Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Serangan Rahasia


__ADS_3

Clara mengangguk, melepaskan pelukan menenangkan itu sembari menurut ketika tangan Teshar mendorongnya ke arah Kenan.


Dengan berat hati, Clara melepaskan lengan kokoh pria yang selama ini membekas rasa kebencian.


Namun, setelah malam ini pandangannya berubah total. Teshar berubah menjadi pahlawan hidupnya, setelah mendapatkan siksaan dari Jeff.


“Kenan, bawa pergi dia dari sini!” perintah Teshar dengan suara dingin.


“Cepat susul kami,” sahut Kenan berusaha tetap tenang.


Kenan memastikan Clara sudah tenang untuk diajak pergi. Dia segera melepaskan jaket, membawa gadis itu menjauh—seperti yang kakaknya minta, sambil memasangkan benda tebal itu untuk menutupi tubuhnya.


Gadis itu masih saja menoleh ke arah Teshar berada—memandang dua pria yang sama-sama memasang wajah perselisihan.


Teshar menoleh sekilas ke arah Clara. Setelah ia yakin gadis itu aman, kini ia memasang senyuman tipis ke arah Jeff dan mulai kembali memikirkan segala kemungkinan yang bisa dilakukan pria itu terhadapnya.


Jeff memberikan senyuman yang membuat sebelah alis Teshar terangkat. Bisa dipastikan kini, pria itu itu juga juga tengah berusaha melancarkan rencana yang ada di benaknya. Sebuah upaya terselubung bila negosiasi gagal.


Jeff, segera mengacungkan sebuah pistol berjenis revolver 32 yang baru saja dia rampas dari anak buah di belakangnya.


Teshar menelan ludah pahit. Ia sadar bahwa pria tua ini memang sangat licik dan terkenal, sering menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya. Teshar pun segara melakukan hal yang sama.


Formasi segera berputar pelan, membentuk barisan rapi; semua anak buah mencoba membuat pergerakan yang terukur agar tidak memancing tindakan peperangan.


Terdengar sirine dari arah luar gedung Bar dan kasino; beberapa mobil patroli polisi mencoba masuk dan mengecek asal suara tembakan yang beberapa waktu lalu terdengar—saat berusaha menyerang Teshar di Villa—terletak di sebelah gedung tempat mereka berada saat ini.


“Kita berpisah di sini, Tuan Indira,” bisik Jeff seraya mengedipkan sebelah mata. "Tidak mengapa dokumen itu belum ada padaku. Tapi, kelak dokumen itu akan kembali dengan cara yang lebih menyakitkan dari ini."


Kini tubuhnya bergerak menyamping, sementara Teshar masih memindai pergerakan Jeff di hadapannya.


“Kali ini apa rencanamu, Jeff?” Teshar berusaha untuk meraba setiap pergerakan tidak biasa yang ditampilkan Jeff dan semua anak buahnya.


“Tidak ada. Aku hanya berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku, setelah selama puluhan tahun kalian rampas,” jawabnya menyeringai.


Teshar menggeleng pelan, menundukkan kepala sambil menyunggingkan senyum, berdecih meremehkan perkataan Jeff. Nyatanya sejak tadi apa yang menjadi rencana pria itu bisa dibacanya dengan mudah.


"Tidak sekarang. Tapi, kupastikan kelak kau akan berperang dengan dirimu sendiri saat dokumen itu kembali ke tanganku."

__ADS_1


Jeff dan anak buahnya masih bergerak pelan; seiring semakin rapinya formasi yang mereka lakukan. Jeff berupaya keluar dari dalam Bar, sedangkan anak buah Teshar memilih untuk bergerak menyesuaikan posisi bertahan dari serangan yang mungkin saja bisa terjadi.


"Kau hanya banyak bicara!" ejek Teshar mengumbar senyum tipis.


“See you, Teshar Indira,” desis Jeff bergerak pelan berupaya lolos aman dari sana.


Teshar membiarkan Jeff bergerak pergi menjauh, masih dengan posisi mundur teratur beserta puluhan anak buah yang melindunginya. Tentu saja, bidikan pistol mereka masih ke arah Teshar dan anak buahnya.


Sementara Jeff bergerak mundur, tidak disangka tiba-tiba sebuah pergerakan cepat salah satu anak buah Jeff melesat maju dan mendorong Teshar. Tubuh pria berusia tiga puluh empat itu terhuyung ke belakang.


Secara refleks, Teshar melepaskan tembakan dan meletus mengenai perut bagian atas pria itu sebelum akhirnya menghamburkan diri dengan memeluk Teshar dengan cengkeraman kedua tangannya.


Sebuah gerakan kilat pria sekarat itu berhasil menancapkan sebuah pisau dan menyayat lengan Teshar dengan sisa tenaga yang dimilikinya.


“Aouhhg!” pekik Teshar terkejut, ia merasakan benda tajam itu menggores pada permukaan kulitnya.


Semua anak buah Teshar segera menghambur menyeret tubuh pria itu.


Teshar juga berupaya untuk mendorong kuat-kuat tubuh itu sehingga jatuh menimpa lantai dengan tubuh bersimbah darah karena tertembak pistolnya.


“Teshar, kau tidak apa-apa!” pekik Jemmy terkejut.


Teshar segera menekan luka pada lengannya dengan wajah memerah. Terlihat darah menetes walau luka itu tidak terlalu dalam. Namun, Teshar merasakan sensasi menyentak bagai terkena sengatan aliran panas, begitu mencengkeram kulit tangan dan menjalar hingga ke bagian ketiak.


Serangan itu membuat efek lain karena Teshar merasakan kram pada daerah dada dan membuatnya merasa sukar untuk bernapas.


Pria itu terhuyung karena kepalanya mendadak berat dan pandangan matanya mulai berkunang-kunang.


“Shit! Sialan dia berhasil melukaiku,” gumam Teshar masih mencoba untuk menjaga kesadaran.


“Tuan Teshar!” teriak panik satu pengawal yang berada di sebelahnya ketika menyadari Teshar hampir jatuh limbung ke arah samping.


Jemmy yang menyadari ada yang tidak beres segera berlari mendekati Teshar—yang kini tubuhnya dijaga tiga pengawal agar tidak tersungkur. Kesadaran Teshar mulai berkurang, ia bahkan merasa sudah seperti mau mati.


“Teshar!” teriak Jemmy sambil meraih tubuh Teshar yang terduduk di lantai diikuti semua pengawal mengelilinginya.


“Bangun, sobat. Ini tidak lucu!” Jemmy menggoyang tubuh Teshar berulang. Dia segera menyadari pisau lipat berbahan silver yang terjatuh di samping kaki pengawal itu berubah warna.

__ADS_1


“Brengsek! Pisaunya diberi racun!” decaknya kesal.


Ia memelototi semua pengawal yang telah gagal dalam menjaga tuan besar mereka. Sambil memukul lantai, ia mendengus beberapa kali dan segera memberi isyarat agar segera membawa Teshar ke Rumah Sakit.


“Kita bawa Teshar ke rumah sakit terdekat. Beberapa dari kita bersihkan area ini jejak kita. Sisakan bagian Jeff agar mereka yang berurusan dengan polisi.” Jemmy memberi perintah dengan tegas.


Kini ia dibantu rekannya mulai mengangkat tubuh Teshar, menyusuri jalan rahasia untuk keluar dari kekacauan.


***


Sementara itu di tempat lain, Kenan sejak tadi berusaha untuk menenangkan Clara. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil.


Dia hanya bisa gelisah dengan sesekali membuang pandangan ke arah gedung berjarak 500 meter dari tempatnya, karena kakaknya belum juga menyusul. Ia sibuk memegang jemari Clara yang dingin dengan wajah yang memucat karena sama cemasnya.


“Ada apa brengsek! Kenapa tidak cepat keluar. Polisi sudah hampir mengepung lokasi ini.” Kenan berdecak ketika ponselnya berbunyi. Jemmy menghubunginya.


“Ada kabar buruk. Teshar tertusuk pisau beracun.” Suara Jemmy terdengar bergetar penuh kecemasan.


“Apa! Lalu bagaimana dengan gadis ini?”


Kenan terkejut dengan kesal tangannya memukul setir mobil. Beberapa kali ia memandang gusar ke arah Clara yang mulai menampakkan sorot mata cemas.


Gadis itu bisa membaca dan merasakan nada suara juga perubahan signifikan dari wajah Kenan.


“Kak Teshar, ada apa dengannya?” tanyanya dengan tetesan air mata yang mulai berlinang.


“Kita harus pergi dari sini,” sahut Kenan kemudian sambil mulai menjalankan mesinnya.


“Tidak! tanpa kak Teshar, aku tidak akan pergi ke mana-mana!” teriak Clara kembali merasa panik.


“Bodoh! Target selanjutnya kita, karena aku masih membawa dokumen itu. Kita harus segera pergi dari sini," putus Kenan tegas sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia mengklakson dengan kasar saat mencoba menyibak kerumunan orang di depan parkiran. Terletak samping gedung area Bar karena banyak polisi yang mulai datang ke sana.


Ia hanya perlu terbebas dari sana dan menghindari kejaran orang suruhan Jeff yang masih menginginkan dokumen yang dibawanya—sebuah setifikat resmi sebagai pemilik aset atas nama Roy Louise dan Kelly Louise yang diwariskan kepada dua anaknya.


“Apa kita akan selamat?” tanya Clara kembali mengukir rasa gelisah. Isakan lirih kembali menghias keletihan wajahnya.


“Aku janji, kita akan baik-baik saja. Aku akan menyetir dengan kecepatan tinggi, pejamkan saja matamu, kalau kamu merasa ketakutan,” sahut Kenan dengan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


__ADS_2