Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Jangan Bawa Aku Pulang!


__ADS_3

Teshar memandang ke arah gadis yang dianggapnya bodoh itu dengan tatapan sinis. Gadis yang selalu membawa dilema di dalam pikiran dan kehidupannya. Seseorang yang selalu memandangnya dengan wajah polos dan memercayai setiap ucapan dan janjinya.


“Sudah puas belum, bermain-main di luar, Sayang?" tanya pria itu dingin, nada suara lebih kepada mengintimidasi.


Clara segera berdiri lagi sambil menepuk telapak tangannya, membuang sisa debu yang menempel. Ia menunduk dengan hati kebingungan dan takut, bahkan dirinya bisa membayangkan pasti saat ini orang itu sedang melotot tajam ke arahnya.


Masih belum berani memandang, Clara berusaha memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan semua perbuatannya itu dan kembali kabur lagi ketika pria menyebalkan baginya itu sedang lengah.


”Mau pulang kapan? Jangan membuatku repot karena kamu berbuat sesuka hati," ucap Teshar masih memakai nada dingin datar tanpa menampilkan ekspresi apa-apa, Clara masih menunduk.


“Aku ... baru seharian ini berada di luar," sahut Clara menggigit bibirnya, menahan rasa gentar di dalam hati.


Clara menoleh ke sisi kanan dan kiri yang mulai tampak sepi. Ia baru sadar telah berlari menjauhi kerumunan. Clara mengembus napasnya kesal menyadari pula pria ini pasti sudah membuntuti dan tahu keberadaanya sejak awal.


”Mau pulang kapan?" Teshar bertanya lagi dengan nada lebih menekan.


Clara segera menunduk dalam. Ia hafal betul, pria ini tidak sedang memberi pilihan, tidak sedang bertanya, tetapi lebih seperti memarahinya. Masih dengan perasaan takut, Clara menautkan jemari tangannya lalu melirik ke arah wajah pria itu sekilas. Memastikan bagaimana ekspresinya memang selalu mengintimidasi.


Rahang yang tegas, sorot mata dingin menghunjam, juga suara embusan napas pria itu sungguh terlalu menakutkan bagi Clara.


“Ikut aku,” ajaknya dengan suara datar seraya meraih lengan Clara dan menariknya agar segera mengikutinya berjalan.


“Aku tidak mau pulang!" tolak Clara berupaya memberontak, wajahnya memerah dengan raut ditekuk memendam rasa kecewa.


”Kamu sedang mencoba melawanku?" tanya Teshar dengan ekspresi dingin yang selalu membuat Clara mengerut ketakutan.


“Aku mohon, Kak. Izinkan aku—setidaknya seminggu saja berada di luar. Setelah ini aku akan duduk diam lagi di rumah. Kakak, aku mohon padamu,” rengek Clara berlari kecil mengikuti langkah Teshar yang lebar.


Teshar tidak menghiraukan rengekan Clara, ia benar-benar merasa geram terhadap gadis itu. Semua yang sudah ia perkirakan benar-benar terjadi, keberadaan gadis ini di luar hampir mengundang mara bahaya baginya dan tentu saja untuk diri Clara sendiri. Dengan tangan mencengkeram erat, pria bertubuh tegap itu segera memasukkan Clara ke dalam mobilnya. Clara hanya bisa memandang dengan batin sedih dan kembali pasrah.

__ADS_1


Teshar segera menutup pintu mobil dan memutar menuju kursi kemudi, mengabaikan Clara yang terus menatapnya dengan wajah mengiba. Ia segera menjalankan kendaraannya meninggalkan Richman Road.


“Kakak, aku minta maaf sudah menyelinap keluar. Tapi tolong, jangan bawa aku pulang," rengek Clara lagi meraih lengan Teshar untuk menyetir.


Pria berjas rapi itu masih bergeming, tidak memedulikan Clara sama sekali. Ia sendiri merasa bingung, bagaimana caranya supaya bisa kembali membawa pulang Clara ke rumah tanpa diketahui oleh siapa pun. Untuk menghentikan rengekan Clara, ia memandang gadis itu dengan tatapan tajam, menyuruh gadis itu untuk berhenti protes dengan isyarat picingan mata. Clara segera paham dan melepaskan tangannya. Gadis itu kembali duduk dengan tenang.


”Apa kamu tahu, apa yang kamu lakukan ini sangat berbahaya?!" decak Teshar sambil fokus mengendarai mobil. Clara masih diam, bibirnya merengut terkatup rapat.


“Usiamu semakin dewasa, tapi pikiranmu kenapa masih saja bodoh seperti bocah!" bentaknya semakin membuat Clara mengerut, menunduk semakin dalam.


Teshar menjalankan mobil tanpa pengawal, ia memastikan sendiri tidak ada satu pun yang membututi mobilnya dengan beberapa kali memutari jalan. Setelah merasa semua aman terkendali, barulah ia mengarahkan kendaraan itu menuju ke sebuah apartemen pribadi miliknya. 


Clara memandang beberapa bangunan yang jauh lebih tinggi dari tempat biasa ia tinggal dengan tangan merinding sendiri. Sesekali ia menoleh ke arah Teshar yang masih memutar kemudinya dengan mata fokus ke arah jalanan.


”Sampai kapan, aku akan terkurung begini?" Clara menggumam pelan, menggigit bibirnya karena sebenarnya ia cukup takut dibentak pria dewasa itu lagi. Karena tidak mendapat jawaban, akhirnya gadis itu hanya bisa menunduk lagi dengan perasaan kecewa.


Mobil mereka berbelok beberapa kali melewati tikungan dengan pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Pepohonan rindang juga menyertai perjalanan mereka menuju apartemen mewah yang memiliki fasilitas super eksklusif. Sebuah apartemen yang dilengkapi dengan sebuah kolam renang outdoor dan indoor, lounge, arena olah raga seperti lapangan badminton, tenis, squash, jogging track, hingga area putting green. Apartemen inilah yang akan menjadi hunian baru Clara setelah percobaan kaburnya gagal.


“Jangan lelet, aku masih punya banyak pekerjaan. Dasar! Kerjaannya membuat repot!" hardik Teshar mengejutkan Clara.


Clara hanya bisa mengembus napas seraya membuka pintu menyusul Teshar yang sudah memutari mobil menuju ke arahnya—bermaksud hendak membantunya membukakan pintu.


”Kita berada di mana, Kak?" tanya Clara memandang seluruh mobil yang parkir berjajar di sampingnya.


“Kenapa? Masih berniat untuk kabur lagi?" balas Teshar dengan suara ketus.


Clara melangkah keluar dari dalam mobil sambil menggeleng pelan. Ia menurut saja saat Tuan Dingin itu kembali menarik tangannya agar berjalan lebih cepat. 


Membawa gadis lugu itu ke apartemen merupakan keputusan yang lebih aman daripada ke tempat lain. Teshar sudah memperhitungkan dengan matang selama semalaman.

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan." Seorang wanita yang merupakan resepsionis menunduk saat menyapa Teshar dan Clara ketika memasuki lobby.


Teshar yang masih menggandeng jemari Clara segera membalas sapaan dengan mengangguk seraya tersenyum ke arah wanita itu sambil masih berjalan ke arah lift. Clara ikut mengangguk dan tersenyum, mempercepat langkahnya mengikuti Teshar.


”Apa kamu merasa bosan selama berada di rumahku?" tanya pria itu sambil menoleh ke arah Clara ketika keduanya sudah berada di dalam lift.


Clara tidak menjawab, hanya bisa memberi tatapan kebingungan ke arah Teshar yang mulai kembali bersikap lembut kepadanya. Suaranya kembali nyaman di telinga. Sambil mengerjapkan mata, Clara mengangguk.


Terlihat senyuman samar terukir dari bibir Teshar, Clara hanya bisa melirik heran. Selalu saja pria itu sanggup membuatnya bingung dengan semua perlakuan yang selalu berubah-ubah setiap waktu terhadapnya.


“Siapa yang membelikan kamu baju jelek itu?" tanya Teshar meraih ujung kaos Clara dan mengibaskan ujungnya dengan kesal.


”Itu … bajuku kotor. Jadi, aku memilih pakaian ini sebagai gantinya," jawab Clara menunduk, dia tidak berani membalas tatapan Teshar.


Clara kembali berjalan setengah tergesa keluar saat pintu lift terbuka; tangannya masih di dalam genggaman Teshar. Pria itu tidak melepaskan tangannya sama sekali sejak turun dari mobil, Clara hanya diam menurut.


Pria itu terdengar berdecih masih dengan menggandeng tangan Clara agar tetap mengikutinya menyusuri koridor unit apartemen pribadi yang tidak diketahui oleh orang tuanya. Teshar berharap di sini Clara tidak berbuat macam-macam dengan mencoba kabur lagi dari lantai empat puluh sembilan unitnya.


“Awas! Kalau kamu berani menyelinap lagi tanpa sepengetahuanku, akan aku lempar kamu dari lantai empat sembilan gedung ini. Mau!" ancam Teshar membuat Clara membelalak mata dan segera menggeleng.


”Bersikaplah yang baik!“


”Aku bosan, Kakak. Aku ingin hidup seperti orang lain di luar sana. Kenapa aku harus dikurung? Kenapa?" rengeknya kembali membuat Teshar menghela napas sebagai isyarat kepada Clara setiap kali nada suara gadis itu sudah mulai membuat Teshar pusing saat mendengarnya.


“Karena kamu tidak hidup sebagaimana orang di luar sana," jawab Teshar tegas.


”M-maksudnya apa? Tidak hidup bagaimana?" tanya Clara masih merengek minta penjelasan.


“Shht!" Pria itu mendesis kesal membuat Clara segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2