Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Perasaan Berubah Kacau


__ADS_3

Clara sama sekali tidak memahami kalimat yang dilontarkan Teshar mengenai dirinya 'yang tidak seharusnya masih hidup'. Ingin sekali ia mencerna kalimat itu dengan lebih baik, menerima bahwa mungkin saja seharusnya saat ini ia sudah terbujur kaku di dalam peti, begitukah maksudnya?


“Tolong, jelaskan padaku, Kak? Tidak seharusnya hidup, maksudnya apa?”


“Shht!" Pria itu mendesis kesal membuat Clara segera berhenti merengek.


Teshar kembali fokus menatap pintu, tangannya segera meraih pass card dari dalam saku, menempelkan pada bagian akses pemindai. Setelah pintunya terbuka, ia kembali menarik tangan Clara mengajaknya masuk.


Lampu yang gelap segera menyala terang saat langkah mereka sudah berada di dalam pintu. Clara membelalak menatap ruangan luas selayaknya rumah berada di depan mata. Beberapa sekat ruang kamar juga dapur terlihat bersih beserta meja makan, terdapat juga ruang tamu terpisah dengan dua sofa besar di sana. Clara memutar kepalanya memandang ke segala penjuru ruangan, ia masih mengikuti ke mana saja Teshar membawanya berjalan.


”Bukankah tempat ini lebih luas dari kamarmu yang lama?" tanya Teshar melembutkan suaranya, menunjukkan bahwa pria itu ingin tahu pendapat dari Clara.


Gadis itu mengangguk tanpa menoleh, ia masih sibuk mengamati rumah barunya dengan binar mata tidak bisa menyembunyikan rasa kagum. Terdapat beberapa perabotan, juga perangkat elektronik terbaru yang sudah lama tidak dia rasakan selama berada di ruang baca tempatnya hidup selama ini. Tanpa disadarinya wajah Clara menampakkan senyum semringah.


Teshar terdiam memandang. Sebisa mungkin mencoba untuk selalu melihat gadis itu dari sudut pandang seseorang yang layak untuk dibenci, dan bukan memandangnya sebagai seorang wanita.


Pria gagah berperawakan tinggi besar itu segera melepaskan genggaman tangan, membiarkan Clara kembali melakukan kebiasaannya, mengamati, dan mencoba hal yang baru saja ia temui. Sudah pasti tingkah Clara akan selalu memperlihatkan sisi menggemaskan dan itu selalu mampu menggugah selera seorang Teshar Si Tuan Dingin itu terhadap wanita.


“Shit! Sungguh, sial!" umpat Teshar berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuh ke atasnya, ia memandang Clara yang sedang berjalan-jalan santai ke seantero ruangan dengan beban pikiran yang penuh tekanan.


Gadis itu selalu berubah seiring waktu berjalan, dari gadis kecil menjadi sosok wanita dewasa yang sangat memesona bagi kaum laki-laki yang memandang, termasuk dirinya. Teshar sendiri merasa menyesal tidak membunuhnya saja saat itu, tapi malah membawa pulang gadis kecil yang jelas keberadaannya harus dilenyapkan dari daftar hidup. Teshar mengembus napas panjang, merasa geram sendiri karena sudah terjebak semakin dalam pada perasaannya sendiri terhadap gadis itu.

__ADS_1


”Kak Teshar, boleh aku makan mie rebus?" tanya Clara lembut seraya membuka lemari pendingin yang berada di dapur tidak jauh dari Teshar berada.


“Kamu mau sakit-sakitan dan membuatku repot?" tanya Teshar menggeram lebih memilih menolak dengan sebuah pertanyaan retoris.


Clara menggembungkan pipinya karena merasa kecewa. Ia lalu berjalan ke arah pria itu dan berdiri tepat di hadapannya. Teshar memandang gadis itu tanpa berkedip.


Clara Amanda, gadis berwajah cantik dengan kulit putih tidak tersentuh dunia luar, kedua mata bulat dengan hidung mancung dan bibir tipis secerah buah cherry alami—tanpa sentuhan make up atau apa pun itu. Perpaduan tinggi dan berat badan sangat ideal dengan menu makanan yang selalu Teshar jaga sedari kecil, ditambah sikapnya yang polos, manja, dan apa adanya.


Teshar memandang, dengan otak yang mencoba mendeskripsikan gadis di hadapannya itu dengan gelisah.


”Sial, semakin hari gadis ini semakin membangkitkanku saja. Untung saja mulai hari ini dia akan hidup terpisah denganku. Aku bisa menjaga kewarasanku agar tidak sampai menyentuh anak seorang penghianat itu," batin Teshar segera mengalihkan pandangannya. Ia mengembus napas membuang emosi di dalam hati yang meronta dan berkecamuk.


Teshar segera mengalihkan pandangan dengan gelisah.


Pria itu hanya memandang sekilas kemudian merebahkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia ingin sekali segera pulang dan meninggalkan Si Cerewet itu agar jiwanya tetap aman terkendali. Sambil meraih bantal ia menutupi wajah seraya segera memejamkan mata, mencoba mengabaikan ocehan gadis itu. Setidaknya kini hatinya merasa lega karena bisa segera menemukannya sebelum keadaan berubah kacau.


”Oya, saat aku berada di jalanan, aku bertemu dengan seorang teman yang baik. Kakak pasti akan menyukainya kalau kalian berdua bertemu. Ijinkan aku bertemu lagi dengannya, ya, Kak?" papar Clara melangkah pergi untuk mengambil minuman dan membawanya ke arah Teshar.


Melihat pria dewasa itu masih menutupi wajah dengan bantal, membuat Clara memilih duduk di sebelahnya seraya meletakkan minuman itu di atas meja. Ia pun memegang lengan Teshar pelan seraya mengambil bantal itu, ia merasa cukup khawatir dengan keadaannya. Clara sudah menganggap Teshar sebagai kakak, bagaimanapun sikap ketus dan dingin pria itu terhadapnya.


“Kakak pasti menghawatirkan aku, ya? Aku minta maaf," ungkap Clara membuat Teshar membuka mata, menoleh ke arah gadis yang selalu menampakkan sebuah ketulusan saat berbicara.

__ADS_1


”Aku bahkan ingin sekali melihatmu celaka di luar sana, sampai kamu bersujud meminta maaf padaku," lontar Teshar, suaranya kembali menampakkan sikap sinis.


“Selalu saja bersikap kejam," balas Clara mengerucutkan bibir. Clara segera ikut menyandarkan punggungnya di bahu sofa dan mulai bersikap santai. Ia lalu mengalihkan pandangan dari Teshar lurus ke depan.


Teshar hanya bisa memandang gadis itu dari samping. Gadis berparas cantik, seseorang yang sudah dia besarkan selama dua belas tahun dengan sikap ketus dan memaksakan aturan hidup tanpa mau mendengar keluh kesahnya. Gadis itu kini sudah tumbuh dewasa.


”Kamu bilang kenal seorang teman?" tanya Teshar menegakkan tubuh seraya memandang lekat Clara yang berada di sampingnya.


“Iya, dia memberiku baju, sepatu, dan juga uang. Dia baik, memintaku pulang kalau amarahku sudah reda. Bukankah itu sikap orang baik namanya," puji Clara menampilkan binar mata, mata jernih yang selalu murni terpancar. Teshar segera mengalihkan pandangannya lalu memilih untuk berdiri menjauh. Ia tidak akan membiarkan dirinya memainkan hati lebih jauh dari kekacauan ini.


”Jangan bersikap baik dengan orang asing, mengerti!" tegas Teshar sambil berjalan ke arah dapur, Clara segera berlari kecil mendekat; seperti seorang adik yang mengikuti kakaknya.


“Kenapa? Dia baik 'kok," bela Clara tidak terima dengan tuduhan bahwa pria yang ia temui termasuk orang yang tidak baik.


”Apa yang tampak tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang ada, paham!" decak Teshar menoleh kesal. Seperti biasa, ia tidak ingin dibantah.


“Seperti Kak Teshar, maksudnya?” lirih Clara berucap.


Menyadari Tuan Ketus itu memberinya lirikan mata tidak menyukai sikapnya yang lancang, Clara segera mengatupkan bibirnya rapat dengan wajah menunduk, selalu saja seperti itu. Semua yang tidak sesuai dengan pemikirannya pasti akan diberi sikap sinis dan gertakan gigi. Clara kembali mengalah dengan sikap diam tidak lagi membantah.


“Seperti biasa, Clara. Lebih baik kamu mengalah saja,” batin Clara masih sesekali melirik ke arah Teshar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2