
...Menjelang tamat, waktunya konflik terselesaikan. Kalian dukung terus author ya, like+komen biar author makin semangat!🤗🤗...
...***...
•
•
"Huweekk.." Khayra tiba-tiba saja merasa mual yang amat sangat saat sedang menonton tv bersama kedua orangtuanya.
"Khayra, kamu kenapa sayang?" tanya Linda cemas melihat wajah putrinya yang begitu pucat.
"Enggak tahu mom, perut aku rasanya mual banget. Udah beberapa kali sih sering begini, aku juga bingung," jawab Khayra sembari memegangi perutnya.
"Hah? Waduh, jangan-jangan kamu hamil lagi sayang!" tebak Broto.
"Apa? Daddy ih ngaco aja! Mana mungkin aku hamil? Aku kan udah gak punya suami," ujar Khayra.
"Bisa aja kan? Coba deh, kamu udah telat datang bulan berapa hari?" ujar Broto.
"Eee..." Khayra terdiam sesaat, benar juga yang dikatakan ayahnya kalau saat ini sudah hampir dua Minggu ia tidak datang bulan.
"Daddy benar sih, aku udah dua Minggu telat haid. Tapi, gak mungkin aku hamil dad!" ucap Khayra.
"Kamu tenang dulu! Coba aja kamu periksa pake testpack atau biar pasti langsung ke dokter!" usul Broto.
"Ih gak mau, kalau aku bener-bener hamil gimana dad? Siapa yang harus aku mintai tanggung jawab?" ucap Khayra cemas.
Linda dan Broto saling pandang satu sama lain, mereka pun bingung harus bagaimana.
"Ini pasti anak Fabian kan? Kamu belum pernah berhubungan dengan siapapun kan selain mantan suami kamu itu?" tanya Linda.
"Ya iyalah mom, cuma mas Fabian yang sentuh aku. Itu juga cuma sekali sih, emang bakal jadi benihnya ya mom?" jawab Khayra.
"Bisa aja, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Ayo mommy temani kamu cek kondisi kamu!" ajak Linda.
"Ta-tapi mom, aku takut!" gugup Khayra.
"Santai aja! Kalau memang kamu hamil, kita langsung datangi rumah orang tua Fabian dan minta tanggung jawab dari pria itu!" ujar Linda.
"Iya, daddy juga pasti bantu kamu kok sayang. Sudah ya, kamu tenang aja!" timpal Broto.
"Makasih ya dad, mom! Aku senang banget kalian bisa pulang kesini, jadinya aku ada teman deh!" ucap Khayra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama, udah yuk sekarang kita periksa kondisi kamu!" ajak Linda.
Khayra mengangguk setuju, ia sebenarnya juga penasaran apakah benar saat ini ia sedang mengandung atau tidak.
Namun, rasa mualnya itu kembali menyerang saat Khayra hendak bangkit dari duduknya. Khayra pun memutuskan pergi ke kamar mandi.
"Huweekk huweekk!!"
Linda serta Broto terlihat panik, mereka merasa kasihan pada Khayra jika benar-benar hamil disaat dia sudah resmi menjanda setelah diceraikan oleh Fabian beberapa waktu lalu.
"Pa, kasihan ya Khayra! Mama gak bisa bayangin gimana dia bisa rawat anaknya sendirian tanpa sosok suami," ucap Linda.
"Kamu benar Linda, itu juga yang daritadi aku pikirin. Pokoknya kita harus bantu Khayra sampai dia mendapat tanggung jawab dari Fabian! Laki-laki itu tidak boleh pergi begitu saja, secepatnya kita harus temui dia!" geram Broto.
"Benar pa, mama juga gak mau Khayra tersiksa kalau harus mengurus anaknya sendirian. Ini semua kan ulah Fabian, dan anak yang dikandung Khayra itu anak Fabian, jadi Fabian memang harus bertanggung jawab!" ucap Linda.
"Yaudah ya pa, mama mau susulin Khayra dulu?" sambungnya.
"Iya iya, abis itu kalian langsung aja berangkat ke rumah sakit buat periksa Khayra!" ujar Broto.
"Iya pa," ucap Linda singkat.
Linda pun bangkit dari duduknya, menyusul Khayra menuju kamar mandi dan meninggalkan suaminya disana.
"Saya harus segera bicara dengan Dominic! Putranya itu tidak bisa lari dari tanggung jawab, saya gak mau Khayra tersiksa karena merawat anaknya sendirian!" gumam Broto.
•
•
Saat ini Fabian memang berada di rumah sang papa, dia sengaja menemui papanya untuk meminta penjelasan terkait apa yang dikatakan Ashraf padanya sebelum ini.
"Apa pa??! Berarti benar ucapan sepupunya Misha kalau papa pelaku tabrakan itu?" ujar Fabian.
"Benar Fabian, memang papa pelakunya. Maka dari itu, sampai sekarang papa gak pernah berani keluar rumah. Papa trauma karena papa sudah membuat satu keluarga menderita, bahkan papa juga gak nyangka kalau ternyata keluarga itu adalah keluarganya Misha, calon istri kamu." jelas Dominic dengan menahan sedihnya.
Fabian mengusap wajahnya kasar, jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan sang papa yang menyakitkan itu.
"Papa kenapa tega banget sih pa? Kalau memang papa pelaku tabrak lari itu, kenapa papa gak mau tanggung jawab? Kenapa papa harus tutupi semua ini?" tanya Fabian.
"Papa minta maaf sama kamu Fabian! Waktu itu papa benar-benar syok setelah tahu kalau papa menabrak, papa gak berpikir panjang dan papa juga gak mau masuk penjara," jawab Dominic.
"Papa gak perlu minta maaf sama aku, harusnya papa temui Misha dan ayahnya terus papa minta maaf secara langsung sama mereka! Itu juga kalau mereka mau maafin papa," ujar Fabian.
__ADS_1
"Papa belum siap Fabian," lirih Dominic.
"Hah? Gimana bisa papa belum siap? Semakin lama papa menyimpan ini, semakin susah juga papa buat lepas dari masalah ini!" ucap Fabian.
"Ya papa ngerti, tapi papa masih takut bertemu dengan ayah Misha. Gimana kalau ayah Misha benci sama papa dan kalian tidak jadi menikah? Ini gak semudah yang kamu bicarakan Fabian," ucap Dominic.
Seketika Fabian terdiam, ucapan Dominic memang benar dan dia sendiri tidak mau jika pernikahan dirinya dengan Misha batal terlaksana.
"Laksanakan dulu pernikahan kalian, baru papa akan temui ayah Misha dan minta maaf dengan dia!" usul Dominic.
Fabian masih terdiam bingung, ia tak tahu harus mengambil keputusan bagaimana untuk dirinya saat ini.
"Duh, gimana ini ya? Saya gak mau kehilangan Misha karena saya sangat mencintai dia! Tapi, saya juga khawatir Misha akan kecewa kalau dia tahu papa yang sudah membuat ibunya meninggal. Tidak mungkin saya sembunyikan ini terus dari Misha," gumam Fabian dalam hati.
Tak lama kemudian, Cornelia datang dan melihat putra serta suaminya tengah asyik berbincang di ruang keluarga dengan tampang serius. Ia pun penasaran lalu menghampiri mereka.
"Ehem ehem.." Cornelia berdehem pelan membuat kedua pria itu menoleh bersamaan.
"Eh kamu udah pulang sayang?" tanya Dominic.
"Iyalah mas, kan aku udah ada disini. Kalian lagi pada bicarain apa sih, kayaknya serius banget?" ucap Cornelia sembari duduk di dekat suaminya.
"Bukan apa-apa kok, kamu kenapa pulangnya cepat banget? Katanya kamu mau ke salon buat perawatan, biasanya kan lama," heran Dominic.
"Tadi aku gak jadi ke salon mas, soalnya tempatnya tutup. Jadi, aku keluar cuma mondar-mandir doang," jawab Cornelia.
"Oalah, pantas aja sebentar banget." ucap Dominic sambil tersenyum tipis.
"Jadi gimana, kalian berdua pada bicarain apa sih? Aku boleh tau gak?" tanya Cornelia penasaran.
"Gak ada apa-apa ma, papa cuma ngajak aku ngobrol biasa kok. Soalnya kan udah jarang juga aku sama papa ngobrol-ngobrol, ya kan pa?" jawab Fabian.
"Ah iya, betul itu!" timpal Dominic.
"Ohh, yaudah deh mama mau ke kamar aja. Kalian lanjutin aja ngobrolnya!" ujar Cornelia.
"Iya ma," singkat Fabian.
Cornelia pun pergi dari sana dan masuk ke kamarnya, sedangkan Fabian serta Dominic tetap disana melanjutkan perbincangan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
*ekspresi Misha karena tau pada gak mau komen