Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Racun Sesungguhnya


__ADS_3

Kenan masih menatap sorot mata kesedihan yang terpancar dari gadis di hadapannya. Dalam hati timbul rasa iri terhadap kehidupan sang kakak yang selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan.


Sebuah kasih sayang yang besar dari orang tua, dari kakek yang bersedia menampung gadis itu untuknya dan juga dari ketulusan gadis itu sendiri yang tampak sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya.


“Shit! Aku tidak mungkin jatuh cinta. Tidak bisa begini. Kenan, kamu hanya penasaran saja dengan gadisnya Teshar. Kenan tidak menggunakan perasaan apa pun terhadap wanita,” batin Kenan mencoba untuk menguasai kewarasan.


Kenan melepaskan perlahan tangan Clara, memilih berdiri lalu segera meninggalkan Clara yang berdiri mematung. Menatap kepergiannya, yang kini sudah menghilang di balik mobil berwarna silver yang segera melesat meninggalkan rumah itu.


“Maaf, aku belum mampu menjawabnya. Aku belum tahu apakah akan membencinya atau tidak. Entah mengapa, rasanya tidak nyaman ketika kabar kakakmu saja aku belum tahu. Setelah apa yang ia lakukan untuk menyelamatkanku, mana mungkin aku membencinya? Aku tidak sejahat itu, Kenan,” gumam Clara sembari membalik badan berniat ingin kembali ke dalam kamar.


Clara tertegun sejenak ketika mendapati kakek Bima sedang berdiri ditemani tongkatnya di ambang pintu. Memasang sebuah senyuman bijak seraya melambaikan tangan ke arahnya.


“Apa kamu sedang sibuk? Bisa ikut aku,” pintanya masih dengan melambai tangan di udara.


“Baik, Tuan,” jawab Clara mengangguk lalu berjalan keluar kamar, mengikuti Bima dengan langkah yang canggung.


“Kenapa masih memanggil tuan? Panggil aku kakek. Kamu sudah dititipkan Teshar padaku, jadi anggap saja aku kakekmu juga, bagaimana?” tawarnya dengan nada bijaksana.


Clara segera mengangguk pelan tanpa suara.


“Apa kamu merindukannya?” tanya Bima tiba-tiba.


“Maksud, Kakek?” Suara Clara terdengar bingung.


“Apa kamu merindukan Teshar?” ulang pria tua itu lagi menegaskan perasaan gadis itu terhadap cucunya.


Clara terdiam tidak berani untuk menjawab. Ia sendiri cukup bingung dengan apa yang dirasakannya selama ini. Terdapat sebuah rasa yang terdefinisikan sebagai kebencian.


Rasa kesal, jengkel, khawatir, kemudian rasa syukur karena ternyata ia masih diberi kesempatan untuk hidup, setelah pria itu dengan berani menantang todongan senjata demi menyelamatkan dirinya.


“Saat kejadian malam itu Teshar dirawat di Rumah Sakit,” ungkap Bima.


“Rumah Sakit?” tanya Clara menghentikan langkahnya, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. “D-dia ….” Suara Clara tercekat di dalam tenggorokan.

__ADS_1


“Dia terkena sabetan pisau, tidak dalam hanya saja beracun. Jadi, dia perlu mendapatkan perawatan intensif untuk menawarkan racun itu, sebelum menyebar ke dalam organ vital tubuh yang bisa membuat nyawanya terancam.”


Langkah Bima juga terhenti saat menyadari Clara sudah tertinggal di belakang.


“Apa lukanya parah?” tanya Clara dengan wajah pucat. “Dia akan baik-baik saja, 'kan?” Rona kekhawatiran sangat tersirat jelas dari wajah gadis itu.


“Dia sudah baik-baik saja. Saat kecil nyawanya juga hampir tidak tertolong ketika dipatuk seekor ular berbisa. Dia pria yang kuat asal kamu tahu. Jadi, racun yang semalam itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan gigitan ular saat Teshar masih kecil. Dia sedikit kebal dengan beberapa jenis racun tertentu.”


Bima menerangkan sembari berjalan kembali mendekati Clara yang masih mematung di tempatnya.


Clara membuka mulut, hendak mengucap sebuah pertanyaan. Namun, ia menutup lagi bibirnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ia sendiri merasa bingung karena sebenarnya tidak cukup dekat Teshar hingga harus begitu menghawatirkan pria itu. Pria itu sangat menjaga jarak saat bersamanya—itu yang bisa Clara tangkap selama ini.


“Apa kamu merindukannya?” tanya Bima mengulang lagi pertanyaan itu, seketika membuyarkan lamunan Clara. Gadis itu mendadak bingung harus menjawab apa.


“Teshar akan marah kalau saya melakukannya, Kek,” jawab Clara tersenyum tipis.


“Oya? Mana mungkin?” Bima mengerutkan keningnya setelah mendapatkan jawaban lugu itu. Bibirnya mengukir senyuman.


“Bulat-bulat tanpa dikunyah terlebih dahulu?” imbuh Bima membuat Clara membalas dengan anggukan kepala disertai tawa kecil.


“Iya, Kek,” sahut Clara ikut mengulum senyum.


***


Kenan menghentikan laju mobil Range Rover Sport 3.0 HSE berwarna silver di parkiran. Ia berdiam diri sejenak untuk menurunkan luapan rasa sesak dari dalam hati. Ia merasa sangat tertekan dengan semua yang hadir di dalam kehidupannya.


Semua orang yang dia inginkan nyatanya berada di sisi seorang Teshar, tidak ada satu orang pun yang tulus memahaminya.


Khusus menyangkut Clara, dirinya tidak menyangka akan merasakan dentuman jantung yang sangat berbeda. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan saat bersama wanita mana pun.


“Bukan, ini salah. Kenan tidak pernah jatuh cinta!” serunya dengan perasaan geram.

__ADS_1


Setelah termenung beberapa menit akhirnya ia pun segera turun dari mobil. Menyusuri koridor rumah untuk melihat keadaan kakaknya. Walau Jemmy mengatakan bahwa keadaan Teshar baik-baik saja, tentu sebagai adik, ia juga merasa cemas.


Setelah melewati tangga dan bertemu dengan beberapa pengawal, akhirnya kini pria setinggi 185 centimeter itu sudah berdiri di depan pintu kamar Teshar. Ia menatap dari luar wajah sang kakak yang masih pucat melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Kakaknya sedang terbaring melamun menatap ke arah jendela kaca di sampingnya.


Dengan keberanian yang terkumpul, Kenan pun kemudian membuka pintu itu perlahan, suara langkah kaki dari benturan sepatu segera mengusik pendengaran Teshar hingga pria itu seketika menoleh ke arah kedatangannya.


“Kenan, kamu ke sini?” sapanya sambil berusaha bergerak bangkit dengan bertumpu pada siku.


Buru-buru Kenan menghampiri guna membantu Teshar bersandar pada tumpukan bantal. Mereka saling melempar senyuman canggung hingga akhirnya Kenan memilih untuk membuang muka, sebal dengan ketampanan kakaknya yang masih terpancar, walau sedang dalam keadaan sakit sekali pun.


“Apa aku harus sakit seperti ini dulu, baru kamu bersedia memberiku senyuman?” goda Teshar sembari memukul perut six pack adiknya.


Kenan segera mundur selangkah, secara impulsif mengusap pangkal hidungnya dengan jemari tangan. Jujur saja ia merasa canggung sendiri karena hal seperti ini tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.


Kenan kemudian beranjak dari tempatnya untuk mengambil kursi di pojokan dan membawanya mendekati ranjang Teshar. Ia pun duduk di sebelahnya.


“Apa Clara baik-baik saja?” tanya Teshar membuat Kenan mengalihkan pandangan ke arah Jemmy yang kini sedang tertidur di sofa.


Entah mengapa, seperti apa pun ia menahan, rasa sesak itu timbul menyeruak, menghilangkan sisi waras ketika berbicara mengenai gadis itu.


“Baik. Beberapa waktu lalu aku hendak mengajaknya menjenguk ke rumah sakit, tapi dia menolak,” jawabnya sanggup meredupkan sorot mata Teshar.


“Oh, aku baik-baik saja. Tim dokter juga sudah memperbolehkan aku bepergian jauh. Jadi, lebih baik jangan mengajaknya ke sini. Rasanya tidak nyaman saat keadaanku sedang tidak berdaya begini, gadis itu pasti akan sangat senang dan menertawakan aku,” sahut Teshar sembari memaksakan sebuah senyuman.


Meskipun begitu, Kenan tetap bisa melihat ada rona kekecewaan yang hadir di wajah kakaknya.


“Sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan keadaan Kakak. Dia tidur dengan nyenyak dan sarapan dengan lahap. Seolah tidak pernah ada masalah sama sekali yang sedang mendera,” pancing Kenan dengan senyuman palsu, ia kembali bisa melihat rasa tidak suka terpancar dari wajah kakaknya.


Kenan beberapa kali menghela napas. Rasanya sulit bila harus menceritakan kebenaran tentang betapa khawatirnya gadis itu terhadap kakaknya. Ia merasa bahwa Clara tidak boleh terlihat sebaik itu di mata kakaknya. Pikiran Kenan secara impulsif mencoba untuk memisahkan keduanya.


“Malah bagus, dia akan pulih dengan baik. Aku tahu saat ini ia sedang menyembuhkan luka juga traumanya."


Teshar segera mengambil minuman di meja samping seraya meneguk isinya hingga tandas. Apa yang diucapkan Kenan sangat menyesakkan hati, tapi ia memahami bahwa Clara memang sudah sepatutnya membalas perlakuannya dengan sikap seperti itu.

__ADS_1


“Jangan khawatir, fokus pulihkan dirimu. Aku akan menjaga Clara dengan baik. Setiap malam aku juga tidur sekamar dengannya, karena aku takut dia merasa kesepian.”


__ADS_2