Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Bermain Hati


__ADS_3

“Iya, Non. Pacarnya tuan Kenan itu ganti-ganti terus. Ada yang kadang dateng ke sini mengadu sama tuan Bima sambil nangis, karena diputusin gitu aja sama tuan Kenan.” Nia menceritakan dengan suara pelan dan meyakinkan.


“Bukan cuma itu aja, Non. Dia itu mendapat sebutan pria play boy,” ungkap Mia seraya bersedekap tangan.


“Wah, apa itu play boy?”


Clara seketika berhenti mengunyah, ia menatap kedua pelayan yang masih berdiri menemaninya sarapan itu bergantian. Ia belum begitu memahami. Hanya saja, beberapa novel yang pernah dia baca, kata play boy merujuk pada pria yang suka membohongi wanita dengan rayuan atas nama cinta, selebihnya ia belum memahami rasa cinta itu seperti apa hingga bisa terkena jebakan pria play boy.


“Pokoknya kalau sama tuan Kenan jangan mudah percaya, ya, Non. Saya tidak rela kalau Non Clara dibohongin sampai sakit hati,” tegas Mia dengan wajah serius menatap ke arah Clara.


“Ok, baiklah. Aku sarapan lagi ya?” ucap Clara merasa tidak tertarik dengan cerita mengenai Kenan. Ia terlalu sibuk memikirkan mengenai bagaimana keadaan Teshar, kenapa pria itu belum juga datang menemuinya.


Pikirannya menerawang jauh. Kebersamaan mereka selama ini, tidak terasa menciptakan sebuah ruang hampa. Sekuat apa pun ia ingin pergi, nyatanya perasaan aneh itu yang sanggup memupus angannya.


Mungkin saja kebosanan dan kebencian disebabkan tidak acuhnya sikap Teshar kepadanya selama ini, sehingga berbekal sebuah tekad kuat untuk kabur dari rumah itu membuncah dan memberi keberanian lebih padanya untuk pergi. Dan kini ia merasa menyesal sekaligus bersyukur secara bersamaan.


“Hemm!” Suara deheman dari arah pintu yang terbuka membuat Clara, Mia dan Ina menoleh cepat ke arah sumber suara. Kini tampak Kenan sudah berdiri gagah sambil tersenyum manis saat memasuki kamarnya.


Pria itu memakai celana chino dipadukan dengan kemeja lengan pendek berwarna biru tua dan sepatu kets putih. Warna rambut oranye kecoklatan sangat kontras dengan pakaiannya yang kalem.


Clara memindai setiap penampilan Kenan. Antara Kenan dan kakaknya memang terlihat jelas sangat berbeda gaya, ia hanya bisa membandingkannya dalam angan-angan.


Kenan yang menyadari sedang diperhatikan mendadak mengukir senyuman ke arah gadis itu. Mau tak mau, Clara segera menarik pandangannya kembali dan fokus ke arah meja makan.


“Selamat pagi, Tuan Putri,” sapa Kenan segera diberi cibiran dalam hati oleh kedua pelayan yang kini mulai mundur meninggalkan meja.


Semua peraturan di kediaman itu memang mengharuskan semua pelayan untuk menjaga sikap dan jarak apabila bertemu tatap dengan seluruh penghuni rumah ini. Kenan segera duduk berhadapan dengan Clara yang menatapnya canggung ke arahnya.


“Aku ikut sarapan, boleh, ya?” ucapnya lembut.


“Oh, silakan,” jawab Clara mengangguk pelan seraya menarik senyuman paksa.

__ADS_1


“Aku hari ini akan pergi jalan-jalan. Bagaimana kalau kita pergi bersama?” tawarnya sembari menggigit roti dan menatap Clara dengan sorot mata berkilat.


Ia benar-benar merasa sangat tertarik dengan cueknya sikap gadis itu terhadapnya. Ini pengalaman berharga karena belum pernah ada wanita yang melakukan sikap demikian.


“Aku tidak mau pergi jalan ke mana-mana.” Clara menjawab singkat.


“Apa kamu tidak merasa bosan? Heh?” Mata Kenan melebar mendapatkan penolakan halus itu.


“Tidak, aku sudah terbiasa hidup dalam kebosanan,” jawab Clara lagi dengan masih menikmati sarapannya.


“Apa kakakku sudah berhasil mencuci otakmu sampai bisa separah ini?” desisnya seraya meraih kening Clara dan menjentikkan ujung jari telunjuknya dengan kesal.


“Apa, sih?” protes Clara melebarkan kedua bola matanya ke arah Kenan. Dengan canggung pula gadis itu segera mengusap keningnya yang terasa panas.


“Pokoknya aku tunggu di luar kamarmu. Dalam sepuluh menit kamu harus siap. Tidak ada kata menolak, karena Kenan tidak menerima sebuah penolakan. Ok, Tuan Putri,” ucapnya seraya berdiri.


Ia meninggalkan Clara yang masih termangu menatapnya sambil mengunyah roti yang masih menumpuk di dalam mulut.


“Tidak perlu dipikirkan, Non. Dia memang suka merayu semua wanita cantik,” bisik Mia dengan mata menyipit.


“Ok, lanjut sarapan. Rotinya sangat enak … ehmm, ini mengingatkan aku dengan roti di toko kak Rafka,” celotehnya kemudian mengambil irisan roti lagi.


“Rafka? Teman Non Clara?” tanya Nia sambil merapikan bekas sarapan Kenan.


“Teman? Entahlah … dia sangat baik dan ramah,” puji Clara membayangkan senyuman lembut pria itu saat berbicara.


“Habiskan sarapannya, Nona. Anda harus kembali pulih dan bertemu lagi dengan pria itu,” sahut Ina dengan sopan. Gadis itu mengangguk tersenyum riang. Rasa bahagia bisa menikmati sarapan lezat itu.


Clara mencoba mengabaikan perintah pria itu untuk bersiap pergi. Ia memilih kembali asyik menikmati sarapan bersama kedua pelayannya sembari bercengkrama.


Ini adalah momen yang selalu ia impikan—bisa bertukar cerita dengan manusia lain—setelah bertahun-tahun hanya berbicara dengan tembok kosong di rumah Teshar.

__ADS_1


“Clara!” geram Kenan kembali memasuki kamar gadis itu, tidak disangka ternyata Clara sama sekali belum bersiap-siap.


Dengan kekesalan mencapai ubun-ubun, Kenan segera menarik paksa tangan gadis itu, meninggalkan dua irisan sandwich yang masih diinginkan Clara.


“Mau ke mana, sih?” protes Clara dengan langkah tergesa.


“Sudah kubilang, aku akan mengajakmu jalan-jalan, kenapa masih saja bertanya?” Terlihat Kenan berusaha melembutkan suaranya.


Pria itu sama sekali belum pernah memaksa seorang gadis untuk diajak kencan, karena tanpa diminta tentu saja mereka semua sudah bergelayut mesra pada lengannya. Clara benar-benar membuatnya kesal.


“Aku tidak mau jalan-jalan. Sarapanku terlalu enak untuk ditinggalkan," keluh Clara masih berjalan ditarik Kenan menuju ke arah luar rumah, menyusuri koridor sebelum akhirnya berada di tengah ruangan rumah menghadap pintu utama.


“Nanti aku belikan kamu makanan yang paling enak di sekitar area kediaman kakek ini."


“Apa maksudnya?” Clara menampakkan wajah ragu.


“Aku akan mengajakmu jalan-jalan mengelilingi kediaman kakek yang sangat luas ini. Jadi kamu tidak akan lagi merasa terkurung selama tinggal di tempat ini. Ini semua demi keselamatan kamu, tentu saja,” terang Kenan hingga membuat Clara seketika menghentikan langkah.


Kenan menoleh ke arah gadis yang kini malah menundukkan kepala sedih. Kenan tahu bahwa penolakan Clara hanya untuk memendam rasa keingintahuannya pada dunia luar hingga ia tidak mau lagi penasaran dan membahayakan dirinya lagi.


“Kenapa malah berhenti?”


Kenan berusaha menarik kembali jemari tangan Clara yang teraba dingin. Gadis itu mendongak menatap Kenan dengan sorot mata mendadak berkaca-kaca.


“Apa luka kak Teshar parah? Demi bisa menyelamatkan aku, apa dia harus bertaruh dengan nyawanya?” Sorot mata Clara berubah menjadi berkabut.


Kenan segera melepaskan jemari tangan Clara. Ia cukup tertohok dengan pertanyaan itu. Sebuah kecemasan yang tulus dari sorot mata seorang gadis yang juga telah menarik perhatiannya. Diam-diam ia merasa geram melihat ekspresi itu.


“Tidak, aku bukan pria yang semudah itu jatuh hati dan cemburu. Akan kupastikan posisi gadis ini sama seperti gadis lainnya. Aku hanya merasa penasaran, tidak lebih,” batin Kenan mencoba meyakinkan diri.


“Soal permintaanku tadi malam bagaimana?” tanya Clara memandang penuh harap pada pria itu. Pandangan mereka beradu.

__ADS_1


“Apa yang aku dapatkan setelah membantumu mencari tahu? Apa kau akan mengubah perasaanmu terhadapnya?” Kenan membalik pertanyaan, berharap gadis di hadapannya itu memberikan jawaban yang melegakan hati.


__ADS_2