Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Hitam di Atas Putih


__ADS_3

Clara mengernyit, kedua alisnya saling bertautan. Ia pun memandang antara Teshar dan kertas yang berada di atas meja secara bergantian. Tidak mengerti, kenapa ia harus menandatangani sebuah kertas yang masih kosong.


”Bubuhkan tanda tanganmu di sini!” perintah Teshar sambil memutari bagian pojok kanan bawah menggunakan jari telunjuk—terdapat kolom kosong tertempel sebuah materai atas nama Clara Amanda.


“Di sini?” ulang Clara mengacu pada nada suara penolakan disertai kebingungan. Raut wajahnya seolah menyiratkan keengganan untuk melakukan perintah dari pria tersebut.


”Kenapa?” telisik Teshar, merasa sorot mata gadis itu seperti sedang mempertanyakan perintah. “Kamu meragukanku?”


Clara menggeleng pelan. Segera memberikan senyuman semanis mungkin, jemarinya mulai bergerak untuk meraih pulpen dari tangan Teshar dan meletakkan ujung bagian runcing pena tersebut ke atas bubuhan materai.


“Katanya kamu tidak ragu? Kenapa tidak lekas tanda tangan?” Suara Teshar begitu mengganggu, sikapnya kini melembut hingga secara tidak sadar tengkuk gadis itu tiba-tiba jadi merinding.


Clara menoleh lagi dengan berbagai pikiran dan kecemasan memenuhi isi kepala. Ia tidak tahu apa yang sudah direncanakan Teshar dengan dokumen kosong itu. Apa suatu saat kertas kosong itu akan digunakan pria itu untuk menyerangnya. Apa tidak masalah bila menanda tangani sesuatu yang belum jelas isinya? Clara menjadi bingung.


”Apa ini artinya kita sedang membuat sebuah akta perjanjian? Kakak dulu pernah menyuruhku membaca sebuah buku tebal. Isi di dalamnya mengenai tentang hukum perjanjian dan persetujuan dengan kontrak. Di sana jelas-jelas menyatakan kalau kita tidak boleh sembarangan menandatangani sebuah dokumen tanpa membaca dengan teliti isi yang tercantum di dalamnya,” kelit Clara mencoba menolak. “Bisa saja Kakak merencanakan sesuatu untuk menyerangku secara pribadi, memasukkan butir kesepakatan yang merugikan sebelah pihak terutama aku,” debat Clara belum juga menggerakkan jemari tangan. Ia masih berupaya terbebas dari perintah tidak masuk akal itu.


Untuk sesaat Teshar terkesima dengan cara Clara berkelit dan merasa cukup puas karena ternyata gadis kecilnya menyerap semua materi pelajaran yang ia berikan secara tidak terduga. Namun, tidak ingin menjadi bumerang yang akan merusak rencana yang telah ia susun, pria itu tidak akan menyerah untuk memastikan semua terlaksana dengan baik.


“Baiklah, kalau begitu aku yang akan tanda tangan terlebih dahulu,” lontar Teshar menarik pulpen dari dalam genggaman Clara dan membubuhkan tanda tangan di sana.

__ADS_1


”Ya, Tuhan. Bukan itu maksudku,“ geram Clara membatin.


Clara memandang penuh keraguan apa yang dilakukan Teshar terhadap dokumen itu. Gadis itu tidak menyangka, pria itu tidak tersulut emosi karena secara panjang lebar ia memberikan sebuah argumen untuk menolak penandatanganan berkas tidak jelas itu.


”Sekarang giliranmu!” perintah Teshar dengan nada serius. “Aku sudah memberikan tanda tanganku. Lagi pula, untuk mencelakaimu, aku tidak membutuhkan tanda tangan seperti ini. Semua itu bisa kulakukan kapan pun aku mau,” tegas Teshar dengan rona wajah menyiratkan kalimat tegas—tidak mau mendengar bantahan lagi.


Clara menelan ludah, karena sudah tidak bisa berkelit, mencari alasan untuk menolak, ia pun menerima pulpen itu dari tangan Teshar. Gadis itu meletakkan jemarinya kembali, mengukir coretan berupa tanda tangan sesuai dengan bentuk yang ia gunakan semasa sekolah.


“Apa ini cukup?” tanya Clara menatap Teshar dengan kejapan mata bening.


“Cukup,” jawab pria itu singkat.


“Kembalilah ke kamar. Aku akan menginap di sini nanti malam. Jangan lupa kunci pintu dan jendela kamarmu sebelum tidur!” titah Teshar sambil membawa map itu lalu beranjak pergi menuju arah ruangan yang terletak di samping kamar yang ditempati Clara.


”Lalu, dokumen itu tadi untuk apa?” tanya Clara terbata. Gadis itu berdiri, berjalan pelan ke arah Teshar berada.


“Kalau sudah saatnya nanti, kamu pasti akan tahu sendiri,” jawab Teshar penuh teka-teki, pria itu tersenyum terlebih dahulu sebelum akhirnya menutup pintu kamar.


Clara mengembuskan napas lemah dengan jemari saling terpaut, membuang rasa gemetar yang timbul. Sungguh, mempercayai laki-laki seperti Teshar sangat berisiko. Bila mengingat apa yang telah terjadi selama dua belas tahun bersama, pria itu selalu ingkar janji. Clara benar-benar sudah tidak ingin menggantungkan asa kepada Teshar.

__ADS_1


“Aku harus mulai berani untuk mencari tahu kebenaran, kenapa aku harus bersembunyi? Benarkah seharusnya aku sudah mati?” gumam Clara sambil melangkahkan kakinya kembali duduk, ia pun meringkuk di sofa dengan wajah muram.


Setelah lama merenung Clara kembali ke kamar, menatap ranjang empuk nan menggoda yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di rumah Teshar tidak semewah di tempat ini. Ruangan itu cukup sempit dan memusingkan.


Setelah menutup pintu, ia pun berjalan pelan ke tengah ruangan. Sangat tidak menyenangkan, bayangannya tentang makan puas dan bisa menemukan tempat tinggal yang sudah dilupakan jalurnya pun kini pupus sudah.


“Aku ingin menangis,” keluhnya kesal. “Bagaimana aku bisa tertangkap lagi dengan semudah itu.”


Rasanya sudah sesak, rasa diabaikan setelah bertahun di sana kini mulai menambah kuat kadar tekad Clara untuk kembali kabur dari tempat ini. Bagi Clara, semua orang bebas bergerak, hanya saja untuk orang tertentu memang butuh kesabaran.


Clara menatap ke arah tirai, terbuka sedikit celah hingga timbul rasa penasaran yang tinggi untuk mengetahui apa yang ada di luar. Gadis itu menuju ke sana dengan langkah pelan. Pertama-tama ia membuka tirai, disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan lalu timbul keinginan untuk membuka dan merasakan sensasi keindahan itu secara langsung.


Clara pun melangkah ke luar, merasakan semilir angin menerpa kulitnya. Kakinya terus bergerak untuk mencapai batas balkon hingga bisa menatap betapa tingginya letak kamarnya berada. Lebih mengerikan bila membayangkan dirinya jatuh ke bawah sana.


Lalu lintas kendaraan terlihat sangat kecil dan rumit. Gedung-gedung yang berdiri kokoh di samping kanan kiri bagai berlomba untuk menancapkan eksistensinya. Awan seperti mudah dijangkau dengan jemari tangan dan rembulan pun mengintip dari balik-baliknya.


“Kalau ternyata aku ini seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini, bukankah tidak masalah kalau aku jatuh dari sini?” gumamnya dengan kaki dan tangan gemetaran saat mencoba melihat ke arah bawah.


Ia berpikir keras, seandainya ia melakukan tindakan itu, terjun dari lantai empat puluh sembilan tempatnya berada, kira-kira apakah Teshar akan merasa kehilangan?

__ADS_1


“Pikiran macam apa itu, Clara.” Gadis itu merutuki pikirannya. “Aku malah penasaran, kalau sebenarnya aku ini harusnya sudah mati, untuk apa dia susah-susah membiarkan aku tetap hidup? Bukankah itu sangat membingungkan,” gumamnya berbicara sendiri. Tidak, dia merasa sudah berjuang hidup selama dua belas tahun ini. Tidak mungkin semudah itu melakukan tindakan bodoh dengan menyakiti diri sendiri.


__ADS_2