Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Jerjebak Baku Tembak


__ADS_3

Teshar berlari kecil, keluar dari mobil sembari memutar arah pandangan segala arah. Memindai pergerakan Villa karena terlihat sepi. Ketenangannya pun mulai terkikis kesempitan waktu.


Pria itu sadar, kini Jeff tengah mengawasi pergerakannya, sehingga dia tidak boleh gegabah dalam mengeluarkan kekuatan. Keberadaan Clara juga masih belum dia ketahui.


“Jemmy, aku di sekitaran Villa. Keadaan sepi.” Teshar memanggil Jemmy dengan earpiece yang terpasang di telinganya.


“Aku sudah pindah posisi. Aku sekarang sedang bergerak ke Ground Zero, lima ratus meter lagi sampai. Tunggu perintahku, apa kau dengar?” pintanya membuat Teshar mengembus napas.


“Anak buahku sudah tersebar di dalam. Beberapa akan segera mencapai tempatku. Kenan ikut dan aku tidak mau membuatnya terancam.” Teshar berbicara sambil berjalan menaiki tangga tiga lapis itu dengan langkah lebih tenang.


“Dokumen itu ada bersamanya?” tanya Jemmy memastikan.


“Hem, dia membawanya.” Teshar meneguk ludahnya sembari terus berjalan.


“Jangan masuk! Cepat menyingkir dari sana, Jeff sudah menerima pesan darimu. Dia sepertinya mengubah strategi dengan langsung menyerangmu. Ada laporan bahwa pria itu terlihat marah dengan video yang kita kirimkan,” terang Jemmy membuat Teshar menghentikan langkah seketika.


Senyum terukir manis dari bibirnya yang merah alami, dan entah mengapa justru malam ini membuat Teshar terlihat tampan. Kebiasaannya menerjang aral-melintang, baku-hantam di masa muda terasa kembali menantang adrenalin.


Usianya mungkin saja boleh berkepala tiga. Namun, ketampanan maskulin yang terpancar semakin menambahnya kian menawan.


“Bagus.”


“Beberapa anak buahku akan segera mencapai tempatmu, berhati-hatilah.” Jemmy mengingatkan.


Teshar tidak menjawab, matanya memandangi pintu Villa yang tinggi kokoh itu dalam kebisuan. Kakinya mundur beberapa jengkal, kemudian memutuskan mengambil langkah seribu ketika instingnya bekerja.


Sesuai dugaan Teshar, Jeff terpancing menggunakan senjata untuk melawan. Benar saja, sebuah tembakan beruntun melesat dengan cepat, diikuti kemunculan para pria berpakaian hitam tatkala pintu itu terbuka; membuat Teshar harus menyelamatkan diri dengan bersembunyi di antara pilar-pilar besar nan kokoh, yang menjadi penyangga bangunan mewah bercat putih bergaya Eropa tersebut.


“Amankan Kenan dan cari di mana Clara berada.” Teshar berbisik kepada Jemmy melalui earpiece, memberi mandat.


“Kau juga harus hati-hati. Aku mendengar tembakan dari arah Villa.” Jemmy menggeram, mengkhawatirkan keadaan Teshar yang kelewat tenang.


Teshar bersembunyi di balik dinding pilar dengan mata menyelidik siaga, mengamati suasana sekitar. Kepalanya melongok menatap keadaan yang kini mulai membuatnya cukup memacu adrenalin. Suara entakan kaki sekelompok orang berlarian kini mulai terdengar bersahutan.


“Aku suka malam ini,” ujarnya terkekeh.


“Strategi berbahaya darimu membuatku pusing!” geram Jemmy lagi. “Aku tidak akan mengikuti gayamu, aku bersumpah!” Jemmy merasa geram karena Teshar sama sekali tidak bersedia dikawal.

__ADS_1


“Come on, let's show it, Bro,” canda Teshar.


Dia merasa sudah lama tidak bermain-main dengan nyawanya, setelah dua belas tahun berlalu. Malam ini dia begitu menikmati ketegangan yang berhasil tercipta.


Seperti malam ini juga, dua belas tahun yang lalu, Teshar berkutat dengan senjata api dan menyelamatkan hidup Clara. Ia mengingat kembali momen mencekam itu dalam memori, yang sebenarnya ingin ia hapuskan.


“Clara, bertahanlah. Sama seperti dua belas tahun yang lalu, aku yakin kamu pasti bisa.” Teshar menggumam dalam hati.


Kini pria itu dengan gesit mengubah lokasi persembunyiannya, berpindah tempat lebih aman. Tujuannya ke Bar Ground Zero untuk menemui Jeff di sana.


Ia merasa yakin bahwa dengan menerima video darinya, pria licik itu pasti bersedia berunding dengan baik malam ini, tidak lagi bersikap congkak. Toh, posisi mereka sekarang seimbang karena sama-sama memiliki seorang tawanan.


Rentetan tembakan kini kembali menyerang Teshar saat jejak kakinya menggema ke seluruh koridor sepi yang ia lewati, dengan kecepatan penuh ia kembali berusaha untuk menyelamatkan diri. Menertawai kekonyolan yang dihasilkannya, karena memilih untuk datang ke Villa seorang diri.


“Makin tua makin bodoh!” umpatnya pada diri sendiri.


Pria itu menggelincirkan sepasang kakinya, kemudian menggulingkan tubuh ke sisi pojok sebelah pilar tiang penyangga untuk menyembunyikan diri. Ia kembali merasakan jejak langkah kaki mulai bergerak serentak mendekat ke arahnya.


Teshar tetap bersembunyi, sembari mengatur napas, dia mengira-ngira jumlahnya. Ia tahu keadaan ini sangat berisiko, tapi ia tidak peduli—tidak ada pilihan lain kecuali menyerang lebih dulu.


Ada sekitar tujuh orang yang berlari kecil mengejar; tengah mencari keberadaannya. Beberapa di antara mereka sedang mengendap siaga. Teshar merasa harus mencari momen yang tepat, agar bisa lolos dari anak buah Jeff yang tersebar di area Villa.


Teshar menelan ludahnya, sebelum kemudian mengaktifkan panggilan kembali kepada Jemmy.


“Benar dugaanku, Jem. Dari awal Jeff tidak berniat untuk melakukan negosiasi denganku. Dia berencana untuk mengambil dokumen itu juga Clara, lalu kemudian membunuhku. Aku senang bisa menebak rencananya mengenai pertemuan ini.”


Teshar memfokuskan pandangannya ke sebuah target. Mengurangi jumlah orang yang memburunya tentu menjadi fokus yang harus dilakukannya—kalau ingin bebas dari tempat itu dalam keadaan hidup.


Setelah mengunci pergerakan target, kini pria itu segera melepaskan sebuah tembakan dan tepat mengenai dada sebelah kanan pria yang sedang berjalan mengendap bersama rekannya, hingga akhirnya tumbang.


“Binggo!” Teshar menyeringai puas.


Suara desingan peluru terus saja memecah keheningan malam di Villa tersebut. Semua anak buah Jeff terkejut dengan serangan balasan itu. Mereka segera memasang formasi siaga setelah mengetahui rekan mereka tertembak. 


“Kita berpencar! Waspada, meskipun hanya sendirian, tapi pria itu ahli menembak!” teriak salah seorang dari mereka saling menjaga penuh kewaspadaan.


Mereka membiarkan begitu saja satu rekan yang tertembak tergeletak di tanah. Segera berpencar untuk mencari keberadaan Teshar. Mereka tidak mau kecolongan lebih banyak lagi dengan serangan balasan.

__ADS_1


“Jangan biarkan pria itu lolos dan keluar dari sini hidup-hidup. Tuan Jeff sudah mengubah rencananya!” kata satu pria berpakaian hitam itu, membuat Teshar memejamkan mata sejenak. Memikirkan strategi jalan keluar agar bisa pergi dari sana secepatnya.


“Jem, kerahkan anak buahmu untuk membantuku, Jeff bertindak seperti yang kita duga.” Teshar berbisik melalui earphone wireless-nya.


“Stand by. Sniper sudah berada pada posisi siaga, disusul yang lain. Saat ini aku sedang memata-matai Kenan. Pria itu mampu bersikap sangat tenang.” Jemmy membalas informasi.


“Ok!”


Teshar mengangguk seraya beringsut mundur untuk mengamankan posisinya. Jujur saja ia tersudut.


Jarak lokasi Bar yang ia tuju berada pada radius sekitar dua ratus meter dari persembunyiannya saat ini. Apabila dia berhasil menyelinap keluar koridor ke arah taman luas di sebelahnya, artinya dia lolos.


Namun, apabila sampai salah strategi, jelas dia akan mati konyol, karena taman yang terbentang akan memudahkan para pria suruhan Jeff itu untuk membidikkan senjata ke arahnya. Bisa saja ia terbunuh dengan mudah.


“Pakai otakmu Teshar, jangan cuma usiamu saja yang tua. Ayo berpikir,” geramnya dalam hati.


Suara langkah kaki kembali terdengar mendekati Teshar. Telinganya cukup sensitif menangkap suara pergerakan halus sekali pun. Dia kembali memasang insting yang tepat, ke mana gerak pistolnya harus memindai. Sekali lagi, kalau sampai meleset dari sasana, ia akan mati konyol diberondong enam senjata api sekaligus.


Tidak, pria itu masih ingin hidup lebih lama lagi. Ia ingin menikah dan merasakan indahnya bercinta.


“Tiga, dua, satu.” Teshar mengeja angka sembari mengambil sebuah ancang-ancang.


Ia memilih mengambil risiko dengan keluar dari balik pilar kokoh tempatnya bersembunyi. Membidikkan senjata apinya lalu melepaskan tembakan sebanyak tiga kali;dua di antara tiga peluru itu melesak mengenai pria suruhan Jeff hingga mereka terjerembab jatuh ke lantai.


"Arggtt!" raung pria yang tertembak.


"Bangsat! Tembak pria itu!" teriak orang suruhan Jeff yang masih selamat.


Teshar tidak mau membuang waktu, saat semua anak buah Jeff terkejut setelah mendapatkan serangan tiba-tiba darinya, dia memanfaatkan momen sekejap itu untuk meloloskan diri dengan berlari.


"Tembak saja sampai mati!" perintah sang ketua sambil mengejar lagi.


Teshar segera menyelinap ke belokan koridor, menghindari berondongan peluru balasan yang kembali menerjangnya.


“Shit!” pisuhnya, harus kembali menahan napas, seraya membuat pergerakan sesuai insting bertahan dari tembakan. Pria itu berharap tidak ada satu pun peluru yang akan mengenai tubuhnya.


Ia tidak mau mati semudah itu.

__ADS_1


__ADS_2