
”Baik, serahkan saja pada saya.“ Sekuriti itu pun mempersiapkan diri dari segala kemungkinan.
”Terima kasih, Pak.“ Clara pun bisa bernapas lega.
Ia sendiri tidak menyangka akan bertemu pria sok akrab seperti itu. Baru ingin merasakan dunia bebas, nyatanya ada saja yang menjadi penghalang kebebasannya.
Clara menoleh ke belakang sambil melangkah menjauh. Dia bisa melihat sekuriti itu mengadang langkah Kenan saat hendak mengejarnya. Momen mendebarkan dan itu sanggup membuatnya cemas juga.
"Dia sangat menakutkan. Bagaimana mungkin ada pria seperti dia, mengejar orang yang belum dikenal," gumam Clara, berkomentar pada kenekatan pria itu untuk mendekatinya.
Clara segera berlari keluar dari area gedung apartemen yang tinggi, mewah itu. Setelah memastikan tidak ada bus umum yang bisa membawanya pergi dari sana, dia pun memutuskan untuk menyetop mobil yang ada papan tulisannya taksi. Clara seperti orang yang baru keluar dari gua setelah melihat perubahan besar pada bangunan kota dan celakanya dia tidak mengenai sedang tinggal di mana saat ini.
”Wah, mobil mewah sekarang berfungsi jadi taksi kah," ocehnya sendiri saat melihat mobil itu meluncur dan berhenti tepat di hadapannya. Tanpa menunggu lama ia segera masuk dan duduk sambil membenarkan letak tas dan juga pakaiannya.
“Kita kemana, Nona?" tanya Supir taksi itu seraya menoleh sekilas belakang, ke arah Clara. Pria berseragam biru itu pun segera menjalankan kemudi meninggalkan area halaman dan keluar dari apartemen setelah memastikan Clara aman duduk di jok penumpang.
"Ke alamat ini, Pak." Sambil tersenyum Clara menyerahkan kertas yang raih dari dalam sakunya kepada supir.
"Baik, Nona."
”Bawa saya ke tempat itu ya, Pak," ucap Clara segera diberi anggukan dan jempol oleh sopir itu. Clara tertawa ringan menanggapi.
“Nona sendirian saja?" tanya sopir itu sambil terus menjalankan mobilnya.
”Iya, Pak."
Lalu-lalang kendaraan mengalihkan perhatian Clara. Clara terkesima melihat jalan-jalan bertingkat dan banyaknya kendaraan yang melewatinya. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dan beberapa tempat pusat perbelanjaan yang besarnya melebihi lapangan sepak bola. Clara benar-benar dibuat kagum tidak terkira dan merasa sangat penasaran ingin memasuki tempat itu satu persatu.
"Gara-gara pria jahat itu, aku jadi tidak tahu apa-apa," gerutu Clara mengomentari Teshar dengan nasibnya yang terkurung selama ini.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya mobil taksi itu berhenti. Clara merasa kebingungan, ia menatap sopir itu secara bergantian antara gedung musium dan pusat perpustakaan di depan matanya. Apa yang ada di dalam angan-angannya buyar seketika. Tempat ini tidak sesuai dengan ekspektasinya karena dia sangat menginginkan pergi ke sebuah taman yang indah dipenuhi bunga-bunga, bukan tempat mencari koleksi bacaan buku seperti kehidupannya ketika berada di rumah Teshar.
”Apa maksudmu kamu mengirim aku ke sini, huh?" keluh Clara lemah, batinnya merutuki Teshar
“Anda sudah sampai, Nona."
Clara memandang sopir yang tersenyum ke arahnya dengan anggukan mengerti. Tangannya pun mulai merogoh tas untuk mengeluarkan uang saku yang diberikan Teshar kepada sopir itu.
”Ini kembaliannya, Nona." Sopir itu memberikan uang kepada Clara.
“Terima kasih, Pak," jawab Clara dengan wajah semringah.
Gadis itu segera turun dan melangkah riang ke area halaman. Begitu luas disesaki antrean lalu lalang orang-orang yang juga banyak berdatangan ke arah pintu masuk maupun keluar dari gedung tersebut.
"Baiklah, aku akan masuk." Gadis itu menggumam pelan.
”Wah, ternyata ruangan ini sangat luas.“ Gadis itu memutar tubuhnya demi bisa mengamati indahnya desain interiornya. "Luar biasa."
Ia menatap kagum banyaknya rak buku yang menjulang tinggi memenuhi ruangan. Banyak orang-orang dalam diam duduk di kursi yang tersedia, juga yang masih berdiri di rak-rak memilih bacaan yang sesuai seleranya.
Berbeda saat dirinya tadi merasa malas, kini ia cukup senang dan bergerak dengan langkah ceria mendekati deretan buku yang tertata rapi di rak lemari.
Jemari lentik tangannya menyusuri setiap susunan buku dan mengambil satu di antaranya. Ia teramat senang hingga melupakan kekesalannya kepada pria bernama Teshar.
Sambil memutar kembali tubuhnya, Clara berniat hendak berjalan meninggalkan tempat itu. Tapi sial ia bertabrakan dengan seseorang yang berjalan juga ke arahnya. Buku orang itu pun jatuh berhamburan ke lantai. Clara merasa terkejut dan segera meraih buku-buku itu sambil berjongkok disertai ucapan permintaan maaf berkali-kali.
“Maaf, ya?" sesal Clara sambil meraih satu persatu buku-buku itu dari lantai dan menaruhnya pada lengan.
Clata bisa melihat pemilik sepatu putih itu bergeming dari tempatnya. Tentu saja jantungnya berdebar ketakutan kalau sampai-sampai membuat orang tersebut marah pada kecerobohannya. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya dengan gugup.
__ADS_1
Clara segera merapikan buku-buku itu dan menaruh dan memeluknya dalam lengan. Ia memandang sepasang sepatu berwarna putih yang tidak beranjak dari tempatnya. Clara harus mendongak demi bisa menatap siapa pemiliknya.
Pria itu mengeluarkan tawa lirih dan segera ikut berjongkok membantu Clara mengambil buku-bukunya. Sambil menarik napas ia meraih buku dari tangan Clara dan membawanya serta saat kembali menegakkan tubuhnya.
“K-kak Rafka?" sapa Clara terbelalak, ia tidak menyangka bisa bertemu pria itu lagi.
"Kamu di sini juga," sahut pria itu tanpa menunjukkan adanya kemarahan sama sekali.
Clara ikut berdiri, ia merasa kagum dengan cara pria itu bersikap sangat hangat kepadanya. Sambil ikut berjalan, Clara mengamati dari sisi samping wajah Rafka yang terlihat begitu tenang.
”Aku dulu seperti pernah mengenalnya, tapi di mana? Aku lupa," batin Clara sambil mengingat namanya. Nama yang cukup membuatnya memikirkan seseorang yang dikenalnya semasa kecil.
“Kamu suka baca buku juga?" tanya pria berbadan tinggi itu sambil menarik kursi untuk Clara.
”Iya, Kak," jawab Clara mengangguk.
“Nama kamu Clara, 'kan? Sedikit lupa," tanya Rafka menoleh ke arah gadis itu sebelum duduk di kursinya.
”Iya, Kak," jawab Clara lagi sambil meraih bukunya dan mulai membaca.
Sambil tersenyum Rafka mengamati wajah Clara, jujur saja ia merasa sangat penasaran dengan gadis itu. Sosok gadis sederhana dan tampak sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah ia temui. Bisa bertemu lagi dengannya merupakan hal yang sangat tidak terduga sama sekali.
“Kakak libur?" bisik Clara sambil membalik halaman bab buku yang dia baca.
”Tidak, aku meninggalkan toko bersama pegawai," jawabnya dengan suara tak kalah pelan.
“Nama kakak, Rafka, 'kan? Apa kita pernah bertemu sebelum di toko roti kemarin?" lanjut Clara lagi dengan suara pelan.
"Ya, mungkin saja, tapi kira-kira di mana, ya?" Rafka tersenyum tipis, tentu kalimatnya sedikit menggoda reaksi Clara.
__ADS_1