
Kenan kembali ke rumah kakeknya setelah lewat jam satu dini hari. Langkahnya gontai dengan pakaian kusut dan rambut berantakan. Tercium pula bau alkohol menyeruak dari tubuhnya, pria itu kini sedang mabuk berat.
Beberapa pengawal datang tergopoh-gopoh mendekati pintu gerbang, memastikan bahwa kini yang datang memang benar-benar cucu dari tuan Bima pemilik rumah.
Sambil menerima kunci dari sopir pengganti yang mengantar Kenan, para pengawal itu pun segera mengambil alih mobil dan membawanya masuk ke area halaman rumah. Memindahkan tuan muda mereka dengan susah payah karena banyak pukulan kekesalan dan umpatan yang dilontarkan pria kesepian itu sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya.
“Siapa yang bilang aku mau ke kamarku?!” hardiknya ketus.
Masih berupaya menyingkirkan tangan pengawal yang kini merangkulnya agar kuat berjalan. Hampir saja dirinya jatuh tersungkur, untung saja dengan sigap pula dua pengawal itu menangkap kembali tubuhnya.
“Maaf, Tuan. Anda harus beristirahat di kamar Anda sendiri.” Pengawal itu masih berupaya menjaga langkah Tenan agar tidak berbelok arah menuju ke kamar Clara.
Para pengawal tahu bahwa sejak Clara berada di rumah ini, pria play boy ini masuk ke dalam kamar itu setiap malam, hanya saja mereka terlalu takut untuk menegur tuan muda terkenal tempramen itu secara terang-terangan. Apalagi tuan Bima membiarkan saja apa yang dilakukan Kenan tanpa berkomentar apa-apa.
“Aku mau menemui Clara.” Pria itu masih bersikukuh.
Kenan berpegangan dinding ketika berjalan, ia merasa tubuhnya terasa ringan sekaligus berat. Sungguh apa yang terlihat dari sorot mata Clara ketika membicarakan tentang Teshar membuatnya sangat geram. Walau bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan hati Clara secepatnya.
“Nona Clara sudah tidur, Tuan.” Satu pengawalnya menahan pundak Kenan agar menghentikan langkahnya yang sempoyongan.
“Siapa kamu, berani melarangku? Hem!” decaknya seraya menepis tangan pengawal itu dengan mata terpejam, gerakan tubuhnya tidak stabil.
“Maaf, Tuan Muda,” ucap Pengawal itu masih mencoba untuk menghalangi langkah Kenan menuju ke arah kamar Clara yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya saat ini.
“Clara! Keluar!” teriak Kenan kesal.
Ia kembali mencoba untuk melewati kedua pengawal itu walau dengan susah-payah. Mencoba untuk berjalan tegap walau nyatanya beberapa kali pula ia hampir tersungkur.
“Minggir kalian! Minggir!” bentaknya dengan kibasan tangan lemah.
Kenan menyandarkan pundaknya di dinding dengan masih mencoba untuk menepis tangan pengawal yang mencoba kembali membawanya ke kamar.
Suara keributan antara Kenan dan pengawal terdengar hingga sampai ke kamar Clara. Beberapa pelayan juga pengawal yang mendengar juga akhirnya saling datang berkumpul ke tempat Kenan mengoceh kesal.
Clara yang masih dalam keadaan mengantuk mau tak mau membuka pintu kamarnya untuk memastikan keadaan di luar, karena penasaran dengan suasana yang mendadak riuh.
“Clara! Sini kamu … kamu harus dihukum!” rancu Kenan dengan teriakan tidak jelas.
“Tuan, mari saya antar kembali ke kamar,” bujuk pelayan ikut bersuara.
__ADS_1
“Diam, kalian! Sshhtttt … aku mau menghukum Clara.” Kenan mulai tertawa tidak jelas.
Sambil menguap akhirnya Clara memilih untuk keluar dari kamar. Dengan rasa penasaran yang tinggi ia pun berjalan pelan menyibak kerumunan hingga berhasil menjangkau barisan paling depan.
Pemandangan pria kusut yang sedang mengoceh membuatnya mengernyit heran. Untuk apa mereka semua menjadikan pria aneh itu sebagai tontonan?
“Ada apa ini?” tanyanya sambil mengucek kelopak sebelah mata kiri dengan langkah pelan.
Kenan yang menyadari ada suara Clara segera membuka mata berat seraya melambaikan tangan ke arah gadis itu.
“Clara, sini,” panggilnya pelan, pria itu mendadak kembali menampilkan tawa miris.
“Kamu kenapa?” tanya Clara panik dan berlari kecil mendekati Kenan yang hampir ambruk. Kini tubuhnya segera disambar pengawal; berusaha sekuat tenaga agar tidak sampai terjatuh ke lantai.
“Bawa dia masuk ke kamarku!” perintah Clara segera diberi gelengan kepala semua orang.
“Jangan, Nona. Tuan Kenan ini sedang mabuk berat, kami takut dia mencelakai Anda nantinya,” terang Mia yang kini berjalan mendekati Clara. Ia berharap Clara tidak melakukan hal sembrono.
“Kasihan dia, sudah tidak apa-apa, bawa aja masuk ke kamarku,” pinta Clara membuat semua orang menghela napas.
Mereka sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu yang kelewat polos. Sangat sederhana dan merasa semua hal yang ditemuinya luar biasa.
“Baik, Nona.”
Clara membiarkan Kenan dibawa masuk ke kamarnya, berjalan mengekor di belakang mereka dengan langkah pelan. Beberapa kali mengukir senyuman geli karena mendengar pria menyebalkan itu merancu mirip anak kecil.
“Clara, kakek ingin bicara.”
Suara seorang pria yang berasal dari belakang berhasil menghentikan langkahnya. Tubuhnya memutar bersamaan dengan gerakan kepala memandang seorang kakek tua tengah mengenakan sweater putih abu-abu berdiri tidak jauh darinya.
“Tuan Bima,” sapa Clara menundukkan kepala memberi hormat.
“Ikut aku,” ucapnya kemudian berbalik meninggalkan Clara yang masih menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu diajak Tuan Bima, cepat sana,” bisik seorang pelayan membuyarkan lamunan Clara, kemudian gadis itu mengangguk samar seraya berjalan menyusul langkah pria tua itu ke dalam sebuah ruangan.
Sempat mematung di depan pintu beberapa menit, akhirnya setelah mencoba memberanikan diri ia pun mengetuk pintu berbahan kaca transparan itu sebelum akhirnya masuk.
“Kamu sudah datang, duduklah,” pinta Bima memberikan isyarat dengan kibasan tangan ke arah sofa berbahan kulit berwarna cokelat tua.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan."
"Panggil aku Kakek, rasanya sangat kaku kalau kamu memanggilku tuan." seloroh Bima memberikan senyuman bijak.
“Baik, Kakek. Ehm, ada yang ingin dibicarakan dengan Clara?” tanya gadis itu melangkah mengikuti gerak tangan Bima yang menyuruhnya duduk.
“Apa yang dilakukan Kenan selama berada di dalam kamarmu?” tanya pria itu tegas.
Sejenak Clara mengangkat dagu, memandang bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan pria itu barusan. Sambil memiringkan kepalanya ia menggaruk rambutnya yang mendadak gatal.
“Memangnya apa yang akan dia lakukan di kamar Clara?” tanya Clara balik dengan sorot mata kebingungan, wajah gadis itu sungguh membuat Bima harus menahan tawa.
Sambil melangkah dan meraih tongkat untuk menahan bobot tubuh, kakek berusia delapan puluh dua tahun itu mengambil dua botol soft drink dari dalam cooler lalu menyerahkan kepada Clara. Dengan gerakan tangan canggung, gadis itu menerima botol berbentuk kaleng dengan kedua telapak tangannya.
“Apa dia mengganggumu?” tanyanya sembari tersenyum.
Pria itu segera duduk di sofa bagian seberang Clara, mereka berdua kini dipisahkan oleh sebuah meja berbahan kayu jati panjang berwarna cokelat senada dengan sofa yang mengelilinginya.
“Cukup mengganggu, karena dia terus mengoceh setiap malam, tidur meringkuk di sofa, tapi bisa bersikap tenang seperti bayi saat dia sudah berhasil tertidur pulas,” jawab Clara dengan nada suara pelan tanpa dibuat-buat. Semua meluncur alami, Mengisyaratkan bahwa Clara sedang menceritakan apa yang dialaminya.
“Baiklah, bagus sekali,” puji Bima merasa sangat puas, kepala kakek itu mengangguk beberapa kali.
“Bagus? Maksud Kakek bagus di bagian mana?”
Clara mengernyit heran. Ia tidak memahami pujian dari pemilik kediaman tempatnya tinggal itu ditujukan untuk siapa.
“Ya, Kakek merasa sedang mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semua. Kakek rasa belum terlambat untuk mengubah anak berandalan itu agar bersikap lebih bijak dalam memahami kesulitan hidupnya,” jawab Bima semakin membuat Clara mengembus napas, ia malah semakin bingung memahami ucapan kakek itu.
Bima yang menyadari kebingungan gadis cantik bagaikan sebuah boneka itu kemudian tertawa. Beberapa kali ia meneguk minuman di tangannya disertai kekehan.
“Haruskah aku mengusirnya saja?” tanya Clara mendadak bingung, tangannya dengan cekatan membuka penutup kaleng seraya meneguk isinya, manisnya rasa leci segera menguat di lidah.
“Saat Teshar sudah kembali ke rumah ini, kamu harus mengusir Kenan dari kamarmu. Jangan sampai pria itu mencekik Kenan dan menghentikan kekonyolannya,” lontar Bima sambil tertawa lagi.
Clara meneguk minumannya pelan, tiba-tiba ia merasa ngeri dengan perumpamaan yang terlontar dari kakek itu.
"Baiklah, aku akan mengusirnya," sahut Clara mengangguk, meskipun dia tidak mengerti maksud dari perkataan Bima.
“Harus! Kamu tidak ingin terjadi peperangan antar dua bersaudara, bukan?" goda Bima semakin membuat kening Clara berkerut dalam.
__ADS_1