Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Negosiasi Antar Dua Pria


__ADS_3

Perjalanan Teshar menuju rumah kini sudah berakhir di depan pintu gerbang. Dia melewati beberapa pengawal keluarganya yang sedang bertugas, tanpa membalas sapaan hangat mereka semua. Teshar ingin sekali cepat menemukan dokumen itu. Setidaknya salinannya, agar ia bisa menyelamatkan Clara. Gadis itu kini sedang menerima siksaan.


"Jemmy, kirimkan foto keadaan mengenaskan Zidan kepadaku. Jeff sudah melewati batas dengan berani memukul gadis itu!" perintah Teshar setelah memarkir mobil di garasi rumah pribadinya.


"Ok, tenang akan kubuat pria tua itu terkejut dengan apa yang kamu lakukan terhadap anak kesayangannya," jawab Jemmy seraya tertawa.


"Ok. Rencana awal kita tetap berlanjut."


"Baiklah, aku harap kamu lebih berhati-hati, lawanmu kali ini bukan pria sembarangan," ujar Jemmy mengingatkan.


"Terima kasih, sudah menghawatirkanku," jawab Teshar segera keluar dari kendaraannya dan melangkah memasuki halaman kediaman orang tuanya.


Ia memandang ke sekitaran, banyak pengawal berjaga ketat, bahkan saat kedua orang tuanya kini sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Teshar menggeleng pelan memahami bahwa memang benar; keluarganya bukan termasuk orang sembarangan. Ia tidak menduga sebelumnya, hanya dengan mengikuti perintah dan tunduk, ia bisa dipercaya mengurusi beberapa perusahaan sang ayah.


Pria itu melenggang memasuki kediaman pribadi orang tuanya, seorang pelayan datang mengikuti langkah Teshar disusul pengawal setia ayahnya.


"Ayah ibuku, mereka ke mana?" tanya Teshar berbasa-basi.


"Mereka sedang melakukan kunjungan ke beberapa proyek yang ada di luar negeri, Tuan" jawab pengawal itu sambil menundukkan kepala, memberi hormat.


Teshar menenggelamkan satu tangannya ke dalam saku, memandang kesibukan di kediaman orang tuanya yang tampak lebih ramai. Ia hanya ingin menyelinap sejenak ke dalam ruangan tempat brankas dokumen keluarganya berada, tapi sepertinya cukup sulit.


"Aku akan mampir sebentar," ucapnya kepada satu penjaga itu.


"Silakan, Tuan."


Teshar memutar bola matanya, menyadari bahwa saat ini rumah orang tuanya dalam penjagaan ketat dan terdapat banyak CCTV terpasang. Sambil mengamati lingkungan dan letaknya, ia memilih memasuki ruang makan.


"Tuan Muda Teshar," sapa kepala pelayan yang berada di dalam rumahnya.


"Aku cuma mampir. Apa kalian punya sesuatu yang enak dimakan?" tanya Teshar dengan nada datar.


“Tentu, Tuan. Silakan duduk, saya akan menyiapkan menu favorit Anda,” ucapnya ramah.


"Ke mana, Kenan?" tanyanya mencoba untuk berbasa-basi.


"Di kamarnya, Tuan. Semalam dia mabuk berat," terang pelayan itu sembari berjalan menjauh ke arah dapur.


"Ehm, aku akan menengok keadaannya. Panggil aku setelah makanan siap," ucap Teshar segera melangkah pergi.


Dia melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu berlalu begitu saja, hanya menyisakan waktu tiga jam dimulai dari sekarang. Mendadak hatinya menjadi gelisah.


Tangan kiri secara spontan menarik ponselnya dari saku celana; sementara langkah kakinya tergesa menuju ke lantai dua. Ia akan benar-benar mengunjungi sang adik agar tidak ada seorang pun yang akan mencurigainya.


Teshar merasa harus lebih berhati-hati melangkah, bila ada hubungannya dengan Clara.


“Jagoan Tengik, kapan kamu akan sadar dan hidup normal?” panggil Teshar berdecak seraya menutup pintu kamar adiknya.

__ADS_1


Kenan melirik sekilas lalu kembali memejamkan mata setelah melihat kedatangan kakaknya. Dia memiliki untuk mengabaikan ocehan yang baginya tidak bermutu.


Pria muda itu mengambil bantal seraya melemparkan pada Teshar. Dia kesal, karena datang langsung mengoceh.


"Kamarmu berbau busuk, asal kamu tahu!" decaknya seraya mengibaskan jemari tangan dan membuka tirai beserta jendela kamar Kenan, tampak kegelapan malam segera terlihat jelas di luar sana.


"Sial, waktuku semakin terbuang sia-sia," batin Teshar gelisah.


"Ada perlu apa? Diam atau menyingkir dari kamarku!" balas Kenan ketus, masih memejamkan mata.


"Aku butuh bantuanmu," jawab Teshar seketika membuat Kenan tertawa terbahak.


Kakaknya membutuhkan bantuan padanya? Pria itu merasa sangat geli mendengarnya. Kakaknya seorang manusia cerdas nan sempurna dalam berbisnis, bahkan ayahnya selalu memuji dirinya habis-habisan.


Tapi, kali ini saat mendengar bahwa sang kakak meminta bantuan. Sungguh, Kenan merasa tiba-tiba Teshar menjelma menjadi manusia normal yang memiliki kekurangan.


"Aku serius. Ini menyangkut gadis yang kau lihat di rumahku saat itu," jelas Teshar membuat Kenan tertarik dan bersedia untuk membuka kedua bola matanya dan duduk—masih bersandar malas pada head board ranjangnya.


"Jadi, dia manusia sungguhan?" tanya Kenan penasaran.


"Tentu saja. Kamu kira hantu." Teshar menarik satu sudut bibirnya—tersenyum miring.


"Butuh bantuan apa?" tanyanya masih pura-pura malas.


Padahal jauh dari lubuk hatinya, Kenan teramat penasaran ingin mengetahui tentang gadis itu.


Kenan masih diam menyimak, sekaligus terkejut dengan pertanyaan dari kakaknya.


"Kamu membuntutinya, bukan?" tanya Teshar lagi menahan geram.


"Tidak sengaja, dan aku tidak tahu kalau dia wanitamu."


“Omong kosong.” Teshar menggeram.


“Aku benar-benar tidak mengerti.” Kenan berucap malas.


“Wajahmu tertangkap kamera CCTV Apartement, jangan mengelak.”


Kenan dan Teshar terdiam. Mereka saling melirik satu sama lain hingga akhirnya Kenan memilih membuang muka, menghindari tatapan kakaknya yang menghunjam hati.


"Bantuan apa? Aku ngantuk. Kalau kamu hanya memutar kalimat tidak penting, pergilah," ucap Kenan tidak sabaran.


“Cari sebuah dokumen yang terdapat di dalam brankas dan ambil.” Teshar mengecilkan suaranya, berbisik dengan kepala condong ke arah adiknya yang menatapnya serius.


“Apa maksudmu?” Kenan terlihat bingung.


“Saat ini gadis itu diculik. Dan satu-satunya hal yang bisa menjadi jaminan kebebasannya yaitu dengan menyerahkan dokumen itu.”


“Kenapa harus aku?”

__ADS_1


“Karena tinggal di sini. Semua pengawal tidak akan mencurigai gerak gerikmu."


"Kamu punya hutang untuk menjelaskan."


“Akan aku tepati asal kamu berhasil mendapatkannya.” Teshar memasang wajah tegang dan serius dengan suara yang sangat pelan.


“Baiklah, kira-kira isi dokumen itu apa? Haruskah aku tahu terlebih dahulu agar—”


"Lakukan saja perintahku, atau kau akan kuseret ke penjara atas tuduhan bersekongkol dalam penculikan gadis itu," tegas Teshar tidak mau adiknya bergerak di luar rencananya.


"Bukankah kamu sama saja, juga telah menculiknya?" sindir Kenan beranjak dari tempat tidur.


"Ini kesempatanmu dekat denganku. Aku tahu selama ini kamu ingin sekali sepertiku, 'kan? Ambil kesempatanmu untuk menunjukkan kalau kamu ada gunanya menjadi adikku!" Teshar memandang Kenan dengan tatapan tajam, dan sialnya dia sangat serius dengan ucapannya.


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu," balas Kenan malas.


"Kalau ayah dan ibu membuangmu, apa kamu ingin aku membuangmu juga?" Teshar memajukan tubuh, mendekati Kenan yang diam mencerna ucapannya.


"Arhgg!" Kenan mengerang kesal, ia membenarkan bahwa selama ini dirinya tidak pernah dipandang oleh kedua orang tuanya, kemampuannya selalu diremehkan.


"Beri aku kabar dalam sepuluh menit. Akan aku tempatkan dirimu di rumah kakek. Kamu tahu hanya aku yang kamu miliki selama ini." Teshar menegakkan kembali tubuhnya lalu berjalan menjauh. "Atau aku akan melakukan sendiri dan hubungan kita sebagai saudara berakhir sampai di sini," ucapnya serius.


Kenan bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kaus yang teronggok di pojokan kasur lalu mengenakannya. Dia kemudian mendekat ke arah Teshar yang masih menunggu jawaban.


Tentu, sebelum menjawab, ia harus memikirkan matang-matang segala konsekwensinya.


"Oke. Aku akan melakukan apa yang kamu suruh, tapi dengan syarat." 


"Kamu berani mengajukan syarat?" Teshar mengurai tawa sambil menggelengkan kepala. Dia merasa adiknya sudah gila.


"Kamu pikir aku bodoh. Ayah dan ibu mudah saja membunuhku tanpa cinta yang mereka miliki. Jadi, sebagai jaminan bahwa aku ada keuntungan dari resiko mengambil dokumen itu, alih-alih hanya mendapatkan pengakuan tidak berguna darimu, maka …."


"Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu," desak Teshar merasa Kenan terlalu bertele-tele.


"Aku ingin mengambil 50:50 kesempatan kita berdua." Kenan gantian memandang Teshar dengan tantangan lewat sorotan matanya.


Teshar paham kalau adiknya sedang berupaya mengamankan masa depan. Baginya, itu hal yang lumrah, karena risikonya memang besar.


"Soal apa? Warisan atau kedudukan di perusahaan?" tanya Teshar penuh rasa percaya diri.


"Gadis itu. Biarkan aku mencoba untuk mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya," jawab Kenan tegas hingga seketika perasaan Teshar menjadi tercenung.


"Apa maksudmu?" geram Teshar.


"Aku ikut operasi pembebasannya. Aku ingin menyelamatkan gadis yang telah mengusik hidupku sekian lama," jawab Kenan mantap.


Mendengar permintaan itu, tiba-tiba dada Teshar berdentum nyeri. Hatinya terasa sakit membayangkan Kenan mendekati gadisnya.


"Bagaimana? Aku akan bergerak sekarang, risikonya lebih berat darimu. Aku yang dibunuh ayah dan ibu, sedangkan kamu hanya akan kehilangan kesempatan lima puluh persen atas hidup gadis itu?" Kenan berdiri tegap, menghadap Teshar.

__ADS_1


__ADS_2