
"Ya, tanpa terkecuali." Teshar berkata sambil mengangguk.
"Aku tidak ikut menghabisinya. Hanya memimpin saja dan mengawasi semuanya agar berjalan lancar tanpa jejak. Sampai pada momen, aku mendapati seorang anak kecil yang memohon ampun, baru aku hendak memerintahkan untuk melepaskan anak itu, tapi semua sudah terlambat. Anak buah ayahku dengan beringas menembak bocah kecil itu tanpa ampun.” Teshar menerawang jauh ke arah jendela kaca.
“Astaga, Teshar.” Jemmy mengepal erat jemari tangannya. “Shit!” Jemmy mengumpat kesal.
“Aku segera pergi dari sana. Karena aku tidak menyangka pasukanku akan membunuh seorang anak-anak tidak berdosa. Ayahku bilang hanya terdapat Roy dan istrinya saja di rumah itu, karena anaknya ada berada terpisah bersama neneknya, ternyata tidak demikian."
"Kemudian sesuatu hal aneh terjadi, aku melihat seorang anak kecil berusia sepuluh tahun turun dari taxi, hendak masuk ke dalam gerbang di mana di dalamnya penuh dengan mayat mengenaskan dan beberapa anak buah ayahku masih mengobrak-abrik isi rumahnya. Wajah anak kecil itu sangat mirip sekali dengan gadis yang terbunuh di dalam sana, hingga naluriku mengatakan untuk mencegahnya masuk."
"Kemudian kutarik cepat anak itu ke dalam mobil, memaksanya ikut bersamaku dengan pistol membidik tepat pada pelipisnya.”
Teshar mengatur napasnya sejenak. Ada rona kemarahan yang menyeruak hampir meledak lewat tatapan mata merahnya ke arah Jemmy, yang masih setia mendengarkan.
“Dia sama sekali tidak takut padaku. Dia bahkan malah bertanya padaku, 'Apa dosaku padamu? Apa dengan membunuhku, kamu akan merasa lega?' Ya, ucapan konyol dari seorang gadis berusia sepuluh tahun yang membuat kemarahanku memuncak, dan aku segera berpikir bahwa dengan menyiksanya mungkin saja lebih baik, daripada membunuhnya dengan cepat. Walau pada akhirnya tatapan matanya yang bening dan polos segera menyadarkanku bahwa gadis itu memang tidak bersalah."
"Saat itu usiaku baru dua puluh dua tahun, jadi aku putuskan untuk menyembunyikannya di rumah yang di bangun orang tua untukku agar anak itu tetap hidup," ungkap Teshar dengan tatapan nanar. "Aku tidak punya pilihan lain."
“Kamu ingin melenyapkan dia atau menjaganya?”
“Dua-duanya. Awalnya aku akan melenyapkan dia, tapi seiring waktu berjalan aku berubah menjadi menyayanginya," ungkap Teshar diberi senyuman Jemmy.
“Lalu apa yang sebenarnya kamu takutkan?”
__ADS_1
“Aku takut dia tahu apa yang menjadi masa lalu, dia membenciku, atau orang tuaku membunuhnya, atau dia meninggalkan aku. Semuanya menakutkan, Jemmy. Bahkan aku tidak mau dia keluar dari rumah hanya karena itu. Hanya agar tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya,” ungkap Teshar dengan sorot mata sayu.
“Apa kamu yakin, dia anak dari Roy itu? Bagaimana kalau dia ternyata adalah orang lain yang sedang mengunjungi anak dari Roy yang terbunuh itu?” Jemmy mulai menerka-nerka.
“Dia adik kembar dari gadis cilik yang terbunuh itu. Roy dan Kelly mempunyai bayi kembar, setelah aku mencari tahu selama bertahun-tahun, ternyata informasi mengatakan bahwa Clara adalah anak yang dibesarkan neneknya sebagai kompensasi atas pernikahan mereka yang tidak direstui. Jeff sebagai anak adopsi dari nenek Clara ternyata menyukai Kelly, demi menjaga diri dari kemarahan Jeff, akhirnya nenek itu tidak pernah merestui hubungan orang tua dari Clara dan Claire,” terang Teshar tersenyum ironi.
“Aku ikut prihatin dengan semua yang kamu alami, Teshar. Tapi bukankah sebelum melakukan semua hal, kamu harusnya memikirkan baik buruknya terlebih dulu. Sehingga kamu bisa paham resiko apa yang akan terjadi di masa depan.”
“Iya, aku menyesal. Dulu aku terlalu mempercayai kedua orang tuaku. Mereka selalu menyuruhku ini itu tanpa memberiku penjelasan apa pun. Aku terlalu naif saat itu, Jemmy.” Teshar menyugar rambutnya pelan.
“Lalu apa rencanamu setelah ini? Bagaimana caramu menghadapi Clara? Kamu harus sebisa mungkin menyembunyikan kenyataan tentang keluarganya, bukan. Dia bisa saja suatu saat akan balik membalasmu?” tanya Jemmy membuat Teshar dilanda kecemasan.
“Aku tahu bahwa bukan tanganku yang merenggut nyawa keluarganya, tapi aku turut andil di dalamnya. Sebisa mungkin aku akan melindunginya dari orang tuaku.”
“Sesadis itukah orang tuamu, Teshar? Lalu bagaimana kalau Clara suatu saat tahu apa yang kamu sembunyikan selama ini?”
“Aku tidak tahu, Jem mengenai bagaimana hubunganku dengan Clara nantinya. Tapi yang jelas, ayahku menjadi lebih sadis setelah mereka kehilangan putra kesayangannya, anak yang seribu kali lebih baik daripada aku dan Kenan. Aku tahu bagaimana rasanya dibanding-bandingkan, sama seperti apa yang Kenan rasakan selama ini,” ucapnya lagi sembari tersenyum tipis.
“Kasihan, Kamu dan Kenan harus menerima perlakuan seperti itu,” ucap Jemmy penuh simpati. Teshar hanya menipiskan bibirnya tanpa menyahut.
Teshar mengingat kembali masa lalunya. Kenapa dia ingin menjadi seperti sekarang ini, karena ia sedang bersaing dengan kakaknya yang begitu disanjung kedua orang tuanya. Bedanya bila Kenan membuat kekacauan dan hidup bebas liar, sedangkan dirinya tekun berusaha menggeser ingatan tentang keberadaan Jhony dengan berprestasi dan hidup sebagai bayang-bayang kakaknya saat masih hidup.
Semua berhasil sejauh ini, ia mampu membuat kedua orang tuanya bangga dan terlihat mulai melupakan anak pertama mereka yang sudah meninggal.
__ADS_1
“Apa Kenan nantinya akan melakukan apa yang kamu lakukan setelah bertemu dengan gadis itu? Apa kamu akan mengalah untuknya?” tanya Jemmy sanggup membuat Teshar mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
***
Kediaman Bima Indira.
Menyusuri taman luas dan indah lewat pandangan mata melalui jendela kaca mengingatkan Clara ketika berada di rumah Teshar. Kini gadis cantik itu tengah berdiri menikmati suasana pagi hari setelah selesai membersihkan kamar, menyiapkan mandi sendiri tanpa bantuan pelayan. Mereka datang tepat setelah semua sudah selesai. Clara ingin mulai terbiasa melakukannya.
“Kenapa bangun Anda pagi sekali, sih, Nona,” keluh Mia memprotes betapa sudah rapi sekali keadaan nonanya daripada penampilannya semalam.
Kedua pelayan itu kini sedang membawakan sarapan ke kamarnya dengan wajah menyesal. Clara hanya bisa tersenyum tanpa menanggapi ocehan satu pelayan bernama Mia itu karena sikapnya yang berusaha untuk mandiri.
“Sarapan dulu, Non.” Ina meletakkan nampan ke atas meja. Clara segera berjalan mendekat. Semalam ia merasa sedikit kelaparan hingga pagi ini tidak akan melewatkan sarapan untuk menyumpal bunyi riuh cacing yang berada di perutnya.
“Semalam cucu tuan Bima yang bernama Kenan itu datang ke kamar ini,” ungkap Clara seraya duduk dan menggigit sandwich di tangannya.
“Apa! Wah … Anda tidak apa-apa, 'kan?” tanya Mia khawatir, sorot matanya terlihat panik.
“Aku tidak apa-apa. Dia tidur di sofa pojokan sana. Saat aku bangun, pria itu sudah tidak ada lagi,” terang Clara masih asyik menikmati sarapannya.
“Ohh, syukurlah.” Ina mengelus dadanya lega.
Clara mengernyit heran, kenapa kedua pelayan itu terlihat panik hanya karena Kenan masuk ke ruangan kamarnya. Nyatanya Teshar selama ini berada di ruangan bersamanya selama dua belas tahun dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Yang ada mungkin pria itu akan memasang wajah judes, tidak mau diganggu olehnya. Sifat yang sangat berbeda dengan Kenan yang lembut dalam bertutur kata.
__ADS_1
“Hati-hati, ya, Non. Soalnya tuan muda Kenan itu sebenarnya seorang penjahat wanita,” bisik Mia menekankan suaranya.
“Oya? Penjahat bagaimana maksudnya?” tanya Clara seraya mengerutkan kening.