
Seminggu sudah berlalu. Saat ini Clara sedang ikut menata beberapa perabotan di sebuah ruangan. Tiga hari ini ia sengaja meminta izin pada kakek Bima untuk membantu pelayan untuk mengerjakan tugas di rumah itu daripada berdiam diri di kamar. Ia merasa lebih berguna dalam hidupnya daripada hanya menatap semua orang berlalu lalang di rumah itu dengan berpaku tangan.
Bima dengan senyuman merekah mengangguk, mengiyakan keinginan gadis yang kini wajahnya lebih ceria setelah memiliki dua teman baru—yaitu pelayan di rumahnya itu. Sedikit banyak kesibukan bisa mengalihkan rasa kesepian gadis itu selama berada di kediamannya.
Ia merasa cukup heran karena tiba-tiba Teshar seolah menghilang tanpa jejak. Sejak keluar dari rumah sakit, cucunya itu belum juga berkunjung ke kediamannya.
Menyadari ada hal yang tidak beres, Bima segera menghubungi Teshar dan berharap pria berusia tiga puluh empat tahun itu segera datang berkunjung. Ia ingin melihat keadaan cucunya secara langsung.
Bima merasa tidak tenang karena beberapa kali menangkap basah Clara sedang berdiri termangu menatap pagar tinggi rumahnya. Bukan keinginan untuk kabur lagi, tapi ia menebak kalau gadis muda itu sedang menunggu Teshar datang menemuinya.
Tidak bisa dikesampingkan, bisa saja kebersamaan keduanya selama dua belas tahun telah memupuk sebuah kerinduan yang coba mereka berdua pungkiri kehadirannya dalam ruang hati.
“Hari ini sepertinya tuan Teshar akan berkunjung ke sini,” bisik Mia kepada Clara, saat itu keduanya sedang berada di taman belakang.
“Oya, be-benarkah?”
Binar mata riang kini terpancar jelas dari sorot mata Clara. Ia mendadak mengulas senyum semringah, tanpa sadar sedari tadi Kenan menatap perubahan di wajahnya dengan kekesalan yang mendalam.
Pria itu duduk di bangku taman dengan ponsel sedang terkoneksi aplikasi grup chat bersama anggota genk-nya.
“Ken, kenapa lama tidak datang ke klub? Banyak bidadari nyariin kamu?”
“Semua cewek nyariin kamu, Ken. Nanti malam aku traktir! Dateng ya, awas kalau mangkir!”
“Aku lagi sibuk!” Balasan Kenan.
“Alesan! Leo ultah. Dateng ke Bar jam 9, okey.”
“Keyn, dateng pokoknya!”
“Lihat nanti.” Putus Kenan mengakhiri chat.
Kenan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Memandang interaksi Clara yang kelewat bahagia setelah mendapat kabar dari pelayan mengenai kedatangan Teshar.
Entah mengapa, merebut apa yang dimiliki Teshar merupakan hal yang diinginkannya saat ini. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali, sebelum bertemu dengan Clara yang telah mengabaikan keberadaan dirinya.
“Clara,” panggilnya dengan suara datar.
__ADS_1
Gadis yang kini sedang merapikan susunan bunga mawar dalam pot yang berjajar rapi itu segera menoleh ke arah Kenan. Ia tampak menaikkan dagunya sebagai isyarat agar Kenan untuk melanjutkan lagi ucapannya.
“Aku mau berkeliling kompleks sebentar, apa kamu mau ikut?” tanya Kenan mencoba untuk mengalihkan perhatian Clara dari aktivitasnya.
Gadis itu sejenak mengulas senyuman kemudian menggeleng pelan. Tangannya dengan cekatan kembali membersihkan daun-daun kering dari tangkainya. Tanpa sengaja jemarinya tertusuk duri hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
“Kenapa?” Kenan segera bergegas mendekat dan meraih jemari tangan Clara yang terluka.
“Aku tidak apa-apa."
Clara mengikuti langkah Kenan membawanya ke arah kolam air yang terdapat keran di sana.
“Tahan, rasanya akan sedikit perih,” ucapnya lembut seraya menarik tangan itu ke bawah pancuran air, sedangkan tangan satunya meraih pinggang gadis itu. Mereka berdiri bersandingan.
Kenan sempat menelan ludah, memandang ke arah Clara yang menampilkan sisi wajahnya yang cantik polos tanpa cela. Mendadak ia merasakan sebuah degupan jantung yang kian tidak beraturan saat bersama gadis itu. Gadis yang penampilannya kalem, padahal tidak pernah memberikan gaya sexy sama sekali di depannya.
“Terima kasih, ya,” ucap gadis itu menoleh ke arahnya.
Pandangan kedua mata mereka beradu. Kenan menatap dalam sorot mata hangat dengan manik cokelat dan bulu mata yang lebat milik gadis itu. Alisnya tebal dengan terlihat menyatu saat ini karena sedang memperhatikan raut wajahnya yang mendadak merona malu.
Entah kenapa Kenan malah merasakan canggung, dadanya berdesir halus. Sangat berbeda dengan Clara yang kembali menunduk mengamati lukanya yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan posisi mereka berdiri saat ini.
Sebisa mungkin Kenan tidak membiarkan otak liarnya dengan merancang aksi lain hingga berbuat lebih jauh selain menyentuh pinggang gadis ini. Ia tidak akan pernah berani bertindak kurang ajar seperti apa yang biasa dilakukannya bersama wanita teman kencannya.
“Tidak perlu,” tolak Clara segera menarik tangannya dan bergerak mundur.
Kenan memutar tubuhnya mengikuti gerak langkah Clara mulai berjalan menyusuri rerumputan. Layaknya seekor kupu-kupu berwarna kuning yang tengah mengepakkan sayapnya. Kenan bisa melihat gerakan lincah tubuh gadis bertubuh ramping itu saat menyusuri deretan bunga-bunga dengan wajah riang.
Mau tak mau gerakan alami dan cantik itu menggerakkan langkah Kenan untuk terus mengikutinya.
“Bagaimana rasanya bisa berjalan sebebas ini?” tanyanya sambil membalik badan.
Kini, gadis itu menghadap ke arah Kenan dengan langkah mundur beberapa langkah, kemudian ia pun kembali berjalan menyusuri deretan bunga-bunga lain.
“Biasa saja, tapi karena saat ini aku sedang berjalan bersamamu … aku jadi merasa spesial dan begitu membahagiakan,” jawab Kenan sambil melipat bibir bawah, menahan segenap pikirannya karena sudah berani melontarkan kata gombalan itu.
Bukan, ia segera meralatnya dengan segenap hati, bahwa ia sedang mengatakan apa yang saat ini tengah dirasakannya. Ia mendadak merutuki dirinya sendiri karena sudah bermain hati.
__ADS_1
“Kata semua orang di sini … kamu play boy, apa itu benar?” tanya Clara dengan polosnya.
“Siapa yang memberitahumu?” decak Kenan mendadak tertawa.
“Banyak, aku tidak mungkin memberi tahumu satu-satu,” jelasnya membuat Kenan manggut-manggut.
“Kalau aku play boy … lalu, kamu mau apa?” pancing Kenan geli sendiri dengan pertanyaannya.
Baru kali ini ia merasa harus berhati-hati memilih kalimat. Pikiran gadis dihadapannya itu seperti bayi, setelah melalui beberapa malam tidur satu ruangan kamar bersama gadis itu. Sejenak ia merasakan dunia mereka sangat berbeda.
Clara berada di dunia imajinasi, sedangkan ia berada di dunia realita yang kejam. Ia menjadi bimbang dalam memahami apa yang sedang terjadi dengan gadis cantik itu. Kenapa ia bisa terjebak di dalam kehidupan kelam seorang Teshar Indira.
“Aku tidak akan melakukan apa-apa.” Clara memberikan senyuman manis untuk pertama kalinya sejak kedatangannya ke rumah itu.
“Apa kamu tidak akan menyukai pria play boy?” tanya Kenan menghela napas dan menghentikan langkahnya. Ia memandang Clara yang masih berjalan pelan menikmati hamparan rerumputan dan duduk di sana.
“Tidak, aku sering membaca cerita tentang pria play boy. Ia tidak pernah memiliki cinta di hatinya. Ia hanya punya bualan sampah untuk menggoda para wanita,” jawab Clara membuat Kenan menelan ludah.
Seketika hatinya mencelos, tidak ada kemarahan pada gadis itu. Akan tetapi, menyadari bahwa apa yang diucapkannya benar adanya. Tidak pernah ada cinta di dalam hatinya, karena tentu saja karena ia tidak memiliki cukup cinta untuk dirinya sendiri.
Mendadak ia hanya bisa mematung memandang gadis yang kini sedang memainkan jemari kakinya di atas permukaan rumput.
“Kenapa kamu suka menggoda wanita, kalau ternyata tidak mempunyai cinta untuk mereka?” tanya Clara dengan sorot mata yang sarat akan ketulusan saat menanyakannya.
Bukan lontaran penghakiman atas apa yang dia diperbuat, melainkan pertanyaan dari gadis yang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya, ketika memilih untuk mempermainkan perasaan seorang wanita.
“Entahlah, aku tidak tahu,” sahut Kenan kemudian, sambil menundukkan pandangannya.
“Bagaimana dengan kak Teshar? Apa dia juga seorang play boy sepertimu?”
Kenan menatap perubahan yang terpampang jelas dari raut wajahnya. Wajah ceria itu mendadak murung hanya karena nama Teshar kembali terukir dari bibir semerah Cherry itu.
Mood Kenan seketika memburuk. Mulai merambatnya rasa kesal yang mendadak timbul, pria itu segera menghampiri Clara dan berdiri menjulang di hadapan gadis itu.
“Apa kamu begitu merindukannya?” cecarnya dengan nada suara tidak mengenakkan hati. Clara segera mengalihkan pandangannya dari Kenan ke arah lain.
Perasaan berkecamuk kemudian memunculkan pikiran impulsif hingga gadis itu menggigiti jemari kukunya. Sudah berulang kali ia mendengar pertanyaan serupa, tetapi tetap saja ia belum berhasil menjawabnya. Ia kemudian menelan ludah sembari bangkit dari duduknya, melipir pergi meninggalkan Kenan yang memandangnya dengan wajah penuh amarah tidak pada tempatnya.
__ADS_1
Memangnya dia siapa sampai semudah itu menaruh rasa cemburu terhadapnya? Kenan kemudian menyusul langkah Clara, mencoba untuk menahan kepergiannya.
“Jangan kamu kira aku ada perasaan sama kamu, jadi membuatmu besar kepala dengan kebaikanku. Lagipula betapa bodohnya kamu, saat Teshar melakukan hal yang buruk padamu selama ini, kamu tetap memberi ruang untuk menempatkan rindu padanya,” lontar Kenan berhasil menghentikan langkahnya dan beralih menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.