Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Upaya Negosiasi


__ADS_3

Teshar memandang Jemmy seraya menganggukkan kepala. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti dirinya. Dambil mendekat dan mulai bersikap tenang, ia memandang semua yang ada di sana bergantian. Tampak secara profesional para pria yang kini beralih mengikuti komando dari Teshar itu bersikap tenang dan siap mendengarkan perintahnya.


"Selamat sore," sapa Teshar segera diberi jawaban serempak dari empat belas pengawal itu.


"Sore, Tuan."


"Aku akan melakukan negosiasi dengan seorang pria berusia enam puluh tahunan. Dia musuh paling mengusik urusan perusahaanku, namanya Nicholas Jeffrin. Saat ini dia memegang kartu As-ku, memegang kelemahan yang membawaku ke dalam masalah besar, menyeret nama orang tuaku juga. Jadi aku harap semua yang ada di sini bisa membantuku," ucap teshar dengan suara tenang.


"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Jemmy bersuara tegas.


"Aku ingin mengetahui apa saja spesialisasi kalian terlebih dahulu, operasi ini rahasia juga melibatkan nyawa. Jadi, aku harap kita mengumpulkan dulu informasi sebelum akhirnya kita menyerbu ke sana nanti malam sesuai permintaan pria itu untuk bertemu," jelas Teshar sambil memutar kepala memandang satu persatu wajah pengawal itu dengan wajah serius.


"Kami selalu siap," jawab mereka serempak.


Teshar mengangguk paham, ia memutari barisan para pengawal elite milik kakeknya itu sebelum akhirnya berhenti di depan meja dan mengamati kertas putih lebar yang berada di atasnya. Ia memandang kembali satu per satu wajah-wajah pria muda dan tegas yang menunduk menunggu dirinya meneruskan rencana.


Fokus Teshar teralihkan ketika ponselnya kembali berdering dari dalam saku celana. Sambil memberi isyarat kepada Jemmy, ia kemudian mengangkat panggilan itu.


"Hallo," jawab Teshar kepada penelpon.


"Ini aku," balas Jeff dari seberang.


Jemmy mengangguk paham, segera ia memberi lambaian tangan kepada salah satu rekan untuk melacak panggilan itu, dengan cepat pula satu rekan itu mengetik sebuah keyword pada laptopnya. Sebuah gerakan pencarian segera terlihat dari layar, bergerak dan mengunci sebuah titik poin di mana letak penelpon berada.


"I got it," ucapnya tanpa mengeluarkan suara sama sekali, jempolnya mengacung ke arah Jemmy dan Teshar yang segera mengangguk pasti.


"Bagaimana?" jawab Teshar memancing percakapan.


"Di Green Villa," jawabnya tegas. " Jam 11 malam tepat, jangan membuatku menunggu atau kau tidak akan menemukannya lagi," ancamnya lagi.


"No," sela Jemmy membisik sambil menggelengkan kepalanya kepada Teshar.


Teshar memejamkan kedua bola mata, merasa kesal sendiri. Pria itu tidak berada di titik pertemuan itu, tapi di tempat lain. Ia menghela napas untuk menenangkan diri.


"Sudah kau pindahkan gadis itu dengan aman?" tanya Teshar mencoba bertanya dingin.


"Sedang dalam perjalanan."


"Jangan bermain-main denganku," desis Teshar menunjukkan suara sarkas.

__ADS_1


"Aku tidak yakin, kalau kau tidak akan menjemput gadis itu?" ejek Jeff membuat Teshar terkekeh ringan.


"Kau salah, aku hanya ingin mengundangmu. Setelah kau habisi nyawa gadis itu, mari kita berpesta di Glory Casino and Bar. Aku akan mentraktirmu sampai puas," balas Teshar membuat Jemmy menepuk pundak Teshar demi bisa menahan tawanya.


Jemmy merasa sampai kini Teshar selalu bersikap keren di matanya. Sosok pria yang pandai menyembunyikan apa yang ada di dalam hidup dan pikiran. Menyembunyikan gadis tanpa menyentuhnya sama sekali. Itu merupakan hal gila yang tidak bisa ia percayai sama sekali bisa Teshar lakukan.


"Hahaha … kita lihat malam nanti," ucap Jeff sambil tertawa seraya menutup sambungan telpon.


Teshar menggenggam erat ponsel seraya menundukkan kepala. Jemari tangannya menyentuh permukaan meja dengan penuh tekanan. Ia mengembus napas sejenak demi menetralisir kemarahan.


"Hasilnya?" tanya Teshar memastikan titik keberadaan Jeff.


"Dia berada di sebuah rumah, di daerah pinggiran kota. Lebih tepatnya berada di sebuah desa bernama Khalasan City."


"Berikan padaku titik koordinatnya?" Teshar segera mengalihkan pandangan ke arah layar laptop milik salah satu pengawal elite itu dan mengamati dengan serius setelah berkali-kali di zoom.


Teshar berdecih kesal, menduga bahwa kini gadis kecilnya sedang berada di tempat itu. Pasti Jeff menyembunyikan dengan sengaja ke tempat tinggalnya dengan alasan sebuah keamanan.


"Clara tidak boleh sampai mengetahui alasan kenapa dia bersamaku, atau aku akan habis. Aku belum siap," keluh Teshar merasakan kegelisahan dalam hati.


Teshar mengepalkan jemari tangan dengan erat. Perasaannya menjadi gelisah tak terkira, mengetahui fakta yang sebenarnya ternyata sangat mengusik hati. Entah kelemahan apa yang kini tengah menderanya, ia merasakan ketakutan yang mendalam.


"Tapi, apa tidak masalah membagi dua kekuatan?" tanya Jemmy merasa ragu.


"Tidak masalah, kamu memimpin pembebasan Clara di Khalasan dan aku akan menemui Jeff di Green Villa. Aku tahu dia pasti akan berbuat licik," jawab Teshar memandang Jemmy dengan wajah serius.


Jemmy mengangguk setuju, baginya itu rencana cadangan yang bisa dia mengerti. Setidaknya bila Jeff tidak benar-benar membawa Clara ke tempat pertemuan, ia dan kelompoknya bisa menjalankan misi ke dua.


"Baiklah, akan aku kirim seseorang terlebih dahulu ke tempat Jeff berada. Akan sangat bagus bila kita tahu medan yang akan kita tempuh nantinya," jawab Jemmy sambil meraih kertas yang berada di atas meja dan mengamati peta yang tergambar di sana.


"Bagus, aku akan mendapatkan salinan dokumen itu. Aku tidak mau gegabah memberikan dokumen asli yang dimiliki ayahku atau mereka tidak segan mencincangku bila aku tega melakukannya," tegas Teshar segera diberi anggukan kepala Jemmy. Mereka berdua saling memandang dan saling mengangguk paham.


Kedua pria dan para bawahan itu kini segera membentuk barisan mengelilingi meja bundar dengan Teshar sebagai pemimpin perencana dibantu Jemmy. Mereka segera mengatur strategi taktis yang akan dilakukan nanti, tepatnya jam sebelas malam ini.


"Area desa Khalasan itu berbukit-bukit, untuk dapat titik persembunyian yang bagus, kita harus melewati sisi daerah bagian sini," ucap Jemmy meletakkan ujung pena ke daerah peta letak desa itu berada.


"Tim sniper harus siap berada di sisi daerah sini, melumpuhkan jarak jauh saat kami bergerak turun mendekat," imbuh salah satu dari mereka memberi gagasan.


"Ok, I get it." Jemmy memepuk pundak rekannya.

__ADS_1


"Tunggu! Bagaimana kita bisa tahu mana wanita yang akan kami selamatkan kalau wajahnya saja kita kita belum tahu." 


Jemmy dan Teshar segera menoleh ke arah pria yang berada di ujung barisan. Dengan cepat Teshar menghembus napas lalu meraih dompet dengan malas. Ia tidak menyangka mengambil foto dan mencetaknya ternyata bermanfaat saat hal seperti ini terjadi.


"Ini fotonya."


Teshar menyerahkan dengan ragu-ragu foto itu kepada Jemmy. Setelah mengamati foto yang diberikan Teshar akhirnya Jemmy menggangsurkan foto itu kepada rekannya yang lain, dan terus berulang hingga foto itu beralih kembali ke tangan Teshar sebagai pemiliknya.


"Berjanjilah kalian untuk berhati-hati dan kembali dengan selamat," tegas Teshar segera diberi jawaban tegas semuanya.


"Siap!"


"Kita akan selalu saling bertukar informasi menggunakan saluran ini," terang Jimmy memberikan perangkat yang akan terintegrasi dengan ponsel masing-masing. Alat kecil yang akan dipasang di telinga karena mereka akan melakukan misi terpisah agar tidak terjadi miss comunication.


Semua anggota segera meraih masing-masing satu buah dan segera menyimpannya untuk digunakan nanti.


"Senjatanya, tuan Bima sudah menyiapkan semua. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," terang Jemmy lagi menatap Teshar dengan sunggingan senyum miring.


Teshar berdecak sambil menunduk, ternyata masih saja kakeknya lebih memercayai orang lain daripada cucunya sendiri. Mau bagaimanapun ia tidak bisa protes, mengingat dirinya selama ini memang berada di sisi orang tuanya. 


"Setelah ini, aku mohon kakek percayalah padaku, karena selama ini aku mengidolakan dirimu," sesal Teshar dalam hati.


Malam semakin menjelang, kini mereka semua masih duduk termangu menatap pemandangan dari tempat mereka berada, memandang hamparan bukit-bukit yang mulai menampakkan kegelapan. Udara yang dingin menyeruak kulit membuat Teshar harus beberapa kali mengusap lengan, perasaannya kembali mencemaskan sosok gadis itu.


"Aku akan menemukanmu sebentar lagi, aku harap kamu bersyukur demi apa pun." Teshar membatin seraya menghela napas.


"Dua jam lagi, ayo kita bersiap!" ajak Jemmy menyentuh pundak Teshar hingga pria itu tersentak dan menoleh.


"Hmm," sahutnya mengangguk.


"Show time!" seru Jemmy meraih pistol dan menarik bagian pelatuknya hingga membuat suara nyaring di telinga Teshar.


Mereka berdua segera tersenyum dan saling membuang muka, hingga akhirnya Jemmy menyerahkan satu pistol yang lain kepada sahabatnya itu.


"Gunakan itu untuk menyelamatkan wanitamu," ucap Jemmy kembali diberi decakan suara Teshar bermaksud memprotes.


"Aku berhutang waktu padanya," terang Teshar lesu.


"Berikan hidup dan nyawamu, urusan selesai. Aku di belakangmu," tegas Jemmy memberi sorotan mata hitam berkilau, pria itu menunjukkan keseriusan dalam berucap.

__ADS_1


Teshar memandangnya dengan senyuman.


__ADS_2