Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Pernikahan


__ADS_3

"Terserah lah! Aku udah muak sama kelakuan kakak!" kesal Misha.


Misha mengambil tasnya dan berniat pergi, namun tiba-tiba Ashraf mencekal lengannya.


"Tunggu Misha!" ucap Ashraf.


"Ih apa lagi sih?!" sentak Misha.


"Ada satu lagi yang mau saya sampaikan ke kamu," ucap Ashraf.


"Apa?" tanya Misha penasaran.


"Dulu, ibu kamu meninggal bersama anak yang dikandungnya. Artinya kamu juga kehilangan adik kamu Misha, apa kamu masih mau memaafkan mereka?" jelas Ashraf.


Deg!


Misha tersentak mendengarnya, matanya terbelalak disertai mulut yang terbuka lebar akibat perkataan Ashraf barusan.


Namun, pikirannya seolah menyangkal dan tak mau memperbaiki apa yang baru saja dikatakan Ashraf padanya itu.


"Kakak ngomong apa sih? Jangan asal bicara deh! Kakak pikir dengan kakak bicara begitu, terus aku bakal dendam sama papa Dominic dan mas Biyan? Enggak kak, lagian aku juga gak percaya sama perkataan kakak!" ujar Misha.


"Semua yang saya ucapkan barusan itu benar adanya Misha, ibu kamu memang sedang mengandung adik kamu saat kecelakaan itu terjadi," ucap Ashraf meyakinkan Misha.


Misha tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mempercayai perkataan Ashraf.


"Enggak, aku gak percaya!" tegas Misha.


"Kamu bisa tanya langsung sama mama saya! Waktu itu ibu kamu baru cerita ke mama saya tentang kehamilannya, ibu kamu punya buat kasih kejutan ke ayah kamu. Tapi naas, dia malah lebih dulu pergi sebelum semuanya sempat dia ceritakan sama ayah kamu," jelas Ashraf.


Perkataan Ashraf kali ini membuat Misha terdiam membisu, dia memandang ke arah pria tersebut dan tidak menemukan raut kebohongan sama sekali disana.


"Saya gak bohong sama kamu Misha, buat apa juga saya bohong coba? Saya mengatakan ini, cuma untuk kasih tahu ke kamu kalau keluarga Fabian itu benar-benar sudah menghancurkan hidup kamu dan orang tua kamu!" ujar Ashraf.


"Dimana aku bisa temuin tante Mayang?" tanya Misha.


"Kenapa Misha? Kamu mau cari tahu semua kebenaran tentang ucapan saya?" ucap Ashraf.


"Iya, aku bakal temuin tante Mayang alias ibu kamu dan tanya langsung ke dia seperti apa yang kamu bilang tadi," ucap Misha.


"Baguslah! Kamu bisa temui mama saya di villa mutiara, jalan mentari. Setelah itu, kamu akan percaya kalau saya tidak bohong!" ucap Ashraf.


"Oke!" singkat Misha.


Wanita itu pun melangkah begitu saja meninggalkan Ashraf yang masih berdiam di tempatnya sambil tersenyum miring.


"Bagaimanapun caranya, saya harus gagalkan pernikahan kalian!" lirih Ashraf.


Dua orang polisi datang dan membawa Ashraf kembali ke selnya, pria itu menurut saja mengikuti keduanya.

__ADS_1


Sementara Misha telah berada di luar, ia masih terlihat bimbang apakah ia harus mempercayai perkataan Ashraf atau tidak.


"Duh aku bingung, apa benar ya ibu mengandung adik aku?" gumam Misha.


"Ah udah deh, biar jelas aku langsung datang aja ke alamat yang dikasih sama kak Ashraf tadi! Tapi, kalau emang benar ibu lagi hamil waktu itu, aku harus apa dong?" sambungnya.


Cukup lama wanita itu berpikir disana, sesekali dia menggaruk keningnya akibat semua yang terjadi di kehidupannya selama ini.


Akhirnya karena tak ingin membuang waktu, Misha langsung saja mencegat taksi di jalan dan menaiki taksi tersebut.


"Aku harus buktiin semuanya, meski nantinya aku akan sakit jika memang benar ibu sedang mengandung adik aku saat itu! Tapi gapapa, ini semua demi kebenaran!" batin Misha saat di dalam taksi.


"Kita mau kemana neng?" tanya sang supir.


"Eee jalan mentari pak, villa mutiara," jawab Misha.


"Oh, baik neng!" ucap supir itu.


Taksi pun melaju pergi dari kantor polisi tersebut menuju tujuan yang sudah dikatakan Misha.




Disisi lain, Khayra baru saja menyelesaikan upacara pernikahan dirinya dengan Mahen. Saat ini mereka pun berada di pelaminan, berdiri menyambut tamu yang berdatangan.


"Khayra, kamu nyariin siapa sih daritadi? Aku udah jadi suami kamu loh, harusnya kamu tuh perhatiin aku Khayra!" tegur Mahen.


"Diam kamu Mahen!" bentak Khayra.


Mahen sontak menggelengkan kepala mendengar Khayra membentaknya, sungguh dia memang harus banyak bersabar menghadapi wanita itu.


"Kamu gak boleh kasar gitu sama suami kamu! Emangnya kamu mau jadi janda lagi?" ujar Mahen.


"Maksudnya? Kamu pengen cerein aku juga gitu kayak mas Fabian?!" ujar Khayra.


"Sekarang sih enggak, tapi gak menutup kemungkinan itu bakal terjadi nanti kalau sikap kamu masih begini terus ke aku," ucap Mahen.


"Haish, kamu berani ngancem aku sekarang?!" geram Khayra.


"Itu bukan ancaman, cuma sebuah perkataan biasa. Aku gak akan ceraikan kamu Khayra, asal kamu mau merubah sikap kamu!" ucap Mahen.


Khayra terdiam, "Aku gak boleh pisah sama Mahen secepat ini, nanti gimana sama nasib anak aku? Aku gak mau anak aku lahir tanpa sosok ayah, dia pasti sedih banget!" pikirnya dalam hati.


"Oke! Aku bakal usaha buat berubah sesuai keinginan kamu," ucap Khayra pada suaminya.


"Pilihan yang bagus! Aku harap kamu bisa berubah jadi lebih baik!" ucap Mahen.


Khayra memutar bola mata seraya membuang muka dari pandangan sang suami, hal itu membuat Mahen menarik wajahnya agar kembali menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Tuh kan katanya mau berubah, baru beberapa detik aja udah kayak gitu lagi. Kamu harus biasain dong Khayra!" ucap Mahen.


"Apa salahnya buang muka?" tanya Khayra.


"Jelas salah, karena kamu buang muka dari aku, suami kamu. Dan asal kamu tau, suami itu harus dihormati dan dihargai!" jawab Mahen.


"Kamu bawel banget sih Mahen! Yaudah, aku turuti kemauan kamu!" sentak Khayra.


"Aku bukan bawel Khayra, aku cuma mau membimbing kamu jadi istri yang baik. Kamu pernah gagal dalam berumah tangga, aku gak mau kamu gagal lagi untuk kedua kalinya!" ucap Mahen.


"Aku juga gak mau kali gagal terus, malu lah sama orang-orang!" ujar Khayra.


"Nah, makanya kamu harus nurut sama aku sebagai suami kamu!" ucap Mahen.


"Aku bakal usaha, tapi harap maklum kalau kadang suka khilaf!" ucap Khayra.


"Ya ya, asal khilaf nya gak keterusan aja. Kalau keterusan, itu namanya sengaja!" ucap Mahen.


"Hadeh, yaudah gausah ngobrol terus! Ada tamu lagi tuh yang datang," ucap Khayra.


"Sopan dikit dong ngomongnya! Sama suami itu gak boleh keras!" tegur Mahen.


"Iya iya, ayo kamu diri atau mau aku bantu?" ucap Khayra.


Mahen tersenyum sembari mencubit pipi Khayra.


"Kamu ngapain cubit pipi aku kayak gitu?" tanya Khayra tampak tak suka.


"Gemes," jawab Mahen sambil terkekeh.


Khayra sontak terdiam, entah mengapa debaran jantungnya jadi semakin cepat saat ini. Mungkinkah ia mulai merasa jatuh cinta pada suaminya itu?


Lalu, Khayra pun menyusul suaminya berdiri di atas pelaminan bersiap menyambut tamu yang hadir.


"Selamat ya Mahen! Akhirnya lu nikah juga bro, semoga bahagia selalu dan cepat punya momongan!" ucap seorang lelaki menyalami Mahen dan Khayra.


"Terimakasih Hans! Kamu memang sahabat saya yang paling setia, saya senang kamu bisa hadir disini!" ucap Mahen.


"Sama-sama bro. Eh btw bini lu cantik amat, gue kayak pernah lihat dia, tapi dimana ya?" ujar pria bernama Hans itu.


"Ah iya, Khayra ini emang model. Dia juga beberapa kali tampil di film walau sebagai cameo, mungkin kamu lihat dia dari film atau majalah," ucap Mahen.


"Wah serius?! Gile keren lu bro!" ujar Hans.


Mahen tersenyum saja sembari menatap Khayra, sedangkan wanita itu tetap diam tak bergerak.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2