
Rafka memandang ke sekeliling meja, tampak semua pengunjung yang berada di perpustakaan umum itu sedang konsentrasi membaca. Ia merasa tidak nyaman terus berbicara berbisik dan berinisiatif untuk mengajak Clara jalan-jalan keluar dari perpustakaan agar lebih leluasa berbincang.
”Bagaimana kalau kita keluar dan membeli makanan?" ajak Rafka mencondongkan tubuh dan wajahnya ke depan. Mereka saat ini duduk berseberangan terhalang sebuah meja.
Clara menegakkan tubuhnya seraya menatap Rafka yang kini tengah memandang dengan wajah penuh harap. Kening Clara terlihat berkerut memikirkan ajakan untuk keluar dari tempat itu dari pria di hadapannya. Dalam hati ia merasa tertarik, tapi melanggar titah seorang Teshar membuatnya harus berpikir panjang.
“Kamu belum pulang ke rumah, ya? Kenapa pakaianmu masih sama dengan yang kita beli kemarin?" tebak Rafka memandang penampilan Clara.
Clara mengamati dirinya dengan perasaan malu, dengan mengangguk pelan ia mengerucutkan bibirnya. Rafka menahan tawa sambil menunduk kepala agar tidak dilihat Clara.
”Ceritakan apa masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu," tawarnya dengan suara masih pelan.
“Benarkah?" bisik Clara dengan mata berbinar.
”Kita keluar sebentar. Kita akan diusir kalau mengobrol di dalam ruangan ini dan membuat kegaduhan," imbuh Rafka mencoba membujuk. Clara segera mengangguk setuju dan membereskan bukunya.
Clara menunggu Rafka mengembalikan semua buku ke dalam rak. Sesekali ia menatap bagian luar gedung dengan perasaan cemas. Ia merasa takut juga kalau Teshar sampai melihatnya diam-diam pergi dari tempat yang sudah pria itu tentukan.
“Kita cari makan di resto sebelah itu, ya?" ajak Rafka sudah berdiri di samping Clara sambil menunjuk ke sebuah restoran yang bersebelahan dengan gedung perpustakaan nasional itu. Clara hanya mengangguk setuju dan berjalan beriringan ke arah yang ditunjuk Rafka.
”Kakak hafal daerah sini?" tanya Clara menggali informasi. Ingin sekali ia mendengar kabar tentang neneknya atau sekadar keluarganya.
“Cukup hafal, aku juga kenal beberapa penduduk yang tinggal di pinggiran kota ini, karena rata-rata mereka datang membeli roti dan kue ke tokoku," jelas Rafka masih berjalan mengiringi langkah Clara yang pelan.
”Paa Kak Rafka kenal dengan keluarga Kak Teshar?" tanya Clara mulai menanyakan hal yang mengusik pikirannya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
“Apa yang kamu maksud Teshar Indira?" tanya Rafka sedikit terkejut.
"Iya," jawab Clara mengangguk.
"Kamu mengenalnya juga? Ahh, iya. Siapa yang tidak kenal nama besar putra dari Tuan Bisma Indira," ungkap Rafka mulai berjalan lebih cepat dan membukakan pintu kaca resto, mempersilakan Clara masuk terlebih dulu.
Clara menghentikan langkahnya dengan kepala menunduk, banyak pikiran mulai terlintas di benaknya. Sepertinya dengan mengenal Rafka, bisa menjadi jalan agar dirinya bisa mengenal atau mengetahui siapa sebenarnya Teshar Indira, pria misterius yang setelah memikirkannya setiap hari dan cukup lama pria itu sudah seperti seorang penjahat yang aneh. Clara menyimpulkan sendiri kalau dirinya bisa saja sudah menjadi korban penculikan pria itu walau nyatanya masih diperlakukan dengan baik selama ini.
”Kenapa berhenti?" tanya Rafka ikut berhenti di tengah pintu Resto.
Clara terhenyak memandang. Dari tadi berjalan sambil melamun, sampai tidak sadar kalau saat ini ia berhenti di tengah jalan. Tanpa menjawab, Clara hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya.
Rafka sangat bersemangat saat mengikuti langkah Clara dalam memilih tempat. Gadis itu kembali menampakkan kesan asing saat melihat suasana resto—termasuk ke dalam jajaran tempat yang populer di kota itu.
“Duduk di sana saja, ya?" tawar Clara menoleh dan mendongak ke arah Rafka yang memiliki postur tubuh yang tinggi.
Clara bergerak lebih cepat saat melewati deretan meja kursi dan memilih mengambil duduk di meja paling dekat dengan taman kolam kecil ikan yang ada di pojokkan --masih berada di dalam area resto. Rafka tersenyum, melihat wajah cerah itu saat memandang ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya.
“Rumah kamu di mana?" tanya Rafka terbesit niatan untuk mengenal gadis itu lebih jauh.
Clara menoleh sambil berpikir. Dia sendiri lupa-lupa ingat dengan rumah yang dulu ia tinggali, sebelum dibawa Teshar.
Rafka menunggu jawaban Clara sambil melambai tangan ke arah pelayan resto. Clara mengembuskan napasnya, ia merasa bingung bagaimana caranya untuk meminta tolong agar bisa diantar pria itu ke rumahnya. Akan tetapi, perasaan takutnya terhadap sikap Teshar kalau sampai ketahuan mengurungkan niatnya untuk lari lagi.
“Kamu mau makan apa?" tanya Rafka memberikan buku menu. Clara ikut menerima buku itu dengan perasaan canggung.
__ADS_1
Sudah lama rasanya ia tidak makan di restoran seperti ini. Ia malah lupa sendiri kapan terakhir kali makan piza atau sandwich buatan neneknya.
”Kakak tahu, emm … mengenai keluarga dari Roy Louise dan Kelly?" tanya Clara menampakkan wajah serius.
Rafka memandang Clara dengan ekspresi kembali terkejut. Bahkan terlihat pria itu meletakkan ponsel yang dipegangnya secara tidak sadar. Clara menatap kebingungan sikap Rafka yang mendadak berubah.
“Kak Rafka, bisa kasih tahu di mana aku bisa bertemu dengan mereka?" tanya Clara kembali menyadarkan lamunan Rafka.
Pria itu mengembus napas seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah gusar. Sungguh mengingat keluarga itu sangat menakutkan baginya. Sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, Rafka mencoba menata pikirannya untuk menjawab.
”Kenapa kamu membicarakan tentang keluarga itu? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Rafka menyelidik niatan gadis di hadapannya itu.
Clara merasa bingung sendiri dalam menjawab. Ia merasa asing saat akan mengatakan bahwa kedua nama yang ia sebutkan tadi adalah orang tuanya sendiri. Ia belum mengenal pria asing itu, juga belum mengenal dengan baik keluarganya sendiri. Ia merasa ragu mengungkapkannya. Clara terus mengingat ucapan Teshar kalau keberadaannya di luar sangat berbahaya.
“Kenapa kamu menanyakan keluarga Louise, Clara? Kamu kenal dengan keluarga itu?" tanya Rafka balik seperti mencecar pertanyaan.
Clara menggeleng entah karena apa, sepertinya apa yang ia rasakan selama masih kecil dulu sangat mengganggu pikirannya. Ia tidak pernah bertemu dengan keluarga Louise sebelumnya. Kesempatan bertemu di hari itu malah mengantarkannya kepada sosok Teshar yang malah membawanya pergi tiba-tiba sebelum harapannya bisa terwujud.
”Kenapa kamu malah berada di sini?" tegur seorang pria dari arah belakang, Clara dan Rafka spontan menoleh berbarengan ke arah sumber suara. “Kau bilang akan ke Perpustakaan?”
Seketika Clara berdiri dari kursinya, Teshar sudah berdiri tegap memandangnya dengan tatapan tegas. Selalu seperti itu selama bertahun-tahun saat moodnya tidak dalam kondisi bagus.
Rafka juga refleks ikut berdiri. Ia tidak menyangka seorang Teshar yang hanya bisa dia lihat di televisi juga melalui media massa kini sudah berdiri tepat berhadapan dengannya.
“Kak Teshar, aku sedang … sedang mau makan," sahut Clara gugup.
__ADS_1
Teshar belum beranjak dari tempatnya.
Rafka memandangnya dengan tatapan bingung dalam bersikap. Apalagi saat melihat pria itu mengambil alih jemari Clara dan menarik gadis itu pergi dari sana. Rafka hanya bisa mengepalkan jemari tangannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia merasa penasaran dengan gadis bernama Clara, kenapa bisa mengenal sosok pria yang terkenal dingin dan angkuh seperti Teshar.