Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Kelahiranmu Hanya Petaka


__ADS_3

Clara meringkuk dengan tangan, kaki, dan sekujur tubuh penuh luka memar, jejak sabetan cambuk. Ia menggigit bibir bawahnya guna mengurangi denyutan rasa perih dan panas yang menjalar. Gadis itu belum pernah diperlakukan sekejam itu oleh Teshar. Kini, dia pun menyadari bahwa ternyata pria itu bukan termasuk orang yang jahat.


“Kak Teshar, Clara kesakitan,” rintihnya dalam hati penuh sesal.


Gadis itu memilih untuk menurut, tanpa banyak suara ketika Jeff menariknya untuk ikut keluar dari kamar penyiksaan itu. Memberinya seringai dingin yang membuat gadis itu dilanda ketakutan.


“Kalau Teshar peduli denganmu, atau bisa jadi mencintaimu, dia pasti akan menolongmu,” ujar pria tua itu dengan tatapan mengejek, tetapi Clara memilih diam.


“Kalau kau gadis cerdas, kau akan membalas cinta itu dengan todongan senjata karena cintanya harus dibayar dengan mahal," ocehnya lagi tanpa ditanggapi Clara. Gadis itu membuang muka.


Selama perjalanan Clara terdiam. Ia hanya menyimak jalanan dan mulai menghafal beberapa rambu, tanda unik, bangunan mencolok di malam hari. Siapa tahu itu ada gunanya bila ia bisa bebas nantinya.


Sungguh, dua belas tahun telah membuat dirinya tertinggal dari semua informasi, kecanggihan teknologi, dan semua tentang kehidupannya.


Mendadak ia menjadi bingung dengan semua yang tengah dialaminya. Mengapa ia harus menerima perlakuan seperti ini.


“Dia bilang, aku harus membenci Teshar? Tapi kenapa?” gumam gadis berwajah pucat itu dalam hati.


Mobil melaju dengan lancar mendekati sebuah kota, dari jalanan sepi kini mulai bergerak di mana arus kendaraan mulai ramai kanan kiri saling menyalip.


Clara menautkan kedua jemari tangan seraya mengalihkan pandangan dari jendela ke arah pamannya itu diam-diam. Perasaanya berubah gelisah karena pria itu terlihat tegang, fokus dan diam saja.


“Kak Teshar, tolong selamatkan aku. Untuk pertama kalinya aku merasa di sisimu adalah sebuah kondisi yang memberiku kenyamanan. Ketika biasanya rasa ingin lepas darimu begitu menguat, kini aku menyesal.”


Clara memejamkan matanya sejenak dan terbayang wajah dingin Teshar saat menemuinya. Menipiskan bibir saat guyonan yang dibuatnya terlontar begitu saja.


“Andai saja aku bisa sekali saja melihatmu tersenyum kepadaku, mungkin saja aku tidak sanggup memalingkan hati,” batin Clara menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata.


“Kita akan segera sampai, Tuan.” Sopir yang ditumpangi Clara melapor, membuatnya segera membuka mata dengan batin semakin gelisah.


Ia tidak tahu di mana dirinya sekarang. Mau dibawa ke mana dan mau apa. Sungguh, ia tidak menyangka akan berada dalam kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya. Tubuhnya terasa sakit semua.


“Apa Teshar sudah sampai? Ada sesuatu yang mencurigakan di sana?” Jeff bersuara cukup tenang, padahal jauh didalam hatinya ia merasa khawatir.


“Pengawal memberi laporan bahwa pria itu datang sendirian, seperti apa yang anda perintahkan.” Sopir itu mengucap tanpa menoleh sama sekali, wajahnya fokus ke arah jalanan.


“Terima kasih, Kak Teshar. Aku … takut.” Clara membatin gelisah. Namun, perasaannya membaik berkat kabar yang menyatakan bahwa pria yang sering mengucap kata kematian atas dirinya itu bersedia datang untuknya.

__ADS_1


“Bagus. Pantau terus jangan sampai kita kecolongan!” perintah Jeff, mendadak air mukanya berubah menggelap.


Kini tatapan mata Jeff beralih ke arah Clara, yang juga kini tengah menatapnya dengan sorot mata kepolosan. Bentuk mata mirip seperti milik Kelly—ibu kandung Clara. Menjadi satu-satunya wanita yang ia cintai di dalam hidupnya, hingga kini.


“Kau tahu, tanpa sepasang mata indahmu itu, aku pasti sudah menyingkirkanmu juga, Clara,” desisnya dengan sorot mata tajam yang menyeramkan bagi Clara.


“Dan pasti, aku sangat membencimu sejak terlahir dan melihatmu!” geram Clara menampilkan wajah menantang.


“Begitu juga denganku. Kelahiranmu hanya sebuah petaka bagi Kelly, kau tahu? Hem … anak sial!” umpatnya seraya memalingkan wajah.


Jeff teringat masa itu, ketika lagi-lagi harapannya untuk bersanding dengan Kelly menjadi sia-sia ketika wanita itu dengan bahagia mengabarkan kehamilan dan akan menikah dengan Roy, seorang pria yang hidup di dunia gelap.


Sebagai pria yang masih memiliki ikatan keluarga, ia hanya bisa memendam besarnya cinta untuk perempuan yang menganggapnya saudara itu. Walau nyatanya, ia hanya anak adopsi dari orang tua Kelly. Kelly hanya menganggapnya adik, usia dua tahun darinya.


“Ibumu bodoh. Apa dia pikir akan bahagia setelah menikah dengan ayahmu? Naif sekali. Bahkan kakek nenekmu sampai akhir pun, tidak menyetujui pernikahan mereka berdua.” Jeff menundukkan kepalanya, merasakan sesak ketika kemarahan menyeruak dengan kenyataan yang ada.


“Kau sering menyiksa nenek. Apa kau pikir aku lupa, Paman Jeff?” sahut Clara dengan suara menekan, terdapat emosi yang terlalu lama bersarang di dalam otaknya.


“Nenek dan kakekmu pantas untuk menerimanya,” ucapnya menyeringai.


Clara menahan napasnya, memandang sesaat, mencoba mencerna segala ucapan yang terlontar dari bibir pamannya.


Clara menelan ludah. Ia kembali mengingat ucapan thesar bahwa kalau dirinya semakin ingin tahu, maka semakin cepat pula bahaya akan mengancamnya pada kematian. Pria itu sering menyarankan lebih baik bodoh dan tidak tahu apa-apa, maka dia akan selamat. Gadis itu sejenak berpikir sebelum menjawab.


“Aku tidak ingin tahu. Aku akan hidup sebagaimana adanya.” Clara mengucap dengan kepercayaan yang tinggi.


Terdengar Jeff mengumpatinya, tapi Clara bahkan sudah menutup telinganya alias masa bodoh.


Mobilnya kini sudah memasuki sebuah bangunan tinggi, penjagaan ketat ketika akan masuk karena harus mendapatkan penjagaan ketat. Jeff membuka kaca jendela separuh, sebelum akhirnya penjaga itu memberi akses kepadanya sebagai tamu member VIP.


“Maafkan kami, Tuan. Kami tidak mengenali mobil yang tidak biasa Anda pakai,” ucap penjaga setelah menerima kartu akses eksklusif ke dalam Bar.


“Pekerjaamu bagus. Jangan sampai ada yang masuk membawa senjata apa pun, paham? Aku mendengar akan ada kerusuhan, makanya aku datang untuk memastikan semua aman. Lebih baik tetap waspada,” ucap Jeff memperingatkan.


“Terima kasih, Tuan Jeff atas perhatian Anda. Kami pastikan semua aman, silakan nikmati malam Anda.” Penjaga itu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pria yang kini menduduki penguasa dunia hitam nomer dua setelah keluarga Indira.


Clara terpaku, menatap kengerian yang ditimbulkan setelah mendengar peringatan yang terucap oleh pamannya.

__ADS_1


Setelah mobil terparkir aman di basemen, akhirnya Jeff keluar dari mobil. Ia memberi aba-aba pada pengawalnya untuk membawa Clara ke sebuah tempat pribadinya di dalam gedung, sedangkan dirinya membalik arah, berjalan dengan tangan menyentuh sebuah senjata api yang tersemat di dalam jasnya.


Ia akan menemui Teshar di Green Villa, bagian dari Bar ini, tapi terpisah taman yang mana akses ke sana mudah saja baginya tanpa ketahuan.


“Pastikan Clara tidak berbuat macam-macam,” ucapnya pada para pengawal. Ia berjalan kaki menuju ke tempat Teshar sudah menunggu.


“Akan kami pastikan.” Pengawalnya menjawab tegas masih mengiringi langkahnya.


Jeff menatap lurus ke depan. Malam ini akan menjadi sebuah momen berharga, setelah bisa menemukan kembali peninggalan Kelly—putrinya bernama Clara—ia akan menemui seorang pria yang memiliki andil juga dalam kematian wanita pujaannya yaitu keluarga Teshar dan bersumpah akan membuat pria itu membayar mahal atas semuanya.


“Tuan, kami mendapatkan sebuah pesan. Sepertinya ponsel kami diretas, karena banyak yang mendapat pesan berantai dari nomor yang sama,” lapor pengawal yang berjalan di belakang Jeff. Mereka yang ikut menuju ke Green Villa berjumlah lima orang.


“Apa maksudmu?” tanya Jeff tanpa menoleh.


“Aku juga mendapat pesan, sebuah link bukan?” ungkap salah satu pengawal pada rekan yang lain.


“Benar, semua rekan kita mempertanyakan. Haruskah kita membuka link pesan itu? Atau abaikan saja,” ucapnya bermaksud untuk meminta saran dari Jeff. Sejenak pria itu menghentikan langkahnya, membalik badan ketika menyadari ponselnya juga menunjukkan sebuah notifikasi pesan baru saja masuk.


Ia tenggelamkan jemari tangannya ke dalam saku dan menarik benda pipih itu dari sana. Menatap semua pengawalnya dengan sorot mata—yang menyatakan bahwa pesan itu sengaja dikirim seseorang. Kini matanya beralih kembali ke arah layar ponsel atas nama Putra Indira. Sambil menelan ludah ia mendengkus diiringi senyum asimetris yang menakutkan.


“Sepertinya Teshar sedang mencoba bermain-main. Buka pesanmu,” pintanya pada salah satu pengawal.


“Baik, Tuan.”


Pengawal itu segera membuka ponselnya, sebuah pesan yang melampirkan link. Gerakan wajah dan mata pengawal itu kini beralih kepada Jeff dan meminta pendapat melalui sorot matanya.


“Buka!” bentak Jeff tidak sabaran.


Pengawal itu kemudian membuka link yang segera mengarahkan untuk membuka situs peramban dan beralih lagi untuk membuka kembali sebuah video. Dengan tangan ragu pengawal itu menekan pilihan play yang terdapat di sana.


"B-bukankah dia ...!" Mata pengawal itu melebar.


Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati gambar Video seorang pria yang diikat di sebuah kursi dan diberi cambukan, wajah lebam, dan tubuh memerah penuh luka sabetan cambuk.


“Kalau kau sudah berani melukai tawananmu, maka aku kini juga melakukan hal yang sama denganmu. Bedanya aku bukan pecundang yang melukai seorang wanita, Tuan Jeff yang terhormat. Bila kau menyayangi putramu, datanglah sendiri seperti aku dan kita selesaikan ini layaknya seorang pria sejati.” Bunyi pesan teks besar dalam video atas nama Teshar.


“Shit! Dia berani menyakiti Zidan!” Amarah Jeff menggelegak.

__ADS_1


Semua wajah pengawal yang bersamanya tercengang, saling memandang satu sama lain.


“Pastikan pria itu terbunuh malam ini!” geram Jeff menatap satu per satu pengawalnya dengan wajah memerah menunjukkan kemarahan, rahangnya mengeras dengan jemari tangan mengepal erat. “Negosiasi malam ini tidak akan terjadi,” imbuhnya sembari mengepalkan jemarinya.


__ADS_2