
Dubai, 22.00
Khayra dan sang suami tengah menikmati indahnya malam di atas balkon rumahnya, mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan sesekali bercumbu mesra di bawah pemandangan indah langit kota Dubai.
Mahen memang sengaja membawa istrinya ke kota para sultan itu, dia ingin menunjukkan pada Khayra bahwa dia tidak kalah dengan Fabian dan dia bisa memberikan apapun pada wanita itu.
"Gimana sayang? Kamu suka kan sama pemandangan disini?" tanya Mahen lembut.
Khayra menjawab sembari melirik ke arah suaminya, "Of course, yes."
"Baguslah, aku senang kalau kamu suka sayang! Aku selalu ingin lihat kamu bahagia, itu sebabnya aku menikahi kamu," ucap Mahen.
"Dan kenapa kamu baru lakukan itu sekarang?" tanya Khayra menelisik.
"Dulu saat kita bertemu pertama kali, status kamu adalah wanita yang dijodohkan dengan atasan saya, Khayra. Mana mungkin saya bisa menikahi kamu waktu itu?" jelas Mahen.
"Umm, jadi kamu sengaja nunggu aku dan mas Biyan pisah?" tanya Khayra lagi.
Mahen mengangguk tanda iya. Memang ia tidak bisa berbohong, setiap hari ia selalu berharap Fabian menceraikan Khayra agar ia dapat menikahi wanita itu.
"Kamu benar-benar anak buah yang kurang ajar ya Mahen! Bisa-bisanya kamu berharap keretakan di rumah tangga bos kamu sendiri," cibir Khayra.
"Mau gimana lagi? Aku cinta sama kamu Khayra, tapi gak mungkin juga aku terang-terangan bilang begitu sama tuan muda Fabian," ucap Mahen.
"Sekarang kamu udah bukan asisten dia lagi, kenapa kamu masih panggil dia dengan sebutan itu?" tanya Khayra heran.
"Aku hanya menghargai dia," jawab Mahen singkat.
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas itu lagi. Aku mau menikmati waktu sama kamu sayang, jarang kan kita begini?" sambungnya sembari merapatkan tubuhnya dengan sang istri.
"Kita ke dalam yuk! Dingin juga lama-lama baring disini," ajak Khayra.
"Oh kamu kedinginan?" tanya Mahen.
"Iyalah, namanya juga di luar terus malam-malam begini gimana gak dingin. Kita masuk aja yuk ke dalam!" jawab Khayra.
"Sebenarnya sih aku masih mau disini, tapi kalau kamu kedinginan yaudah aku ngalah sama kamu. Yuk kita balik ke dalam!" ucap Mahen bangkit dari posisinya.
Khayra tersenyum sembari menatap Mahen, perlakuan pria itu kepadanya selalu berhasil membuat Khayra bahagia.
"Kenapa diem aja ngeliatin aku? Ayo bangun terus pindah ke dalam!" ujar Mahen.
"Eee iya iya.." Khayra yang gugup akhirnya bangkit sesuai perintah Mahen.
Tiba-tiba saja pandangan Mahen tertuju pada perut Khayra yang terlihat mulai membesar, dia juga mengusapnya perlahan.
"Kamu ngapain sih?" tanya Khayra heran.
"Aku gak sabar aja nunggu anak kita lahir, pasti tambah seru deh keluarga kita dengan kelahiran seorang anak," jawab Mahen sambil tersenyum.
"Mahen, tapi ini kan—"
"Ya ya aku tahu ini bukan anak aku, seenggaknya dia bisa bikin kita bahagia sayang," potong Mahen.
"Makasih ya Mahen! Kamu udah mau jadi ayah pengganti buat anak ini," ucap Khayra.
"Kamu gak perlu bicara begitu, aku bakal anggap dia seperti anak kandung aku sendiri. Sudahlah, jangan sedih-sedih terus!" ucap Mahen.
Khayra yang terisak berusaha menghapus air matanya, Mahen yang melihatnya pun ikut membantu menenangkan sang istri.
"Sudah ya, ayo kita ke dalam! Atau kamu mau aku gendong aja?" tanya Mahen.
"Eee enggak enggak, aku bisa jalan sendiri kok. Ngapain digendong udah kayak anak kecil aja?" jawab Khayra.
"Oh okay," singkat Mahen.
Akhirnya sepasang suami-istri itu berdiri dan melangkah ke dalam rumah.
•
•
__ADS_1
Jakarta, 06.00
"Mas, bangun mas!" Misha kesulitan membangunkan Fabian dari tidurnya, pria itu justru mendengkur semakin keras dan membuatnya kesal.
"Ish, gimana lagi sih cara bangunin nya? Kebo banget jadi orang!" kesal Misha.
Misha yang kehabisan cara, memilih untuk mendekati wajah Fabian yang tengah tertidur itu dan mengecup kedua pipinya lembut.
Cup
Cup
Namun, Fabian tetap saja tidak terbangun. Misha pun semakin kesal, dia coba menggoyangkan tubuh suaminya itu dengan kasar agar segera bangun dari tidurnya.
"Ih mas, ayo bangun! Kamu lupa ya hari ini kamu ada janji? Bangun mas cepetan!" ucap Misha tak henti-hentinya menggoyangkan tubuh Fabian.
"Engghh duh apaan sih?!" sentak Fabian.
"Huh makanya cepet bangun mas! Jangan tidur terus kayak kebo!" tegur Misha.
Fabian akhirnya membuka matanya dan melihat wajah sang istri yang tengah merengut.
"Hey cantik, selamat pagi!" ucap Fabian.
"Apaan selamat pagi selamat pagi! Ayo bangun ah!" kesal Misha.
"Iya iya ini saya bangun kok, ada apa sih manis?" ucap Fabian langsung terduduk di sebelah istrinya.
"Kok ada apa sih mas? Kamu lupa kalau kamu janji mau antar aku ke rumah sakit buat ngecek kandungan aku?" ujar Misha.
"Gak lupa kok, saya ingat lah sayang. Tapi ini kan masih pagi, matahari juga baru nongol. Rumah sakit mana yang buka jam segini?" ucap Fabian.
"Siapa juga sih yang ngajakin pergi sekarang? Aku kan cuma mau kamu bangun, biar nanti kita perginya gak telat!" ucap Misha.
"Iya iya, tapi lain kali bangunin saya jangan seperti itu dong!" pinta Fabian.
"Biarin, suruh siapa dibangunin pelan-pelan susah banget!" ketus Misha.
"Makanya lain kali tuh kalo bangunin saya, cium aja bibir saya! Dijamin deh saya pasti bangun kok," ucap Fabian sembari mencubit pipi Misha.
"Ya emang iya, apa salahnya sih cium suami sendiri pagi-pagi begini?" goda Fabian.
"Masalahnya itu kamu belum mandi, belum sikat gigi. Kalau aku cium kamu, bau tau!" ujar Misha.
"Hah masa sih? Saya mah selalu wangi tau," ucap Fabian sambil tersenyum lebar.
"Apaan? Ngaco aja!" ujar Misha.
"Yaudah, kita mandi bareng yuk!" ajak Fabian.
"Aku mah udah mandi mas, kamu gak lihat nih pakaian aku rapih begini terus badan aku wangi?" ucap Misha.
"Oh iya, pantas daritadi saya cium-cium wangi, eh ternyata wangi tubuh kamu," ucap Fabian.
"Udah ah cepetan bangun terus ke kamar mandi! Jangan males mas!" paksa Misha.
"Siapa yang malas sih? Saya gak tahu kenapa, rasanya pengen tiduran terus disini. Kayaknya kasur ini ada magnetnya deh," ujar Fabian.
"Alasan aja kamu mas! Bukan kasurnya yang salah, tapi kamunya yang malas!" sentak Misha.
"Hahaha, marah-marah mulu sih istri saya yang cantik dan imut ini! Sini-sini biar gak marah terus, biar saya peluk!" ucap Fabian seraya menarik tubuh Misha ke dalam dekapannya.
"Mmhh apaan sih mas?! Jangan peluk-peluk aku, kamu belum mandi ih bau nanti!" protes Misha.
"Gampang kan bisa mandi lagi," Fabian malah semakin mengeratkan pelukannya sembari mengendus leher Misha.
"Ah mas ih!" Fabian terkekeh geli melihat ekspresi istrinya, dia jadi semakin gencar dan semangat menggoda wanita itu disana.
Setelahnya, ya Fabian pun membawa Misha ke kamar mandi dan terjadilah proses nganu.
•
__ADS_1
•
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Misha yang sengaja membuka sosial medianya untuk sekedar mengisi waktu, tanpa sengaja menemukan post foto di sosial media milik Khayra.
Misha pun tampak iri melihat Khayra bersama Mahen pergi liburan ke Dubai, dia sontak melirik Fabian yang tengah fokus menyetir dengan tatapan manisnya.
"Kamu kenapa sayang? Sakit perut?" tanya Fabian.
"Ah enggak kok, ini loh mas aku lihat Khayra sama Mahen lagi ada di Dubai. Enak banget ya mereka bisa liburan mas?" jawab Misha.
"Ohh, iya mereka emang lagi bulan madu katanya. Terus kenapa?" ujar Fabian.
"Gapapa, aku cuma mau kasih tahu kamu aja tadi. Eh ternyata kamu malah udah tau duluan," ucap Misha.
"Ya iyalah Misha, saya ini kan bekas bosnya Mahen. Masa saya gak tahu soal dia?" kekeh Fabian.
"Bagus deh!" singkat Misha.
Misha mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil masih dengan ekspresi kesal.
"Ish gak peka banget sih!" kesal Misha.
Fabian sempat melirik ke arah istrinya, namun kembali fokus menyetir dan hanya menggelengkan kepalanya sekilas.
Sesampainya di rumah sakit, Misha tampak masih kesal karena Fabian tidak mengerti maksudnya saat di mobil tadi.
"Kamu kok cemberut gitu sih sayang? Kita mau periksa kandungan kamu loh, yang semangat dong! Tadi aja kamu gak sabaran banget ajak saya kesini," ujar Fabian.
"Aku semangat kok, tapi aku lagi males aja sama kamu! Udah ah ayo buruan ke dalam!" ucap Misha.
"Eh eh, kamu diem disini!" pinta Fabian.
"Apa sih mas?" tanya Misha heran.
Fabian turun dari mobil lebih dulu, sedangkan Misha terdiam di tempatnya sesuai perintah sang suami.
Barulah Fabian membukakan pintu untuk Misha dan membantu wanita itu turun dari mobil, dia terlihat berhati-hati sekali tak ingin Misha terluka.
"Nah, ayo pelan-pelan turunnya!" ucap Fabian sembari menuntun Misha.
"Kamu lebay deh mas! Aku tuh masih bisa jalan sendiri, usia kandungan aku juga belum terlalu tua kok!" ucap Misha.
"Gapapa sayang, saya gak mau aja terjadi sesuatu sama kamu. Ini kan anak pertama saya, jadi saya harus jaga dia dengan baik sampai dia benar-benar lahir ke dunia!" ucap Fabian.
"Ohh, terus kalo dia udah lahir, kamu gak mau jagain dia lagi gitu?" tanya Misha.
"Gak gitu maksudnya sayang, ah tau deh pusing juga saya lama-lama!" ucap Fabian kesal sendiri.
"Kamu gak jelas deh!" cibir Misha.
Fabian justru tersenyum dan terus menuntun Misha berjalan menuju ke dalam rumah sakit.
"Kamu sebenarnya kenapa sayang?" tanya Fabian.
"Gapapa," jawab Misha singkat dan dingin.
"Gak mungkin gapapa, masa tiba-tiba kamu cemberut begini? Padahal tadi aja kamu ceria banget, ada apa sih sayang?" ujar Fabian.
"Gak ada apa-apa mas, udah ah gausah bahas hal yang gak jelas!" kesal Misha.
"Kamu lagi mau apa? Bilang dong sayang, jangan malah diem terus ngambek! Gimana saya bisa ngerti maksud kamu?" ucap Fabian.
Tak ada jawaban dari Misha, wanita itu hanya diam dan terus melangkah.
Fabian pun semakin dibuat heran, namun dia memaklumi sikap Misha yang seperti itu dan menganggap Misha hanya sedang mengalami perubahan hormon.
"Loh Misha?" keduanya sama-sama terkejut saat seseorang muncul dan menyapa Misha sambil tersenyum lebar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...Spesial 3 bab terakhir, jadi lebih panjang🥳...