Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Kita batalkan saja


__ADS_3

Fabian datang ke rumah Ashraf untuk menemui Misha dan berbicara dengan calon istrinya itu.


Namun, tampak sekali kalau Ashraf tidak menyukai kehadiran Fabian disana mengingat Fabian adalah anak dari Dominic, pelaku yang sudah menabrak mobil Hardi beberapa waktu lalu.


"Mau apa lagi kamu kesini?!" tanya Ashraf ketus.


"Maaf! Saya cuma mau menemui calon istri saya, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan dia. Tolong pertemukan saya dan Misha!" jawab Fabian.


"Bicara soal apa? Kamu masih berani menyebut Misha calon istri kamu setelah kamu tahu apa yang bapak kamu lakukan kepada keluarga Misha? Apa kamu gak malu Fabian?!" tegas Ashraf.


"Saya cinta sama Misha, apapun akan saya lakukan untuk bisa bersama Misha! Jadi tolong, pertemukan saya dan dia sekarang!" ujar Fabian.


"Baiklah, saya akan coba bicara dengan Misha untuk temui kamu disini. Tapi, kalau Misha gak mau kamu gak boleh paksa dia buat bicara sama kamu!" ucap Ashraf.


"Ya saya ngerti, lagipun saya yakin Misha pasti mau bicara dengan saya!" ucap Fabian.


Ashraf tersenyum miring, lalu berbalik dan pergi ke dalam rumahnya menemui Misha. Sementara Fabian ditinggal begitu saja di depan sana.


"Ayolah Misha, saya ingin bicara empat mata sama kamu!" gumam Fabian.


Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka memperlihatkan Misha yang baru muncul menatap Fabian dengan tatapan dingin.


"Ada apa ya?" tanya Misha dingin.


"Misha, saya senang kamu masih mau menemui saya! Bisa kita bicara sebentar?" ujar Fabian.


"Silahkan aja bicara!" ucap Misha.


"Kita gak bisa bicara disini sayang, ikut saya yuk!" ucap Fabian seraya menggenggam tangan Misha.


Tiba-tiba saja Ashraf muncul dan menyingkirkan tangan Fabian dari lengan Misha dengan sinis.


"Kamu gak boleh paksa Misha buat bicara sama kamu, apalagi ikuti kemauan kamu! Saya juga gak akan izinin kamu bawa Misha pergi!" tegas Ashraf.


"Saya cuma ingin bicara sebentar sama Misha, tolonglah ngertiin saya!" rengek Fabian.


"Buat apa saya harus ngertiin perasaan anak dari orang yang sudah menghancurkan keluarga paman saya? Kalau kamu ingin bicara, silahkan bicara saja disini!" ketus Ashraf.


"Oke, saya akan bicara disini. Tapi, kamu tidak boleh mendengarkan dan harus masuk ke dalam!" ujar Fabian.


"Siapa kamu berani atur-atur saya? Ini rumah saya, jadi suka-suka saya mau disini atau di dalam. Kamu yang harus ikuti aturan saya!" ujar Ashraf.


"Ya ya ya, terserah kamu aja!" kesal Fabian.


Fabian pun beralih menatap Misha, meminta wanita itu untuk mau mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


"Misha, kamu dengerin saya ya!" ujar Fabian.


"Daritadi aku udah dengerin kamu kok mas, silahkan aja bicara!" ucap Misha.


"Terimakasih Misha! Saya sebenarnya kesini karena saya mau sampaikan permintaan maaf dari papa untuk kamu, papa benar-benar nyesel dan juga gak mau ini semua terjadi Misha! Semuanya di luar keinginan papa, ini takdir buruk yang gak diinginkan!" ucap Fabian.


"Heh! Papa kamu sebenarnya beneran nyesel apa enggak sih? Kok dia malah suruh kamu buat sampaikan permintaan maafnya? Kalau dia emang gentle, harusnya dia datang kesini sendiri dan minta maaf secara langsung dengan Misha atau om Hardi!" sela Ashraf.


"Kak, tolong diem dulu! Biar aku sama mas Fabian yang bicara, kak Ashraf jangan ikut campur!" tegur Misha pada kakak sepupunya itu.


Ashraf menurut dan terdiam sembari memutar bola matanya malas.


"Mas, untuk kali ini aku setuju sama yang dibilang kak Ashraf. Harusnya papa kamu itu datang sendiri kesini dan temui ayah," ucap Misha.


"Ya saya ngerti sayang, saya juga sudah bicara begitu sama papa. Tapi, papa belum sanggup untuk temui kalian sekarang," ucap Fabian.


"Mengapa?" tanya Misha penasaran.


"Sejak kejadian itu terjadi, hidup papa berubah drastis. Dari yang sebelumnya periang dan hobi keluyuran, sekarang jadi pendiam dan gak berani keluar rumah. Papa sangat-sangat takut kejadian itu akan terulang kembali," jawab Fabian.


"Papa kamu gak bisa kayak begitu terus mas, hubungan kita sekarang ada di tangan papa kamu! Kalau papa kamu gak berani temui ayah, maka maaf kita gak bisa lanjutin pernikahan ini mas!" ucap Misha.


Deg!


Jantung Fabian serasa berhenti berdetak mendengar apa yang diucapkan Misha barusan, ia benar-benar khawatir pernikahan yang sudah diimpikannya itu akan batal.


"Yaudah, cepat kamu ajak papa kamu kesini! Anak di dalam perut aku ini butuh sosok ayah," ucap Misha sembari mengusap perutnya yang mulai membesar.


Seketika Fabian mengarahkan pandangan ke arah perut Misha, ia juga tak ingin anaknya lahir tanpa sosok ayah.


"Baiklah, saya akan berjuang demi kamu dan juga calon anak kita sayang!" ucap Fabian tersenyum lirih.


Keduanya saling tatap dan berbalas senyum, Misha sendiri sebenarnya tak ingin kehilangan Fabian karena ia sangat mencintai lelaki itu.


"Ini ada apa ya??" tiba-tiba Hardi muncul dari dalam dan membuat mereka bertiga terkejut bukan main.


"Ayah? Kok ayah bisa disini?" kaget Misha.




Disisi lain, Khayra pulang dengan kondisi marah setelah niatnya untuk meminta tanggung jawab dari keluarga Fabian ternyata gagal.


Bahkan Fabian seperti tidak mau menganggap anak yang di kandungnya itu adalah anaknya, padahal Khayra yakin anaknya juga anak Fabian.

__ADS_1


"Aaarrgghh dasar jahat kamu Fabian! Kamu laki-laki tidak bertanggung jawab!" kesal Khayra.


"Bu Khayra!" wanita itu terkejut saat Mahen datang di hadapannya sambil membawa bunga.


"Ma-Mahen??" lirih Khayra, sudah lama dia dan Mahen tidak bertemu sebelumnya.


"Iya Bu, ini saya Mahen. Bu Khayra apa kabar? Ibu baik-baik aja kan?" ucap Mahen.


"Kamu mau apa lagi datang ke rumah saya? Belum puas kamu udah hancurin hidup saya?" tanya Khayra ketus.


"Maksud ibu apa? Sejak kapan saya hancurin hidup Bu Khayra? Bukannya ibu sendiri ya yang melakukan itu?" ujar Mahen.


"Hah? Bicara apa kamu Mahen?!" ujar Khayra.


"Maaf Bu! Tapi, memang benar begitu kan? Sikap ibu ke tuan muda yang bikin ibu sekarang jadi seperti ini, andai aja ibu bisa lebih baik dan memperhatikan tuan muda, mungkin ini semua gak akan terjadi dan ibu sudah hidup bahagia bersama tuan muda," ucap Mahen.


Khayra langsung terdiam mendengarnya, semua yang dikatakan Mahen memang benar bahwa selama ini sikapnya ke Fabian sudah membuat hidupnya hancur berkeping-keping.


"Tapi ibu gak perlu khawatir, saya akan berusaha untuk membuat kebahagiaan yang ibu dambakan itu terjadi!" ucap Mahen.


"Apa maksud kamu?" tanya Khayra heran.


Mahen meraih satu tangan Khayra dan menyerahkan bunga di tangannya kepada wanita itu.


"Ini hadiah dari saya untuk ibu," ucap Mahen.


"Cih saya gak butuh bunga kayak gini!" ketus Khayra.


"Bunga ini cuma perumpamaan Bu, maksud saya yang sebenarnya itu saya ingin menggantikan posisi tuan muda di hati ibu. Saya juga yang akan bertanggung jawab untuk bayi di dalam kandungan ibu itu," ucap Mahen.


"Kamu bicara apa sih Mahen? Anak ini anak Fabian dan dia gak bisa digantikan oleh siapapun, kamu jangan ngaco deh! Lagian darimana coba kamu tahu tentang kehamilan saya?" ujar Khayra.


"Dari kami, Khayra." Broto dan Linda langsung muncul menyela obrolan Khayra serta Mahen.


"Daddy, mommy??" ujar Khayra. "Kenapa daddy sama mommy kasih tahu semuanya ke Mahen?" sambungnya bertanya pada orangtuanya itu.


"Kami tidak ada pilihan lain nak, cuma ini yang bisa kami lakukan untuk membantu kamu. Kami gak mau lihat kamu sedih-sedih terus, karena Fabian yang tidak mau mengakui anaknya," jelas Broto.


"Iya sayang, sebagai orang tua tentu kami mau yang terbaik buat kamu. Dan yang kami lihat, nak Mahen ini orang yang baik kok," sahut Linda.


Khayra kembali menatap Mahen dengan bingung, sedangkan pria itu sendiri hanya tersenyum.


"Bagaimana Bu Khayra? Kamu bersedia kan untuk menikah dengan saya dan hidup bahagia bersama saya?" tanya Mahen pada intinya.


"Apa??!" tentu saja Khayra kaget, dia tak menyangka Mahen akan melamarnya secepat ini tanpa ada persiapan apapun.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2