
Teshar tidak menjawab sama sekali. Kepalan jemari tangannya hanya bisa ia sembunyikan di samping tubuh. Ia tahu bahwa Clara bukanlah wanita gampangan yang mudah jatuh pada pesona pria seperti Kenan. Dalam diam ia telan kuat-kuat emosi di dalam hati.
Pandangannya kini kembali ke arah jendela kaca samping, mencoba untuk memberi isyarat kepada Kenan untuk berhenti membicarakan Clara.
“Baiklah, aku pulang dulu. Nanti aku sampaikan salam darimu dan memintanya tidak memikirkan keadaanmu lagi.”
“Terima kasih.”
Teshar memutar wajah, memandang tubuh Kenan yang kini beranjak dari tempat duduk. Kedua jemari tangan pria itu terbenam ke dalam saku celana sembari menatap ke arahnya.
“Ayah dan ibu sepertinya akan menunda kepulangan mereka. Jadi, sementara ini kau jangan mencemaskan soal mereka. Dokumen itu akan kukembalikan lagi ke tempat asalnya tanpa ketahuan,” ucap Kenan membuat Teshar tidak nyaman, tapi sebisa mungkin ia pura-pura hanya mengangguk.
“Terima kasih.”
“Aku tahu kalau selama ini kau menyembungikan gadis itu dari kami. Tapi, aku masih penasaran apa alasanmu sudah melakukannya,” lontar Kenan seraya membalik badan dan berlalu dari hadapan Teshar.
Teshar tercenung sesaat, mencoba mencerna kembali ucapan adiknya. Ia sebenarnya cukup paham dengan apa yang tengah coba disampaikan Kenan. Ia paham bahwa saat ini Clara sama sekali tidak menghawatirkan keadaannya.
Ia akan memaklumi dan memahami perasaan Clara setelah kelakuannya begitu jahat—yang selama ini telah mengurung hidupnya tanpa memberi penjelasan.
“Apa adikmu datang ke sini hanya untuk menjatuhkan mentalmu?” sindir Jemmy kesal setelah mencuri dengar pembicaraan keduanya.
Teshar hanya kembali meluruskan punggung dan mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca. Menatap kosong langit luas yang terhampar berwana biru berlukis awan putih kelabu.
"Bosan juga bekerja dari rumah," ucap Teshar mencoba untuk mengakhiri pembicaraan tentang sang adik.
Ia sama sekali tidak mau membahas masalah Kenan dan Clara. Tubuhnya terasa masih letih setelah menahan diri, untuk tetap kuat berada di rumah.
“Andai saja kamu tidak melibatkan Kenan ke dalam masalah ini. Dia pasti tidak akan bisa bersuara sumbang, seolah yang menjadi pahlawan itu dirinya,” decak Jemmy kesal.
Pria itu berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Teshar. Memandang sejenak pria kusut yang terbaring malas itu dengan helaan napas berat.
“Dokumen itu hanya dia yang bisa mengambil dari kamar ayahku." Suara Teshar mulai menampakkan nada seolah tengah membela adiknya.
“Buktinya tanpa dokumen itu pun, kita masih bisa menyelamatkan Clara,” tukas Jemmy dengan wajah memerah memendam geram.
Teshar menghela napas seraya memandang wajah Jemmy yang kini sedang emosi. Ia paham bahwa seharusnya adiknya tidak mengatakan hal yang akan membuat dirinya semakin terpuruk.
Namun, setidaknya ia tidak akan berharap memiliki hubungan baik pada pertemuan selanjutnya dengan Clara. Ia akan membebaskan gadis itu untuk memilih, walau mungkin saja di antara mereka berdua bukan menjadi pilihan Clara nantinya.
__ADS_1
“Maafkan aku. Hanya saja sebagai keluarga, tidak seharusnya dia bersikap begitu kejam, apalagi kepadamu.”
Jemmy membalik badan dan meninggalkan Teshar yang masih mematung menatap langit-langit kamar.
“Clara, benarkah kamu tidak menghawatirkan aku? Apakah aku harus melepaskan kamu mulai saat ini?” desahnya dengan mata terpejam.
***
Tiga hari kemudian.
Teshar terbangun dari mimpi buruk. Hidupnya sedikit kacau, kedua orang tuanya malah belum kembali sampai sekarang. Dari pengawal setia, ia mendapatkan info bahwa Kenan hanya pulang sekali.
Ia berasumsi bahwa adiknya sedang mengembalikan berkas itu ke tempat semula, bahkan bodohnya lagi ia belum sempat membaca isinya.
“Kamu berteriak, kenapa?" Jemmy membuka kamarnya dengan wajah panik.
"Mimpi buruk," jawab Teshar selesai meneguk air putih yang diraihnya dari atas nakas.
“Apa selalu seperti ini? Sejak kapan?” tanya Jemmy merasa sering mendapati Teshar terjaga saat tertidur dalam keadaan gelisah.
Bungkam, pria itu memilih untuk tidak menjawab. Dia bergerak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi tanpa suara.
"Berhenti menghindar, Teshar!" decaknya kesal. Dengan penuh kekesalan Jemmy akhirnya menyusul langkah Teshar dengan menghalangi jalan.
"Aku tahu, kamu merasa ketakutan menghadapi Clara. Aku paham ketakutanmu, tapi bodoh saat kamu mencoba menghindari hanya karena kamu ternyata menyukainya. Te—"
"Ini yang terbaik, Jemmy." Teshar memotong ucapan sahabatnya itu.
"Bullshit! Karena Kenan mengatakan kalau gadis itu tidak mau menemuimu lagi? Terus kamu percaya … kenapa tidak mencoba untuk mencari tahu sendiri dengan datang sendiri ke sana untuk membuktikan?"
“Aku tidak bisa, Jemmy. Ini kesempatanku untuk melepaskannya. Memberinya kebebasan, karena … tanganku terlalu kotor untuk menyentuhnya. Kamu pasti paham?” Teshar mengucap dengan wajah muram, sudut matanya terdapat kesedihan saat mengucap kata itu.
"Dia menunggumu setiap hari, Teshar. Kenan hanya bicara omong kosong!"
"Tidak boleh lagi ada harapan semu. Dua belas tahun lamanya kami tersiksa bersama, Jemmy. Aku tidak boleh egois."
"Jujurlah, Teshar. Kini gadis itu sudah berusia dua puluh dua tahun. Tidak ada lagi alasan kotor untuk mencintainya dengan cara yang layak," tandas Jemmy seraya meraih pundak sahabatnya untuk memberi tahu betapa ia memberikan dukungan untuk menyelesaikan semuanya.
"Bukan soal kotor, Jem. Tapi, ini menyangkut masa lalu kami. Aku yang membuat ayah, ibu, dan saudaranya meregang nyawa, mengurungnya selama dua belas tahun. Selayak apa aku ini sebagai manusia? Hem?" Teshar membalik badannya, menghindari tatapan Jemmy yang kini berubah keruh.
__ADS_1
Benar, apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Menghindari Clara bukanlah tindakan yang adil, setelah seolah berbuat sesuatu selayaknya malaikat penolong, tak ubahnya ia hanya penipu.
"Asal tidak ada yang membocorkan masalah ini, semua akan baik-baik saja, Kawan."
“Kalau suatu saat Clara tahu kenyataan ini bagaimana? Aku bisa gila berkali-kali, Jem. Aku tidak mampu. Cukup mimpi-mimpi buruk saja, aku tidak sanggup saat melihat mata indahnya memandangku dengan tatapan kebencian seperti apa yang kuperoleh selama ini,” jawabnya sambil meremas rambutnya dengan mata terpejam.
“Terima hukumanmu, mungkin dengan itu kamu bisa terbebas dari rasa bersalah yang membelenggu setiap malammu. Jaga dia dari orang tuamu, seperti yang kakek Bima lakukan untuknya. Untuk menebus kesalahannya karena mengabaikan kebengisan orang tuamu terhadap anak tidak berdosa,” ujar Jemmy membuat Teshar terhenyak.
Mereka kini beradu tatap dengan sama-sama tidak mau saling mengalah menurunkan pandangan. Jemmy berkeras hati, ucapannya benar. Satu-satunya cara menebus dosanya hanya dengan menemui Clara, menerima semua perlakuan gadis itu tanpa membantah. Mungkin dengan begitu Teshar bisa memaafkan dirinya.
“Aku mencintainya, merasa selama ini dengan mengurungnya adalah sesuatu yang layak, tetapi kenyataan bahwa aku salah sasaran, harusnya bukan kedua orang tua Clara yang menjadi sasaran pembalasan membuatku seolah tertampar, Jem. Aku kalah telak, dengan semua takdir yang coba kuciptakan. Aku merasa hina."
Teshar menunduk dalam, langkahnya gontai menuju ke tempat tidur dan duduk di sana sembari mengusap wajah.
"Tebus semua dosamu dengan membahagiakan Clara. Buat dia merasa aman berada di sisimu. Saat gadis itu mengetahui fakta bahwa kamu punya andil dalam kematian keluarganya, maka terima konsekuensinya, terima bahkan saat ternyata Clara akan mengacungkan pistol di bagian keningmu. Itu yang harus kamu lakukan, Teshar. Jangan menghindari hukumanmu!" Suara Jemmy meninggi saat kalimat terakhir terucap.
Teshar mencerna setiap kalimat dari Jemmy dengan baik. Ia tidak lagi menjawab. Namun, ia paham apa yang dikatakannya Jemmy lebih kepada tanggung jawab. Ia harus menebus semuanya, bukan lepas tangan.
“Apa yang harus kulakukan?” Pertanyaan Teshar kemudian sukses membuat Jemmy memandang lega sahabatnya. Merasa senang saat tugas dari kakek Bima berhasil dilaksanakan dengan baik.
“Kita ke rumah kakek Bima. Temui Clara secepatnya. Jangan menunda waktu sebelum orang tuamu pulang. Karena menyadarkan persepsi orang tuamu bukanlah perkara mudah. Bukankah begitu?” Jemmy bergerak duduk di samping Teshar.
Walaupun kembali diam, tetapi Jemmy yakin Teshar pasti memutuskan akan mengikuti sarannya. Toh, ia menyadari bahwa tidak akan semudah itu Teshar melupakan perasaan yang dia berikan kepada gadis malang itu.
“Baiklah, aku akan bersiap. Kita ke kediaman kakek hari ini. Siapkan perlengkapanku,” ucapnya sembari bangkit, meninggalkan Jemmy yang duduk di kasur dengan wajah cerah terukir senyuman tipis.
“Okey, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan sarapan!” teriak pria itu suka cita saat Teshar kini sudah memasuki kamar mandi.
Sore harinya, rombongan Teshar terdiri dari Jemmy, dua pengawal sudah bergerak menuju ke kediaman Bima. Teshar menertawai dirinya saat ini, kelemahannya sangat jelas terlihat.
Ia merasa sangat bingung bagaimana saat bertemu dengan Clara nanti? Apa ia harus bersikap ketus, dingin, seperti biasanya? Ataukah untuk menebus dosanya, ia bersikap baik dan ramah?
Sepanjang perjalanan pria itu merenung.
Arogansinya terhadap Clara? Selama lebih dari dua belas tahun ia bersikap sangat buruk. Ah, andai tahu bahwa gadis itu tidak salah apa-apa, benarkah ia tidak akan sejahat itu?
Apa aku memang orang jahat? Sebuah pertanyaan yang tidak mampu ia jawab sebelum bertemu lagi dengan gadis itu dalam suasana berbeda.
“Dia sangat khawatir saat tahu kamu cedera, jadi jangan berpikiran kalau Clara akan bersikap sinis saat bertemu denganmu nanti,” bisik Jemmy membuatnya menelan ludah.
__ADS_1
Jemmy menertawai sikap Teshar yang dengan mudahnya ditebak. Tidak menyangka, sikap diam menahan gelisah itu ternyata sedang memikirkan adegan pertemuannya.
"Cih! Santai, Men. Seperti anak muda yang sedang jatuh cinta saja. Ingat, usiamu sudah hampir setengah abad," ledek Jemmy sukses membuat pria itu membuang muka karena malu.