
Teshar kini sudah kembali menaiki mobil, setelah melakukan briefing mendadak bersama para pengawal setia kakeknya. Ia sengaja hanya memilih beberapa saja dari mereka yang memang terlatih, tidak banyak namun mumpuni.
Setelah melakukan beberapa arahan akhirnya Teshar memilih untuk sejenak menunggu. Ia paham, Jeff tidak akan sembarangan menyakiti Clara. Hanya saja, ia tidak mau sampai gadis kecilnya itu merasa ketakutan ketika berada di rumah tempatnya disekap, bagaimanapun caranya, ia harus menemukannya kembali.
Sebenarnya ia pria yang cukup santai dan tenang dalam mengatasi setiap hal juga masalah yang timbul di dalam hidupnya, tapi entah mengapa kali ini pikirannya jauh dari kebiasaan. Ia merasa bingung karena satu-satunya orang yang kini bisa diajak bertukar pikiran hanyalah kakeknya; selain pria tua keras kepala itu tidak ada.
Pikirannya kini jatuh bersama hilangnya Clara dari sisinya, ia berharap gadisnya itu tidak terluka atau meringkuk ketakutan di pojok ruang seperti biasanya.
Teshar membelokkan mobil ke tepi jalan raya saat merasakan getaran ponsel yang berada di saku jasnya. Ia pun mengambil ponsel itu sambil menghela napas perlahan, sebelum akhirnya mengangkat panggilan.
"Apa maumu?" serobot Teshar tidak mau berbasa basi.
"Wah, luar biasa tanggap, Anda ini, Tuan Teshar," puji Jeff sembari tertawa.
"Katakan apa maumu, tidak perlu bertele-tele," tegas Teshar merasa tidak sabar.
"Santai, Tuan Teshar," katanya sambil tertawa terbahak.
Teshar mencoba untuk bersikap sabar, mengikuti apa yang pria itu tunjukkan melalui sebuah ancaman, sebisa mungkin ia akan mengambil jalan paling aman untuk mengeluarkan Clara dari tempat Jeff menyembunyikannya.
"Saya ingin Anda memberikan uang tebusan untuk gadis tersayang yang kini berada bersama saya," ucapnya dengan nada seperti mengejek Teshar karena menggunakan bahasa formal.
"Apa kau begitu miskin, sampai harus melakukan taktik kotor kampungan dan pengecut seperti ini?!" balas Teshar dengan suara menantang.
Pria bernama Jeff yang kini sedang berbicara melalui telepon itu segera tertawa terbahak mendengar jawaban atas permintaannya itu.
"Apa kau tidak merasa rindu terhadap keponakanku ini?" tanyanya segera bersikap serius masih dengan iringan tawa.
Teshar menghela napas sejenak demi bisa menenangkan dirinya, penyebutan Clara sebagai keponakan sangat mengganggunya. Ia tidak ingin Clara sampai mengenal satu pun orang dari masa lalunya, baginya Clara tetaplah Clara; gadis kecilnya.
"Aku ingin mendengar suaranya terlebih dahulu, baru kita bisa membahas apa yang kamu inginkan selanjutnya," tegas Teshar dengan nada suara serius, pandangan matanya lurus ke depan. Ia bahkan bisa mengamati sisi belakang mobilnya; ada dua buah mobil tengah menepi mengikutinya dari kaca spion. Ia menyadari pasti pegawal kakeknya sudah mulai bergerak.
__ADS_1
"Ayolah, Teshar, sejak kapan otakmu menjadi bodoh," batin Teshar merutuki dirinya sendiri.
"Baiklah, apa kau pikir aku sedang membohongimu," sahut Jeff kemudian.
Teshar menunggu sesaat hingga suara pintu terbuka dari seberang terdengar jelas. Teshar menduga bahwa kini pasti pria tua musuh ayahnya itu sedang menuju ke arah tempat Clara berada, ia merasa sudah tidak sabar untuk mendengar suara gadis itu.
Terdengar bunyi gaduh dan beberapa argumen dari seberang, Teshar masih diam menyimak. Ia merasa yakin saat ini pria tua itu sedang menemui Clara untuk memberinya kepastian tentang keberadaan gadis itu—bahwa saat ini memang sedang berada di tangan pria licik itu.
"Kakak, aku tidak apa-apa," ucap Clara dengan suara tergesa.
"Kamu jangan takut, aku akan menemukanmu," sahut Teshar cepat.
"Iya, aku akan …."
"Clara …!" seru Teshar tertahan saat suara Clara sudah menghilang.
"Romantis sekali, Tuan Teshar," goda Jeff seraya tertawa.
"Baiklah, apa maumu," ucap Teshar kemudian. Pria itu menahan diri agar tidak sampai terpancing begitu saja dengan permainan Jeff; tidak akan.
"Temui aku di Branly Hill, dan bawa semua dokumen yang kau rebut dari keluarga Louise!" perintahnya tegas.
"Apa maksudmu dengan merebut dokumen?" tanya Teshar dengan suara dingin.
Sebisa mungkin Teshar tidak akan mengikuti apa yang orang itu perintahkan seperti orang bodoh, ia tidak mungkin sampai semudah itu dalam bernegosiasi.
Terdengar tawa Jeff lagi—menanggapi jawaban Teshar. Pria itu tertawa geli, saat menyadari Teshar tidak memiliki penawaran apapun yang bisa pria itu jadikan bahan negosiasi—kecuali dengan menuruti semua keinginannya.
"Apa kau yakin, tidak ingin bertemu dengan gadismu lagi?" tanya Jeff bermaksud mengancam.
Teshar masih diam membisu belum menjawab, otaknya kini sedang berpikir, lagi-lagi ia merasa sendirian dalam menghadapi ini, ia malah berharap orangtuanya belum mengetahui masalah rahasia ini atau dia akan terhimpit di dalamnya.
__ADS_1
"Haruskah aku menyerahkan dokumen itu? Ah, tidak. Ayah pasti akan membunuhku. Sama saja dengan aku bunuh diri," batinnya kesal.
Teshar membuang napas untuk menenangkan diri, ia harus mencari celah di antara keduanya, tapi apa? Ia memejamkan mata sejenak untuk berpikir.
"Baiklah, jam berapa dan kapan?" tukas Teshar menyetujui; tidak ada jalan lain.
"Aku hubungi kau nanti," jawab Jeff segera memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
Teshar menyandarkan punggung seraya meletakkan ponselnya di atas dashboard. Ia menelan salivanya berkali-kali hingga menyisakan rasa pahit pada pangkal lidah. Ia sampai lupa belum memasukkan apapun ke dalam perutnya. Sambil menarik napas panjang Teshar kembali menyetir mobilnya.
Pikirannya kembali ke masa lalu, masa ketika kebersamaan selama ini dengan gadis kecilnya itu, seorang gadis yang selalu berusaha bersikap manis terhadapnya, walau jelas sikapnya terhadap gadis itu sangat ketus dan terkesan mengabaikan keberadaannya, antara hidup dan mati.
"Kakak, kalau aku sudah dewasa nanti, apa aku boleh menengok ke luar?" tanyanya saat itu.
"Apa bedanya, saat keberadaanmu tidak ada artinya?" balas Teshar mampu membuat gadis itu memandang dengan sorot mata sayu, kesedihan mendalam.
"Kenapa begitu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Karena memang seperti itu?" jawab Teshar memberi senyuman masam dan kembali membaca bukunya.
Clara masih menatap Teshar dengan pandangan berkabut, ia beberapa kali harus menyeka kedua matanya agar air bening itu tidak sampai membasahi pipi. Batinnya sangat teriris saat mendapatkan jawaban yang sama dari pria itu selama bertahun-tahun.
"Kalau orang lain tidak menganggap keberadaanku ini penting, lalu bagaimana denganmu?" adu Clara mampu membuat Teshar tercengang dengan pertanyaan itu. Ia mengatur napasnya masih menatap buku yang kini masih dibacanya. Ia mengepalkan jemari tangannya belum menatap Clara yang masih betah berdiri di sampingnya.
"Apa aku tidak ada artinya apa-apa di matamu? Apa aku tidak layak Kak Teshar jadikan seorang teman?" tanyanya lagi semakin membuat Teshar memejamkan mata.
Sejak itulah, sejak lontaran pertanyaan itu pria itu menyadari arti dari keberadaan seorang Clara di dalam hidupnya. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk menolak perasaannya. Ia tidak boleh sampai memihak gadis itu, atau dia benar-benar terperangkap.
"Yang aku takutkan benar-benar terjadi, gadis itu menjadi kelemahanku," keluh
Teshar kembali kepada pikiran sadarnya.
__ADS_1
Lamunannya buyar setelah menyadari semua ini nyata.