Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Tak Harus Takut Mati


__ADS_3

Clara memejamkan kedua mata, rasanya ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Rasa gemetaran segera melemahkan otaknya untuk berpikir atau pun bergerak dari tempatnya.


"Keluar!" bentak pria itu membuat Clara semakin meringkuk dengan kedua telapak tangan menutupi telinganya, ia merasa sangat ketakutan menghadapi pria yang menampakkan wajah beringas sambil melepaskan gelegar suara sabetan cambuk yang mengenai lantai itu.


"Ampun!" teriak Clara masih menutupi telinganya dengan telapak tangan.


"Sini, berhenti mempermainkan kami, keluar!" bentak pria itu lagi sembari tangan kirinya menarik pakaian bagian pundak Clara hingga memaksa gadis itu berdiri dari tempatnya merosot.


"Ampun, ampuni aku," rintih Clara terpaksa berdiri dan terseret langkahnya mengikuti langkah pria yang membawanya keluar dari lorong sempit antara dinding dan sofa itu.


"Kamu kira, kamu bisa lolos?" ejeknya segera menghentikan langkah dan segera melepaskan tarikan tangannya dari pundak Clara sembari menghempaskan tubuh gadis itu hingga jatuh terduduk di lantai.


"Apa salahku?" tanya Clara sambil mendongak tagas, mencoba mempertanyakan alasan kenapa dirinya harus berada di tempat ini.


"Salahmu?" tanyanya balik bermaksud mempermainkan hati Clara.


Pria itu terkekeh sembari berjalan menjauh, ia duduk santai di kursi sembari memandang Clara yang masih duduk di lantai—belum berusaha bangkit. Clara hanya bisa melirik ke arah pria itu dengan tangan terkepal erat.


"Salahmu, karena kamu masih bernapas, itu saja," tambahnya kemudian seraya berdiri kembali saat beberapa anak buahnya terdengar memasuki ruangan tengah itu.


"Hanya karena aku masih bernapas?" tanya Clara melongo tidak percaya.

__ADS_1


Ingatannya kembali pada ucapan Teshar yang terlontar kepadanya selama dua belas tahun, hanya karena dia adalah Clara Amanda, pria itu mengurungnya hanya karena itu. Sebuah alasan yang membuatnya memendam sebuah rasa penasaran yang menggunung. Gadis itu menunduk dan tertawa ironi mengetahui nasibnya memang tidak pernah baik. Ia meneteskan air mata yang lolos begitu saja bahkan tanpa isak tangis, tapi sebuah tawa ironi.


Pria itu berjalan perlahan mendekati Clara kembali, memberi suara derap sepatu yang nyaring mengintimidasi gadis itu. Pria itu menundukkan tubuhnya dan meraih dagu gadis itu, menampilkan sebuah senyuman smirk yang jujur saja membuat Clara memandang dengan saliva sulit ditelannya.


"Kau tidak akan menyukai alasannya, jadi lebih baik kau simpan rasa penasaranmu, Cantik," saran pria itu pelan.


Clara masih memandang pria itu dengan keberanian yang malah hadir mengisi perasaannya, setidaknya ia merasa ucapan dari pria ini memberinya sebuah kesimpulan bahwa dirinya bukan orang biasa. Ia termasuk berharga karena harus susah payah mencarinya, tetapi pertanyaan kenapa, masih saja membelenggunya.


"Aku tidak penasaran, kalau memang aku ditangkap karena masih bernapas. Baiklah, aku paham maksudmu," ucap Clara mencoba bangkit.


Pria itu masih berjongkok di hadapan Clara. Wajahnya mendongak menatap ke arah Clara yang kini sudah mundur dan berjalan menjauh. Sambil tersenyum pria itu kembali bangkit dan melangkah mengikuti Clara yang berhenti berjalan dan membalik badan memandang kedatangannya.


"Aku tidak menyangka, Teshar merawatmu dengan baik," ujarnya memandang Clara seraya tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Pria itu merasa gadis ini begitu menawan. Ia sangat yakin bahwa rencana kali ini akan sangat mempengaruhi pria sombong dan angkuh bernama Teshar itu dalam mengambil keputusan.


"Tidak mungkin 'kan, Teshar memberi pendidikan kepadanya? Tidak mungkin, gadis ini harusnya bodoh, bukankah … dia dikurung di rumah itu sejak kecil?" Pria itu bergelut dengan batinnya, ia merasa sedikit terkejut bahwa gadis ini terlihat sangat berkarisma.


"Tuan Jeff sebentar lagi akan sampai, Tuan," lapor anak buahnya menghentikan pria itu meneruskan percakapan dengan Clara.


"Baik, bawa gadis ini ke kamarnya lagi!" perintah pria itu sambil menatap anak buahnya.


"Baik," jawab anak buahnya seraya mendekat ke arah Clara lalu mencekal lengan gadis itu agar mengikutinya kembali ke kamar.

__ADS_1


Clara menurut tanpa melawan, ia melangkah mengikuti kedua anak buah yang menggiringnya pergi dari ruang tengah itu tanpa mengalihkan pandangannya dari pria yang sepertinya sangat dihormati di rumah itu. Pandangan mereka terputus saat Clara dimasukkan ke dalam ruang tempatnya tadi dikurung.


"Sepertinya, dia orang yang harus aku dekati kalau ingin terbebas dari sini, bukankah caranya menatapku, seperti orang yang menyukai?" pikir Clara dalam hati.


Ia tersenyum sendiri, bahkan sampai sekarang saja dia belum pernah merasakan dicintai seorang pria. Membaca banyak buku, tidak lupa novel-novel juga dia habiskan selama dua belas tahun terkurung. Bisa memahami apa itu cinta, sebuah hubungan pria dan wanita dewasa, sebuah hubungan persahabatan, pengkhianatan, sad ending, happy ending, semuanya. Ia merasa bersyukur bahwa Teshar memberinya akses melihat dunia luar melalui sebuah buku.


"Jangan coba-coba menyelinap lagi!” ancam pria kurus yang tadi membuka tali untuknya seraya melepaskan cengkeraman tangan dan meninggalkan Clara di dalam kamar sendirian.


Gadis itu masih berdiri mematung menatap pintu yang kemudian tertutup rapat juga terdengar dikunci dari luar. Dengan helaan napas berat Clara memutar badannya, mengamati kembali kamar itu, terlihat tali, makanan yang tidak ia habisnya juga sebotol air mineral yang tinggal separuh isinya. Suara desah lelah lolos meluncur dari bibirnya, ia merasa sudah jenuh dengan semua kejadian yang menimpanya.


"Aku sangat menginginkan kebebasan, sangat memimpikan kebebasan, tapi tampaknya kebebasanku akan hadir saat napas ini memang harus berhenti mengaliri tubuhku," ucapnya berbicara sendiri dengan batin buruk yang menyiksanya. Ia merasa sangat sedih karena semua hal dalam hidupnya harus diatur orang lain, bahkan saat ini malah menjadi bagian pengalaman hidupnya yang paling buruk.


"Baiklah, aku hanya tidak perlu takut mati, itu saja," pungkasnya kemudian.


Pandangannya kini kembali ke arah pintu tatkala pendengarannya menangkap suara kunci kamarnya dibuka dari luar, hatinya merasa gelisah juga pada akhirnya dengan sekuat hati ia merasa harus bersikap kuat, apalagi saat penglihatannya menangkap gerakan hendel pintu yang berputar, seseorang dari luar sepertinya hendak masuk ke kamarnya, nalurinya segera memberi sinyal pertahanan dan bertindak waspada atas segala yang akan menimpanya nanti.


Kriet!


Pintu yang terbuka membuat Clara mundur selangkah, mengamati siapa orang yang hendak masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya menampakkan raut terkejut saat seorang pria memakai jas rapi memasuki kamar. Ada sekitar empat pengawalnya ikut masuk mengikuti pria berwajah tua dengan usia sekitar enam puluhan. Pria itu berambut hitam bercampur putih dengan tulang rahang tegas dan tumbuh jambang pada dagu hingga bawah tulang pipinya, kesan galak segera terpampang nyata di hadapannya.


"Selamat datang kembali ke rumahmu, Clara Amanda Louise," sapa pria itu seraya melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman.

__ADS_1


"Paman Nicholas Jeffrin," balas Clara melebarkan kedua bola matanya. Gadis itu segera mundur beberapa langkah menjauh, ia menelan salivanya yang seolah mengering.


__ADS_2