Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Mendekap Erat Mimpi Buruk


__ADS_3

Clara mengerjapkan bola matanya yang masih terasa berat. Terpaksa ia menyipit untuk menyesuaikan cahaya sambil memandang jendela yang menampakkan sinar terang dari arah luar. Ia tidak menyangka hari sudah berganti pagi, padahal rasanya seperti baru saja ia memeluk bantal semalam, berusaha memejamkan mata dan tidur.


Clara masih sesekali menguap, segera bangun seraya menurunkan kaki dengan malas untuk memakai sandal. Perasaannya diliputi ketenangan ketika mendapati jejak Teshar di kamar sebelah yang menunjukkan bahwa semalam juga menginap di sini. Sungguh, gadis itu juga tidak mengerti, meskipun sangat membencinya, tetapi tetap saja ia menjadikan pria itu sebagai tempatnya bersandar.


“Apa dia sudah pergi? Dasar! Laki-laki galak sangat menyebalkan?” Clara bersungut-sungut sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Hari ini ia ingin sekali menikmati hari bebas seperti kemarin. Bertemu dengan pria bernama Rafka kemudian menanyakan lagi perihal keberadaan kedua orang tuanya.


Hatinya diliputi berjuta pertanyaan. Bagaimana mungkin, selama ini mereka tidak mencarinya? Benarkah, Teshar orang yang hebat sehingga kedua orang tuanya tidak mampu menjangkau tempat itu? Clara merasa sangat penasaran apa yang terjadi sepeninggal dirinya dikurung. Apa sesuatu telah terjadi dengan orang tuanya? Gadis itu pun segera mengenyahkan pikiran buruknya dengan menggeleng samar.


Clara duduk di samping bak mandi dengan kepala tertunduk. Banyak keinginan yang dulu dipendamnya jauh dalam angan-angan. Kini, ia merasa kesempatan untuk memulai mencari tahu tentang alasan kenapa dirinya harus dikurung Teshar terbuka lebar. Ia merasa harus bisa menggunakan peluang ini dengan baik. Ia sangat ingin bertemu dengan neneknya, sisa dari sebuah kenangan yang masih terjaga dalam ingatan.


Setelah selama ini hanya berpasrah, meratapi kegagalan setiap hendak kabur. Kini saat ia merasa sudah cukup memiliki teori kehidupan melalui banyak buku, setidaknya itu sudah cukup untuk memulai mencari tahu apa yang ingin diketahuinya.


”Aku harus bergerak cepat,” ucapnya berbicara pada diri sendiri.


Ia pun segera bergegas mandi dan mengganti pakaian. Mencari sisa uang saku kemarin yang tersimpan di dalam laci kamar lalu segera memasukkannya ke dalam saku yang terdapat pada gaun pendek sebawah lutut yang ia kenakan hari ini.


Sambil merapikan rambut dengan jemari tangan ia bergegas keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mencari makanan. Setidaknya ia harus mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum pergi.


Suasana apartemen sangat sepi, beberapa kali ia menoleh kanan dan kiri untuk memastikan kalau Teshar sudah tidak ada. Lalu ia pun bergerak menuju dapur dan mendapati tudung saji kemudian membukanya pelan. Clara duduk di kursi dengan pikiran berkecamuk, melihat satu porsi nasi goreng beserta satu gelas air putih di dalamnya. Sebuah perhatian kecil yang selalu mampu mengetuk hatinya selama ini.


‘Habiskan sarapanmu, tunggu aku datang dan jangan ke mana-mana. Ini perintah!’

__ADS_1


Sebuah pesan dari Teshar tertulis di samping sebuah gelas berisi air putih di dalam tudung saji. Clara tertegun, merasa kesal karena Teshar terus saja mempermainkan perasaannya.


“Kenapa kamu jahat, tapi kadang sangat baik? Meskipun begitu, akan selalu membencimu. Asal kamu tahu,” keluhnya mengomentari sikap Teshar yang selalu membuatnya bingung dalam menghadapi sikapnya.


Clara menelan ludah, bibirnya merengut kesal. Ia memutuskan untuk menutup lagi tudung saji itu dan segera beranjak pergi dari sana tanpa sarapan. Tangannya sedikit gemetaran saat membuka pintu utama unit apartemen yang ia tinggali. Merasa lega karena tidak terkunci. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, ia pun segera keluar setelah terlebih dahulu mengamati keadaan koridor sepi tanpa ada orang satu pun yang lewat.


”Aman,” bisik Clara penuh tekad.


Gadis itu segera menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan santai selayaknya penghuni lain tanpa ada masalah, menyusuri koridor ke arah lift berada. Beberapa kali dia bertemu dengan tetangga penghuni apartemen juga, mereka saling menyapa dengan bertukar senyuman hangat.


Clara memasuki lift bersama beberapa orang. Ia memilih mundur dan berdiri di bagian pojokkan dengan mata terus tertuju menatap layar monitor. Sesekali ia merapikan rambut ikal panjangnya yang menjuntai dengan perasaan gelisah dan hati berdebar. Ia berharap bisa kembali ke apartemen sebelum Teshar datang untuk berkunjung.


“Aku hanya pergi sebentar. Aku akan kembali sebelum kak Teshar datang,” gumamnya meyakinkan diri.


“Nona, kalau boleh tahu, Anda mau pergi ke mana?” sapa seseorang yang baru memasuki lift.


Clara menoleh seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. Ia tidak menyangka pria berbadan tegap itu sedang berbicara dengannya.


”Iya, saya sedang berbicara dengan Anda,” jawab pria itu sambil merapikan jasnya. Pria itu juga memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menunduk hormat kepada Clara.


“Membeli keperluanku,” sahut Clara singkat.


Gadis itu merasa tidak nyaman saat berbicara dengan orang asing. Ucapan Teshar selalu terngiang, memberinya peringatan untuk lebih berhati-hati saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal.

__ADS_1


”Baiklah. Silakan, Nona,” ucapnya kemudian.


“Dia bicara denganku? Apa maksudnya?” batin Clara merasa aneh dengan gelagat orang asing itu.


Clara tidak mengacuhkan lagi pria berperawakan gagah itu dan segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah monitor. Sebentar lagi lift akan segera sampai di lobi dan ia akan segera berlari secepatnya saat keluar dari dalam lift ini begitu pintunya terbuka.


”Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya akan menjalankan tugas ini dengan baik,” ucap pria di samping Clara, pria itu berbicara dengan orang yang menghubunginya melalui sambungan telepon.


Clara menoleh dengan perasaan tidak nyaman, pria itu seperti sengaja mendekatinya hingga saat pintu lift terbuka, semua rombongan yang berada di dalamnya bergantian untuk keluar, Clara bergerak lebih cepat menyelinap ke dalam kerumunan dan berlari kecil meninggalkan tempat itu.


“Pria asing tadi tidak sedang membicarakan aku, ‘kan?” gumam Clara di sela langkahnya yang semakin cepat, gestur tubuhnya menimbulkan gerai rambutnya bebas terurai. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Clara mencoba merapikannya dengan jemari tangan.


Clara berjalan tergesa, menginjak lantai menuju keluar area lobi seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, ia kembali diliputi rasa kebingungan dengan arah tujuannya. Tanpa berpikir panjang lagi Clara segera berjalan ke arah pinggir jalan raya, bermaksud untuk menyetop taksi dan memutuskan untuk pergi ke toko roti milik Rafka saja. Hanya itu satu-satunya tempat yang bisa menjadi tujuannya.


“Taksi!” panggilnya sambil melambaikan tangan ke arah taksi yang terparkir di ujung jalan tempat dirinya berdiri.


Tanpa diduga Clara sama sekali, dari arah belakangnya muncul seorang pria yang mendekap erat tubuhnya, mulutnya kemudian dibekap sehingga membuatnya tidak mampu bersuara. Dengan cepat pula tarikan kuat itu membuat gadis itu terseret dan bergerak mundur mengikuti langkah pria tersebut tanpa mampu memberontak.


Kejadian itu yang berlangsung dengan sangat cepat membuat Clara syok sehingga tidak sempat bisa melawan ataupun berteriak meminta tolong.


“Hmmmppp,” erang Clara mencoba untuk bersuara, tetapi tangan pria itu teramat erat membekap mulutnya.


”Cepat masukkan dia ke dalam mobil!“ perintah pria itu kepada rekannya.

__ADS_1


”Bos pasti akan senang setelah menunggu buruan ini dalam waktu yang mustahil,“ sahut pria yang lainnya sanggup menegangkan urat tenggorokan Clara. Mendengar sebutan bos tentu saja membuat gadis itu ketakutan setengah mati.


__ADS_2