Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Kenan dan Rasa Penasaran


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, Kenan melepaskan pelukan wanita itu. Suara napas yang terdengar teratur menandakan bahwa wanita itu kini sudah tertidur pulas. Wanita itu pasti kelelahan setelah sesi bercinta yang mereka lakukan berdua. Kenan berdecak sendiri dengan apa yang baru saja ia lakukan, terpaksa melepaskan ketegangan bersama wanita itu untuk mengatasi hambarnya kehidupan yang ia jalani.


Kenan meraih pakaian dan membersihkan diri di kamar mandi, menyegarkan pikirannya. Setelah merasa cukup, ia segera keluar dari sana dengan suasana hati yang lebih baik.


Ia menatap ke arah balkon yang memperlihatkan pemandangan langit malam dari balik tirai jendela yang tersingkap. Kenan meraih sandal kemudian berjalan mendekat dan membukanya. Udara dingin malam segera menerobos masuk ke dalam kamar, pria tampan itu segera menutup pintu yang berlapis kaca itu dengan pelan sembari berjalan keluar. Ia tidak mau embusan angin sampai membangunkan wanita yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu itu.


Kenan merasakan dingin udara menembus tajam ke dalam pori-pori kulitnya, tapi tetap ia abaikan. Ia berjalan pelan menuju ke tepian seraya menghirup udara dalam-dalam, seolah mengisi kekosongan paru-parunya yang selalu sesak akibat kepulan asap rokok dalam menemani hari-hari suntuknya.


Ia mendesah napas kasar. Sambil jemari tangan memegang terali besi pembatas yang berbahan stainless itu, ia memandang jalanan yang terlihat kecil dan sangat jauh dengan lampu berkedip indah berasal dari bangunan di bawahnya. Terlihat juga banyaknya kendaraan yang masih berlalu-lalang di jalanan, pancaran cahayanya bagai sabuk tali yang menghiasi kota.


Kenan mengalihkan pandangan ke arah samping saat mendengar suara seorang wanita tengah bersin juga terbatuk-batuk ringan akibat alergi angin malam. Kenan mengamati dengan intens wanita yang saat ini sedang melakukan hal yang sama persis seperti dirinya. Berdiri di balkon sendirian dengan jemari tangan memegang terali besi pembatas yang terasa dingin.


Kenan segera mendekat dengan berjalan ke sisi kiri balkon yang saling terpisah itu. Ia merasa yakin, Teshar tadi keluar dari unit yang bersebelahan dengan unit tempatnya berada saat ini. Ia ingin sekali melihat dengan jelas wajah gadis itu, wajah cantik yang diyakini bahwa, dialah wanita yang telah disembunyikan kakaknya selama ini, seperti rumor yang pernah berembus dan menghilang seolah sirna tanpa ada yang mencoba mencari tahu kebenarannya.


“Hai," sapa Kenan dengan suara sebisa mungkin didengar gadis yang sedang asyik menatap keindahan kota dengan wajah cerah, ceria, bibir tersenyum.


Pancaran mata gadis itu mengisyaratkan kekaguman akan hal baru di dalam hidupnya. 


”Permisi, hallo?" sapa Kenan lagi lebih mengeraskan suaranya.


Gadis itu menoleh dan celingukan mencari arah pemilik suara. Pandangan mereka seketika beradu saat gadis bernama Clara itu berhasil menemukan sosoknya.


“Berbicara denganku?" tanya Clara dengan lembut, tangannya terlihat menyentuh dada.

__ADS_1


Gadis itu merasa terkejut karena suasananya sangat sepi. Ia tidak menyangka malam sudah larut begini, tapi masih ada orang yang terjaga seperti dirinya dan menikmati malam.


”Iya, aku bicara denganmu," jawab Kenan sembari tersenyum.


Ia merasa senang, akhirnya bisa berbicara langsung dengan wanita yang dia lihat di jendela lantai dua bangunan rumah kakaknya di tempat ini. Kepalanya terasa ringan dan beberapa ide muncul di dalam pikirannya. Ia tersenyum sendiri membayangkan.


“Ada apa?" tanya Clara mengalihkan pandangannya kembali ke depan.


Clara mengingat lagi perkataan Teshar mengenai orang asing yang tidak boleh begitu saja ia percayai, bisa saja orang itu tengah menyimpan rencana tidak baik untuknya. Akhirnya Clara memilih mengabaikan laki-laki bertampang aneh itu dan kembali menikmati malam yang kini mulai terlihat mendung.


”Namamu siapa?" tanya Kenan mencoba mencari posisi yang tepat agar bisa lebih dekat dan bicara dengan gadis yang membuatnya penasaran itu.


Clara pura-pura tidak mendengar seraya berjalan menjauh ke arah sisi kiri balkon. Gadis itu malah memunggungi Kenan, tidak mau berbicara dengan pria itu.


“Ayolah … tidak sopan memunggungi orang yang sedang berbicara denganmu," lontar Kenan membuat Clara mengembus napas. Ia masih saja menahan diri agar tidak menoleh.


”Hanya nama tidak akan membuatmu rugi apa-apa," tambah Kenan lagi. “Lagipula, aku ke atas balkon ini hanya untuk merokok, tidak untuk mengganggumu. Kita kebetulan saja bertemu."


Clara kemudian membalik badan, ia menatap Kenan sejenak seraya berjalan perlahan hendak kembali ke dalam kamar. Cuaca dingin sudah membuat dirinya menggigil sebenarnya, bahkan ia beberapa kali bersin dan batuk- batuk. Kenan memandang pergerakan gadis itu sembari menyulut rokok.


”Mau ke mana?" tanya Kenan saat melihat gadis yang sejak tadi mengabaikannya itu berjalan ke arah pintu.


“Silahkan merokok, aku alergi. Jadi, selamat malam, semoga paru-parumu tidak membenci akibat ulahmu,” lontar Clara tak acuh sambil terus berjalan.

__ADS_1


Kenan mengembus napas merasa kesal sendiri. Ia merasa gadis ini seperti sedang mencoba mengejeknya, seperti memberi nasehat, sesuatu yang sangat dia benci seumur hidup. Dengan gigi gemerutuk pria itu membuang rokok itu ke lantai dan menginjak dengan sandalnya hingga menyisakan remahan rokok yang hancur berkeping.


“Tunggu! Aku masih ada urusan sama kamu, aku sudah mematikan rokokku," ucap Kenan dengan suara lantang.


Clara tidak mau menoleh, gadis itu malah berjalan tergesa dan segera masuk ke dalam seraya menutup rapat pintunya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu mengelus dadanya sambil melirik ke luar lewat pintu berbahan kaca dan segera menutup tirai.


Clara merasa sedikit takut, sambil berjalan lebih cepat pula ia berniat untuk keluar saja dari kamar, tapi sayang suasana remang kembali menyambutnya. Gadis itu celingukan mencoba menyalakan lampu, sambil berjalan pelan ia menyusuri dinding dingin itu hingga tangannya menyentuh saklar dan segera menyalakannya. Cahaya terang segera memperlihatkan dengan jelas luasnya apartemen ini daripada tempatnya dulu dikurung Teshar. Tapi entah mengapa, Clara malah merasakan ketakutan karena merasa kembali kesepian dan sendirian lagi.


Setidaknya di rumah lama masih ada dua pelayan yang datang tiga kali dalam sehari untuk melayaninya, sedangkan di sini ia benar-benar sendirian. Clara berjalan ke kamar sebelah dan mendapati pintu kamarnya tidak ditutup. Sambil mengepalkan erat jemari tangan, gadis itu melongok mengintip ke dalam kamar. Ia sangat berharap Teshar benar-benar menemaninya, sayangnya pria itu tidak ada. Sambil duduk merosot ke lantai gadis itu merengut kecewa karena selalu mudah dibohongi.


”Katanya mau tidur di kamar ini? Selalu saja berbohong." Clara merengut sedih.


*


Sementara itu di pihak Kenan. Pria itu menatap kesal gadis yang telah meninggalkannya itu. Tidak pernah satu kali pun dalam sejarah hidupnya ada wanita yang berani mengabaikannya. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu menggeram kesal sendiri. Ia tidak menyangka, kakaknya sehebat itu sampai memiliki wanita teguh, tanpa menoleh pria lain sama sekali, pesonanya tidak mempan.


“Siapa sebenarnya wanita itu?" batin Kenan merasa sangat penasaran.


Ia masih memandang pintu tertutup itu dari unit kamar yang berada tepat di sebelahnya—dari sisi balkon tempatnya berdiri.


”Jadi benar 'kan, selama ini Teshar menyembunyikan seorang gadis? Aku harus mencari tahu sendiri masalah ini, untuk apa dia melakukannya. Bukankah ayah dan ibu membebaskannya dalam memilih wanita? Pria dingin yang aneh," komentar Kenan berbicara sendiri.


Ia menatap kembali suasana malam yang mulai merambat menuju pagi menambah hawa dingin yang semakin menusuk kulitnya. Ia masih belum berniat untuk beranjak dari sana.

__ADS_1


__ADS_2