Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Melepaskan Ketegangan


__ADS_3

Hawa dingin menyeruak menggigit kulit. Cuaca hari ini sangat buruk bagi Teshar untuk melakukan misi diam-diam, di tengah percobaan untuk mendapatkan kembali kebebasan Clara, melalui jalur negosiasi dengan Jeff.


Teshar kini tengah kembali pulang, setelah melakukan briefing bersama semua pengawal dan juga Jimmy, ia memutuskan untuk mencari dokumen itu di rumah orang tuanya. Ia tidak memiliki cukup waktu.


Pria yang kini sedang mengendarai mobil mewah sport itu menyetir dengan perasaan gelisah, bahkan sisi lemahnya sangat terlihat mendominasi raut wajahnya kini.


"Fiuhhh!" desahnya membuang engap di dalam dadanya.


Mobil berwarna merah itu berhenti tepat di depan lampu merah. Tanpa disangka, ia menemukan sesuatu yang tidak dibayangkannya sama sekali. Sebuah mobil jenis Jaguar juga berhenti tepat di samping mobilnya.


Teshar hafal siapa pemilik mobil itu. Pria tampan itu tampak sekilas tersenyum samar penuh ide yang berputar di dalam angannya.


"Haruskah aku membuatnya kerepotan dalam beberapa hal terlebih dahulu?" ucapnya pada diri sendiri.


Teshar segera membuka kaca jendela mobilnya, menyalakan klakson sementara wajahnya menatap ke arah mobil berwarna hitam metalik di sampingnya itu. Pria itu melirik ke arah spion dan melihat beberapa iringan mobil pengawal telah berada di belakangnya.


"Bagus Jemmy. Aku akan bermain-main sejenak," gumam Teshar tersenyum sendiri.


Ia kembali menyalakan klakson hingga pemilik mobil di sampingnya terganggu dan membuka kaca mobilnya dengan wajah kesal. Matanya memicing ke arah Teshar, seperti hendak menelannya bulat-bulat. Mulut pria itu mengeluarkan sumpah serapah.


"Baru segitu kau sudah marah? Lalu bagaimana kalau kau berada di posisiku?" lontar Teshar dengan senyuman menawan, seolah tidak terpengaruh dengan tatapan tidak bersahabat dari putra Jeff tersebut.


"Ck! Aku tidak yakin kau bisa menyelamatkan dan membawa pergi sepupuku. Dia terlalu cantik untuk pembunuh sepertimu!" balasnya ketus. Pria itu paham apa yang dilontarkan Teshar kepadanya.


"Pembunuh? kita lihat!" Teshar mengeraskan tawanya, dengan wajah mengejek ia segera melajukan mobilnya setelah lampu merah berganti menjadi hijau.


Teshar hanya berniat mengejek pria berusia sama dengannya itu. Ia ingin melihat siapa di dalam garis keturunan keluarga Jeff yang akan mewarisi kebengisan sekaligus menuruni watak mengerikan dari seorang Jeff.


Hingga tiba-tiba sebuah hantaman keras mengenai body belakang mobilnya. Terasa sekali hingga membuat Teshar terkejut hingga sempat membuatnya tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya. Hingga pada akhirnya ia memilih membanting ke sisi kiri dan berhenti di pinggiran jalan raya yang sepi.


"Damn! Pria itu rupanya …," desis Teshar begitu melihat mobil milik anak Jeff bernama Zidan itu melewatinya, dengan bamper mobil penyok di bagian depan. Seringai juga acungan jari tengah untuknya tampak terlihat sekelebat bersama kepergian pria itu.


"Rupanya dia tidak tahu siapa aku!" Pria itu berdecak kesal.


Teshar segera mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa tidak terima dan mencoba untuk mengejar mobil Zidan dengan kemarahan memuncak. Ia akhirnya punya kesempatan membogem mentah pria sombong itu, setelah beberapa kali hanya bisa menatap angkuh pria itu.


Beberapa kali ponselnya berbunyi, ia paham, pasti saat ini entah kakeknya atau Jemmy sedang mencoba menghentikan kenekatannya, tapi ia tidak peduli. Ini kesempatan emas untuk menunjukkan kepada Jeff, bahwa sudah bermain-main dengan berani membawa Clara, ia juga bisa melakukan hal yang sama yaitu memberi peringatan melalui putra kesayangannya itu.

__ADS_1


Sebuah truk tronton yang tengah lewat, membuat laju mobil Teshar tidak mampu mendekati kendaraan Zidan karena terhalang oleh badan panjang kendaraan itu. Ia masih berusaha bersabar, menunggu hingga lalu lintas aman untuk menyalip dan bisa kembali mengejar pria itu untuk membalasnya.


Teshar membunyikan klakson dengan keras dan tidak sabaran hingga akhirnya truk tronton itu memilih mengalah dan memberinya jalan untuk menyalip.


Teshar menaikkan sudut bibir sebelah. Segera mempercepat laju mobilnya dan melesat cepat hingga kini berada tepat di belakang mobil Jaguar berwarna hitam metalik, yang telah merusak kendaraan kesayangan itu.


"Rasakan pembalasanku!" seru Teshar dengan mata fokus mengejar ketertinggalan.


Mobil yang dikendarai Zidan sepertinya tahu apa yang akan dilakukan Teshar. Secepat kilat mobil metalik itu segera memperlebar jarak aman. Hal tersebut malah semakin membuat Teshar merasa tertantang untuk menjajal kemampuannya dalam bermanuver, di antara banyaknya mobil yang berada di jalanan.


"Anggap aku melepaskan ketegangan, sebelum pertempuranku nanti malam." Teshar menfokuskan diri, matanya menajam dengan tangan mencengkeram setir.


Teshar menambah kecepatan hingga batas di luar kebiasaannya berkendara. Bermanuver dan meliuk melewati beberapa mobil, serta mengalihkan lajur kendarannya agar bisa sejajar dengan mobil Zidan, yang akan diremuknya dengan emosi membara.


Setelah beberapa kali menyalip barisan mobil di depannya, memotong jalan dan melanggar aturan lalu lintas lain, akhirnya ia berhasil memposisikan mobilnya tepat berada di samping mobil Zidan. Pria itu memasang wajah senang dan bangga pada kemampuannya.


Zidan tidak tinggal diam, ia memilih untuk mencari jalur lain dengan membelok ke kiri dan memilih jalan pintas yang lebih sepi. Pria itu tidak mau sampai menimbulkan kekacauan lalu lintas dan membuatnya terseret hingga berurusan dengan polisi.


Namun, di luar dugaan ternyata Teshar malah membuat sebuah langkah yang membuatnya tercengang. Pria berpenampilan rapi, tegas, pendiam dan dingin itu kini sudah berada di jalur yang mengarah padanya.


Dia tidak menyangka Teshar malam ini berubah gila dengan menghadang mobilnya. Malah pria itu kini memarkir kendaraannya tepat berada di tengah-tengah jalan.


"****!" Zidan memukul keras setir mobilnya. Ia tidak menyangka, bahwa seorang Teshar memang benar-benar pria berprinsip dan nekad, seperti yang didengarnya selama ini.


Teshar segara keluar dari mobil seraya berjalan mendekat dengan langkah santai.


Zidan memandang dengan keraguan. Dia tidak jago berkelahi. Selama ini ia paling malas belajar bela diri karena merasa sudah dikelilingi para bodyguard dan itu sudah membuatnya cukup aman. Ia menggertakkan giginya sambil mengembus napas kasar.


"Turun!" teriak Teshar memukul kap mobilnya dengan keras.


Zidan mau tak mau turun juga, karena tidak mau sampai manusia bermata tajam itu menghancurkannya bersama mobilnya.


"Apa maumu!" gertak Zidan menyembunyikan gentar hati yang mulai merambat.


Teshar tersenyum smirk dengan tangan masih memukul-mukul keras bagian kap mobil itu lagi. Zidan hanya bisa menatapnya dengan penuh kekesalan.


"Kamu tanya mauku?" tanya Teshar balik diiringi tawa remeh.

__ADS_1


Dengan cepat Teshar maju mendekati Zidan, melesakkan pukulan ke arah rahang pria itu hingga terpelanting mundur. Tangan Zidan segera menggapai badan mobilnya agar tidak sampai terjatuh. Ia memegang pipi bagian rahangnya yang terasa sakit akibat pukulan itu.


"Itu imbalan atas kelancanganmu, karena sudah berani menghancurkan mobil kesayanganku, dan ini …!"


Teshar mencengkeram kerah baju pria itu dan kembali memberikan pukulan telak tanpa pria itu sempat menghindarinya. Tanpa bisa melawan, Zidan akhirnya terjerembab jatuh ke tanah, tepat di samping mobilnya berada.


"... sebagai peringatan untuk ayahmu."


Teshar segera menendang betis pria itu yang sedang mengerang sakit itu tanpa merasa iba. Dia segera membalik badan, meninggalkan pria yang bibirnya mengeluarkan darah itu dengan tangan melambai ke udara.


"Bawa dia dan amankan. Gunakan untuk jaga-jaga. Kalau Jeff sampai bermain-main dengan kita, gunakan pria bodoh itu untuk mengancamnya," perintahnya kepada pengawal yang mengikutinya sedari tadi dengan suara keras.


Zidan menghela napas dan pasrah saat tubuhnya diseret beberapa orang, pandanganya tiba-tiba kabur dan akhirnya pingsan.


Teshar memandang kesal pada keadaan mobilnya. Sambil berdecak ia segera menaiki kembali dan menyalakan musik untuk merelaksasi pikiran. Mulai memutar kembali otaknya dan merasa keberuntungan kini juga berada di pihaknya.


Setidaknya saat ini posisi Jeff dan dirinya seimbang, sama-sama memiliki orang terpenting untuk dijadikan sandera.


"Kita lihat, apa yang akan kamu lakukan saat tahu anak kesayanganmu berada di tanganku?" gumam Teshar tertawa.


Ia segera menuju ke arah jalan pulang dan tidak akan menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Saat mendengar kabar bahwa kini kedua orang tuanya sedang berada di luar kota, hal itu malah menambah besarnya kesempatan untuk menemukan dokumen penting milik keluarga Clara, yang disimpan di rumah orang tuanya.


"Clara, Apa kau baik-baik saja?"


Teshar mengembus napas berat.


Hingga suara pesan masuk, sebuah notifikasi yang menandakan berasal dari nomer asing. Bukan nada dering dari anggota keluarga dan rekan bisnis.


Masih dengan tangan menyetir, ia akhirnya memilih untuk membuka pesan singkat tersebut dengan meletakkan di wadahnya. Ternyata pesan tersebut berupa video.


Dengan cepat pula ia menekan tanda untuk membuka video berdurasi setengah menit itu dengan rasa penasaran. Video apa yang dikirimkan kepadanya, padahal tidak ada yang berani bermain-main dalam hal seperti itu.


Suara jeritan wanita langsung membuyarkan fokus Teshar ke arah jalanan. Sebuah video menampilkan sosok punggung laki-laki yang sedang berjalan. Video jelas direkam oleh orang yang berada di belakang pria itu.


"Jeff?" Teshar gemerutuk kesal.


Tampak rekaman memperlihatkan adegan dari arah belakang kemudian menampilkan jelas wajah gadis yang sangat dikenalnya yaitu Clara. Gadis itu mendapat pukulan berkali-kali dengan sebuah cambuk hingga warna merah terlihat jelas pada lengannya. Wajah gadisnya sangat ketakutan.

__ADS_1


"Kurang ajar kau, Jeff! Lihat saja, kau pasti akan menyesal."


Teshar menggeram, rahangnya mengetat dan segera melempar ponsel itu ke arah jok mobil di sampingnya.


__ADS_2