
Mansion Bima Indira
Clara memeluk Teshar dari arah belakang. Menautkan kedua jarinya dengan erat seraya memejamkan mata. Dia merasa sangat bersyukur ketika selama bertahun-tahun melalui kesenyapan hari dengan hidup bersama pria ini.
"Jangan lagi kabur dariku," ucap Teshar seraya melepaskan tautan tangan Clara yang melingkar hangat pada perutnya.
Pria itu memutar tubuhnya dan kini menghadap persis ke arah Clara. Gadis itu mendongak, mengangguk dengan sorot mata menampakkan sebuah penyesalan.
"Andai saja Clara tidak kabur, mungkin saja kita tidak akan pernah terluka. Bukankah begitu?"
"Mungkin kamu tidak akan percaya padaku kalau tidak ada tempat yang aman untukmu, ketika berada di luar selain tetap berada di sisiku," sahut Teshar memandangi Clara dengan wajah datar, meski jauh dari lubuk hati ingin sekali ia memberi kecupan untuk menenangkan gejolak dalam dirinya.
"Karena aku harusnya sudah tidak ada di dunia ini, apa itu alasannya?" adu Clara membuat Teshar membuang muka sambil tersenyum samar.
Clara memutar kepala demi bisa mendapatkan ekspresi yang disembunyikan Teshar darinya. Namun, pria itu segera menepuk pundak Clara sambil berdeham.
"Percayalah padaku, Clara. Aku akan melindungimu dari siapa pun yang mencoba untuk melukaimu. Siapa pun itu."
“Siapa pun itu?” ulang Clara dengan tatapan bertanya-tanya.
“Hem.”
“Aku penasaran siapa orang itu. Apa aku mengenal mereka? Apa di dalamnya termasuk pamanku?”
Teshar sebenarnya cukup tidak nyaman membicarakan pria bernama Jeffrin itu. Ada banyak hal yang dia takutkan, termasuk rahasia yang disembunyikan keluarga besarnya mengenai asal usul Clara.
Sebuah kelemahan Teshar tanpa disadarinya. Bila masanya harus terbuka nanti, Teshar tidak tahu apa yang bisa membuatnya kuat menghadapi badai besar itu.
“Kamu tidak perlu mencemaskan masalah dia. Kamu cukup percaya saja pada kata-kataku.”
Clara mengangguk mengerti, memaksakan senyum meski masih banyak pertanyaan yang belum mendapatkan jawabannya. Dia akan terus bersabar.
Berada di pihak yang sama, terlihat seperti itu mungkin cara yang tepat agar bisa mengorek lebih banyak informasi yang tidak diketahuinya selama ini. Clara akan lebih banyak bersabar dan tidak lagi bersikap ceroboh seperti dulu.
__ADS_1
"Ganti pakaianmu, kita akan menemui kakek Bima bersama-sama," ajak Teshar mendorong Clara agar berjalan mendekat ke arah lemari.
Gadis itu menurut, berjalan diiringi Teshar yang mendorongnya dari belakang hingga sampai di depan walk in closet. Mereka kini memandang ke arah cermin sambil berdiri bersandingan. Mata mereka bertemu pada satu titik yang sama, di dalam pantulan cermin.
Rasa yang tidak pernah disadari muncul ke permukaan. Rasa yang dia enyahkan sepajang kebersamaan dengan wanita yang kini telah berubah menjadi sosok yang sangat dewasa berbalut kecantikan.
"Kamu sangat cantik, saat memakai gaun seperti putri."
"Tidak akan lagi!" Clara menolak dengan cepat. Wajah gadis itu langsung memerah.
Entah karena marah pada ingatan bahwa sepajang usianya, dia harus memakai pakaian menyebalkan itu. Namun, pujian yang didengarnya langsung dari bibir pria yang selama ini menjadi magnet tersendiri di dalam hatinya untuk membenci sekaligus membuatnya rindu, mau tak mau membuat Clara salah tingkah juga.
Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pujian dari Teshar.
"Kenapa?"
"Aku benci semua yang kamu sukai, termasuk pakaian putri menyebalkan itu," jawab Clara dengan nada ketus, demi menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya. Namun, justru ditanggapi gelak tawa Teshar. Sesuatu yang berada di luar dugaannya.
Gadis itu mengernyit heran. Ada yang berubah dari ekspresi yang ditampilkan pria itu. Tidak ada lagi kesuraman wajah yang selalu diberikannya seperti beberapa waktu lalu—sebelum dia kabur dari rumah mewah itu.
"Darimana kamu belajar adegan berbahaya seperti ini, Clara?" tanya pria itu berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Dari buku," jawab Clara sekenanya. ”Kamu pikir dari mana lagi?“
"Bohong, sorot matamu tidak mengatakan demikian," debat Teshar membalas sentuhan Clara dengan meraih pinggang ramping perempuan dua belas tahun lebih muda darinya tersebut hingga tubuh mereka menempel erat. ”Buku seperti itu tidak pernah aku sediakan untukmu.“
"Memang bukan dari buku, tapi dari kak Kenan," jawab Clara kemudian sambil tersenyum tipis. Dia sengaja melibatkan nama Kenan untuk mengetahui bagaimana reaksi Teshar.
Teshar mengangguk mengerti. Sebenarnya dia ingin sekali menanyakan semua hal yang menyangkut keberadaan Kenan selama dirinya tidak ada di rumah sang kakek.
Namun, dia bingung merangkai kalimat yang tepat agar tidak disangka sedang melancarkan jurus kecemburuan. Pria itu terlalu angkuh untuk menanyakan hal sepele seperti itu.
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Teshar mengunci pandangan Clara agar fokus padanya. Dia tidak mau ada pikiran mengenai Kenan lagi yang bersarang di dalam hati Clara.
__ADS_1
Satu-satunya yang membuatnya kecewa masalah kaburnya Clara dari rumahnya bukan hanya karena gadis itu bisa bebas, tapi pertemuan dengan sang adik yang jelas akan mengincar apa saja yang bisa dijadikan bahan kompetisi.
Teshar tahu apa yang dirasakan Kenan mengenai hidupnya yang selalu diabaikan keluarga. Jelas, perjanjian yang mereka buat mengenai Clara cukup menggelisahkan hati Teshar.
Perempuan yang butuh kebebasan seperti Clara tentu akan sangat terkesima dengan tawaran hidup yang bisa dijanjikan oleh Kenan.
"Iya," jawab gadis itu jujur. "Aku sangat merindukan Kak Teshar."
Teshar tidak mampu menyembunyikan guratan senang dari wajahnya. Ia pun segera memutar kepalanya demi bisa meraih apa yang diinginkannya sejak berdekatan dengan gadis itu. Clara hanya terdiam.
Sungguh, rasa penasaran dengan gejolak dari dalam dirinya memaksa tubuhnya untuk menuruti apa yang pria itu lakukan. Membalas kelembutan yang disalurkan pria itu hingga membuat napasnya tersengal-sengal. Pria itu sangat menuntut hingga gadis itu merasa kewalahan dalam mengimbangi gerakan Teshar saat memciumnya.
"Nona Clara! Permisi!"
Namun, suara ketukan pintu berulang disertai panggilan dari luar sanggup membuyarkan imajinasi mereka berdua dalam meleburkan kerinduan.
"Iya!" sahut Clara setelah berhasil menarik diri kemudian menegakkan tubuhnya.
"Tuan Bima sudah menunggu," balas seorang pelayan dari luar kamar.
"Aku segera datang!" tariak Clara mulai bersikap canggung kemudian mereka berdua saling melepaskan diri.
Teshar mundur dari posisinya, membiarkan Clara memiliki ruang untuk melakukan apa yang sebenarnya akan dilakukannya di dalam sana. Mencuci muka.
"Susul aku, ya," pamit Teshar sembari berjalan dengan sikap sangat tenang. Ia sudah bisa menata perasaannya dengan baik.
Clara mengangguk, kemudian memunggungi Teshar demi bisa membuang malu karena wajahnya yang memerah.
Teshar meninggalkan kamar Clara. Merasa bodoh bahwa selama ini dirinya terlalu banyak berpikiran buruk hingga melupakan perasaannya sendiri terhadap gadis itu.
Kini ketakutannya malah hadir lebih parah dari sekadar dibenci Clara karena sikapnya. Melainkan sesuatu mengerikan yang sudah dilakukan di masa lalu. Hal yang bisa saja menghancurkan asa untuk terus bersama wanita itu.
Teshar menutup pintu, meneruskan langkahnya menuju ke ruangan kakek Bima. Mungkin saja pria berusia senja itu sudah menunggunya dalam keadaan jenuh.
__ADS_1
Beberapa kali Teshar menanggapi dengan baik pelayan yang menyapa dengan menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak seperti biasanya.
”Oh, tidak Teshar. Jangan berpikir kalau kakek akan berseberangan denganmu mengenai Clara. Cukup Kenan saja,“ batinnya tidak nyaman.