
Terdengar desingan, rentetan tembakan balasan dari arah lain. Serbuan balik itu berhasil mematahkan serangan para pesuruh Jeff ke arah Teshar. Gempuran saling membalas kini bisa memberi Teshar jeda, sehingga dia bisa menjangkau beberapa pohon besar, yang masih berada di dalam arena taman untuk bersembunya—guna mengatur napas sejenak.
Meskipun berusaha dengan sekuat apa tenaga, tetap saja usia memberikan banyak pengaruh. Teshar menyadari fisiknya sudah jauh melemah, tidak sekuat dua belas tahun yang lalu. Saat kejadian di masa itu, usianya baru menginjak dua puluh dua tahun.
Pria itu mengembuskan napas kasar untuk membuang ketegangan.
Hingga sesuatu pun terjadi.
Dor!
Teshar secara reflek berjingkrak dari tempatnya, merasa terkejut tidak terkira saat mendapati seorang pria jatuh tersungkur tidak jauh darinya.
“Oh, ****!” umpatnya kaget bercampur rasa syukur.
Sebuah tembakan sniper berhasil menembus dada seorang pengawal Jeff yang berada tidak jauh dari Teshar bersembunyi. Pria itu terlena ketika menatap ke arah lain untuk memeriksa keadaan.
Pria yang kini telah berusia tiga puluh empat tahun itu segera mengembuskan napas, membuang rasa terkejut yang membuat jantungnya seakan hampir lepas dari tempatnya. Ia merasa beruntung sudah diselamatkan. Padahal jujur saja, ia sama sekali tidak mengetahui di mana posisi sniper itu berada.
Setelah menyadari pria yang tertembak itu tidak bergerak sama sekali, Teshar melepaskan rasa lega dengan memukulkan kepalan tangannya ke tanah.
“Thanks, guys,” ucapnya melalui saluran komunikasi dengan hati penuh syukur. “Tanpa kalian, entahlah.”
“No problem, let's get out of there. I'll secure your area!” balas seorang anak buahnya lewat sambungan earpiece yang melekat di telinganya dan terkoneksi dengan semua anggota tim.
“Okay, lets get out of here!”
Teshar mengambil napas dalam, sebelum akhirnya kembali mengambil ancang-ancang untuk berlari cepat menuju ke bangunan Bar Ground Zero—berjarak 200 meter dari lokasinya saat ini. Area taman golf yang dipijaknya sangat luas dan berembun, ia berharap tidak sampai tergelincir dan terjatuh terperosok seperti orang bodoh.
__ADS_1
Beberapa rentetan tembakan dari arah Villa kian terdengar bersahutan. Teshar merasa yakin bahwa anak buahnya saat ini sedang berusaha untuk mengambil alih keamanan tempat itu, Green Villa.
***
Sementara itu, Kenan yang berada di dalam sebuah Bar terlihat sedang duduk di sofa dengan santai. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya merasa khawatir. Merasakan suasana sangat berbeda, tidak seperti saat dirinya berada di Bar bersama para wanita.
Tingkat ketegangan yang dia rasakan saat ini sangat kontras, bukan lagi sebuah ketegangan yang timbul ketika seorang pria sedang butuh bercinta, tetapi ketegangan karena bisa saja ini akhir dari napas hidupnya.
Sebuah pergerakan kecil mampu tertangkap pengamatan Kenan dengan baik. Ada beberapa orang yang bisa dianggap penjaga untuk mengawasinya, ada juga yang berniat mendekat hanya untuk mengambil apa yang Teshar titipkan padanya—dokumen kepemilikan aset milih keluarga Louise yang dibawa orang tuanya.
“Oh God, benarkah Teshar tidak main-main mengenai situasi gila ini?” gumamnya seraya pura-pura memainkan ponsel. “Bodoh, Kenan. Kamu sedang bermain-main dengan nyawamu.” Pria itu merutuk.
Kenan bingung caranya mengamankan diri. Ini merupakan kekonyolan yang dilakukannya untuk pertama kali, dan ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyesal.
Pria itu pun segera melakukan pergerakan alami dengan pura-pura memainkan ponsel untuk mengelabuhi orang. Ia percaya saat ini dirinya berada dalam on target man.
Kini ia memilih untuk menggunakan apa yang ada di tangannya untuk mengamati keadaan, yaitu layar kamera ponselnya menyorot secara berkala, membidik interaksi semua orang yang berada di dalam Bar.
“Kenan, kita lihat seberapa beruntungnya kamu malam ini,” batinnya merasa tertantang.
Ia mengamati dengan jeli, ketika sebuah pistol mengarah tepat kepadanya dari balik jas seorang pria yang tengah duduk di seberang. Tampak pria itu menatap Kenan dengan seringai dingin, seolah juga tengah menyadari bahwa targetnya telah mengetahui apa yang menjadi rencananya.
“Saatnya melakukan sesuatu, Kenan.” Pria itu mempersiapkan mental.
Sebuah gerakan pria tersebut mampu terbaca Kenan dengan cepat. Kenan segera menaikkan semua kakinya ke atas sofa lalu segera melompat ke belakang dengan posisi badan membungkuk.
Ia segera menundukkan kepalanya lalu berlari kencang untuk menghindari sebuah terjangan peluru yang kini melesak mengenai kursi sofa hingga menyebabkan busanya tercerai-berai. Beberapa botol dan gelas yang tidak luput dari lesakkan peluru pun hancur, memuncar berkeping-keping ke segala arah.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Semua pengunjung yang berada di dalam sana terkejut atas kejadian itu. Mereka berteriak ketakutan, saling berhamburan untuk menyelamatkan diri. Akibatnya, suasana Bar dan lantai dansa menjadi kacau. Upaya saling dorong dan baku hantam tidak bisa dihindarkan lagi. Situasi yang menjadi strategi Jeff untuk mengacaukan negosiasi malam ini.
“Kenan lepas dari pengawasanku. Suasana berubah kacau!” lapor Jemmy.
Dia berteriak seraya memutar tubuhnya, mengamati orang-orang yang berlarian mencari jalan keluar dari Bar. Pria itu pun mencoba mencari celah, melewati suasana kacau untuk mencari keberadaan Kenan.
“Shit! Aku sedang menuju ke sana. Amankan bocah itu!” Teshar masih berlari menuju ke arah jalan pintas yang menghubungkan antara lapangan golf dengan taman itu, menuju ke dalam Bar Ground Zero. Napasnya terengah-engah, tenggorokannya terasa kering.
“Aku akan merangsek ke dalam,” sahut Jemmy.
Dia segera melambaikan tangan ke udara, memberi kode arahan kepada anak buahnya untuk mengawasi keadaan, dan sisanya ikut merangsek ke dalam bangunan Bar. Ia mencoba menyusul Kenan yang sudah terlebih dahulu memasuki ruangan dalam Bar menuju ke ruangan lebih dalam lagi.
“Dua orang, ke kanan. Masuk cari keberadaan Clara,” bisiknya.
“Tiga, ikut denganku untuk mengamankan Kenan,” sambungnya pelan segera diberi anggukan anak buahnya.
Dua anak buahnya segera mengikuti arahannya, bergerak cepat dalam senyap. Sedangkan dirinya diikuti tiga personel melangkah dengan formasi siaga, tangan memegang pistol.
Mata elang mereka mengamati keadaan koridor. Tampak berjajar beberapa pintu di sisi kiri dan kanan, terasa semakin sepi. Kerusuhan di bagian Bar tidak terdengar sama sekali dari dalam sana. Suasana kemudian mendadak redup.
“Ruangan apa ini,” gumam Jemmy mendongakkan kepala ke arah langit-langit koridor yang memberikan cahaya temaram. Beberapa lampu memang telah dipadamkan.
Modal penerangan hanya berasal mesin genset. Jemmy masih berjalan merunduk waspada, mengarah ke koridor yang bercabang.
Jemmy menaikkan kepalan tangan setinggi kepalanya. Saat melihat di depan sana, Kenan sedang berada di bawah acungan sebuah senjata api. Dia segera memberi kode untuk berhenti berjalan, ketiga rekannya pun segera mengangguk paham dalam keheningan.
__ADS_1
Secara reflek pula Jemmy bisa melihat kedua tangan Kenan terangkat ke atas, sejajar dengan kedua telinganya. Jemmy hanya bisa menyembunyikan diri di persimpangan koridor dengan pukulan kosong ke udara.
“Sial!” desis Jemmy tanoa suara. Dia saling bertukar pandang dengan ketiga rekannya.