Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Bertukar Tawanan


__ADS_3

“Di mana kalian sembunyikan Zidan!” teriak Jeff marah.


Pria itu kini sudah berada di barisan paling depan, menatap Jemmy, Kenan dan tiga rekan di belakang; dengan tatapan bagai singa lapar yang siap menerkam mangsa. Ia menuduh Teshar sudah berbuat curang.


“Lalu di mana Clara!” balas Jemmy tak kalah lantang.


Dia sama sekali tidak gentar menghadapi amukan Jeff, meskipun jelas pria itu terlalu kuat untuk ditundukkan dengan banyaknya pengawalan yang dia bawa.


“Apa Teshar terbunuh dengan cara konyol di Villa?” cibir Jeff terkekeh meremehkan kacaunya Teshar dalam membaca pergerakannya.


“Atau ... mungkin saja, dia saat ini sedang membidik kepalamu dari belakang,” sahut Kenan ikut bersuara.


“Aah ... putra keluarga Indira yang tidak berguna itu juga hadir di sini rupanya?” ujar jeff diiringi gelak tawa, merendahkan posisi Kenan di dalam keluarga Indira. Banyak yang tahu kalau putra bungsu Indira tidak bisa dibanggakan sama sekali.


Tampak Jeff menyipitkan kedua sudut matanya, memandang Kenan dengan cibiran yang sanggup memerahkan telinga adik Teshar itu.


Napas Kenan terdengar memburu, hinaan itu sanggup membuatnya sangat tersinggung. Bagaimana tidak, sebagai 'anak bungsu' dia selalu menjadi bahan perbandingan kakaknya. Perkataan orang tuanya kini malah terngiang lagi. Dengan sekuat tenaga, ia membuang ingatan menyakitkan itu.


Jemmy yang mulai menyadari perubahan wajah memerah Kenan mendadak gelisah. Ia khawatir Kenan akan mengacaukan semuanya, kalau sampai terpancing perkataan Jeff terhadapnya. Rencana Jeff bagian ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.


“Di mana Clara sekarang, kita selesaikan ini secepatnya!” sela Jemmy memecah suasana panas.


“Perlihatkan dulu di mana Zidan, baru akan aku beri tahu di mana Clara berada.” Jeff berjalan dengan gaya santai. Langkahnya memberi efek mengintimidasi lawan.


“Akan kami serahkan, asal Clara juga kalian bawa ke sini lebih dulu.”


Jemmy mencoba tidak terpengaruh dengan gaya Jeff yang kelewat tenang. Ia masih memiliki Teshar, yang mungkin saja sedang merangsek ke dalam Bar untuk mencari keberadaan Clara. Ia berharap Teshar bisa memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun dengan tidak melakukan kesalahan.


“Dokumen yang kamu cari juga ada padaku,” tambah Kenan dengan senyuman menyeringai.

__ADS_1


Jeff memandang Kenan yang kini berada di belakang Jemmy sejenak, hingga mengangguk dengan raut wajah sukar dibaca.


“Bawa Zidan ke sini,” ucap Jemmy memberi perintah pada bawahannya melalui perangkat wireless.


Jeff tersenyum dengan desis bibir yang menghitam karena pengaruh alkohol juga rokok yang kerap menjadi pendampingnya dalam menjalani hidup. Tangan pria itu menjentik ke arah anak buahnya—memberi perintah untuk membawa Clara—kemudian kembali menatap lurus ke arah Kenan.


Benaknya sedang bekerja keras, kenapa Teshar membiarkan adiknya membawa barang penting itu; semua orang tahu kalau kedua pria bersaudara itu saling bermusuhan. Jeff mencoba menyelisik.


“Bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang seorang pria sempurna tanpa cela seperti kakakmu?” lontarnya seraya menoleh ke arah Kenan.


Kenan memandang dengan sorot mata lugas tidak terbaca, antara terkejut, marah atau sedih. Tangannya mencengkeram erat pistol milik kelompok Jeff dengan emosi mendidih yang ditahan. Bersiap dengan pelatuk yang siap ditarik kapan saja.


“Tutup mulutmu, pria tua bangka!” desis Kenan nyaris tanpa memberi ekspresi.


Matanya dingin manatap tajam. Air mukanya kini berubah muram, tanpa kedipan mata sama sekali.


Sedetik kemudian Jeff menyadari kesalahan ucapannya dalam memancing emosi seorang Kenan Indira, bahkan sorotan mata itu kini bagai pedang yang siap menghunjam ke arahnya.


“Teshar, kau di mana? Kenapa Clara malah diseret ke sini, Bodoh,” batin Jemmy mengumpat kesal.


Jemmy merasa Teshar terlalu lamban dalam bergerak hingga kesempatan yang sedang ia upayakan untuk mengalihkan serta mengulur waktu Jeff terdengar sia-sia. Ia mendesah kasar menatap sekeliling.


Satu menit kemudian Zidan terdengar mengumpat. Langkahnya berat karena diseret paksa Teshar yang berjalan tepat berada belakang Jeff; membuat semua orang berbalik badan—posisi barisan pengawal kini memunggungi Kenan dan Jemmy.


Teshar datang dari arah belakang Jeff sambil bersiul, seolah tidak gentar dengan keberadaan anak buah Jeff yang jumlahnya tidak seimbang dengannya.


“Serahkan Clara padaku dan anak manjamu ini akan pulang dengan aman bersamamu,” ucap Teshar masih berjalan mendekat, anak buah Teshar berjalan dengan langkah siaga menyusul langkahnya.


Para pengawal Jeff berubah formasi, segera membelah menjadi dua kelompok berbaris rapi dari ujung kiri dan kanan, menyisakan jalan kosong di tengah. Hanya tersisa antara Teshar dan Jeff.

__ADS_1


Pandangan Teshar kini beralih ke arah Clara yang dipaksa duduk bersimpuh di lantai, tangannya masih terikat dan bibir tertutup rapat lakban.


“Buka ikatannya!" perintahnya dengan suara tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang mata bulat berkaca-kaca, milik gadis yang berhasil mengacaukan harinya karena lepas dari pantauan.


“Kau juga akan melakukan hal yang sama?” tuntut Jeff memberi isyarat tangan menunjuk ke arah Clara yang masih bersimpuh.


“Tentu! Karena aku bukan pengecut yang memukul wanita hanya untuk menebar ancaman bullshit!” cela Teshar menatap tajam ke arah Jeff.


Pria itu menelan ludah pahit, mencoba untuk mengesampingkan keadaan Clara yang membuatnya ingin merengkuh, menghilangkan ketakutan yang jelas tampak menggantung di sorot mata sayu itu, bahkan ingin sekali ia memaki gadis itu secara bersamaan karena sudah berani mengabaikan perintahnya.


Jeff terkekeh pelan sambil membalik badan menatap Kenan dan Teshar bergantian. “Keponakanku. Sangat menarik sekali,” cibir penuh arti.


“Berikan dokumen itu, maka semua akan berakhir dengan baik.” Jeff kembali menampakkan sikap dingin dan serius.


Tangannya segera meraih lengan Clara dan menyuruh gadis itu untuk berdiri setelah melepaskan lakban dari mulut gadis dengan cara yang kasar.


Gadis itu bahkan harus menunduk dengan mengusap air mata karena merasakan rasa pedih dan panas yang tidak terkira dari kulit wajahnya.


“Clara, kamu tidak apa-apa?” tanya Teshar lirih sambil berusaha sebisa mungkin menekan perasaan yang hampir terpancing untuk meledak.


“Maafkan aku, Kak,” jawab Clara lirih nyaris tidak bersuara dengan bibir bergetar.


Setetes air matanya jatuh seketika. Perasaannya mendadak sesak, saat menatap pria yang dibencinya selama dua belas tahun itu kini berdiri untuk menyelamatkannya. Walaupun harus berada di bawah ancaman todongan senjata.


Teshar dan Jeff saling memandang satu sama lain.


Teshar menekan tubuh Zidan agar menurut untuk duduk di lantai. Terdiam memikirkan sebuah situasi yang lebih rumit dari ini. Ia tidak akan percaya begitu saja kepada Jeff. Tidak mungkin pria itu dengan mudah menyerah semudah itu dan menganggap semua beres.


Teshar mencoba untuk membaca situasi di tengah ketidakpastian akan keselamatan semua anak buah, termasuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Sebenarnya, apa yang sedang kamu rencanakan, Jeff?”


__ADS_2