Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Sebuah Rasa yang Terpendam


__ADS_3

Tidak mau repot-repot menjawab pertanyaan yang tidak penting untuk diketahui Clara. Terlalu rumit hingga dirinya saja sebenarnya ingin menghapus kenangan pahit yang terjadi dua belas tahun lalu itu—kalau bisa. Ketika itu, usia Teshar baru dua puluh dua tahun.


Teshar melirik gadis itu sekilas sambil berjalan ke arah dapur. Mengambil beberapa mie instan yang sebenarnya sangat ia hindari untuk diberikan kepada gadis kecilnya tersebut. Akan tetapi, malam ini pengecualian, ia akan membuat gadis itu nyaman di tempat ini untuk sementara waktu, sebelum akhirnya akan memindahkan lagi bila nantinya diperlukan. Pria itu masih memikirkan dengan baik mengenai kerumitan masalah ini.


“Kakak sedang apa?" tanya Clara berjalan mendekat.


Teshar menggulung lengan kemejanya sampai batas siku, meraih panci lalu mengisinya dengan air. Ia menoleh sejenak ke arah Clara kemudian kembali fokus menyalakan kompor hingga api dengan nyala biru segera menyambar permukaan bawah panci.


”Begini caranya menyalakan kompor. Coba kamu sini praktekkan sendiri, aku mau lihat," ucap Teshar mundur selangkah. Tangannya melambai ke arah Clara yang memandangnya dengan raut wajah bingung.


Clara melangkah pelan menghampiri Teshar dan berdiri di depan kompor—yang sudah dimatikan kembali oleh Teshar. Ia menunduk mengamati detil tombol itu sejenak.


“Kamu belum pernah menyalakan kompor?" tanya Teshar dengan nada mengejek, Clara menggeleng pelan—mengakui.


”Dulu nenek selalu melarangku berada di dapur, apalagi bermain dengan api. Itukan berbahaya untuk anak kecil," ungkap Clara jujur.


Teshar sejenak terpaku lalu ia segera menggeleng pelan, membuang rasa iba yang hampir saja ia tunjukkan kepada gadis itu.


”Kamu menyusahkan dirimu sendiri, kamu tahu? Bodoh, bodoh, dan bodoh," lontar Teshar meraih kening itu dan menunjuk dengan jari telunjuknya disertai gigi menggertak tanpa suara.


“Aku tidak bodoh!” protes Clara tidak terima, ia bersungut dengan kepala menoleh Teshar yang berdiri di belakangnya.


"Kalau kamu cerdas, kamu akan bertahan di rumahku dan tidak kabur. Di rumah, sudah kuberi pelayan yang khusus untuk mengurus dan melayani semua keperluanmu. Lalu di sini apa? Hem?" lontar Teshar panjang lebar.


”Iya, aku memang bodoh.“ Clara merengut sambil menekan tombol untuk menyalakan kompor.


Teshar tertegun menatap ekspresi Clara, entah mengapa kali ini apa yang tampak dari gadis di depannya ini sangat berbeda. Sambil memutar pundak gadis itu agar menghadap ke arahnya, Teshar mematikan kembali nyala api kompor dengan tangan satunya. Napasnya terdengar memburu menahan gejolak yang mulai merambat naik kembali .

__ADS_1


Ia mendorong pelan tubuh Clara hingga menyentuh dinding kabinet. Mata gadis itu memandang kebingungan dengan apa yang sedang pria itu lakukan terhadapnya. Pria itu kini sedang menyentuhnya untuk yang pertama kali sejak mereka berdua tinggal bersama.


”Kamu sudah membuatku gila," ungkap Teshar memandang lekat gadis yang masih saja memandangnya dengan kerjapan mata polos.


Teshar mendorong tubuh Clara hingga mundur dan berhenti saat punggung gadis itu benar-benar menyentuh dinding kabinet. Teshar menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh yang akan membuatnya kerepotan nantinya. Ia hanya akan merasakan sedikit saja sensasi, rasa penasaran yang ada di hatinya selama lebih dari lima tahun ini. 


“Kakak, a-ada apa?" tanya Clara masih dengan pikiran polos kebingungan.


Teshar menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana mungkin gadis ini bisa bersikap biasa terhadapnya? Sedangkan dirinya harus menahan diri hingga tersiksa seperti ini, dengan kesal ia melepaskan tangannya. Ia beralih menjauh dan kembali menyalakan kompor serta mengambil beberapa sayuran dari dalam kulkas. Berusaha menjauhi Clara yang masih bingung memandangnya.


”Aku ajari dasar cara memasak, kamu harus mempelajari dengan cepat agar tidak kelaparan saat aku tidak datang berkunjung," ujar Teshar mengambil wadah dan pisau juga tatakan untuk alas memotong.


Clara segera mendekat dan mengamati gerak cepat pria itu. Untuk pertama kalinya ia melihat orang memasak. Sejak kecil ia hanya menghabiskan waktu dengan bermain. Untuk makan saja gadis berusia dua puluh dua tahun itu selalu disuapi neneknya.


Clara merengut sedih saat menatap Teshar, kemudian mengangkat dan menatap deretan lentik jemari tangannya—mendadak ia merasa tidak berguna. Dalam hati ia sebenarnya membenci pria yang ada di sampingnya itu. Ia menggertak gigi dalam diam, tapi apa daya ia tidak bisa berbuat apa pun terhadapnya. Menurut adalah cara teraman yang bisa dia lakukan untuk menjamin keselamatannya.


”Iya, aku paham," jawab Clara pelan dengan kepala kembali menunduk.


“Jangan ulangi lagi apa yang kamu lakukan kemarin. Kamu tahu, aku tidak bisa tidur semalaman hanya karena tidak melihatmu berada di kamar. Selalu saja membuat orang khawatir!" decak pria itu sambil berjalan menuju ke tempat mencuci sambil membawa sayurannya.


”Iya," jawab Clara melirik sekilas wajah Teshar yang kembali serius.


“Kamu hafalkan cara memasak, jangan hanya mie saja, kamu bisa sakit. Tambahkan juga sayuran, ayam, susis, dan telur. Aku akan menyiapkan semuanya," oceh Teshar masih dengan suara ketus.


Sekali lagi Clara mengangguk sambil mendekati panci yang airnya tampak sudah mendidih. Saat tangannya hendak memegang bagian gagang, Teshar segera menepis dengan kasar hingga membuat gadis itu tersentak dan mundur seketika.


”Bodoh! Tanganmu bisa terluka!" bentaknya membuat Clara semakin membelalak dengan mata merah meremang menahan tangis.

__ADS_1


“Maaf.”


Teshar mengepalkan jemari tangan sembari memukul kesal meja di hadapannya. Ia memandang wajah Clara yang tampak memerah dengan kekesalan yang terpendam dalam. Teshar merasa gadis itu selalu saja ceroboh, selalu saja membuatnya harus memastikan semua terlebih dahulu agar ia tetap aman. Teshar frustrasi sendiri menghadapinya.


“Sudah sana kamu minggir! Kamu lihat saja dari jauh. Apa saja yang kamu pegang selalu saja menjadi sumber petaka. Sudah, sana minggir!" usir Teshar mengibaskan tangannya, terdengar nadanya geram memendam kesal.


Clara hanya bisa mundur menjauh dan mengusap air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan. Ia merasa sangat terluka, apa yang ia lakukan selalu saja salah di hadapan pria itu. Ia menunduk menahan isak tangis karena tidak mau semakin dibentak hanya karena ketahuan sedang menangis.


”Berhenti menangis dan pelajari semuanya dengan cara melihat. Salah kamu sendiri, kalau seandainya kamu tidak nekad keluar dari rumah, kamu pasti tidak akan hidup susah seperti ini," omel Teshar masih sibuk melanjutkan memasak.


“Aku merasa senang, kok, ketika berada di luar," gumam Clara lirih, tapi masih bisa terdengar Teshar, pria itu kembali menatap tajam ke arahnya.


”Ulangi lagi?" decaknya membuat Clara menggeleng.


“Tidak, Clara senang berada di rumah, Kakak," jawab Clara membuat Teshar mengembus napas, mencoba menenangkan diri agar tidak terpancing emosi lagi dan berakhir dengan perdebatan dengan gadis itu.


Clara menautkan kedua jemari tangan, masih berdiri di pojokan sambil memandang raut wajah pria yang selalu berubah dingin saat menatapnya. Ada segurat sorot mata yang ia sendiri sukar untuk menguraikan. Walaupun ia sudah membaca banyak buku, tetapi sifat pria itu sangat sulit ia mengerti. Hingga satu kesimpulan tebersit di dalam pikiran Clara dan ia pun mulai menyimpulkan, bahwa pria itu bisa saja terkena gangguan kepribadian. Gadis itu menjadi ngeri sendiri saat membayangkan.


”Ayo kita makan. Kamu melamun memikirkan apa?" lontar Teshar membuyarkan lamunan Clara.


“Tidak, tidak sedang memikirkan apa-apa," sahut Clara menunduk menahan kesal.


"Coba ceritakan, apa saja yang sudah kamu lakukan seharian di luar?" Teshar berjalan melewati Clara seraya meletakkan makanan itu ke atas meja makan yang terletak di samping dapur.


Clara memutar tubuh, memandang Teshar tanpa menyahut. Ia tidak mengerti bagian mana yang layak untuk diceritakan, bahkan rasa kebencian terhadap sikap pria itu dalam membelenggu kebebasannya malah seakan menyeruak ingin ia perlihatkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2