Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Benci Bayanganmu


__ADS_3

"Kamu benar-benar kabur dari rumah?“ Pria itu memandang dengan tatapan serius.


Clara menatap dengan wajah terkejut ke arah pria berusia dua puluhan itu. Bagaimana mungkin pria itu bisa tahu kalau dirinya saat ini sedang kabur dari rumah. Dengan sikap defensif ia segera mengedarkan pandangan siaga ke arah sekeliling, yang membuat pria muda itu mau tak mau tersenyum melihat tingkah Clara yang aneh sekaligus lucu.


"Cepat pulang! Orang tuamu pasti sedang bingung mencarimu," ucap pria itu sambil melipat kain lap kemudian berjalan meninggalkan Clara menuju ke dalam toko.


“Orang tua? Iya memang … aku sangat merindukan mereka,” gumam Clara dalam hati dengan perasaan sedih.


Clara segera bangkit dari kursi lalu mengikuti langkah pria itu memasuki toko. Pria itu berjalan sambil menoleh ke arah Clara yang sibuk mengamati etalase tokonya dengan wajah kagum seperti anak kecil. Pria itu sampai terheran memandangnya.


“Tokoku belum buka, masih setengah jam lagi.” Pria itu meletakkan lap dan alat spray pembersih kaca ke tempatnya kemudian berjalan lagi ke arah pantry untuk mencuci tangan.


Clara menatap punggung pria itu dengan wajah heran. Kenapa juga pria itu memberitahunya, padahal jelas dia tadi tidak bertanya apa pun. Apa pria itu seorang manusia sihir yang bisa membaca pikiran orang? Clara membatin takjub.


Clara segera mengabaikannya, memilih berjalan mengitari jajaran kue yang tertata rapi di etalase dan rak-rak. Aromanya yang nikmat membuat perutnya bergejolak minta untuk diisi.


"Kamu tidak pulang?" tanya pria itu mendekat dengan membawa nampan berisi roti yang masih hangat ke arahnya.


“Iya, nanti,” jawab Clara singkat.


Clara segera menegakkan tubuh, berdiri tegap saat pria itu meletakkan nampan pada permukaan rak. Dengan gerak tangan cepat pria itu segera menepis tangan Clara yang hendak mengambil kue itu dengan jemari tangannya.


”Astaga! Pelit sekali," gerutu Clara melirik sinis. Bibirnya mengerucut, mengembus napas sambil kembali memandang sengit pria yang malah menanggapi kekesalannya dengan senyuman.


“Cuci dulu wajah dan tanganmu. Pergilah ke belakang, di sana ada kamar mandi, nanti aku berikan roti lain untuk sarapan.” ucapan lembut pria itu membuat Clara merasa malu sendiri.


”Sungguh, aku boleh makan roti di sini?” tanya Clara dengan sorot mata berbinar. Senyumannya terpancar cerah.


“Tentu saja," jawab pria itu mengangguk, mengulum senyum.


”Tidak bayar, 'kan?" tanya Clara mengukir senyuman, ia kembali menghadap pria itu sembari mundur selangkah hendak pergi.


“Gratis," jawab pria itu masih tersenyum. "Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!" tambah pria itu menggoda Clara.

__ADS_1


“Baiklah. Tunggu, aku akan cepat kembali,” jawab Clara dengan hati sangat senang.


Sambil melipat bibir menahan malu, Clara mengangguk senang. Ia berjalan sembari mengangkat gaun panjang yang dikenakannya agar memudahkan dirinya melangkah. Pria itu memandang punggung Clara sambil menata kembali roti-roti di hadapannya.


”Gadis yang aneh," gumam pria itu pelan. “Sangat lucu.” Sambil menggeleng samar, pria itu mengomentari kelakuan Clara yang kelewat manis.


Pria itu pun segera menyusun kue ke dalam wadah dan dipajang di rak etalase. Memilihkan beberapa kue untuk diberikan kepada Clara. Membayangkan bagaimana antusias gadis itu, jujur saja malah mengingat kembali dirinya pada sosok gadis kecilnya di masa lalu.


 


*


Clara menyantap kue ke dua yang disajikan pria baik hati itu dengan perasaan sangat bahagia. Tanpa memandang ke arah lain ia menikmati sendiri makanannya. Sudah terlalu lama ia tidak lagi merasakan makanan favoritnya ini. Kue basah yang masih hangat.


“Baru kali ini aku makan roti empuk dengan rasa sangat enak sampai melumer di lidah," pujinya menatap roti berisi daging dan keju mozarella itu dengan mata berbinar.


Ingatannya kembali pada rumah yang mengurungnya beberapa tahun ini. Ia sendiri sampai lupa tidak menghitung sudah sejak kapan tinggal di sana. Ia terus saja menikmati hari-hari hanya dengan menatap keadaan luar rumah melalui jendela kaca yang terdapat di kamarnya. Menikmati kesepian dengan duduk membaca buku sampai lelah dan tertidur.


”Sudah selesai belum?" tanya pria asing itu datang menghampiri Clara.


“Ah … sebentar lagi, Kak," jawab Clara mengusap bibir dengan lengan gaun panjangnya.


”Kamu jorok juga, ya? Pakai saja tisu yang berada di mejamu itu. Kenapa harus memakai baju?" komentar pria itu sambil duduk di kursi, berhadapan dengan Clara.


Clara segera tersenyum malu, tangannya bergerak canggung saat mengambil tisu untuk mengelap bibirnya yang belepotan. Pria itu hanya bisa tersenyum geli sendiri.


“Nama kamu siapa? Aku Rafka. Kamu sepertinya bukan berasal dari lingkungan sini. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," ucapnya sambil menyerahkan satu botol minuman dan menyodorkan tepat di hadapan Clara.


“Aku Clara,” jawab Clara singkat sambil melipat bibirnya sebelum membuka botol lalu meneguk airnya perlahan.


“Rumahmu di mana? Biar aku antar kamu pulang?” tawar pria itu masih memandang Clara yang kembali memakan rotinya dengan wajah menunduk ke arah piring.


“Jauh, sangat jauh. Biar aku pulang sendiri saja. Tidak perlu merepotkanmu, Kak Rafka,” jawab Clara beralasan.

__ADS_1


Gadis itu menunduk, ia bahkan tidak tahu ke mana arah tujuannya setelah ini. Mau ke mana dan mau apa. Nyatanya hidup bebas tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Meskipun begitu, Clara tidak mau memercayai begitu saja orang asing.


“Apa kamu sedang ada masalah dengan keluargamu? Semua orang punya masalah. Hanya saja, dengan kabur kamu malah hanya akan menambah daftar masalah baru,” nasihat Rafka sambil meminum air dari botolnya sendiri sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah lain.


Mereka berdua saat ini sedang duduk di bagian rooftop, toko roti milik Rafka.


“Iya, aku tahu. Tapi, masalahku tidak sesederhana itu untuk dijelaskan. Aku harus kabur agar bisa tahu, seperti apa diriku ini sebenarnya. Aku ingin bernapas dengan bebas.”


“Harus dengan kabur, ya?" tanya Rafka merasa apa yang dilakukan Clara menyiratkan sesuatu. ”Tidak ada cara lain yang lebih seru dan menantang?“ Pria itu menyunggingkan senyuman jenaka.


”Iya, harus. Agar aku bisa merasakan indahnya menghirup udara bebas," jawab Clara tersenyum.


Rafka hanya menanggapi cerita Clara yang terlihat polos dengan menganggukkan kepala, mencoba untuk mengorek lebih jauh urusan pribadi orang lain.


Clara meletakkan botol minuman di tangannya, membalas tatapan pria itu dengan rasa penasaran. Hanya bisa menghela napas, memendam untuk dirinya sendiri tanpa mampu mengungkapkan masalah yang sedang ia hadapi. Pria itu bagi Clara masih orang asing yang harus diwaspadai.


“Apa kamu kabur saat keluargamu sedang menyelenggarakan pesta perjodohanmu?” kelakar Rafka sambil tertawa. Clara mengernyit heran menanggapi gurauan aneh itu.


“Perjodohan?” ulang gadis itu mempertanyakan.


Kata perjodohan yang belum ia pahami sepenuhnya. Jodoh sebagai seorang suami? Atau makna lain? Clara hanya terdiam memandang tanpa ikut tertawa ataupun bereaksi apa-apa.


“Kukira kamu kabur saat pesta pernikahanmu hampir berlangsung,” gurau Rafka lagi tidak mampu menyembunyikan tawa gelinya.


Clara merengut saat menyadari bahwa pria bernama Rafka itu sedang mengomentari pakaian yang saat ini sedang ia kenakan. Gaun pesta seperti putri, pakaian yang selalu diberikan Teshar untuknya.


“Huh, andai kak Teshar tahu, betapa aku sangat membencinya,” sungutnya dalam hati.


Clara mengingat pria menyebalkan itu lagi. Pada kesempatan ini, dia sangat ingin bertemu dengan keluarga dan mengabarkan bahwa dirinya masih hidup. Dia ingin melaporkan Teshar pada pihak berwajib kalau bisa.


“Apa selama ini keluargaku frustrasi saat mencari keberadaanku dan putus harapan lalu menganggap aku sudah mati?” batin Clara lagi mendadak sangat sedih.


Clara menggeleng keras. Tidak, dia tidak ingin membayangkan bagian terburuk itu terlebih dahulu. Setidaknya, kini dia bebas sehingga bisa pulang untuk mencari keberadaan keluarga.

__ADS_1


__ADS_2