Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Jaminan Keamanan


__ADS_3

Gadis itu tidak berminat untuk menjawab, hanya menoleh sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca. Menikmati pemandangan malam yang terasa kian menjauhi kota.


Ia merasa yakin rumah kakek pria asing itu pasti sama seperti punya Teshar—dijaga ketat dan berada jauh dari pemukiman penduduk.


“Namaku Kenan. Aku adiknya Teshar. Boleh aku tahu siapa namamu?” ungkap Kenan memperkenalkan diri. Ia pura-pura belum tahu nama gadis itu.


Clara menoleh dan mengangguk samar, tetapi ia tidak memiliki niatan untuk membalas dengan memperkenalkan dirinya juga. Ia terlalu waspada dengan keadaan. Tidak akan lagi semudah itu memercayai orang yang baginya masih asing.


"Sulit sekali mendekati gadis ini," batin Kenan gemas setengah mati.


Akhirnya Kenan hanya bisa memasang wajah masam, gadis itu memang sama sekali tidak terpesona dengan ketampanannya. Mendadak ia menjadi gemas sendiri. Walaupun sudah tahu nama gadis itu, bukankah bisa mendapatkan jawaban langsung akan sangat menyenangkan? Pria itu meraup wajahnya demi menutupi rasa kesal.


Setelah berhasil melalui ketegangan akhirnya mobilnya sudah mengarah ke sebuah jalur menuju ke arah gerbang tinggi dan berhenti di depan pos pemeriksaan.


Kenan melongokkan kepala melalui jendela kaca, hingga akhirnya mobilnya diizinkan untuk masuk dan melanjutkan perjalanan—setelah penjaga itu mengenalinya sebagai cucu tuan Bima.


Clara kembali merasa tercengang dengan kenyataan yang terpampang di depan mata. Rasanya akan sama saja, ia kembali akan terkurung di rumah besar itu. Mendadak semangatnya meredup drastis.


“Kamu pasti akan kerasan tinggal di sini."


Kenan kini membelokkan kendaraannya ke arah halaman, memarkir di garasi dan mematikan mesinnya ketika roda mobil tersebut sudah pada posisi yang tepat.


“Terima kasih,” jawab Clara pelan. Ia sama sekali tidak memiliki gairah untuk melanjutkan hidup lagi, setelah melihat banyaknya penjaga di rumah itu.


“Ayo, kita turun. Kakek pasti sudah menunggu kedatangan kita,” ajak Kenan sambil membuka safety belt. Pria itu sekilas memandang Clara yang masih kaku duduk di sampingnya.


“Ehm,” jawab Clara mengangguk samar.


“Sudahlah. Bukankah di luar sana sangat berbahaya untukmu? Setidaknya di sini kamu masih bisa melanjutkan hidup.” Kenan mengurungkan niatnya untuk turun. Ia menatap ke arah depan dengan dengusan napas berat.


Clara sejenak tepekur, ia menyadari apa yang dikatakan Kenan ada benarnya. Sambil kembali mengumpulkan semangat, ia pun segera membuka safety belt yang melilit tubuh dan segera keluar dari mobil.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu pula, Kenan pun segera menyusul Clara turun dari mobil. Berjalan mengiringi langkah gadis pendiam itu memasuki halaman yang ternyata sudah disambut oleh tiga pengawal dan dua pelayan rumah.


“Selamat datang, Tuan Muda Kenan dan juga Nona Clara,” sapa mereka sambil menundukkan kepala memberi hormat.


“Selamat malam semua. Terima kasih sudah menyambut kami. Tolong siapkan kamar untuk Nona ini, ya? Beri perawatan juga karena sepertinya ia sedang sakit.” Kenan memberi perintah dengan sikap yang lembut, Clara merasa sifat Kenan sangat berbeda dengan Teshar yang kasar.


“Baik, Tuan. Sudah saya siapkan.” Pelayan itu menatap Clara dengan senyuman ramah. “Mari, silakan, Nona,” ajaknya seraya memberi jalan untuk Clara agar melangkah mengikutinya.


“Ikutlah bersama mereka, aku akan menemui kakek sebentar,” perintah Kenan mengibaskan jemari tangannya ke udara. Memberi isyarat agar Clara segera menurut.


Malam semakin larut, ia tidak mau membuat Clara lelah, jadi ia segera bergegas menemui kakek dan menceritakan kejadian yang menimpa Teshar. Dengan langkah lebar kini Kenan sudah hampir mengetuk pintu kakeknya. Terdengar ada adu argumentasi dari dalam, diam-diam Kenan mencuri dengar dengan menempelkan telinganya agar lebih jelas.


“Kakek bicara dengan siapa?” gumam Kenan memilirik ke arah jendela kaca yang berada di samping pintu.


“Jangan coba-coba mengganggu anak itu lagi, sekarang mereka dalam pengawasanku. Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan hidup tiga cucuku dengan keegoisan yang menggunung di hatimu!” bentak Bima dengan suara meninggi. Kenan masih menahan napas, berdiri di luar pintu.


“Langkahi dulu mayatku, baru kamu bisa membawa gadis itu keluar dari sini, Aku pastikan Teshar dan Kenan akan melindunginya dengan baik. Mereka akan menentangmu seperti halnya kamu kini menentangku!” Bima menutup sambungan telepon seraya memijit pelipisnya yang mendadak pusing.


Kenan yang sejatinya hendak mengetuk pintu kini malah urung, ia mendadak mundur, membalik badan dan berjalan menjauhi kamar kerja milik kakeknya.


***


Langkah Clara terhenti di depan pintu sebuah kamar. Ia menoleh sesaat ke arah dua pelayan yang kini berada di belakangnya. Mereka sama-sama bertukar pandang ketika menyadari bahwa Clara tidak melanjutkan langkahnya.


Pakaian kusut, wajah memucat, sorot mata sayu dan bibir kering. Clara tak ubahnya seperti seorang manusia yang sedang sekarat. Semua luka batin dan fisik terasa menyatu hingga dirinya tak lagi mampu mendeskripsikan bagaimana perasaannya.


“Nona, mari masuk. Kami akan membantu membersihkan diri Anda,” ucap satu pelayan itu dengan suara lembut.


“Nona bisa istirahat setelah itu,” bujuk satu pelayan yang lain ketika menyadari bahwa nona yang kini sedang berdiri di depannya terlihat sangat letih.


Dengan anggukkan samar Clara melangkah masuk setelah pintunya dibuka oleh satu pelayan. Clara sejenak kembali terkesiap dengan pemandangan di depannya. Nuansa warna cokelat muda tampak dominan mengisi semua perabotan yang ada di sana. Sebuah kenyamanan dan ketenangan tampak nyata juga sedap dipandang mata. Dengan hati lebih tenang kini langkahnya semakin jauh ke dalam.

__ADS_1


Terdapat dua buah lemari panjang yang berada di pojokan, satu tempat tidur di tengah-tengah ruang—yang masih bisa muat untuk dua orang. Kursi sofa panjang berjumlah dua buah dengan satu meja kaca di tengahnya. Jendela kaca yang lebar dengan gorden tebal di sisi kanan dan kirinya.


Terdapat pintu lain di dalam sana yang kini dibuka oleh pelayan; ternyata sebuah kamar mandi fasilitas modern. Yang jelas saja ia bertanya-tanya dalam hati apa saja fungsinya.


Clara tidak merasakan dingin di telapak kakinya ketika menginjak lantai karena terdapat hamparan karpet berwarna oranye—kontras dengan warna cokelat yang mendominasi interior ruangan itu— dengan lantai berbahan kayu yang menambah kesan cantik untuk kamar yang kini ditempatinya.


“Nikmati malammu, ya. Besok kita bisa berbicara banyak.”


Suara seseorang seketika mengagetkan Clara. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria tua berusaha delapan puluhan kini sedang berdiri di depan pintu dengan tongkatnya. Clara masih terpaku memandang tanpa menjawab sapaan itu.


“Aku Bima, kakeknya Teshar dan Kenan. Selamat beristirahat, kamu pasti lelah,” ucapnya lagi sambil menyunggingkan senyuman bijak, kemudian ia pergi dari sana. Meninggalkan Clara yang masih mematung di tengah ruang tanpa membalas dan berekspresi apa-apa.


Clara menunduk sesaat, ia merasa ketakutan. Gemetar tangannya kini mulai melanda, ia bahkan sulit untuk membedakan mana orang yang tulus, mana yang palsu. Apakah dirinya kini terkurung kembali? Ataukah bagaimana nasibnya kini? Tak terasa air matanya jatuh seketika, tanpa isak hanya perasaan hati yang lelah.


“Nona, semua sudah siap. Silakan mandi akan kami bantu.” Suara pelayan membuyarkan lamunan Clara, gadis itu mengangguk pelan dan berjalan ke dalam kamar mandi.


Ia tampak seperti mayat hidup, tidak menolak sama sekali ketika pelayan membantu untuk melepaskan pakaiannya. Ia bahkan merasa sudah gila bila harus melanjutkan hidupnya lebih lama. Luar dalam rasa sakit yang menyiksa, hingga ia duduk bersimpuh dan menangis kencang.


Dua pelayan itu seketika menjadi bingung dan panik melihat keadaan Clara yang memprihatinkan. Mereka pun ikut bersimpuh sebelum semua pakaian Clara terlepas sempurna. Mereka berdua sangat terkejut dengan banyaknya luka lebam yang terdapat di tubuh gadis itu. Gadis itu terlihat sangat rapuh.


“Tolong jangan tinggalkan aku, aku mohon,” pinta Clara membenamkan kepalanya di dalam lipatan lututnya yang terangkat. Ia masih terisak pilu.


“Jangan khawatir, Nona. Kami akan menemani Anda di sini.” Pelayan itu segera meraih pundak Clara, menutupi tubuh bagian atas itu dengan handuk.


“Apa di sini aku akan mati?” tanya Clara seraya mengangkat kepalanya, memandang dengan kedua sorot mata sembap dan hidung berair ke arah dua pelayan yang mengerubutinya. Ia menampakkan ketakutan hingga secara spontan satu pelayan itu memeluk tubuh Clara dan kedua wanita itu menangis bersama.


“Akan saya pastikan Anda akan hidup baik selama berada di sini, Nona. Saya berani menjamin, karena saya sudah tinggal di sini selama hampir lima tahun dan semua berjalan baik-baik saja,” tegasnya membuat Clara sedikit lega.


“Ayo, Nona. Kita bersihkan luka Anda. Akan sangat berbahaya bila sampai infeksi. Tidak perlu mandi, tapi cukup obati saja. Biar saya kompres dengan air es dan mengoles salep agar tidak nyeri dan membekas nantinya,” bujuk pelayan itu seraya melepaskan pelukannya.


Clara mengangguk pelan, ia lalu mengikuti gandengan tangan pelayan itu menuju ke arah kursi. Duduk di sana, melilit tubuhnya dengan handuk dan membiarkan memar itu di kompres juga diobati.

__ADS_1


Ia diam saja, tanpa mengeluh dengan rasa perih luar biasa, rasanya tubuhnya sudah abai terhadap rasa sakit yang mendera, ia lelah mengeluh.


“Kak Teshar, apa kamu baik-baik saja?” ucapnya pelan dengan wajah lesu.


__ADS_2