Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Nervous


__ADS_3

Perjalanan Teshar berakhir ketika mobil yang ditumpangi sudah melewati pos pemeriksaan. Jemmy tak henti-hentinya menggoda, dan entah mengapa ia sama sekali tidak marah. Membiarkan sahabatnya terus berceloteh semaunya, tanpa memberi tanggapan atau pun mendebat argumentasi yang terkadang ngawur.


“Nah, kita sudah sampai,” ucap Jemmy kembali memberi lirikan mata menggoda.


“Mataku bisa melihat, Jemmy” sahut Teshar membalas dengan berdecak.


Pria itu merasa malu. Mungkin saja ini sejarah paling parah yang menderanya. Bagaimana mungkin, setelah berusia tiga puluh empat tahun sikapnya bisa mendadak seperti anak ABG yang akan menghadapi kencan pertama. Nervous.


"Sial!" batinnya merutuki nasib.


"Sepertinya aku cukup antusias sampai lupa kalau ini rumah kakekmu," oceh Jemmy bermaksud menggoda. Matanya mengerling membuat Teshar merasa jengah juga.


"Karena pikiranmu sering mengada-ada," desis Teshar membuat sahabatnya itu terkekeh geli.


Jemmy terkikik menyadari wajah Teshar menampakkan semburat memerah. Karena tidak mau membuat sahabatnya itu dilanda salah tingkah lebih parah. Ia pun memilih untuk segera memalingkan wajah, memandang ke arah lain.


Mobil itu bergerak pelan saat menyusuri hamparan tanah kosong, penuh tumbuhan rumput terbentang luas berhias hewan rusa yang bebas berlarian. Teshar menelan ludah, mengatasi kegugupan yang kini malah lebih mendominasi perasannya.


"Kediaman kakek ternyata dua kali lipat lebih luas dari rumahmu," komentar Jemmy diberi anggukan Teshar.


Seperti itulah. Meskipun sudah tua tetapi kakeknya memiliki aset yang tidak tersentuh sama sekali oleh orang tuanya. Bahkan yang ia tahu bahwa penerima warisan itu ternyata tidak serta merta jatuh ke tangan ayahnya sebagai anak tunggal, melainkan salah satu di antara cucunya. Ia sendiri atau Kenan.


Kenan. Menyebut nama itu memberi efek menyesakkan, ketika terakhir berkunjung yang ada malah membuatnya terpuruk. Ada apa dengannya? 


"Kita turun, Broh," tegur Jemmy seraya membuka pintu bagian samping.


Teshar mengangguk. Memusatkan kembali tujuannya ke rumah ini. Menemui kakeknya dan juga Clara tentu saja, bukan untuk memikirkan adiknya yang bengal.


Jika memang layak, ia ingin membuang rasa malu yang mulai mendera ketika ditatar kenyataan yang membuka matanya lebar-lebar. Alangkah bodohnya, selama ini dia sudah salah karena mengurung dan menjadikan Clara sebagai tahanan rumahnya. Inilah saatnya untuk meluruskan sejarah.


Namun, egonya masih terlampau tinggi untuk bersikap merendah di hadapan gadis itu secara tiba-tiba.


"Apa aku harus bersikap dingin saja seperti biasa?" gumamnya pelan.


Kini tangannya terulur untuk membuka pintu bagiannya sendiri. Menjulurkan kaki terlebih dahulu sebelum akhirnya seluruh tubuhnya kini benar-benar tampak gagah keluar dari mobil.


Teshar berjalan dengan sikap sewajarnya, seperti itulah kelebihannya. Mampu menyembunyikan apa yang sebenarnya bergolak di dalam hatinya.


***


Saat ini Clara sedang mengantarkan makanan ringan di pos penjaga saat Teshar datang. Sengaja mengirimkan aneka kue yang dibuatnya saat latihan di pantry kemarin sore.


"Enak sekali kuenya, Clara," komentar salah satu pengawal menyicipi satu kue yang disuguhkan Clara.

__ADS_1


"Oya? Sedikit gosong, sih," sahut gadis itu menampilkan senyuman malu.


"Sambil lihat kamu juga jadi ada manis-manisnya," celetuk yang lain segera diberi sodokan gemas dari rekan sesama pengawal. Mereka pun terkekeh bersamaan.


Semua pengawal segera berhamburan, membentuk pola posisi siaga saat salah seorang pengawal mendapatkan laporan dari penjaga gerbang.


Clara hanya bisa mengernyit heran, kenapa pula mereka harus bersikap layaknya berada di medan perang.


Apa ada sesuatu yang sedang terjadi? Pikirnya menyelidik.


"Tuan Teshar sudah melewati gerbang pemeriksaan, siapkan penyambutan," suara dari earpiece yang kini dikenakan oleh salah satu pengawal senior.


"Ok, penyambutan tuan muda Teshar akan kami ambil alih, over!" jawabnya tegas.


Clara menelan ludah pahit. Saat mendengar nama pria angkuh itu disebutkan, cukup membawa efek senyar dalam hatinya. Setelah menunggu hampir sepuluh hari, akhirnya ia bisa bertemu dengan pria itu lagi.


Rasanya ia begitu bingung harus melakukan apa. Ada secercah kerinduan yang terasa secara tidak sadar.


"Kak Teshar datang?" gumamnya seraya mundur.


Entah mengapa, nyalinya menciut saat mobil yang ditumpangi Teshar terlihat bergerak menuju halaman. Semua pengawal segera membentuk barisan sedangkan Clara mengendap meninggalkan tempat tersebut secara diam-diam.


Clara berjalan tergesa menuju ke arah pantry. Jantungnya berdentum kencang, beberapa kali tubuhnya bertubrukan dengan pelayan yang dilewatinya. Rasanya ia belum siap bertemu dengan Teshar padahal ia cukup merindukan sikap ketusnya.


"Tidak, aku baik-baik saja," sahutnya sembari meletakkan nampan lalu berjalan menuju belakang gedung pantry, ke arah taman berada.


Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Merancang sebuah adegan saat bertemu dengan tuan ketus itu nantinya. Haruskah ia meminta maaf atas tragedi penusukan itu? Apa pria itu terluka parah? 


"Tidak, dia sudah jahat padamu selama ini, Clara!" omel Clara mengomentari pikirannya sendiri.


Namun, saat mengingat kembali bagaimana Teshar membebaskannya dari cengkeraman paman Jeff membawa sebuah beban balas budi yang tinggi. Pria itu sudah mengorbankan nyawa untukmu.


"Ah, aku harus berani menemuinya. Aku harus bertanya kenapa aku seharusnya tidak ada di dunia ini? Kata-kata itu begitu menyiksaku selama ini. Itu sangat kasar," ocehnya lagi.


Clara berdiri membelakangi pintu, menghadap arah taman. Suara ramai yang terdengar dari pantry mau tak mau membuatnya menoleh. Ada dua pengawal tergopoh mendekatinya, Clara segera memandang kedatanganya dengan cemas.


"Nona Clara, kakek Bima memanggil," ungkap satu pengawal sudah berdiri di depannya.


"Aku?"


"Iya, ada tuan Teshar yang juga ingin bertemu dengan Anda," lapornya.


"Teshar?" gumamnya menelan ludah.

__ADS_1


Ia pun segera mengangguk mengerti. Memberi alasan bahwa akan mengganti pakaian dulu baru akan ke sana. Saat ini Clara memang tengah mengenakan pakaian penuh dengan noda tepung pada beberapa bagian.


"Tolong, bergegas, Nona," pesan pengawal itu seraya berlalu dari hadapan Clara.


Clara memijit pangkal hidungnya perlahan. Rasa panik dan pening mulai menyerang. Entah kenapa, sejak dulu dirinya selalu gugup bila Teshar datang mengunjunginya.


Gadis itu segera pamit kembali ke kamar setelah berpamitan kepada semua pelayan rumah yang ada di pantry. Ia berencana untuk mencuci muka juga berganti pakaian sebelum ke ruangan kakek Bima.


Ia pun membuka pelan pintu kamar. Menutup pintu pelan sebelum berjalan ke tengah ruang. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika Teshar sudah berada di sana sedang membaca buku di meja belajarnya. Buru-buru Clara mendekat.


"Kak Teshar!" pekiknya membuat pria itu menoleh.


Wajah tampan, dewasa dengan bulu tipis tampak dibiarkan tumbuh pada dagunya. Clara menarik buku dari tangan Teshar kemudian mundur dua langkah. Tatapan canggung sejurus sama-sama tersirat bagi keduanya.


"Bagaimana kabarmu?"


Sebuah kalimat dingin yang Clara rindukan. Ia belum menyahut pertanyaan itu hingga membuat Teshar bangkit dari kursi dan bergerak melangkah untuk memangkas jarak di antara mereka.


Clara menelan ludahnya sendiri, beberapa kali membasahi bibir karena terasa kering dan kaku untuk bicara. Tatapannya masih terkunci pada pergerakan Teshar yang semakin dekat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu seraya menarik lengan Clara.


Gadis itu membelalak, terkejut dengan sentuhan yang tidak pernah pria itu lakukan padanya selama ini. Dengan gerakan lembut Teshar menyelisik lengan dan pipi bagian kanan Clara dengan seksama.


Terdapat bekas luka yang membuat wajah tampan itu mengeras. Ia kini beralih menatap bola mata gadis itu yang menampakkan keterkejutan.


"Jeff yang melakukan ini padamu?" 


Tenggorokan Clara tercekat, ia masih saja memandang Teshar yang beralih menyibak kemeja atasan yang kini dikenakannya. Tangannya kini berupaya untuk menahan gerakan secara spontan hingga Teshar menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku tidak menyangka, tua bangka itu melakukan hal sekeji ini padamu," geramnya seraya merapikan kembali kemeja Clara.


Dengus napas pria itu terdengar kasar penuh kekesalan. "Aku akan membalasnya untukmu," ucapnya penuh emosi.


Clara seketika menahan langkah Teshar yang hendak meninggalkan kamar dengan menarik pada bagian lengannya, Thesar pun sesaat menjadi terpaku.


"Kak Teshar, jangan!" pinta Clara setelah berhasil mengejar langkah pria itu yang kini sudah sampai di depan pintu.


"Kamu membelanya?"


"Bukan, begitu. Clara sangat mencemaskan keselamatan Kakak," ungkap Clara dengan mata penuh keseriusan. Entah mendapat dorongan dari mana, ia memeluk tubuh Teshar dari arah belakang.


Teshar membeku, pelukan itu sanggup membuatnya berhenti bernapas. Dentuman kencang dari pacuan jantung kini mulai terasa mengalirkan desiran darah yang lebih cepat.

__ADS_1


"Jangan sampai Kakak terluka lagi karena aku. Aku mohon … maafkan Clara sudah berani melawan perintahmu, Kak." 


__ADS_2