
Teshar beberapa kali mengetuk ujung sepatunya ke lantai, berdiri bersandingan dengan Clara. Mereka masih menunggu pintu lift terbuka.
Clara merasa bahwa kebebasannya masih saja dipertanyakan. Merasa bingung sendiri apa arti dari kalimat yang selalu dilontarkan pria itu kepadanya. Ia masih sulit memahami kata kematian yang sudah menjadi peringatan basi yang selalu didengar setiap waktu.
“Bukankah sama saja rasanya? Antara dikurung dan mati?” balas Clara menjawab dengan tekanan kalimat yang menunjukkan dia sedang memprotes.
Teshar tersenyum tipis saat melirik raut wajah Clara yang mencebikkan bibir, ekspresi yang selalu ia rindukan setiap waktu. Bahkan selalu menjadi alasan yang klasik dari dalam otaknya; ingin selalu berkunjung demi bisa menatap raut wajah aneh itu. Pria itu segera menunduk untuk menyembunyikan lukisan dari perasaan senang yang timbul. Suasana kembali hening sampai pintu lift berbunyi bib dan terbuka. Teshar menarik jemari lembut Clara untuk mengajaknya memasuki ruangan sempit itu.
Clara menahan langkah berat, antara menolak atau mencoba memahami semuanya. Ia bingung sendiri dalam mengatasi pria itu terhadap kehidupannya. Sambil mengepalkan jemari tangan gadis itu menghadap ke arah Teshar. Pria itu terlihat begitu tenang saat menanggapi Clara. Sebisa mungkin pria itu berusaha untuk menang dalam menanggapi protes gadis itu terhadapnya.
”Ada apa?” tanya Teshar meraih pundak Clara sembari menyingkirkan gerai rambut ikal yang jatuh menutupi pundaknya. Clara menatap jemari tangan itu sambil mundur selangkah. Suara bariton itu akhirnya membuatnya gentar juga.
“Tidak ada,” jawab Clara kemudian.
”Jadilah gadis yang penurut. Asal kamu tahu, sejak kamu keluar dari rumah, aku harus kerepotan seperti ini. Jadilah anak yang manis dan jangan membuat orang yang membesarkanmu ini merasa kesal dan marah padamu,” ujarnya mulai melembutkan suara, kini gantian ia memandang raut wajah Clara yang menunduk.
Perjalanan beberapa saat di lift sudah berakhir. Kini mereka berdua sudah keluar dari ruang sempit itu dan melanjutkan perjalanan ke unitnya. Clara yang berjalan melambat segera diraih tangannya kembali, Teshar tidak mau sampai gadis itu melihat-lihat unit lain selain kamar miliknya.
“Masuklah!” perintah Teshar sambil membuka pintu untuk Clara. Gadis itu mengangguk dan berjalan terlebih dahulu. Teshar menyusul di belakang sambil mengamati sekitaran sebelum akhirnya ikut masuk.
__ADS_1
”Kak Teshar, aku ….”
“Apa?” tanya Teshar sambil mendorong punggung Clara agar berjalan lebih cepat, ia ingin gadis itu segera pergi ke kamar. Banyak notifikasi pesan yang masuk ponselnya, Teshar ingin segera mengecek dan membiarkan Clara untuk beristirahat.
”Aku butuh baju, Kak,” lanjut Clara membalik badan sembari menghentikan langkah. Teshar juga seketika melakukan gerakan yang sama, sedikit terkejut saat Clara memandangnya dengan raut wajah memohon. Kejapan mata yang selalu mampu membuat degup jantung Teshar tidak beraturan.
“Sudah, masuk kamarmu sekarang dan mandi sana! Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu,” ungkap Teshar sambil melengos meninggalkan Clara dan berjalan menuju ke arah jendela untuk mengecek semua apa sudah terkunci. Teshar memeriksa keadaan sekeliling, memastikan semua akses keluar tidak luput dari pengamatannya.
”Kakak, sedang apa?” selidik Clara mengamati hal yang dilakukan Teshar. Ia sendiri belum mengerti kenapa si tuan dingin itu harus mengecek semua akses hingga sedetail itu.
“Kamu cepat mandi sana, kenapa ikut-ikutan mengurus pekerjaan orang dewasa!” usir Teshar dengan suara nyaris membentak. Clara sampai melonjak kaget seraya mengangguk, dengan ayunan langkah cepat meninggalkan Teshar dan segera menutup pintu kamar setelah mendapat tanggapan ketus dari pria itu. Ia tidak mau lagi membuat Teshar bertambah murka karena berani membangkang perintah.
Clara merosot, duduk bersimpuh di lantai begitu menutup pintu kamar. Ia menekuk lutut dengan pandangan mulai buram akibat buliran air mulai luruh dari kedua pelupuk mata. Tetesan demi tetesan mulai membasahi lantai, ia terisak lirih dengan jemari tangan mengusap pipi. Ia tidak ingin suara tangisannya sampai terdengar dari luar. Tidak mau kalau sampai pria itu mendobrak pintu dan memarahinya lagi karena sikap cengeng yang kerap kali ia tampakkan.
”Kamu harus kuat, Clara. Bukankah selama ini kamu mampu melakukannya? Sedikit lagi kamu pasti bisa benar-benar bebas. Ada kak Rafka yang bisa kamu mintai pertolongan,” ucap Clara menguatkan hati disela isak tangis yang tertahan.
Gadis itu segera berlari ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran. Mulai membasahi seluruh tubuhnya dengan pancuran air shower hingga benar-benar bisa menangis sepuasnya. Pertahanan yang ia bangun luruh sudah, kesabarannya sudah pada ambang batas kemampuan. Sebisa mungkin ia akan lari ke ujung dunia sehingga pria itu tidak akan menemukan keberadaannya lagi.
Clara menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi. Ia menyisir rambut basah dengan jemari tangan dan melilitkan handuk ke tubuhnya. Kini ia mengayunkan kaki menuju ke sebuah lemari yang terdapat di sisi kanan kamar mandi dan membuka pelan. Ia mengerjapkan mata saat melihat semua pakaian lengkap sudah rapi berjajar di sana. Gerakan tangannya terlihat tanpa minat saat mengambil satu helai dari dalam dan mengenakan pakaian itu.
__ADS_1
Satu style pakaian wanita kini sudah melekat indah membalut tubuhnya, sambil becermin ia mengamati penampilan barunya. Pakaian ini jauh lebih baik daripada gaun seperti putri yang biasa Teshar berikan selama ini. Ia menyukai busana pilihan Teshar yang sekarang.
“Sudah selesai belum?” panggil Teshar sambil mengetuk pintu kamar.
Clara menoleh ke arah sumber suara dengan pikiran heran, kenapa pria itu belum juga pergi. Ia segera berjalan ke arah pintu dan membukanya pelan. Teshar sudah berdiri gagah dengan wajah tidak lagi menampakkan kesuraman. Pria itu menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyuman puas. Merasa gadis kecilnya kembali seperti biasa dia memandang.
”Ada apa, Kak?” tanya Clara menatap penampilannya sendiri. Teshar segera tersenyum dan menarik jemari tangan itu untuk mengajak Clara keluar dari kamar. Gadis itu menurut saja.
“Kamu terlihat lebih cantik saat memakai pakaian yang layak,” puji Teshar menekan pundak Clara hingga mau tak mau gadis itu duduk di kursi sofa.
”Terima kasih, Kak,” sahut Clara merasa salah tingkah karena untuk pertama kalinya dipuji seorang Teshar.
“Kamu perempuan, jangan merusak image dengan pakaian seperti gembel. Celana sobek-sobek dan kaos longgar sangat tidak cocok untukmu,” celoteh Teshar mengomentari penampilan Clara yang kemarin.
“Iya, tapi lebih nyaman,” bantah Clara lembut.
Gadis itu segera melengkungkan bibir diikuti gerakan menutup dengan jemari tangan saat dihujani tatapan mata tajam dari pria di sampingnya.
“Tolong, kamu tanda tangani berkas ini,” pinta Teshar sambil menyerahkan sebuah pulpen berwarna gold berujung runcing. Clara kembali dibuat tercenung.
__ADS_1