
Misha saat ini berada di dalam toilet mall, dia berjalan keluar menuju wastafel untuk mencuci tangan serta membasuh wajahnya sesaat.
Awalnya wanita itu merasa biasa saja, namun semua berubah begitu ia menyadari dua orang wanita di sebelahnya memandang sinis ke arahnya seperti menaruh kebencian padanya.
Benar saja, tak lama terdengar bahwa mereka berbisik-bisik mengenai dirinya. Misha samar-samar mendengar kalau kedua wanita itu menggunjing tentang statusnya sebagai pelakor alias perebut suami orang.
Misha berusaha tetap tenang dan tidak mau ambil pusing dengan perkataan itu, ia pun menyudahi aktivitasnya dan pergi begitu saja dari toilet itu sembari menetralkan nafasnya.
Dia berjalan pelan, sesekali terisak saat mengingat kembali ucapan wanita-wanita di toilet tadi. Ya Tuhan! Apa aku memang seorang pelakor? batinnya. Sungguh dia sangat tertekan saat ini, dia menghentikan langkahnya sejenak lalu berpegangan pada tembok.
Rasanya hatinya begitu hancur saat ini, terlebih saat orang-orang lain juga banyak yang mengumpat ke arahnya.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa seisi mall mengetahui tentang ini?" pikirnya dalam hati.
Tak mau terlalu lama larut dalam kesedihan, Misha akhirnya bangkit dan mencoba kuat. Dia meyakini dirinya kalau apa yang dia lakukan tidak salah, meskipun dia sendiri pun tak yakin dengan itu.
"Kamu gak salah Misha, ini bukan salah kamu! Dari awal kamu juga gak niat buat rebut tuan Fabian, kamu hanya melakukan tugas kamu sebagai partner ranjang nya. Ayolah Misha, kamu pasti kuat!" dia terus menguatkan diri selama perjalanan.
Misha pun tiba di lokasi Fabian berada, ia lihat pria itu tengah bersantai menikmati es krim sembari melihat pemandangan di bawahnya. Ya saat ini mereka berada di lantai tiga, tepatnya tempat restoran es krim terenak disana.
"Tuan!" Misha menyapa Fabian dengan lirih. Ia berdiri di sebelah lelaki itu seraya memandanginya dengan wajah bersalah.
Fabian langsung bangkit dari duduknya dan melontarkan pertanyaan. "Eh Misha, ada apa? Kenapa wajah kamu terlihat bersedih seperti itu? Apa ada yang menyakitimu di toilet?"
Misha tampak gugup, menggeleng pelan tanpa menatap wajah pria di depannya.
"Are you sure? Kamu yakin?" tanya Fabian kembali.
"Iya tuan, aku sangat yakin. Lagipun, mana ada orang yang berani menyakitiku? Aku ini wanita kuat tuan, aku tidak akan mudah untuk disakiti!" jawab Misha mencoba meyakini Fabian.
"Syukurlah! Kalau begitu, kamu duduk sekarang dan nikmati es krim ini! Saya sengaja memesannya untuk kamu, saya yakin kamu pasti lelah setelah permainan menyenangkan kita tadi!" ujar Fabian seraya menyodorkan semangkuk es krim vanila ke arah Misha.
"Umm, terimakasih tuan! Aku sangat menyukai es krim vanila, terlebih disaat seperti ini!" ucap Misha yang tanpa ragu mulai duduk di samping Fabian.
"Itu bagus, saya ternyata tidak salah pilih es krim!" kekeh Fabian.
Misha ikut tersenyum tipis, lalu menyantap es krim di depannya dengan perlahan dan menikmatinya. Seketika es krim itu berhasil membuat kepalanya terasa dingin dan tak lagi memikirkan perkataan orang-orang tadi.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Fabian.
"Ya, ini nikmat." Misha menjawab tanpa ragu.
"Tapi tetap saja, es krim natural yang paling enak dan nikmat. Kamu mau mencobanya kan di mobil?" goda Fabian.
Seakan mengerti maksud dari Fabian, Misha mengangguk saja dan membuat lelaki itu tersenyum lebar.
Mereka pun melanjutkan memakan es krim tersebut hingga habis, lalu Fabian kembali mengajak Misha berkeliling mall sampai kedua kaki mereka tak mampu lagi berjalan.
•
•
Tanpa disadari oleh mereka, Khayra di seberang sana tampak memberikan sebuah amplop coklat pada beberapa orang di dekatnya.
"Ini bayaran untuk kalian, terimakasih atas kerja bagus kalian!" ucap Khayra.
"Kami yang seharusnya berterima kasih sama ibu, kalau ibu butuh bantuan lagi bilang saja ke kami ya Bu!" ucap salah seorang perempuan disana.
"Iya iya, sudah sana kalian pergi sebelum ada yang lihat!" ujar Khayra.
Tinggallah Khayra seorang diri disana, dia terkekeh menyaksikan bagaimana Misha tampak terpukul setelah digunjing oleh orang-orang suruhannya tadi.
"Hahaha, aku yakin setelah ini Misha pasti pikir-pikir ulang buat menikah dengan mas Fabian! Pokoknya aku gak akan biarin pernikahan mereka terjadi, aku harus lakukan apapun demi menggagalkan pernikahan itu!" gumam Khayra.
Sementara itu, Mahen yang selalu memantau Khayra dari jauh terlihat menggelengkan kepala setelah tau apa yang dilakukan Khayra terhadap Fabian dan Misha.
Mahen benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Khayra itu, ia sangat khawatir jika Khayra akan semakin menderita nantinya di tangan Fabian atas apa yang dia lakukan.
"Ini tidak bisa dibiarkan, saya harus cegah rencana Bu Khayra, ini semua demi kebaikan bu Khayra sendiri!" lirih Mahen.
•
•
Fabian membawa tubuh Misha masuk ke apartemennya dengan menggendongnya ala koala tanpa melepas tautan bibir mereka.
__ADS_1
Pria itu sengaja berpindah tempat, ia sudah kapok setelah dua kali Khayra memergoki mereka saat sedang beraktivitas panas.
Fabian pun menutup pintu dengan kakinya, meletakkan tubuh Misha di atas ranjang dengan perlahan dan menindihnya. Ciuman mereka semakin intim, mulut terbuka Misha membuat Fabian tak mau menyia-nyiakannya, dia langsung saja menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Misha, mengabsen tiap inci areanya.
Misha yang mulai terbawa suasana, membalas luma-tan Fabian dengan tak kalah ganasnya. Ia bahkan sudah mengalungkan kedua tangannya di leher sang pria dan sesekali mengeluarkan suara indah yang tertahan.
Kedua tangan Fabian perlahan menggerayangi tubuh Misha, membuka paksa pakaian wanita itu hingga menampakkan bongkahan indah miliknya. Tanpa berpikir panjang, Fabian langsung saja menekannya dengan lembut dan menyatukan keduanya, menggesek puncaknya hingga sang empu bertambah semangat.
Mulut Fabian beralih ke leher jenjang sang wanita, menyesap lembut sampai meninggalkan bekas disana. Sedangkan kedua tangan nakalnya semakin aktif di bawah sana.
Tak butuh waktu lama, kondisi Misha sudah naked dengan posisi di bawah kungkungan Fabian. Misha hanya bisa pasrah menikmati itu semua, dia tak punya kekuatan untuk menolak, walaupun hatinya sedang kalut saat ini.
Satu jari Fabian menelusup masuk ke dalam mahkota Misha, sedangkan tangannya yang lain masih aktif bergerak di kedua bukit kembar itu.
Misha menggelinjang hebat, merasakan gejolak yang menyeret tubuhnya. Ini luar biasa dan sangat nikmat untuk Misha! Wanita itu terus bersuara indah, kupu-kupu seakan mengepak di perut ratanya saat Fabian menambah satu jari lagi.
Dua kali sudah Misha mencapai puncak, kini Fabian tak mau berlama-lama lagi. Dia langsung mengambil es batu dari dalam kesal sembari menanggalkan seluruh pakaiannya.
Misha mengerjapkan matanya saat melihat Fabian kembali dengan kotak es batu di tangannya.
"Apa yang ingin kau lakukan tuan?" tanya Misha sedikit khawatir.
"Rileks baby, nikmati saja!" perintah Fabian. Sedetik kemudian Misha mengangguk dan kembali memejamkan matanya seolah bersiap dengan apapun yang ingin dilakukan lelaki itu.
Fabian menyunggingkan senyumnya, mengambil dua buah es batu tersebut dan menempelkannya secara perlahan di kedua puncak bukit Misha.
Seketika wanita itu melengking, sensasi ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dingin dan geli bercampur aduk, jujur Misha sangat menikmati setiap permainan Fabian.
Tak berhenti sampai disitu, Fabian juga memasukkan sebuah es batu berukuran sedang ke dalam mahkota Misha. Wanita itu bertambah gila, es batu itu tertelan di dalam sana.
"Ahh dingin tuan, kumohon hentikan! Masukkan dengan milikmu saja tuan!" rengek Misha.
"As you wish baby!" bisik Fabian seraya menggigit cuping telinga Misha.
Jlebb...
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...