Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Mengambil Alih Tanggung jawab


__ADS_3

Hari esok sudah bergulir begitu cepat. Jejak embun di jendela menetes menyisakan bercak buram beberapa sisi kaca. Sorot mentari terlihat mengintip akibat terhalang dinding dari beberapa bangunan gedung yang tingginya seolah berlomba menggapai langit—terdapat di samping sisi kiri dan kanan Apartemen tempat tinggal Clara.


Teshar mengetuk pelan, mencoba menarik kenop pintu kamar yang di tempati gadis kecilnya. Ia menggeleng samar saat menyadari bahwa pintunya tidak dikunci. Gadis itu kembali ceroboh, tidak melakukan perintahnya. Sambil membuka pelan ia melongok ke dalam ruangan. Terlihat Clara masih tertidur pulas dengan posisi miring memeluk bantal. Wajah polos itu kembali membuat Teshar tersenyum.


“Aku akan kembali lagi nanti malam, jangan nakal dan berani keluar dari rumah lagi." Teshar berkata pelan.


Teshar tahu kalau saat ini gadis itu masih tertidur pulas. Tidak mungkin juga mendengar ucapannya, tapi ia tetap melakukannya dan segera menutup pintu kembali. Ia ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan keluarganya. Pembicaraan dengan kakek Bima benar-benar menggangu pikiran. Ia ingin segera pulang dan mengecek semuanya.


Pria yang selalu bisa menampilkan raut wajah ketenangan itu segera melajukan kendaraannya dan meninggalkan area apartemen. Sambil menatap gedung tinggi dari kaca spion, pikirannya kembali pada Clara dan berharap gadis itu tidak melawan perintahnya dengan mencoba diam-diam menyelinap keluar dari apartemen.


Teshar menatap layar ponsel yang berkedip terpasang pada dashboard. Pengawal kepercayaan terlihat kini menghubunginya, Teshar segera menepikan mobil lalu mengangkat panggilan penting itu.


”Ada apa?" tanya Teshar sedikit tidak sabar.


“Tuan Bima berkunjung dan menginap di rumah orang tua Anda semalam," lapor pengawalnya.


”Aku mengerti," jawab Teshar sedikit gelisah.


“Haruskah saya mengirim anak buah untuk menjaga nona?" tanya pengawal terpercaya itu membuat Teshar berpikir sejenak. Ia terdiam belum bisa memutuskan.


”Tidak perlu. Aku perjalanan pulang. Tunggu perintahku setelah sampai di rumah," jelas Teshar sambil menutup sambungan telepon.


Ia kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan lebih, agar segera sampai di rumah. Ia tidak menyangka gangguan terhadap Clara justru berasal dari keluarganya sendiri. Ia berharap kakeknya tidak merusak apa yang sudah ia atur dan mengacaukan semuanya.


“Sial!” umpat Teshar kesal.


Saat selama ini hidupnya hanya untuk keluarga, kini ia kembali repot juga karena keluarga lagi. Lama-lama ia bosan sendiri dan menjadi muak.


Mobilnya segera diambil alih oleh pengawalnya ketika sudah sampai di halaman rumah.


Ia segera berlari kecil begitu turun dari mobil dan bergegas menuju kediaman orang tuanya. Masih satu area kompleks, hanya berbeda bangunan saja, lebih seperti sebuah paviliun. Teshar merasa lebih cemas dari biasanya.


“Jadi, sampai kapan kamu akan berhenti menjadi anak bengal?" Kakek Bima menepuk pundak Kenan dengan kesal dan memberi penekanan keras. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya terkekeh.

__ADS_1


Kenan tidak menggubris omelan kakeknya mengenai jalan hidup bebas yang ia jalani. Ia menyukai kebebasan, hidup tenang tanpa ikatan apa-apa dengan semua wanita. Tentu saja bisa sepuasnya bermain dan menghabiskan jatah uang dari orang tuanya setiap bulan adalah hal yang wajib ia lakukan. Ia merasa bangga dengan kehidupan seperti itu. Toh, selama ini tidak ada yang peduli.


”Sampai usiaku seperti Kakek dan tidak kuat lagi menyentuh wanita," jawabnya sambil terkekeh.


“Bocah berandalan!”


Bima segera mengambil tongkat dan mengayunkan cepat ke arah betis Kenan. Pria bersifat humoris itu pun segera mengangkat kakinya ke atas dan menaruhnya di kursi agar tidak terkena sabetan benda tumpul itu.


“Astaga, Kek. Kekerasan ini namanya," ledeknya menggoda sang kakek. Bima mendengkus sambil kembali duduk di samping pria muda yang kini malah tertawa riang sambil menurunkan kakinya kembali.


Bima hanya bisa menggeleng kesal memandang perilaku cucunya yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya itu.


Teshar termangu di depan pintu. Ia merasa cinta kakeknya dari dulu hingga sekarang tetap saja condong ke arah Kenan. Cinta untuknya hanya beberapa persen, tidak sebanding dengan banyaknya cinta yang diberikan kakek untuk adiknya. Ia hanya diam memandang dengan perasaan sukar dijelaskan.


”Teshar, cepat kemarilah! Kenapa hanya berdiri di sana?" tegur Bima begitu menyadari kedatangan Teshar.


Teshar segera berjalan mendekat dan mengambil duduk berseberangan dengan mereka berdua. Sungguh pemandangan yang jujur saja cukup memuakkan. Ia merasa harus bekerja keras untuk bisa menancapkan eksistensinya di rumah ini.


Semua itu ia lakukan semata-mata agar bisa mendapatkan pengakuan kakek dan orang tuanya, tapi apa yang tersaji di hadapannya membuat dadanya sesak. Kenan anak bengal itu mendapatkan cinta dari kakek, tokoh yang sangat ia idolakan seumur hidupnya bahkan tanpa melakukan apa-apa.


Teshar menampilkan sisi wajah tenang dan tersenyum tipis. Sambil mengambil garpu dan pisau ia menghela napasnya dan beralih menatap adik satu-satunya itu.


”Bagaimana denganmu? Bukankah setiap malam kamu sendiri tidur seperti anak liar di jalanan?" balas Teshar sinis membuat Kenan tertawa.


Kenan segera mengambil piring dan mulai menikmati sarapan. Ia begitu tertohok dengan ucapan kakaknya, seorang pria dewasa tujuh tahun lebih tua darinya tersebut. Seorang pria yang mampu hidup tertib, tekun, dan dinamis. Juga tentu saja mendapatkan luapan kasih sayang dari kakek dan kedua orang tuanya karena selalu membuat bangga keluarga. Dalam hati ia menjadi muak saat melihatnya.


“Kalian berdua bersaudara, kenapa saling memberi ujaran kebencian?" tegur Bima menengahi.


”Karena dia bersikap sok suci, Kek," desis Kenan sambil memakan menu sarapannya.


“Lalu, kamu sendiri? Bertingkah kotor, seolah itu menjadi kebanggaanmu!" balas Teshar merasa kesal sendiri.


”Hentikan! Ini meja makan, kalau kalian memberi aroma permusuhan di sini, akan kakek jadikan tempat ini arena tinju!" tegas Bima melerai kedua cucunya itu.

__ADS_1


Ia memahami, letak kesalahan terbesar berasal dari putranya Bisma dan Muria. Kedua orang tua dari Teshar dan Kenan. Kesibukan pekerjaan dan tuntutan yang diberikan kepada anak-anaknya ternyata merusak tingkah laku dan sifat putra-putranya. Bima menjadi kesal sendiri.


Ketegangan yang terjadi segera berakhir saat Bisma dan Muria sudah hadir di meja makan. Kedatangan mereka berdua sempat membuat Teshar dan Kenan menghentikan sarapan, tapi segera mereka lanjutkan setelah memberi sapaan pagi seperti biasanya.


“Ayah, semoga betah tinggal beberapa hari di sini," sapa Muria berbasa-basi terhadap ayah mertuanya.


Bima menampilkan senyuman bijak. Ia tidak pernah dekat dan mengenal menantunya dengan baik, tapi ia merasa sikapnya mampu mengubah anaknya menjadi sosok pria yang sukses dalam berbisnis. Sayang sekali nilainya buruk dalam hal mengasuh dan mendidik anak-anaknya.


”Hari ini aku akan pulang. Aku juga akan mengambil alih tanggung jawab pengasuhan Teshar dan Kenan," ucapnya dengan suara serius.


Semua yang ada di meja makan menatap Bima, tapi pria itu masih saja tenang dan membalas menatap Bisma dan Muria bergantian.


“Apa maksud Ayah dengan mengambil alih pengasuhan?" tanya Bisma tidak mengerti. Pria itu menampilkan tawa tanpa suara. "Mereka sudah dewasa, Ayah. Jangan bercanda."


Kenan dan Teshar hanya bisa diam menyimak, tidak berminat ikut ke dalam percakapan.


”Aku tidak mau cucuku rusak di bawah pengasuhan kalian. Cara kalian mendapatkan kesuksesan dengan menjatuhkan perusahaan pesaing sangat Ayah sayangkan," tegas Bima meletakkan sendoknya dan menatap tajam putranya.


Bisma juga meletakkan serbet yang sedianya akan ia gunakan. Pembicaraan pagi ini dengan ayahnya sangat mengusik pikirannya. Selera makannya lenyap seketika.


“Itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah di dalam dunia bisnis, Ayah. Apalagi kami tidak hanya berbisnis di dunia properti saja. Ketika kita juga memasuki bisnis di dunia gelap, tentu saja hukum rimba berjalan. Siapa yang kuat akan menang dan berjaya masih sangat berlaku di dalamnya," kelit Bisma beralasan.


Bima hanya bisa menggeleng kesal sendiri. Keluarga dari Muria sangat berpengaruh dengan cara berbisnis anaknya. Ia tidak mau kalau sampai kedua cucunya melakukan hal yang serupa seperti kedua orang tuanya.


”Terserah kalian saja, aku sudah terlalu tua untuk mengurusi hal seperti itu," sahut Bima kemudian. Ia memilih mengalah daripada berdebat dengan anak semata wayangnya itu.


“Teshar, Kenan, mulai besok tinggallah bersama kakek. Kakek tidak tahu sampai kapan hidupku ini masih berlanjut," ucapnya membuat Teshar menoleh dengan embusan napas.


”Kakek, jangan bicara seperti itu!" protes Teshar tidak mau kakeknya membicarakan mengenai kematian. Ia sangat terpukul kalau memikirkan bahwa pria idolanya itu sampai pergi meninggalkannya.


“Bukankah semua orang akan mati? Bukan cuma yang sudah tua saja, yang masih muda seperti Kenan bisa saja mati muda kalau tidak hati-hati dalam bertindak," sindirnya kepada cucu dan anaknya sendiri, Bisma.


Kedua pria, anak dan ayah itu hanya terdiam tidak membalas lontaran Bima. Mereka segera melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.

__ADS_1


Teshar menjadi sangat bingung. Apa yang akan kakeknya perbuat dengan semua ini. Clara, gadis kecilnya. Benarkah aman saat bersama pria tua berusia delapan puluh tahunan itu?


Teshar sempat beradu pandang dengan ayahnya, sorot mata yang Teshar tangkap sebagai sebuah kekecewaan juga kemarahan. Teshar yakin bahwa apa yang kakek bicarakan mengenai ayahnya benar adanya.


__ADS_2