
Siang hari saat waktu sekolah berakhir, Fabian bersama Mahen datang ke sekolah tempat Misha berada.
Mahen terlihat bingung karena ini kali pertama dia diajak Fabian menjemput Misha.
"Tuan muda, kita kenapa kesini ya? Memang tuan muda mau kembali bersekolah seperti dulu?" tanya Mahen menatap bosnya di kursi belakang.
"Kamu gausah banyak tanya! Saya kesini mau jemput seseorang, nanti saya juga akan kenalkan dia ke kamu," jawab Fabian.
"Eee siap tuan!" ucap Mahen patuh.
Fabian tersenyum lebar sembari celingak-celinguk ke sekeliling mencari keberadaan Misha, dia seperti sudah tak sabar ingin segera bertemu Misha dan mengenalkan wanita itu pada asistennya.
"Tuan, tuan cari siapa? Gak biasanya tuan juga senyum-senyum begitu," tanya Mahen heran.
"Kamu bisa diam tidak Mahen?! Saya kan sudah bilang tadi, saya mau jemput seseorang disini. Jadi, otomatis saya sedang cari orang itu lah. Kamu ini bikin saya kesal aja!" sentak Fabian.
"Ma-maaf tuan muda! Abisnya saya penasaran siapa orang yang tuan muda sedang cari," ucap Mahen.
"Kamu sabar aja! Saya yakin kamu juga gak akan nyesel setelah ketemu sama cewek ini, dia itu luar biasa cantiknya dan wajah imutnya juga gak bikin bosan!" ucap Fabian.
"Ma-maksud tuan orangnya itu perempuan??" tanya Mahen sedikit terkejut.
"Ya iyalah, emangnya ada laki-laki cantik ha?" jawab Fabian.
"Kok bisa sih tuan muda kenal sama perempuan yang masih SMA?" tanya Mahen heran.
"Apa sih yang saya gak bisa? Kamu kan tahu, saya paling suka daun muda, karena mereka itu lebih fresh dan tidak membosankan," jawab Fabian sembari membayangkan wajah Misha.
Mahen hanya menggeleng sekilas, baru kali ini dia melihat Fabian begitu memuji seorang wanita.
"Huh rasanya saya sudah termisha-misha.." keluh Fabian yang tak bisa menghilangkan wajah Misha dari kepalanya.
"Maksud tuan muda gimana ya?" tanya Mahen.
"Ah diam kamu Mahen! Kamu itu nanya terus daritadi, saya jadi nyesel ajak kamu kesini!" geram Fabian.
"Maaf tuan! Baiklah, saya tidak akan bertanya lagi!" ucap Mahen.
"Bagus! Memang seperti itu harusnya sejak tadi," ucap Fabian.
Tak lama kemudian, Misha keluar dari balik pagar sekolah dengan wajah ceria dan senyum manis melekat di bibirnya.
Sontak Fabian yang melihat itu langsung mengembangkan senyumnya, dia benar-benar bahagia ketika Misha muncul di depannya.
"Nah Mahen, kamu lihat kan perempuan yang pakai pita kupu-kupu dan gendong tas pink di depan itu?" ujar Fabian.
__ADS_1
"Eee iya tuan muda, saya lihat. Memangnya kenapa ya dengan perempuan itu tuan?" tanya Mahen.
"Haish, kamu itu gimana sih?! Dia itu ya Misha, perempuan yang mau saya jemput kali ini. Sudah, ayo kita turun dan temui wanita cantik itu!" jelas Fabian dengan geram.
"Baik tuan muda!" ucap Mahen patuh.
Setelahnya, Fabian dan Mahen pun turun dari mobil untuk menemui Misha disana. Mereka menatap ke arah Misha secara bersamaan tanpa berkedip.
"Hai tuan, selamat siang!" Misha menyapa Fabian sembari melambai dan tersenyum manis.
Fabian tersenyum, kemudian melangkah ke dekat Misha dan memeluknya erat di hadapan Mahen. Dia juga mencium serta mengusap rambut halus wanitanya sambil menyesap aroma tubuh Misha kuat-kuat.
"Mmhhh siang juga sayang! Kamu masih seperti pagi ya? Wangi banget gak ada obat!" ujar Fabian.
"Ahaha, tuan bisa aja! Bukannya wangi, yang ada tubuh aku tuh bau keringat tau. Emang tuan gak bisa bedain ya?" ucap Misha.
"Mana ada bau keringat? Kamu wangi begini kok, saya suka wangi kamu!" sangkal Fabian.
Misha hanya bisa terkekeh saat Fabian menghirup aroma tubuhnya dan menyesap lehernya di hadapan Mahen tanpa rasa malu.
"Eee tuan, pria itu siapa?" tanya Misha seraya menunjuk ke arah Mahen.
"Oh ya, saya sampai lupa sayang karena keasyikan peluk tubuh kamu yang mungil ini." Fabian menoleh dan melepas pelukannya. "Dia ini asisten saya, namanya Mahen. Nah Mahen, perempuan ini pacar saya, Misha." lanjutnya mengenalkan Misha kepada Mahen.
Sontak Mahen tersentak mendengar perkataan Fabian, tak disangka memang jika bosnya itu berpacaran dengan gadis SMA.
"Jangan sebut nama itu lagi di depan saya! Kalau kamu gak mau saya pecat," pinta Fabian.
"Umm, ba-baik tuan muda!" ucap Mahen gugup.
Mahen pun kembali menatap Misha, lalu mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.
"Saya Mahen!" ucapnya disertai senyum lebar.
"Misha!" balas Misha seraya meraih tangan Mahen dan bersalaman dengannya.
"Eh udah, jangan lama-lama!" seru Fabian sembari melepas paksa tangan Misha dari genggaman Mahen. Dia tampak tak suka asistennya berlama-lama menyentuh tangan Misha.
"Yasudah, ayo kita segera berangkat ke rumah papa saya!" perintah Fabian pada Mahen.
"Siap tuan!" ucap Mahen.
Fabian membukakan pintu untuk Misha, namun wanita itu masih menatap heran ke wajahnya.
"Kenapa? Saya ganteng ya?" ujar Fabian.
__ADS_1
"Ih bukan, aku cuma heran aja. Tuan mau bawa aku ke rumah papa tuan apa gimana?" ucap Misha bertanya pada Fabian.
"Iya, emangnya kenapa?" jawab Fabian santai.
"Untuk apa tuan?" tanya Misha penasaran.
"Saya cuma mau kenalin kamu ke orang tua saya, kan sebentar lagi kita bakal nikah," jelas Fabian.
"Hah??" Misha terkejut bukan main mendengarnya.
•
•
Singkat cerita, Misha telah tiba di depan sebuah rumah besar yang mungkin sebesar istana. Misha tampak syok melihat rumah itu, apalagi ia tahu itu adalah rumah milik orang tua Fabian.
Fabian yang berdiri di sampingnya, tiba-tiba merangkul pundak Misha sambil mengusap ceruk lehernya memberikan sensasi geli bagi Misha.
"Ih tuan apa sih?! Aku tuh lagi gugup tau, jangan macam-macam deh!" protes Misha.
"Hahaha, gugup kenapa sih? Kamu kan cuma mau ketemu orang tua saya, santai aja kali gausah gugup gitu! Saya jamin papa mama saya pasti suka sama kamu!" ucap Fabian.
"Ta-tapi tuan—"
"Tenang aja sayang! Papa mama saya itu baik kok, jangan takut ya!" potong Fabian.
"Iya deh tuan," lirih Misha.
"Yaudah, masuk yuk! Saya bantu kamu jalan, biar kamu terbiasa pakai heels itu. By the way, kamu cantik banget sayang!" ujar Fabian.
Misha tersipu begitu Fabian memujinya, deru nafas pria itu juga membuatnya merinding. Ya saat ini Misha sudah berganti pakaian, tentunya sebelum kesini sebelumnya Fabian membawa Misha menuju sebuah butik dan salon langganannya.
Perlahan mereka melangkah masuk ke dalam rumah besar itu, sedangkan Mahen hanya menunggu di luar masih dengan perasaan bingung.
Kegugupan Misha semakin bertambah begitu ia memasuki rumah tersebut, tak terbayang di pikirannya jika ia akan mendatangi rumah itu sebagai calon istri dari tuan muda Fabian.
"Rileks baby, jangan panik gitu!" bisik Fabian.
Misha mengangguk pelan, berusaha menetralkan dirinya. Namun, tetap saja sulit baginya untuk bisa tenang sesuai permintaan Fabian.
"Selamat datang, mas Biyan sayang!" keduanya sama-sama terkejut saat suara lembut terdengar di telinga.
Fabian melotot tajam, begitupun dengan Misha. Khayra saat ini tengah berdiri di hadapan mereka dan tersenyum ke arah sepasang kekasih itu.
"Khayra??" lirih Fabian.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...