutuk Teshar menatap Jemmy dengan lirikan matanya.
“Iya! Membuatku cemas saja!” jawab pria itu ketus, berbanding terbalik dengan hatinya yang diliputi rasa lega luar biasa.
Keduanya pun sama-sama memalingkan wajah dalam beberapa saat, melepaskan rasa lelah. Namun, jelas berderai tawa penuh kekonyolan pun terdengar pula setelahnya.
"Kau sukses membuat semua orang cemas."
Jemmy kemudian menarik kursi lipat di pojok ruang dan duduk bersedekap tangan, masih memandang ke arah Teshar sambil menggelengkan kepala.
“Jangan menyalahkan dirimu,” lontar Teshar kemudian seraya menatap langit-langit ruang rawatnya.
“Ayahmu akan segera tahu, Teshar. Karena kebodohanku, kamu jadi terluka. Bukankah itu artinya aku tidak becus menjagamu,” sesal Jemmy seraya menundukkan kepala sejenak.
“Aku sudah berumur tiga puluh empat tahun, kuberi tahu. Itu bukan murni salahmu, tapi karena kecerobohanku yang terlalu menganggap remeh kelicikan Jeffrin,” sanggah Teshar dengan pengakuan bersalah Jemmy.
Ia sadar bahwa semua sudah berusaha melakukan hal yang terbaik, jadi ia cukup bersyukur bisa melalui semuanya dengan baik. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk menebus kesalahannya kepada Clara dengan menyelamatkan gadis itu tadi malam.
“Apa Clara tidak apa-apa?” tanya Teshar dengan suara pelan.
“Iya, semalam Kenan membawa pulang Clara ke rumah kakekmu. Aku bilang keadaanmu baik-baik saja dan melarangnya datang ke sini.”
__ADS_1
Jemmy kembali menatap perubahan di wajah Teshar. Ia belum sanggup membaca apa yang sedang dipikirkan pria yang masih pucat itu—dalam tatapan kosongnya, menatap ke arah langit ruangan yang dominasi dengan warna putih itu.
“Aku takut, Jem,” ungkap Teshar kemudian.
Jemmy yang beberapa saat menunduk akhirnya menatap kembali Teshar, yang kini menampilkan senyuman pucat ke arahnya.
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Jemmy memandang dua manik cokelat itu dengan perasaan sama cemasnya. Ia merasa Teshar takut kepada kenyataan karena kini orang tuanya pasti sudah bertindak lebih dari yang ada di bayangannya.
“Dia akan membenciku, sebelum aku sempat meminta maaf,” jawabnya dengan suara getir.
“Clara? atau orang tuamu?” Jemmy merasa bingung.
“Keduanya.” Teshar kemudian membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah tembok untuk menghindari temu tatap dengan Jemmy yang seolah bingung memberi ekspresi apa kepadanya.
Jemmy terdiam, ia tahu saat ini Teshar hanya sedang membagi beban yang ia pikirkan selama lebih dari sepuluh tahun lamanya itu. Ia tahu selama itu pula Teshar menahan perasaan bersalah antara gadis itu dan kedua orang tuanya. Bahkan tanpa menyentuh saja, ia merasa bahwa pria itu begitu mencintai Clara alih-alih menyakiti atau membunuhnya—seperti apa yang ditugaskan kedua orang tuanya. Jemmy mendadak merasa tidak mampu kalau harus menjalani hidup seperti Teshar.
“Sejak kapan kamu menyimpan perasaanmu kepada Clara?” tanya Jemmy kemudian dengan suara sangat pelan.
“Sejak usianya enam belas tahun. Bukankah aku pria yang kotor?” akunya dengan tawa ironi.
“Bukan seperti itu,” sanggah Jemmy mencoba untuk membela sahabatnya itu. “Enam belas tahun artinya dia sudah bukan anak-anak lagi.”
“Aku mencoba untuk menyanggah perasaanku selama ini, menekankan untuk membuang kenyataan bahwa aku menyukai seorang gadis yang masih anak-anak. Dan itu selalu membuatku merasa kotor, asal kamu tahu. Aku tidak berharap ada yang mencintaku, Jemmy, Tidak boleh itu terjadi.” Teshar membalik tubuhnya menghadap Jemmy yang menunduk bingung.
“Enam belas tahun sudah bukan anak-anak, astaga!" Jemmy mengerang tidak percaya dengan pikiran Teshar. "Jadi, kamu mengabaikan hidupnya selama ini karena itu?”
“Hmm, aku tidak bicara lagi dengannya selama lima tahun ini. Aku mengabaikan semua ocehannya, walau sebenarnya aku cukup peduli dan ingin mengatakan bahwa aku juga mengkhawatirkannya.” Teshar mengembus napas panjang.
“Tentu saja, kebencianku karena orang tua Clara penyebab kematian kakakku, dan itu menjadi alasan kenapa aku melakukan ini semua terhadapnya.”
Jemmy memandang Teshar dengan wajah terkejut. Dia tidak menyangka sama sekali, kematian tragis dan misterius Jhony Indira memberi luka dan kisah semengerikan itu.
“Kamu tidak paham, 'kan?” tanya Teshar yang kemudian diberi gelengan kepala Jemmy pelan.
“Yah, Clara itu adalah anak dari Roy Louise, dia orang yang paling bertanggung jawab atas kematian kakakku. Seorang pria yang tidak tersentuh oleh hukum, hingga akhirnya orang tuaku memilih untuk mencari keadilan sendiri.”
__ADS_1
“Dengan balas dendam, menghabisi seluruh anggota keluarga itu ... tanpa terkecuali?” Sontak Jemmy dibuat terkejut.