
Clara segera meninggalkan Teshar untuk membasuh muka, membuang sembap air mata yang hampir saja tidak terbendung. Sambil becermin menatap wajahnya sendiri, gadis itu menghela napas panjang.
"Rasanya aku sudah lelah untuk terus bersabar. Aku ingin pulang," urai Clara lirih dengan lelehan air mata yang kembali terukir, dengan cepat pula ia menghapusnya. “Nenek, Clara ingin pulang.”
“Clara, kenapa kamu lama sekali!" Teshar memanggil dengan suara keras karena merasa sudah terlalu lama menunggu. Beberapa kali pula pria itu meminum air putih di hadapannya dengan pikiran gelisah. Ia merasa khawatir kalau saja gadis kecilnya melakukan sesuatu yang berbahaya.
”Clara, kamu dengar tidak!“
Clara mengusap kembali wajah dengan gugup. Paling aman berada di sisi Teshar sebenarnya cukup mudah. Hanya dengan menurut, diam, dan tidak banyak bertanya. Namun, bagi Clara itu menjadi sulit karena itu sudah dilakukannya selama bertahun lamanya.
”I-iya. Sebentar, Kak.“ Clara meneguk ludah, mengepalkan jemari tangannya sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Sebenarnya ia cukup malas melihat Teshar malam ini. Sudah berhasil menghirup udara bebas seharian jelas telah mengubah cara pandang gadis itu terhadap indahnya kehidupan. Clara menginginkan hidup normal meskipun sejak kecil ia tidak pernah merasakannya. Hidup bersama nenek dan kakeknya sama saja, karena sejak kecil ia sudah merasa telah terkurung.
Clara berjalan mendekati Teshar yang memandang kedatangannya dengan wajah kesal. Ia pun memilih duduk di kursi seberang yang berhadapan langsung dengan pria itu agar lebih mampu mengendalikan diri dari rasa tidak nyaman.
“Kamu tahu, kalau saja masih berada di rumah, sudah pasti aku tidak akan marah-marah terus seperti ini!” omel Teshar sambil menyodorkan mangkuk ke hadapan Clara, gadis itu masih menunduk tidak berani memandang Teshar sama sekali.
“Iya, Kak.”
Sebenarnya Clara sangat ingin memberontak. Apa yang Teshar ucapkan dengan kemarahan sangat membuatnya bingung. Pada satu sisi pria itu tidak pernah melakukan kekerasan padanya. Namun, dianggap bodoh dan tidak tahu apa-apa bagi Clara sangat menjengkelkan.
“Kakak.” Clara pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Hem!” Seperti biasa pria itu akan menjawab dengan santai tanpa repot-repot membuka mulut.
"Apa Clara begitu merepotkan hidup Kak Teshar?"
__ADS_1
“Sudah tahu masih saja bertanya!" decak Teshar menjawab.
”Lalu, kenapa Kak Teshar tidak membiarkan aku pergi saja? Bukankah dengan begitu, aku tidak akan lagi merepotkanmu? Siapa suruh menampungku," adu Clara dengan menampilkan suara tegas, sikap yang belum pernah ia tunjukkan selama ini di hadapan Teshar.
Teshar tersenyum miring, satu sudut bibirnya terangkat. Setelah meletakkan sendok dan garpu ke atas piring, Teshar menegakkan tubuh sambil menyedekapkan tangan, menatap Clara yang kini tengah menampilkan wajah berani seolah sedang menantang.
“Jadi, kamu tidak berterima kasih karena selama ini aku sudah membesarkanmu, sudah memberimu jaminan keamanan hidup?" sindir Teshar tampak menajamkan pandangan.
Clara juga meletakkan kembali sendok yang dipegang, sambil mengatur napas untuk mengumpulkan kata-kata yang sedari dulu ingin ia sampaikan. Beberapa saat pandangan mereka beradu. Teshar merasa sedikit terkejut dengan sorot mata gelap itu, terapi sebisa mungkin ia bersikap tenang dan biasa saja.
”Kenapa aku harus berterima kasih pada pria gila yang terus memperlakukanku layaknya benda mati?" lontar Clara sengit membuat Teshar mengalihkan pandangan dengan gigi menggertak. Clara mengerut menundukkan wajah, tapi bibirnya terlihat masih menggerutu.
Pria itu kembali menikmati makanan dan mulai mengabaikan ocehan gadis yang dianggapnya belum tahu apa-apa itu. Ia menyeruput kuah sambil melirik ke arah Clara yang masih bersungut terhadapnya. Dalam hati dia merasa lucu juga, dengan sebutan sebuah benda mati.
“Waktumu makan hanya sepuluh menit. Lebih dari itu makananmu akan kubuang, tidak peduli kamu masih lapar apa tidak," tegas Teshar sudah terbiasa bersikap tidak acuh terhadap protes kecil gadis itu terhadapnya.
“Wah, bagus itu. Lakukan saja, malah itu sangat membantuku, karena dengan begitu aku tidak akan susah-susah lagi mencari cara untuk membuatmu lenyap dari hidupku."
Clara menunduk dengan mata mengerjap beberapa kali, mencoba untuk mencerna setiap kalimat yang dia dengar dari mulut seorang Teshar. Ia melirik kembali, tapi pria itu terlihat menikmati kembali makanannya.
”Apa maksudnya dengan kata kejam itu? Kenapa dia selalu berbicara seperti itu padaku. Salahku apa?" batin Clara sedih sekaligus heran.
“Kamu sudah selesai?" tanya Teshar meletakkan sendoknya.
”Sebentar," rebut Clara menahan mangkuk yang hampir ditarik Teshar menjauhinya.
Clara segera menghabiskan sisa makanannya dengan lahap. Teshar masih menatap dengan banyak pikiran berkecamuk. Dia menyadari gadis kecil berusia lebih muda dua belas tahun darinya ini tidak mengerti apa-apa.
__ADS_1
"Haruskah aku sedikit memberinya kebebasan? Apa tidak akan menjadi masalah untukku nantinya?" gumam Teshar dalam hati.
“Kak Teshar sudah mau pulang?" tanya Clara mencoba bersikap kembali lembut, ia menyodorkan mangkuk kosong itu sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Teshar mengamati perubahan perilaku Clara yang tidak jorok seperti biasanya.
”Baru sehari di luar, gadis itu sudah mulai banyak berubah," batin Teshar mengamati sikap Clara yang mulai menunjukkan perlawanan lebih dari biasanya.
Clara menatap Teshar hingga memajukan wajahnya sedikit mendekat. Pria itu memang seperti sedang menatap, tapi pandangannya kosong.
”Kakak melamun?" Clara melambaikan jemari tangannya ke arah Teshar.
Pria itu kembali tersadar dan segera mengalihkan pandangan. Sambil mengambil mangkuk dari atas meja, ia pun segera bangkit berjalan meninggalkan meja makan.
Clara masih betah menatap punggung lebar itu, sungguh pemandangan pria dewasa yang sempurna. Clara mencoba untuk berpikir lebih dewasa sesuai usianya. Banyak sekali buku-buku yang setiap minggu disodorkan Teshar kepadanya sesuai dengan tingkatan usia. Walau tidak pernah sekolah formal sekali pun, tetap saja pria itu akan menyuruhnya membaca, membaca, dan membaca hingga membuat otak pusing dan perutnya mual.
Sebisa mungkin ia akan memanfaatkan semua pelajaran yang ia dapatkan dari teori untuk kehidupannya kelak. Ia benar-benar menginginkan sebuah kebebasan hidup.
“Aku akan tidur di kamar sebelah malam ini, jadi jangan macam-macam, apalagi keluyuran. Sudah sana, tidur!" perintah Teshar tanpa menoleh.
”Iya, Kak," jawab Clara singkat dan berjalan ke arah kamarnya, sesekali ia menoleh ke arah Teshar yang sedang mencuci piring beserta peralatan masak. Clara menggembungkan bibirnya sambil berjalan mengabaikan laki-laki aneh itu.
Teshar mencuri pandang kepergian Clara dengan helaan napas. Pria itu mengambil ponsel miliknya yang sedari tadi berdering di atas meja, seseorang beberapa kali mencoba menghubunginya.
“Iya, ada apa, Kakek?" tanyanya mengangkat panggilan dengan satu tangan meraih lap untuk mengeringkan telapak tangannya yang basah.
”Baiklah, aku akan segera datang," jawabnya dengan raut wajah berbeda.
Ia menatap ke arah pintu. Malam ini ia tidak bisa menginap di kamar yang terletak berjajar dengan kamar utama tempat Clara berada. Terpaksa Teshar harus kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung