
Siang harinya, Khayra tampak memantau dari luar gerbang sekolah menunggu seseorang yang akan datang. Sudah tentu wanita itu hendak menemui Misha dan menegurnya.
"Aku gak boleh lengah, perempuan itu harus aku tangkap dan jangan sampai dia rebut mas Biyan dari aku!" gumamnya.
Tak lama kemudian, gerombolan siswa mulai berangsur-angsur keluar dari dalam sana. Khayra pun tampak tak sabar menanti Misha untuk segera berbicara dengan gadis itu.
Dan yang dinanti-nanti olehnya akhirnya tiba, Khayra dapat melihat jelas Misha keluar dari dalam sekolah itu dan kini tengah berdiri bersama seorang wanita di depan gerbang.
Khayra menatap intens ke arahnya, dia yakin betul bahwa yang dilihatnya saat ini adalah Misha.
"Itu pasti si Misha," ucapnya penuh yakin.
Misha sendiri sedang menunggu jemputan dari Fabian, memang tadi lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya siang ini.
"Misha, kamu masih mau tunggu disini sampai sepupu—eh pacar kamu itu datang?" tanya Elin.
"Ya gitu deh, dia udah janji soalnya. Kalau aku gak tungguin dia, nanti yang ada dia marah sama aku," jawab Misha.
"Yaudah, kamu tungguin aja dia sampai datang! Aku pulang duluan ya, itu ojek aku udah datang. Sampai ketemu besok!" ucap Elin.
"Iya Lin, bye!" ucap Misha. Gadis itu melambai ke arah Elin disertai senyum tipisnya, Elin juga melakukan hal yang sama dan mulai melangkah menghampiri tukang ojek pesanannya.
Misha pun tinggal sendiri, dia duduk di halte menunggu kedatangan Fabian dengan sabar.
"Tuan Fabian mana ya??" ujarnya bingung.
Tiba-tiba saja, seseorang muncul dan berhenti tepat di hadapannya. Misha terkejut menatap ke arah pria yang tengah membuka helmnya itu.
"Rully?" ucap Misha lirih.
Lelaki itu tersenyum lebar, turun dari motornya dan menghampiri Misha.
"Kamu belum pulang?" tanya Rully lembut.
"Belum, lagi nunggu jemputan." Misha menjawab dengan santai.
"Mau bareng aku?" Rully menawarkan tumpangan pada Misha tanpa ragu.
"Eee maaf Rully! Tapi, aku udah ada yang jemput. Mungkin sebentar lagi dia datang, jadi kamu pulang aja duluan!" jawab Misha menolak.
"Oh gitu, oke deh! Yaudah, kamu hati-hati aja ya disini!" ucap Rully mengingatkan.
Misha hanya mengangguk pelan, sedangkan Rully sudah kembali ke motornya dengan perlahan.
"Ini tuan Biyan kemana sih? Kok belum dateng juga sampe sekarang? Apa dia lupa kalau mau jemput aku?" batin Misha.
Di seberang sana, Khayra tampak turun dari mobilnya memperhatikan Misha penuh emosi.
Wanita itu sudah mengepalkan tangannya, ia melepas kacamata yang dikenakannya lalu berniat maju mendekati Misha.
"Awas kamu ya!" umpatnya dalam hati.
Baru saja Khayra hendak maju, namun dia sudah melihat sebuah mobil berhenti terlebih dulu di dekat Misha.
__ADS_1
Lalu, tampak dua orang pria berpakaian serba hitam dengan topeng menutupi wajah mereka turun dari mobil itu.
Khayra pun penasaran, "Siapa orang-orang itu?" ia terus berpikir keras sambil memperhatikan ke depan sana.
Perlahan kedua lelaki itu mendekati Misha dan membuat Misha ketakutan.
"Si-siapa kalian??" tanya Misha.
"Sssttt diam! Ayo kamu ikut kita!" salah seorang lelaki itu langsung maju menangkap tubuh Misha dan memeganginya.
"Ih kalian mau apa? Lepasin aku! To-tolong—mmpphh" mulut Misha langsung dibekap oleh kain yang sudah diberikan obat bius.
Namun, Misha masih mencoba untuk berontak walau tenaganya perlahan-lahan melemah.
Kedua lelaki itu membawa paksa tubuh Misha ke dalam mobil yang mana disana sudah bersiap satu orang lainnya untuk segera melaju pergi.
Kejadian itu disaksikan oleh beberapa siswa serta security yang berjaga disana, mereka coba menyelamatkan Misha dan mendekati penculik itu.
"WOI PENCULIK!!" teriak orang-orang itu.
Akan tetapi, mereka terlambat karena Misha sudah lebih dulu dibawa kabur oleh penculik itu.
Khayra yang berdiri di seberang sana merasa syok melihat kejadian barusan.
"Hah? Cewek itu diculik??" ujarnya.
•
•
Tampaknya kedua pria itu tergoda dengan bentuk tubuh Misha yang memang sangat menarik, terutama pada bagian dadanya.
"Eh, nih cewek bodynya mantap juga ya! Pantas si bos tergila-gila sama dia," ujar orang itu.
"Bener lu Pul! Apa kita cicipi dulu kali ye tubuh cewek ini sebelum diserahin ke si bos?" usul yang lain.
"Ngaco aja lu Mad! Kalau si bos marah nanti gimana?" ujar lelaki bernama Ipul.
"Kagak bakal, bos pasti gak tahu kok!" ucap temannya bernama Ahmad.
"Heh! Lo berdua jangan pada aneh-aneh deh! Itu cewek punyanya si bos, kalo kalian sentuh dia bisa dihabisin kalian! Emang kalian gak ingat kata si bos tadi?" tegur satu orang lagi yang tengah menyetir.
"Iye iye.." Ipul dan Ahmad akhirnya terpaksa menahan gairah mereka.
Tak lama, mereka tiba di sebuah tempat. Tentu kedua pria itu langsung membawa tubuh Misha turun dari mobil dan memasuki tempat itu.
Bisa dibilang tempat itu adalah sebuah mansion tua yang lama tak diurus, tetapi bangunannya masih bagus dan layak dihuni.
Mereka bertiga membawa tubuh pingsan Misha ke sebuah kamar kosong, lalu meletakkannya di atas ranjang empuk dan tak lupa mengikatnya.
"Telpon si bos, bilang kalau mangsa sudah sampai dengan selamat!" perintah Ahmad pada Okan.
"Oke!" Okan menurut, kemudian mulai menghubungi bosnya.
__ADS_1
📞"Halo bos! Mangsa sudah ready bos!" lapornya pada sang bos.
📞"Oke, saya kesana sekarang!"
Tuuutttt...
"Apa kata si bos?" tanya Ahmad penasaran.
"Bos mau kesini," jawab Okan santai.
"Yaudah, ayo kita cabut! Biarin aja si bos yang lanjutin sisanya," ucap Ahmad.
Okan dan Ipul mengangguk, mereka pun keluar bersamaan dari kamar itu meninggalkan Misha yang tengah terbaring pingsan di atas ranjang.
•
•
"Eenngghh.." Misha tersadar dari pingsannya, ia sungguh terkejut merasakan kedua tangan dan kakinya terikat kuat.
Misha bertambah cemas saat menyadari dirinya kini berada di sebuah ruangan yang terasa asing baginya.
"Aku dimana??" Misha menatap sekeliling coba mencari tahu dimana dia berada.
Ia baru teringat pada kejadian tadi saat ia dibawa paksa oleh dua orang pria asing.
"Oh iya, tadi kan aku dipaksa orang aneh. Apa jangan-jangan mereka yang bawa aku kesini?" gumamnya.
Tap
Tap
Tap
Telinga Misha menangkap sebuah suara langkah kaki yang mengarah menuju ruangan itu.
"Duh, ada yang datang lagi!" ucap Misha panik.
Wanita itu masih berusaha melepaskan diri, tetapi ikatan di tangan serta kakinya sangat kuat sehingga dia tak dapat berbuat banyak.
Sementara orang di luar sana sudah semakin mendekat, bisa dia lihat kenop pintu seperti ditarik dari luar.
Ceklek..
Pintu terbuka, Misha membulatkan matanya melihat sesosok pria tinggi besar tengah menatap ke arahnya.
"Ternyata kamu sudah bangun, Misha Nur Albiru!" ucap pria itu.
Tek
"Akh!" Misha memekik kaget saat merasakan getaran di bagian bawahnya, ah sial rupanya orang itu sudah memasang sesuatu disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...