
Kepala Clara terasa pening, pandangannya kabur, bahkan tubuhnya tidak mampu bergerak sama sekali. Beberapa kali gadis itu mencoba untuk menggerakkan tangannya, ingin mengusap kepala maupun rambut yang menjuntai menutupi wajahnya. Namun nihil, ia tidak bisa karena tangannya terikat kuat terulur ke bagian belakang tubuhnya yang terduduk di kursi.
"Ah, sakit," keluhnya meringis, merasakan panas di kulit pergelangan tangannya yang terjerat tali pengikat.
Pandangannya kini memutar, memindai setiap jengkal yang ada di sekelilingnya. Gadis itu merasa bingung, ia mencoba mengingat kembali kejadian yang berlangsung sebelum bangun dan mendapati dirinya kini sudah duduk terikat di dalam ruangan asing itu sendirian.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengontrol rasa cemas serta membuang pusing dengan sedikit menggerakkan otot lehernya, menggeleng sedikit sambil mencoba berpikir.
"Mereka pasti menculikku. Benar, mereka membawaku dari depan apartemen," terka Clara merasa lemas.
Gadis itu merasa menyesal karena tidak mengikuti perintah Teshar, tapi malah menyelinap diam-diam tanpa sepengetahuan pria itu. Dengan rasa sesal yang dalam ia mengentak kaki kesa dengan kelakuannya sendiri.
Matanya segera memandang waspada ke arah pintu, sebuah jalan satu-satunya kalau ingin keluar dari ruangan berupa kamar dengan dua buah kursi sofa panjang dengan satu meja di tengah-tengahnya, juga ranjang berukuran sedang berada di dalam sana. Hendel pintu yang diputar dari luar segera membuat perasaan Clara berubah menjadi semakin cemas, perasaannya mendadak tidak enak. Nalurinya sebagai wanita segera aktif, ia ketakutan karena merasa akan ada orang yang berniat jahat terhadap dirinya.
"Apa aku harus pura-pura kembali pingsan?" batinnya merasa ketakutan.
Tidak seperti saat bersama Teshar walau jelas itu berlangsung hingga bertahun lamanya, gadis itu tidak pernah merasa terancam sama sekali. Pria itu tidak pernah menyentuhnya atau menyakitinya secara fisik, tapi lebih kepada sikap ketus dan dingin serta kerap kali mengabaikan omongannya. Tapi ini lain, di kamar ini ia tidak tahu siapa yang telah menyekap dan memasangkan tali pengikat juga membuatnya pingsan. Dalam hati gadis itu berdoa agar segera diselamatkan.
Ceklak. Suara kunci beserta hendel yang memutar membuka pintu membuat pandangan Clara menjadi lebih fokus. Ia memandang ke arah pria berjumlah dua orang yang kini masuk ke ruangannya. Aroma alkohol juga rokok yang menyengat semakin membuat Clara merasa gemetaran. Ia menyimpulkan dalam pikirannya bahwa pria asing itu hendak berniat jahat terhadapnya.
"Kau sudah siuman?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
Clara merekatkan kedua kakinya juga kedua jemari saling mengepal mencoba untuk bersikap waspada dan memberi sinyal berupa pertahanan diri, kedua bola matanya nyalang memandang kedua pria yang datang menghampirinya.
"Siapa kalian? Kenapa membawa dan mengikatku di sini?!" teriak Clara dengan wajah menampakkan sikap marah dan memberontak.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bersikap lembut seperti wajah dan kulitmu?" goda salah satu pria itu sambil memandang ke arah Clara yang segera menampilkan wajah resah dalam mengartikan ucapan pria itu, seperti sedang melontarkan perintah terselubung.
"Lepaskan aku, atau kalian akan berhadapan dengan Teshar Indira!" lontar Clara mencoba menakuti dengan bibirnya yang sedikit bergetar ketakutan.
Serempak kedua pria itu tertawa bersamaan. Mata mereka menyipit dengan bibir lebar dalam mengekspresikan tawa geli ke arah Clara. Gadis itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pria itu tidak akan pernah tahu di mana keberadaanmu, jadi lupakan saja, ya?" ejeknya membuat Clara menyadari kesalahannya.
Gadis itu menunduk, ia tidak memiliki keberanian untuk menatap kedua pria yang memang datang untuk menjatuhkan mentalnya. Ia tidak mengerti kenapa secara bertubi-tubi dirinya harus menghadapi hal mengerikan ini lagi—disekap tanpa tahu alasannya.
"Makanlah dulu, nanti tuan Jeff akan menemuimu sebentar lagi," ucap satu di antara pria berwajah tinggi kurus sambil menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya ke atas meja samping Clara berada.
Gadis itu menoleh ke arah makanan yang ada di sana, pandangannya lalu beralih kepada dirinya sendiri, tangannya terikat, tubuhnya menempel kuat dengan kursi, kakinya sama mengenaskan terikat pula dengan lebam biru karena ikatannya terlalu kencang. Berbeda, sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan selama di rumah Teshar, ia mendapatkan pelayanan yang baik.
Pria itu saling menatap satu sama lain, saling meminta pendapat apakah harus membuka ikatan gadis muda yang berada di hadapannya itu. Clara masih menunggu, ia berharap apa yang ada di pikirannya bisa terwujud. Setidaknya saat tangan dan kakinya tidak terikat lagi, ia bisa dengan leluasa bergerak dan kabur dari tempat itu bila memungkinkan.
"Buka ikatannya, bagaimana dia bisa makan kalau tangannya terikat," perintahnya kepada rekannya yang bertubuh lebih pendek dan gendut.
Rekannya itu segera mengangguk dan mulai berjalan mendekati Clara, melipir ke arah belakang tubuh gadis itu dan mulai melepaskan ikatan tali yang berada di pergelangan tangan Clara.
Gadis berwajah cantik, berambut cokelat bergelombang itu sedikit lega, rasa sakit dan pegal yang menderanya bisa sedikit berkurang. Setelah ikatan tangan itu terlepas, ia segera mengibas pelan guna melenturkan ototnya yang kaku.
"Terima kasih," balas Clara segera merentangkan kedua tangannya serta mencoba menautkan semua jemarinya hingga menimbulkan rentetan suara yang melegakan.
Sebenarnya Clara hanya pura-pura bersikap santai padahal di dalam hati, ia merasakan ketakutan luar biasa. Ia tidak tahu siapa tuan Jeff yang dimaksud kedua pria kucel itu. Sebisa mungkin ia akan bertindak lebih hati-hati.
__ADS_1
"Cepat, habiskan makananmu," perintah salah satu pria itu dengan suara lebih melunak.
Clara tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengisi perutnya, ia harus punya tenaga yang ekstra kalau ingin melawan atau kalau bisa menyelinap dari gedung ini. Gadis itu melirik sejenak sebelum akhirnya tangannya meraih piring dan meletakkannya di atas pangkuan. Tanpa memedulikan isinya, gadis itu mulai mengambil sendok dan mulai menyantap hidangannya.
Rasa lapar yang menderanya karena perutnya belum terisi sedari pagi memaksanya menerima makanan itu. Penyesalan yang selalu datang terlambat. Seandainya saja pagi ini ia sarapan di rumah sesuai dengan apa yang Teshar katakan, juga tidak pernah keluar dari dalam unitnya serta mengunci bagian pintu juga jendela, ia pasti tidak akan berakhir dengan tragedi penyekapan seperti ini. Kedua matanya kini terasa panas meremang menahan tangis.
"Kak Teshar, maafkan aku. Temukan aku secepatnya, aku takut," batin Clara merundung sedih.
Gadis itu menatap ke arah dua pria yang masih berdiri di dalam ruangan untuk mengawasinya, dengan perlahan Clara mulai memakan makanannya. Gadis itu tidak peduli kalau ternyata makanannya diberi racun, toh sama saja nasibnya tidak pernah baik.
Terdengar suara deru mobil berhenti, suara yang begitu jelas dari kamar yang ditempati Clara membuatnya yakin bahwa saat ini dirinya berada di lantai dasar.
"Bos datang, kita keluar sebentar untuk menyambut," ajak pria berpostur tinggi, kurus itu kepada rekannya.
"Sip, biarkan gadis ini makan dulu," sahutnya seraya berjalan mengikuti langkah rekannya meninggalkan kamar.
Clara melirik kepergian mereka di sela-sela makan. Sebutan 'bos besar' sedikit mengintimidasinya. Perasaannya mendadak tidak nyaman, jujur saja ia merasa takut sekali kalau sampai mereka menyakitinya. Gadis itu mengepalkan jemari tangannya untuk menahan gemetar.
Setelah pintu ditutup, gadis itu dengan cepat meletakkan piring kembali ke atas meja, menekuk tubuhnya demi bisa melepaskan ikatan pada pergelangan kaki dan bergerak cepat membuang tali itu ke samping. Matanya memandang ke semua sisi ruang, berharap ada celah agar dirinya bisa keluar dari dalam kamar itu.
Pandangannya tertuju ke arah pintu, ia pun segera berjalan pelan menuju ke sana seraya menempelkan daun telinganya ke permukaan daun pintu.
Hening, tidak ada suara sama sekali dari arah luar.
"Aku harus secepatnya keluar dari sini."
__ADS_1