Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Pertentangan Hati


__ADS_3

“Sejak kapan Kakek mengetahui rahasia itu? Teshar sebisa mungkin menjaga kerahasiaan tetap terjamin," debat Teshar memandang kakeknya dengan tatapan khawatir.


Jarak yang jauh antara kediaman kakeknya dengan kediaman miliknya membuat Teshar yakin, bahwa bocornya masalah Clara membuatnya harus lebih waspada. Ia menjadi lebih khawatir dari sebelumnya.


”Harusnya kamu menyembunyikan anak itu di kediaman kakek, justru itu lebih aman daripada mengurung di dalam ruangan yang jelas itu hanya akan menyiksanya," komentar Bima membuat Teshar malah tersenyum tipis.


Dia berada dalam keadaan darurat saat itu. Usianya masih muda dan tidak banyak pilihan yang bisa diambil selain menyembunyikan perempuan tidak berdosa itu di dalam rumah pribadinya. Sebuah area yang tidak mungkin didatangi orang tuanya dan itu memang terjaga hingga hari ini.


“Memang itu tujuan utamaku. Teshar ingin balas dendam dengan menyiksanya."


”Kamu yakin? Bukankah kamu sendiri ternyata yang merasa tersiksa?" cibir Bima membuat Teshar meraih minuman di hadapannya dan menenggak habis isinya.


Ia tidak tahu sebenarnya apa yang membawa kakek tua itu hingga harus mengganggu urusannya. Apalagi mengomentari sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kakeknya. Keberadaan Clara hanya ada urusan dengan orang tuanya sendiri.


“Serahkan gadis itu pada kakek. Jaminan keselamatan jelas akan menjadi prioritas utama," tawar Bima bersikap lebih serius. Teshar memandang remeh, sama sekali tidak tertarik dengan tawaran sang kakek. Dia merasa Clara sudah aman bersamanya dan tidak membutuhkan pertolongan kakeknya dalam mengurusi masalahnya.


Teshar mulai mengambil sendok dan menikmati hidangan. Ia tidak mau membuat Clara bosan menunggu dan menyelinap diam-diam. Sungguh keberadaan gadis itu tidak aman kalau sampai diketahui orang yang tahu siapa Clara sebenarnya.


Bima menghela napas, memandang cucu yang selalu bersikap tegas dan keras kepala. Entah bagaimana caranya untuk membujuk pria itu.


”Orang tuamu sudah tahu kalau kamu menyembunyikan gadis itu, alih-alih kamu membunuhnya," beber Bima berhasil membuat Teshar berhenti mengunyah makanan di mulut. Ia beralih menatap kakeknya dengan wajah terkejut. Merasa lebih syok saat mengetahui kenyataan ini, melebihi saat kakeknya memberi tahu sudah mengetahui tentang keberadaan Clara di rumah.


“Mereka tidak akan tinggal diam mengenai masalah ini. Diam saja bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa, Cucuku," urainya dengan suara pelan.


”Sejak kapan?" tanya Teshar berubah serius, suaranya tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


“Sudah lumayan lama, tapi menjadi lebih murka saat gadis itu kabur dari kediamanmu. Mereka tidak menyangka kalau kabar itu benar adanya. Mereka sangat kecewa kamu lalai." Bima mengembus napas berat setelah mengatakan hal tersebut.


”Tapi ... kenapa mereka bersikap seperti itu? Aku harus bagaimana, Kakek?" resah Teshar bingung sendiri. Pria itu meraup wajahnya kasar.


“Untuk alasan itu, aku tidak tahu kenapa orang tuamu hanya mengawasimu saja. Akan tetapi, sebelum ayahmu murka dan membunuh sendiri gadis itu, serahkan dia pada kakek."


”Untuk apa Kakek melakukan ini? Aku harus tahu lebih dulu apa alasan Kakek," tegas Teshar tidak bisa sembarangan menyerahkan gadis kecilnya itu kepada siapa pun termasuk kakeknya sendiri.


Bima menyandarkan punggung sambil menatap serius ke arah cucunya. Dugaannya benar, cucunya terperangkap sebuah perasaan hingga tidak mau kehilangan gadis itu. Alih-alih membunuh, cucu kebanggaannya itu pasti akan melindungi gadis itu dengan nyawanya. Dalam hati ia merasa geram sendiri dengan rumitnya masalah yang tidak dia duga sebelumnya.


“Aku akan melindungi gadis itu untukmu, sebagai gantinya akan kugunakan gadis itu sebagai alasan untuk mengubah sifat buruk adikmu. Menjadi pria yang lebih bertanggung jawab dan tidak mempermalukan keluarganya dengan tingkah onar yang meresahkan kakek," tawar Bima membuat Teshar terdiam. Ia belum mengerti apa yang sebenarnya lelaki tua itu inginkan.


”Aku tidak paham maksudmu, Kek," sahut Teshar merasa keberatan. Lebih tepatnya menolak memahami rencana kakeknya.


 


“Aku memahami kekhawatiranmu. Kakek berjanji akan menjaganya dengan baik," tegas Bima serius.


”Aku tidak mungkin rela kalau gadis itu sampai mengenal Kenan," jawab Teshar mengalihkan pandangan ke arah Clara yang kini tengah memandangnya juga dari kejauhan.


 


“Apa kau sedang meragukan perasaan gadis itu terhadapmu?” sembur Bima menyentak perasaan Teshar.


***

__ADS_1


Clara sesekali memandang ke arah Teshar yang memilih bungkam selama perjalanan menuju ke apartemen. Gadis itu sebenarnya dilingkupi rasa penasaran dengan perubahan pada wajah pria itu. Sebuah kekhawatiran seolah menggelayuti raut wajah tampan dan dewasa Teshar. Karena pria itu tidak kunjung menoleh, akhirnya Clara memilih kembali fokus menatap ke arah depan dengan jemari tangan saling terpaut. Ia bingung sendiri mau bicara apa untuk mengusir keheningan yang tercipta.


“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya pria itu kemudian, memecah kebisuan sambil menoleh sesaat.


Teshar sendiri juga merasa bingung, bagaimana menjelaskan apa yang semua dirasakannya kepada gadis itu. Ia tidak mungkin jujur padanya, kebingungan mengenai perpindahan tempat tinggal gadis itu ke rumah kakek agar tidak terancam oleh orang tuanya.


”Senang, aku bisa merasakan teriknya sinar matahari langsung mengenai kulitku,” sahut Clara lembut sambil tersenyum menatap Teshar. Pria itu mengangguk paham dengan bibir tertarik membentuk lengkungan tipis.


“Bagus.”


Clara menghela napas saat keheningan itu kembali tercipta, bahkan mobil mereka kini sudah bergerak memasuki area parkir apartemen, tapi masih saja Clara merasa belum puas menikmati suasana kebebasannya. Kecerahan rona wajah pemilik rambut cokelat itu kini perlahan kembali meredup.


“Apa Kak Teshar akan langsung pulang setelah mengantarkan aku kembali?” tanya Clara meraih sabuk pengaman dan melepaskan pengait.


Teshar diam saja tidak menoleh sama sekali, ia segera keluar dari mobil dan menutup pintu dengan cepat. Clara pun segera menyusul dengan wajah kebingungan.


Clara sungguh tidak mengerti, kenapa terlihat sekali pria itu seperti sedang menahan kemarahan sejak kembali dari restoran. Padahal jelas-jelas, pria itu bersikap lembut saat berada di sana. Bahkan pria itu tidak menggandeng tangannya lagi, berjalan tergesa seolah sudah ada yang menanti kedatangan mereka. Clara terpaksa berjalan sembari berlari kecil agar bisa menyamakan langkah mereka.


”Jangan keluar lagi tanpa izinku, Clara!” tegas Teshar memandang, sorot matanya menampakkan sebuah sinyal peringatan.


“Kenapa?” tanya Clara menoleh dengan saksama, menatap perubahan pria itu yang kembali tegas dalam mengucap perintah.


”Kalau kamu masih ingin hidup lebih lama, terima dan ikuti semua perintahku. Jangan banyak bertanya dan jangan membantah!” tandasnya sambil menekan tombol lift setelah sampai di lobi untuk menuju lantai empat puluh sembilan. Clara menunduk dengan perasaan lagi-lagi menyeruak rasa kecewa.


 

__ADS_1


__ADS_2